
Saat jam waker berdering, Wulan kaget bangun dari tidurnya.
Ia meraba pakaiannya, lalu menyentuh bagian intim miliknya.
Huuuh. . .
Masih aman, tidak terjadi apa apa semalam. Saking mengantuknya, Wulan tidak ingat apa apa main langsung tidur saja.
Takut Adi mengambil keperawanannya tanpa memberi aba aba.
Diliriknya Adi yang masih nyaman dengan posisi memeluk bantal guling. Damai sekali wajahnya, ternyata pria itu adalah suaminya sekarang.
Sebelum dia bangun, Wulan sudah harus siap dengan sarapannya.
Untungnya semalam mereka sudah mengepak barang untuk pergi ke Bali.
Saat menuruni anak tangga, Wulan yang sudah mandi terkejut berpapasan dengan Damar. Laki laki itu memakai stelan olahraga, keringat memenuhi kening dan lehernya.
"mau kemana ?"
Tanya Damar sengaja menghalangi langkah Wulan.
"sarapan, minggir !"
Ketusnya menjawab pertanyaan laki laki yang ada dihadapannya. Wulan bahkan mendorong lengan Damar untuk memberi jalan.
Buru buru ingin menghindar, kaki Wulan malah tersandung.
"aduh . ."
Ia meringis kesakitan memegangi kakinya yang mungkin saja terkilir.
"makanya jangan sok arogan kamu."
Dalam hati Damar memperingati Wulan yang sudah mengabaikannya.
"nonya kenapa ?"
Bi Marni baru datang untuk bekerja menghampiri Wulan yang terduduk dilantai.
"bik, tolong panggilkan tuan diatas. Sarapannya sudah siap."
Dibantu bibik Wulan menselonjorkan kakinya. Sejenak ia melirik kearah Damar yang naik begitu saja.
"bibik benerin dulu kakinya, takut misalah."
"ada apa, kamu kenapa Wulan ?"
Adi melihat Wulan berselonjor dan kakinya sedang dipijit bik Marni.
"aww, sakit bik yang itu."
Wulan menahan rasa linunya dengan mencengkram pahanya.
"iya ini terkilir nyonya, nah ini sudah bener lagi."
Bik Marni berdiri, karena sudah selesai mengurut kaki Wulan. Adi membantu istrinya untuk berdiri dan berjalan menuju ruang makan.
"kamu wangi sekali Wulan."
Bisikan Adi membuat Wulan bergidik, merasa terangsang seketika. Kenapa Adi selalu bisa membuatnya luluh. Kalau saja tidak ada Damar dirumah itu, ia bisa saja leluasa melayani suaminya.
Wulan masih berpikir untuk menjaga perasaan Damar, ini semua salahnya.
✈️✈️
Pesawat sudah landing dibandara internasional. Membawa sepasang suami istri yang akan menikmati bulan madu singkatnya.
Adi menggenggam tangan Wulan menuju mobil yang sudah siap.
Mereka langsung menuju kabupaten Gi.
__ADS_1
Butuh waktu kurang lebih satu setengah jam untuk sampai di Hanging Gardens.
Tempat yang bersejarah bagi Adi, tempat itu projek pertamanya di pulau Dewata.
Sebuah resort menyatu dengan alam, menyuguhkan kolam renang bertingkat. Semakin istimewa dengan latar sungai Ayung. Menyejukan, sejauh mata memandang.
"indah sekali, terima kasih sudah ajak aku kesini."
Wulan pertama kali melangkahkan kakinya ditempat sesejuk itu.
Udara yang dihirupnya sangat menyegarkan.
"ayo masuk."
Dengan bangga Adi mengajak Wulan ke tempat tersembunyi itu. Semoga akan ada kemajuan dalam hubungan mereka.
"kamu tunggu dikamar, mas ada pertemuan. Nanti akan datang pelayan yang mengantar makanan."
Sebelum keluar kamar, Adi mengecup kening Wulan. Andai tidak ada jadwal meeting, ia sudah pasti melancarkan aksinya.
"iya, hati hati."
Wulan merasa kasihan, belum juga Adi beristirahat sudah harus bekerja. Apalagi tadi dia menyetir cukup lama.
Menunggu makanan datang, Wulan duduk disofa dekat jendela. Jendela yang terbuka sekali, menyuguhkan pemandangan hutan dan gunung. Adi menyuruhnya untuk tidak membongkar koper, karena besok mereka juga sudah harus check out.
Tok tok tok . .
Suara seseorang mengetuk pintu, pasti itu makanan yang dipesan Adi untuknya.
Wulan menghentikan pandangannya dan berjalan menuju pintu.
Setelah dibuka, pelayan itu masuk mendorong troli dan menatanya dimeja makan.
"terima kasih."
Sejak tadi Wulan hanya fokus menatap makanan yang dibawakan pelayan. Saat ia meliriknya, Wulan sangat terkejut hingga menutup mulutnya.
Langkah kakinya mundur beberapa langkah. Mendadak Wulan merasa takut sekali.
"aku ingin memastikan sesuatu Wulan, hal yang membuatku menjadi gila."
Laki laki itu mendekatkan dirinya kearah Wulan.
