
Seorang perempuan bermimpi saat matanya terpejam.
Sebuah harapan sederhana yang selalu ingin ia lakukan jika bertemu pria yang di cintainya.
Menikah dengannya, memiliki seorang anak dan hidup bahagia.
Percekcokan ringan bumbu rumah tangga, juga kesibukan mengasuh anak.
Jauh dari gangguan orang orang yang tidak menyukai kehidupan mereka. Kalaupun bisa ia ingin hidup didesa terpencil bersama keluarganya.
Tak masalah jika ia juga harus ikut bekerja, karena roda kehidupan tak selamanya berada diatas. Asalkan ia bahagia menjalaninya.
Kemudian mimpi itu sirna, yang ada hanyalah mimpi buruk. Membuatnya menitikan air mata dalam tidurnya, untuk kesekian kalinya.
"Trauma berat yang dialaminya membuat fungsi otak tidak bekerja dengan baik.
Kita hanya bisa menunggu sampai pasien itu ingin bangun dengan kemauannya sendiri."
Begitu kiranya yang bisa dijelaskan oleh dokter.
Wulan masih belum sadarkan diri sejak mengalami kritis selama sehari setelah kejadian tragis itu.
Ini sudah lebih dari 3 hari ia masih enggan membuka matanya.
-flashback-
"pah Wulan . ."
Sesampainya Adi di rumah sakit setelah perjalanan udara yang melelahkan, hatinya seketika remuk melihat keadaan Wulan.
Wajahnya lebam, bekas pukulan tangan kotor Gilang.
Adi tak ingin membiarkan mereka lolos dan hidup enak. Secepat mungkin Fikri rekan polisinya harus bisa menyelesaikan kasus ini.
Kediaman pribadinya sudah diperiksa oleh penyidik. Mulai dari cctv juga keterangan saksi mata.
---
Kini dua laki laki yang berarti dalam hidup Wulan, masih setia menunggu sadarnya perempuan yang bersemayam dihati masing masing.
Kenapa harus Wulan yang mengalami ini semua ?
Dia tidaklah salah, mereka keliru menganggap Wulan.
Adi dan Damar berpikir merekalah yang menyebabkan petaka terjadi menimpanya.
Kalau saja mereka bisa menahan diri demi keselamatannya, mungkin tidak akan seperti ini.
"saya minta maaf tidak bisa menjaga Wulan. Saya terima jika kamu akan membawanya pergi."
Hanya itu kalimat yang bisa Adi ungkapkan pada Bagas. Rekan bisnis sekaligus ayah mertuanya.
"Berdo'a saja agar dia cepat siuman dan jangan berpikir yang tidak tidak. Kamu tidak tahu betapa bahagianya dia, saat menyadari perasaannya tumbuh untuk suaminya."
Bagas menepuk pundak Adi memberi dukungan moril.
Memang dirinya dan Wulan tidak pernah lagi bertemu muka, karena kesibukan Bagas yang ingin memperbaiki keadaan perusahaan. Namun mereka sesekali melakukan sambungan telpon.
Tadinya Bagas ingin mengembalikan dana investasi pada Adi, hanya demi Wulan bisa lepas dari jeratannya. Semua kekeliruan itu sirna, saat Wulan bercerita kalau ternyata dirinya mulai menyukai Adi sebagai pria.
-"Yah, apa salah Wulan menyukainya ? Seolah dunia mengecam perasaan kami berdua."-
Itulah yang sempat Wulan tanyakan pada Bagas, saat dirinya didalam taxi ketika Adi memberinya talak.
"selamat sore pak Adi . ."
__ADS_1
Fikri polisi yang membantu Adi, datang langsung untuk mengabarkan perkembangan kasusnya.
"siang pak Fikri. Kenalkan ini Bagaskara ayah dari Wulan."
Bagas mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Fikri.
"berkas sudah masuk pengadilan, sementara Gilang sudah masuk sel.
Soal kasus pak Buditama berkasnya masuk ke kasus tipikor. Pengacara rekomendasi bapak sangat mahir mengumpulkan bukti."
Secara rinci Fikri menjelaskan laporan yang perlu Adi ketahui. Sesaat Bagas melirik Adi, jadi menantunya benar benar melindungi Wulan. Ia bahkan menggunakan jasa pengacara yang Bagas ajukan untuk kasus penyerangan Wulan.
"terima kasih pak Fikri, anda sudah bekerja keras. Saya berharap semua pihak berwajib seperti anda pak."
Harapan Adi sangat tinggi pada Fikri yang ingin berbuat baik.
Bukti bukti penggelapan dana yang dilakukan Buditama pada beberapa projek kini sudah ditangan. Begitu juga bukti cctv rumah Adi yang kuat. Tinggal menunggu waktu mereka akan mendekam di penjara.
