
Serangkaian tes sudah dilalui Adi. Suster memberikan hasil lab setelah 2 jam lamanya menunggu. Depika kini terlelap dalam pengaruh obat obatan yang ia minum secara rutin. Rencana Adi dan Sharma membawa Depika keluar dari rumah sakit ternyata disetujui dokter observator.
Semalam Depika sempat drop, karena itulah Sharma terpaksa menelpon Adi meminta bantuan. Dan dokter mengizinkan Depika pulang memang karena kondisinya sudah cukup baik.
"Hasilnya 99,00% cocok. Kami akan membuat jadwal transplantasi tahap pertama. Tanggalnya akan kami kabari." Suster menyerahkan amplop warna putih pada Adi kemudian permisi meninggalkan mereka.
"Aku minta maaf, jika saja aku tidak melakukannya mungkin . . ."
Sharma tertunduk masih menyesali perbuatannya.
"Sudahlah, menyesalpun sudah tidak ada gunanya sekarang. Aku akan membeli makan, kamu harus kuat dan jangan sakit agar mampu merawat Depika."
Adi pergi mencari makanan didekat rumah sakit. Perutnya juga sudah merasa lapar.
Wulan duduk dibalkon kamarnya menikmati segelas iced americano sambil mengerjakan tugas kampus. Ponselnya bergetar mengalihkan perhatian Wulan untuk mengangkat panggilan.
"Halo, , ," Sapa Wulan pada penelpon disebrang sana.
"Wulan apa kamu sudah makan siang? Aku sangat merindukanmu saat ini." Adi memijat pangkal hidungnya, frustasi dengan masalah berat dihidupnya.
"Kamu harus kuat mas, demi anak kalian. Depika lebih membutuhkanmu sekarang. Aku baik baik saja disini."
Meski kenyataannya Wulan kembali menitikan air mata, ia tetap berusaha memberi dukungan untuk sang suami.
"Apa ayahmu kekantor ?"
"Ayah harus keluar kota beberapa hari kedepan, ,"
Sedikit bergetar suara Wulan menahan tangisnya. Ia harus sendirian lagi disana, berharap bisa ditemani ayah yang ternyata sibuk mengurus perusahaan agar kembali pulih.
"Aku akan pulang kesana saja."
"Jangan ! Aku sudah meminta Eva menginap untuk menemaniku, dan ayah mengizinkan. Kalau tidak sibuk, Eren juga akan berkunjung."
Sejujurnya Wulan sedang ingin menghindari Adi. Ia melarang keras Adi mengganggu saat Wulan berada jauh darinya.
"Baiklah aku tutup telponnya, aku mencintaimu Wulan."
Wulan tidak menyaut ungkapan perasaan Adi, ia hanya diam hingga sambungan telpon terputus.
__ADS_1
Suara bel pintu berbunyi, seseorang datang bertamu dan Wulan sudah bisa menebak siapa itu. Ia antusias berjalan keluar kamar, hingga didepan pintu Wulan sempat mengintip dari lubang kecil. Benar, itu Eva sahabatnya. Ketika pintu terbuka keduanya langsung berpelukan melepas rindu. Padahal Wulan dan Eva sering bertemu dikampus hampir setiap hari.
"Ini rumah ayah kamu Lan ?"
Tanya Eva dengan mata memperhatikan sekeliling.
"Tempat tinggal ayah sementara, pemiliknya masih mas Adi."
"Cie mamas, sekarang panggilannya mesra banget. Eh Lan aku bawakan cokelat nih sama snack lainnya. Katanya kita mau nonton film."
Keduanya duduk diruang TV, Eva meletakkan kantung kresek diatas meja.
"Nanti tunggu Eren dulu ya Va, dia bilang mau mampir." Tak lama setelah kedatangan Eva, Eren jug sudah hadir dirumah kekasihnya. Entah kapan mereka akan meresmikan hubungannya ke jenjang pernikahan.
"Wulan kamu baik baik saja ? Mukamu pucat." Eren mendadak khawatir melihat keadaan istri bosnya.
"Eren wajahku memang begini dari dulu." Meski sebenarnya Wulan tengah berusaha mengatur nafasnya agar tidak terasa sesak.
Mereka bertiga menghabiskan waktu menonton dengan cemilan cukup banyak. Wulan selalu menangis saat adegan romantis muncul menyayat hati. Eva dan Eren sempat bingung padahal kisah film itu tidak terlalu menyedihkan.