Sorot matanya seperti bukan orang yang Wulan kenal.
"berhenti ! Pergi Damar, aku mohon. Jangan seperti ini."
Wulan terus mundur hingga sampai didepan pintu, tubuhnya berbalik untuk membuka handle. Namun Damar yang entah kenapa ada disana langsung memeluk menahannya.
"sudahkah kamu memberikannya pada papa ? Aku harus mengeceknya Wulan."
Bisik Damar ditelinga perempuan yang kini seluruh tubuhnya bergetar.
"gila kamu Damar. .
Dia suamiku sekarang, aku wajib memberikannya."
"kalau begitu, aku juga ingin merasakannya."
Sungguh Wulan tidak mengerti apa yang sedang Damar pikirkan. Dia bukan Damar, jiwanya seperti dirasuki lelembut yang penuh gairah.
Damar memaksa Wulan berbalik, dia menahannya untuk tetap dalam pelukan. Secara paksa Damar mel*mat bibir, meminta Wulan untuk membuka dan membalasnya.
Tidak, ini salah Damar. Perempuan itu memukuli dada anak tirinya, berharap mau menghentikan aksi gilanya.
Akhirnya Damar harus rela menghentikannya karena Wulan sudah kehabisan nafas.
Terlihat ada tetesan bening yang jatuh di ujung mata Wulan. Dadanya naik turun untuk mengatur nafas.
"maaf . ."
__ADS_1
Penyesalan Damar barulah muncul, dia tak tega melihat gadis kecil itu menangis.
"keluar !"
Pintanya dengan wajah dan nada datar, seakan tidak ingin melihatnya lagi.
Damar menurut dan pergi dari kamar papanya.
Hiks hiks . .
Tangis Wulan pecah setelah pintu ia double lock. Ia berlari menuju kamar mandi, membuka kran washtafel. Tangannya mulai mencuci mulut yang sudah Damar ***** tadi.
Sampai saat ini, perasaannya memang masih untuk Damar. Tapi Wulan sangat tahu diri, apa yang dilakukan Damar itu sangat salah.
Kenapa dia tidak bisa menjaga perasaan Wulan, atau setidaknya papanya.
Perut Wulan sudah berbunyi, namun ia tidak selera makan sama sekali. Suaminya masih mandi didalam. Cukup lama, Adi meninggalkan Wulan sendirian dikamar.
"Wulan, kenapa makanannya masih utuh ? Kamu belum makan ?"
Adi yang sudah selesai mandi, memakai pakaiannya didepan Wulan.
Tumben, istrinya tidak merasa malu. Biasanya dia akan menghindar kalau Adi tidak memakai baju.
Sejak kembali, Adi melihat Wulan memang sedikit murung. Entah apa yang sedang mengganggunya.
"mas . ."
Lirih Wulan berjalan mendekati Adi yang tengah berdiri didepan lemari.
"mmm ?"
"aku . . Sudah siap sekarang, kamu boleh melakukannya."
Adi sedikit heran, Wulan yang tiba tiba menawarkan diri untuk dijamah olehnya. dia menatap pekat wajah istrinya, terlihat keraguan masih ada pada diri Wulan.
"tidak sekarang, kamu sepertinya kurang sehat sayang."
dia memeluk Wulan, berharap apapun kesedihannya bisa Adi usir.
"aku takut hiks . . aku tidak bisa jadi istri yang baik."
kini Adi malah bingung, Wulan mulai menangis. dia tahu, istrinya sangat kuat dan tegar. pasti ada sesuatu yang sudah menyakiti perasaannya.
"tenanglah Wulan, kamu adalah hal terindah yang pernah aku miliki. kamu sudah sangat baik menerimaku. aku tahu, kamu masih belum bisa membalas perasaanku. aku akan sabar menunggu sampai saat itu."
Adi mengajak Wulan duduk ditepi ranjang, agar dia bisa lebih tenang.
"aku minta maaf, ini semua diluar kuasaku. rasanya aku selalu terhimpit diantara kalian berdua."
"ada apa ? apa Damar masih mengganggumu, bilang sama aku Wulan !"
sekarang Adi tahu, alasan Wulan seperti ini.
dia langsung menelpon Eren untuk memastikan dugaannya.
-tuan muda sempat bertanya, tempat tujuan bapak sama nyonya. saya pikir dia tidak akan bertindak sejauh itu, makanya saya kasih tahu. apa nyonya baik baik saja ?-
sambungan langsung ditutup Adi yang mulai naik pitam.
"katakan, apa dia datang kekamarmu ? apa yang dia lakukan Wulan ?"
Adi menekuk salah satu lututnya, menggenggam tangan Wulan agar terbuka padanya.
"dia hanya mengantar makanan . ."
mana mungkin Wulan jujur kalau Damar sudah mencium paksa dirinya. bisa terjadi pertumpahan darah.
"tidak apa, sekarang istirahatlah. aku akan meminta petugas memanaskan makanannya."
Wulan mengangguk, badannya juga sudah lemas akibat ketegangan menghadapi Damar tadi.
__ADS_1
sementara Adi, mengusap wajahnya kasar. ini tidak bisa dibiarkan, Damar sudah nekad dan keterlaluan.