
“Tap…tap…” suara langkah kaki sengaja bertabrakan dengan lantai granit di sebuah gedung tinggi. Sosok seorang laki-laki berpakaian rapi dan formal berjalan mengamati setiap orang yang sedang berlalu lalang karena pekerjaannya.
“mr. Cha Joon Young !?” Sapa seorang wanita cantik ketika laki-laki itu sudah berada di sebuah ruangan tertutup memanggil dirinya.
“aku ingin bertemu dengan tuan Choi Gil…” ucap Joon Young kepada sekretarisnya itu.
“baik, mari ikut saya…” tukas wanita cantik itu memberi pengarahan kepadanya untuk mengikuti dirinya ke dalam sebuah ruangan.
“tok..tok…” suara pintu diketuk olehnya, ia pun masuk diikuti Joon Young yang berada di belakangnya.
“haloo, Mr. Cha Joon Young. Aku mendengar bahwa kau akan datang ke sini menggantikan ayahmu…” sambut laki-laki tua bernama Choi Gil itu, ia memberikan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Joon Young menjabat tangannya lalu duduk di hadapan laki-laki itu.
“iya, ayah sedang ada urusan lain. Aku ke sini hanya ingin menyerahkan berkas dokumen yang kau pinta…” Joon Young memberikan sebuah amplop coklat kepadanya. Laki-laki itu mengambilnya.
“akhirnya setelah sekian lama, kau menjadi anggota ArtBakery foundation. Kau tak akan menyesal gabung di sini. Aku akan memberikan lebih keuntungan kepadamu…” ujar Choi Gil dibarengi dengan senyum puas di wajahnya.
__ADS_1
“aku hanya menuruti apa kata nenek, iya jika dibilang ini hanyalah selingan saja…” ucap Joon Young menanggapinya dengan santai.
“aku dengar bahwa kau sering mendapat gelar juara di setiap kompetisi bakery. Kau pasti jago membuat kue tentunya. Aku akan merekomendasikan dirimu jika ada kesempatan menjadi juri kompetisi ArtBakery. Kau mau?”
Joon Young melihatnya dengan senyuman. Ia tahu membuat dirinya menjadi senang. Tawaran untuk menjadi juri kompetisi ArtBakery yang sering di adakan setiap tahun. Kompetisi terkenal yang mempunyai banyak sponsor penyelenggaranya. Kesempatan yang bisa membuat dirinya dilihat banyak orang.
“hahaha… jika melihat wajahmu, kau pasti menyetujuinya tanpa mengatakan padaku…” tawa Choi Gil melihat Joon Young yang seperti itu.
“kau pandai membuatku senang…” tukas Joon Young menyindir dirinya. Ia juga tersenyum sambil mengangkat cangkir teh yang sudah di sediakan oleh sekretaris tadi. Ia meminumnya.
“iya. Aku akan menjualnya nanti. Kenapa?” Joon Young meletakan cangkir teh di meja. Ia berusaha santai berbicara dengan laki-laki itu.
“aku akan membelinya. Aku sudah menyuruh orang untuk melihat toko itu. Kapan batas waktunya berakhir?” Choi Gil tersenyum dalam hatinya, ia memperhatikan Joon Young yang sedikit terkejut mendengar niatnya itu.
“Bulan ini. Bulan ini berakhir…” jawab Joon Young pelan. Ia ragu keputusan dirinya untuk memberikan waktu tiga bulan kepada Eun Seung. Semuanya terasa cepat berlalu.
__ADS_1
“hubungi aku, jika kau akan menjual toko itu…” ujar Choi Gil memberikan kartu nama kepada dirinya. Joon Young hanya mengangguk.
“baiklah. Kau bisa hubungi ayahku, jika kau butuh sesuatu. Aku pergi…” ucap Joon Young bersiap-siap untuk keluar dari pintu.
“tentu…!!” Tukas Choi Gil mempersilahkan Joon Young untuk pamit.
Joon Young berjalan menuju lift yang berada di lorong jalan. Ia masih santai dengan langkahnya dan menunggu di depan pintu lift.
“bagaimana keadaan Eun Seung ya?” Joon Young mulai memikirkan gadis itu. terakhir ia hanya melihat Eun Seung yang bersedih karena hutang ayahnya. Dua bulan berlalu, sejak kejadian penculikan itu. waktu sudah berjalan dengan cepat. Tanpa sadar semua cepat berlalu. Joon Young merasa kasihan dengannya. Tiba-tiba pintu lift terbuka, laki-laki itu mulai melangkahkan kakinya disana. Namun seorang laki-laki berdiri di dalam lift menunggu orang yang akan masuk ke dalam. Joon Young mengenal wajah laki-laki itu. tetapi ia lupa dengan namanya. Joon Young masuk ke dalam lift bersama dengan dirinya dan beberapa orang dibelakangnya.
“sepertinya sudah sekian lama tidak bertemu…” ucap laki-laki itu membuat suara di dalam lift. Beberapa orang memperhatikannya. Begitu pula dengan Joon Young yang berdiri di belakang orang lain.
“eh, iya !!” jawab seseorang yang ada di sampingnya. Laki-laki itu menyerahkan tangannya untuk bersalaman. Joon Young hanya diam.
“aku tahu dirimu…” tukasnya lagi berusaha untuk akrab dengan orang yang disampingnya.
__ADS_1
Joon young menghela nafas panjang, bukan namanya yang dipanggil. Ia menghiraukannya. Pikirannya masih mencari-cari bayangan temannya saat di kampus. Wajahnya mirip sekali dengannya. Siapakah dia.