Sore harinya mereka bertiga memutuskan untuk pergi jalan jalan ke mall terdekat. Eren menyetir sendiri tanpa anak buahnya.
Alangkah terkejutnya ketika Eren melihat pemandangan seseorang yang ia kenal. Laki laki tampan meski usia tak muda lagi menggendong anak perempuan sekitar 5 tahun. Terlihat akrab dan mesra mereka tertawa bersama.
"Eren ayo !"
Wulan menarik tangan Eren yang masih diam mematung. Akhirnya Wulan juga mengikuti arah pandangan wanita berambut pendek sebahu itu.
Harus bersikap seperti apa Wulan juga tidak mengerti saat melihat Adi suaminya jalan bersama wanita lain. Meski pada dasarnya mungkin Adi lakukan demi sang puteri kecilnya.
"Wulan ayo kita kembali ke mobil saja !" Perintah Eren tak ingin Wulan berpapasan dengan mereka.
"Tidak Eren, aku harus pergi membeli sesuatu kedalam."
Jawab Wulan dengan mata masih menatap kedepan.
Sementara Adi kini menyadari keberadaan Wulan disebrang sana. Ia menurunkan Depika dari gendongannya, melirik sebentar pada Sharma.
"Wulan . . ."
__ADS_1
Sapa Adi ketika Wulan dan langkah berat Eren semakin mendekat kearahnya.
Ternyata benar apa kata Sharma kalau mereka akan kembali bertemu. Wulan pikir ucapan itu hanya isapan jempol belaka. Wulan mencoba tersenyum sebisa mungkin meski hatinya teriris perih.
"Hai, , ," Wulan menjawab sapaan Damar. "Aku kesini mau membeli keperluan pribadi, apa hasilnya sudah keluar ?" Mata Wulan melirik sekilas kearah belakang dimana Sharma menggenggam Depika.
Rasanya seperti seorang perempuan tengah memergoki sang kekasih sedang bersama keluarga harmonisnya. Eren menghampiri Wulan berdiri disampingnya seolah melindungi anak perempuannya dari patah hati. Eren tahu kalau Adi memiliki hubungna khusus dengan ibu dan anak itu.
"Kita bicara dirumah, Eren tolong antarkan Sharma dan Depika ke apartemennya."
Wulan menepis tangan Adi dan berkata "Aku akan tetap belanja sama Eren, kalian datang bersama begitupun pulangnya. Ayo Eren !" Ajak Wulan pada Eren segera meninggalkan Adi. Eva sendiri sudah menunggu didepan salah satu toko pakaian terkenal. Ia tak ingin melihat prahara rumah tangga sahabat baiknya.
Lucu menurut Wulan, kenapa dirinya yang harus mengalah ? Wulan lebih berhak karena dia istri sah Adi. Kali ini Wulan membiarkannya dengan alasan kesehatan Depika.
"Moma tante bidadari itu siapa ? Kenapa tante bidadari sedih bertemu baba ?"
Polos Depika bertanya, Sharma berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan sang puteri.
"Depika sayang, tante itu juga mokanya Depika. Depika harus sayang sama tante Wulan, dia wanita yang dicintai baba."
"Tapikan moma ibuku, dan baba ayahku." Depika bingung dibuatnya.
"Sekarang kita ajak baba pulang ya. Baba pasti sudah capek karena gendongin Depika terus."
Depika mengangguk tak masalah. Akhirnya Adi mengantarkan mereka pulang. Pikirannya masih tertuju pada Wulan istrinya.
Wulan meminta waktu pergi ke toilet, ia sudah tidak mampu menahan air matanya lagi. didalam bilik toilet Wulan menangis tanpa suara. pikirannya kacau membayangkan kehidupan rumah tangganya. Wulan ingin lari dari semua ini, bolehkah Wulan meninggalkan Adi setelah apa yang ia perjuangkan selama ini. Namun ide iu bukanlah hal baik bagi seorang Wulan yang berprinsip. apapun kesulitan hidupnya Wulan akan terus berusaha memperbaiki keadaan. Wulan berjanji akan kuat demi Adi dan ayah. Ia mencuci wajahnya agar tidak meninggalkan jejak tangis. menyusul Eva dan Eren di cafe dekat toilet.
Sebelum masuk Wulan tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Untungnya orang tersebut menahan pinggang Wulan agar tidak terjatuh kelantai
"Sorry sorry , , gue gak lihat jalan tadi."
Katanya penuh sesal.
"Iya, tidak masalah."
Wulan menjaga jarak darinya.
"Wulan ?"
__ADS_1
"Amir ?"