"kalau begitu saya permisi, selamat siang."
Fikri pamit pada Adi dan juga Bagaskara.
"terima kasih kamu sudah memperjuangkan hak Wulan. Dia beruntung mendapatkan suami seperti anda."
Bagas menyunggingkan senyumnya pada Adi seraya melangkah pergi.
"menikahlah dengan Eren, dia sudah menunggu terlalu lama."
Adi mengeraskan suaranya agar Bagas bisa mendengar.
"kalau kami menikah, dia akan menjadi tangan kananku. Apa kamu rela ?"
Bagas menengok ke belakang, Adi seperti salah bicara. Ia menggerakkan tangannya memberi tanda agar Bagas segera pergi.
Adi kembali kedalam untuk mengecek kondisi istrinya. Ia duduk di kursi samping brankar.
"bangun Wulan !
Kamu sudah tidur terlalu lama, aku sangat merindukanmu."
Adi terus mengajaknya berbicara untuk merangsang otaknya. Dokter menyarankan agar Wulan juga dibacakan buku, atau didengarkan beberapa musik.
"maaf pak, kita harus kembali mengecek projek diluar kota. Ada kendala serius yang harus bapak tangani. Pesawat akan terbang 2 jam dari sekarang."
Eren terpaksa menjadwalkan perjalanan luar kota untuk Adi. Ia tahu ini sulit, namun pekerjaan menuntutnya profesional.
"biar Damar yang jaga Wulan, papa bisa percaya kan ?"
Damar yang datang bersama Eren masuk, menawarkan diri menjaga Wulan selama ia pergi.
"papa minta tolong sama kamu."
Adi meletakkan kembali tangan Wulan, ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.
"penjaga akan bertugas didepan, akan dipecah ketika tuan pergi keluar."
Eren menyusul langkah Adi meninggalkan Damar.
"Gadis pemalas, kapan kamu akan bangun hah ?"
Bagi Damar Wulan akan tetap menjadi seorang gadis, tak peduli dengan statusnya.
Sekilas Damar menangkap jemari Wulan yang bergerak. Itu bukan halusinasi, ia segera memanggil dokter untuk mengecek keadaannya.
"Ada kemajuan, kita hanya tinggal menunggunya siuman.
__ADS_1
Saya permisi dulu pak."
Dokter memberi kabar baik yang membuat Damar menyunggingkan senyumnya.
"aku tahu kamu gadis kuat Wulan."
Damar menyentuh punggung tangan Wulan.
"Mas Adi . ."
Lirih Wulan mulai sadar dari komanya.
Kenapa hati Damar seperti terbakar, mendengar nama orang pertama yang dicari Wulan.
Apa benar Wulan sudah mencintai papanya ?
Ini tidak adil, Damar yang selalu ada untuknya saat kesusahan kenapa Adi yang mendapat cintanya.
"Wulan, ini aku Damar."
Perlahan perempuan itu berhasil membuka kedua matanya.
"Hmm . ."
Wulan berusaha tersenyum pada Damar, ia pikir dia yang sudah menjaganya selama ini.
"hi anak tiri."
Laki laki itu terkekeh mendengar Wulan memanggilnya dengan sebutan anak tiri.
"Papa harus keluar kota, ada kerjaan yang terhambat."
Merasa tenang melihat Wulan yang sudah pulih, Damar bersandar dikursi dengan nafas lega.
"aku lapar Dam."
Tanpa rasa malu Wulan meminta Damar untuk membelikannya makanan. Hanya cairan infus yang masuk, pantas kalau Wulan kelaparan.
"aku pesan di aplikasi ya, kamu tidak bisa aku tinggal."
Wulan mengangguk setuju, apapun asal dia bisa makan.
Damar menyuapi Wulan, menu yang bisa ia makan hanyalah sup dan nasi. Wulan berhasil membuat Damar sedikit heran, pasalnya sekarang tidak ada rasa canggung diantara mereka.
tangan sibuk menyuapi, mata malah asik menatap Wulan yang sibuk memainkan ponselnya.
"ada apa ?"
Wulan sadar sedang diperhatikan sejak tadi oleh laki laki dihadapannya.
"apa selama tidur kamu mendapat pencerahan ?
sepertinya ada yang salah denganmu Wulan."
gelak tawa Wulan mengisi ruangan yang sepi, Damar mengerutkan keningnya heran.
"kamu aneh Dam, aku masih Wulan yang sama.
oh iya, aku baru kepikiran untuk belajar bela diri sama Jiro penjaga rumah."
uhuk uhuk . .
Damar sampai tersedak, Wulan semakin menunjukkan sikap yang berbeda dari biasanya.
"akan aku atur, keluarlah dulu dari rumah sakit."
__ADS_1
menurut saja, itu keputusan yang harus dilakukan agar tidak terjadi apa apa kedepannya.