
Setiap perempuan ingin terlihat sempurna. Sejatinya tidak hanya cantik fisik, namun kekayaan hatilah yang terpenting.
Seseorang yang terlahir dengan kesempurnaan, patutnya lebih bersyukur. Tidak kekurangan dan keinginan yang selalu terpenuhi, maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan ia dustakan . .?
Diparkiran sebuah kampus swasta, sebuah mobil baru saja tiba.
Keluarlah seorang perempuan cantik bergaya modis. Kulitnya seputih susu, sekencang pantat bayi.
Pakaiannya trendi dan terlihat mahal karena bermerk.
"wah gila gila, mahasiswi tingkat pertama itu cantik banget bro."
Perkumpulan wahasiswa yang memperhatikannya tak bisa untuk tidak terpesona.
"sana gebet kalo loe berani, dia mah anak orang tajir. Stylenya juga mewah banget"
Temannya menimpal karena merasa minder melihat gaya perempuan itu.
"heh anak baru, loe songong juga ya. Sok cantik dan sok kaya".
Geng hits kampus yang terdiri dari 3 cewek centil mencegat langkahnya dengan menyandung kaki pendeknya.
Dengan sigap seseorang menahan tangannya agar dia tidak terjatuh.
"heh tante girang, urusannya sama kalian apa ? Seenaknya nyandung orang".
Tak terima, dia berani sekali melawan ketiganya dihadapan laki laki yang menolongnya tadi.
"oh iya mas, thanks sudah tolong aku tadi".
Malas sekali dia harus berurusan dengan para kuman kampus. Niatnya kuliah untuk menimba ilmu, bukan mencari saingan.
"eh ada Damar, kamu mau gak nonton sama aku ?"
Perempuan centil itu berlagak layaknya penggoda, berharap laki laki jangkung dan bertubuh kekar itu mau menerima ajakannya.
"saran gue, jangan mimpi di siang bolong !".
Laki laki itu pergi begitu saja dengan cuek tingkat tingginya.
"si Damar ya, padahal dia tuh biasa aja, sombongnya juga minta ampun. Tapi gue suka banget".
Cewek yang bernama Dini itu merasa jengkel, melihat tingkah Damar yang berkharisma dan menyebalkan menyatu jadi satu.
Ke manapun perempuan itu berjalan, puluhan pasang mata selalu memperhatikannya.
"Wulan"
Seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"siapa ya ?"
Wulan sedikit lupa nama mahasiswi yang menyapanya.
"gue Eva, yang waktu ospek bareng sama loe timnya".
Tatapan Wulan menerawang mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
"oh iya inget. Berarti cowok tadi . ."
Dirinya baru ingat, kalau laki laki yang menahan tangannya adalah orang yang sama.
"kenapa ? Kak Damar isengin loe lagi ?"
Eva sangat penasaran menunggu cerita Wulan yang wajahnya sudah mulai memerah karena menahan marah.
"gue nyesel banget udah bilang terima kasih tadi".
Wulan kembali berjalan menuju kelas mata kuliahnya.
"memangnya dia abis bantuin loe ?" meski beda jurusan Eva masih saja membuntuti Wulan.
"tadi dia nahan tangan gue biar gak jatoh, kaki gue disandung sama tante girang CS".
Kini keduanya sudah duduk di kursi theatre, Wulan sibuk mengeluarkan bukunya dan Eva masih menatapnya lekat.
"tumben, kan semua orang dikampus ini tahu kalau seorang Damar itu super jutek. Tapi kata yang kenal mah dia baik sih".
"Va, loe gak masuk kelas ? Dosennya sudah mau masuk".
Eva malah sibuk sendiri bercerita soal Damar, Wulan mengingatkannya karena mata kuliah akan segera dimulai.
"mati gue, gue juga ada kelas. Makan siang ketemu dikantin ya Lan !"
Perempuan hitam manis itu pergi dengan tergesa gesa.
Tadinya Wulan tidak ingin bergaul dengan siapapun. Dari sekian ratus mahasiswa dikampusnya, hanya Eva yang berani bertegur sapa terhadapnya. Mungkin itu salah satu contoh seleksi alam, Wulan bisa saja berteman dengan Eva.
"karena dosen sedang ada kunjungan ke kampus lain. Jadi saya disini akan menggantikan beliau untuk mata kuliah".
"Saudari Wulansari, bisa anda jelaskan tentang data dan fakta iklim pancaroba yang terjadi akhir akhir ini ?"
Laki laki itu memang sengaja melakukannya, dia selalu mengganggu ketenangan hidup Wulan sejak masa ospek.
Dengan penuh rasa percaya diri, Wulan berdiri untuk memaparkan hasil rangkumannya terhadap siklus perubahan cuaca.
Semua orang memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Atau sekedar menikmati ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan itu ?
Selain kaya dan cantik, Wulan tergolong cerdas. Prinsipnya untuk apa cantik kalau bodoh, kaya harta bisa membawa ilmu dengan cara terus belajar. Dia tidak ingin ketinggalan oleh orang lain.
"A+ untuk anda, siapa lagi yang mau menambahkan ?"
Tidak ada pujian yang terlontar dari mulut Damar. Malah dia terkesan menghindari percakapan lebih dengan Wulan.
"dasar aneh, puji dikit kek. Manusia berhati dingin".
Wulan mengumpat dalam hati, ternyata ada orang yang lebih cuek selain dirinya.
"kelas selesai, terima kasih".
Damar menutup mata kuliahnya yang berlangsung hampir 1 jam itu. Dia merapikan buku dan memasukkannya kedalam tas gendong.
"hey Wulan, boleh tukeran nomer telpon ?"
Seorang laki laki menghampiri Wulan yang masih sibuk membereskan bukunya.
__ADS_1
Mendengar sebuah pertanyaan klise, membuat dirinya terkekeh geli.
"loe pikir gue bakal kasih ? Never !"
Ketus sekali Wulan menolak mentah mentah permintaan laki laki yang bisa dibilang ganteng itu.
"idih cantik cantik sombong". Temannya yang tidak terima menghardik Wulan secara terang terangan.
"bukan keinginan gue buat terlahir cantik, tidak memberi nomer telpon bukan berarti sombong. Itu hak untuk menjaga privasi".
Wulan beranjak dan segera pergi, dia sangat risih digoda seperti tadi.
Jawaban Wulan sangat menarik perhatian Damar, terlihat senyum tipis sebelum dia melangkah.
Masih tersisa satu kelas untuk Wulan, cacing di perutnya juga sudah berdemo meminta jatah.
Selain menepati janji temu dengan Eva, Wulan terpaksa harus kekantin.
Sebenarnya Wulan sangat enggan makan di kantin, terlalu ramai dan gaduh.
Dia selalu suka makan didalam mobilnya, aman dan tentram.
"kenapa selalu ada dia sih ?"
Baru datang dan duduk dikursi depan Eva, mood Wulan sudah rusak ketika melihat Damar duduk di meja sebelahnya.
"jodoh kali, lagian ini kan tempat umum. Eh mau pesan apa ?"
Eva mengalihkan pembicaraan, dan bertanya supaya dia sekalian memesan untuk Wulan.
"air mineral sama roti aja, gue gak makan".
Menu menu di kantin sangat tidak memenuhi kriteria Wulan. Bayangannya selalu tertuju pada peralatan kotor, bahan makanan yang tidak sehat atau terlalu mengandung banyak minyak.
"oke, biar gue yang pesan."
Eva secara sukarela mengantri untuk membelikan pesanan Wulan. Padahal Wulan tidak ingin merepotkannya.
"Gue mau minta maaf, soal ospek kemarin".
Suasana kantin yang mulai ramai, sedikit menghilangkan fokus pendengaran Wulan. Apa benar Damar meminta maaf padanya ? Tiba tiba ?
"sorry, loe ngomong sama gue ?"
Wulan melirik kearah samping untuk memastikan, Damar hanya menghembuskan nafas kasar.
"dasar budek".
"Eh sembarangan, lagian kalau ngomong sama orang yang sopan sedikit. Ini kan ramai, mana bisa dengar dengan jelas".
Keluar sudah kekesalan Wulan yang selama ini dia pendam. Sebelum bicara, Wulan selalu mencerna setiap kata yang akan dia sampaikan kepada lawan bicaranya.
Orang yang tidak paham, akan menilai Wulan sebagai perempuan arogan.
Tapi bagi Damar, Wulan berbeda dari yang orang pikir.
Tanpa mengindahkan omelan Wulan, Damar bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
__ADS_1
"sabar ! Semoga saja Tuhan kasih dia hidayah".
Wulan berusaha menahan rasa jengkelnya, dengan mengelus dada berkali kali.