
Seorang Chief Executive Officer tidak akan pernah ingin mengambil langkah salah. Adi meminta waktu untuk mempelajari proposal clientnya. Dia tidak bisa langsung menerima kontrak begitu saja.
"sekretaris saya akan menghubungi lagi, jika ada kemajuan. Terima kasih."
Kedua pengusaha itu berjabat tangan, menyudahi pertemuan penting. Hanya meeting barusan yang terdaftar dijadwal kerjanya hari ini, selebihnya dia bebas melakukan apapun.
Tak sabar sekali dia berjalan kembali ke ruang kerjanya untuk menemui Wulan yang sudah menunggu lama.
Ceklek . .
Pintu dibukanya hati hati agar tidak bersuara. Adi penasaran sekali apa yang sedang Wulan lakukan ketika dirinya tidak ada.
Terlihat Wulan sedang mendengarkan musik diponselnya menggunakan earphone. Kepalanya bergerak mengangguk, menikmati setiap dentuman yang ia dengar.
Adi tersenyum, Wulan sangat cantik ketika memejamkan matanya. Sesekali gadis itu bersenandung mengikuti liril lagu.
"sudah selesai ?"
Wulan melepaskan earphonenya, ketika ia melirik kearah pintu dan Adi sudah berdiri disana.
"sudah, ayo kita berangkat !"
Mendengar kata 'kita' menghadirkan sensasi ekstrem dihati Wulan. Sikap Adi semakin membuatnya serba salah. Ketakutan akan hal yang belum terjadi selalu terbayang diotaknya.
Keluar dari kantor, Adi dan Wulan juga Eren kini sudah memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Masih sepi, pengunjung hanya beberapa karena memang baru dibuka.
Sebenarnya banyak yang ingin Wulan tanyakan, mau apa kesini ? Tapi ia lebih suka diam, tidak banyak bertanya cukup menurut saja.
Bioskop ?
Ini jam berapa, bahkan belum ada tiket film yang dijual oleh petugasnya.
Door signnya saja masih bertuliskan closed.
Namun dengan sigapnya security yang berjaga membukakan pintu untuk Adi yang berjalan paling depan.
"silakan tuan"
Mereka diarahkan olehnya menuju sebuah theatre yang berada diujung koridor.
Demi Wulan, Adi menyewa 1 theatre untuk menonton film bersama. Adi mengajak Wulan duduk di kursi yang paling pas menghadap layar.
"kamu tahu Wulan ? Ini pertama kalinya aku nonton film, seumur hidupku."
Padahal malu sekali Adi jujur pada Wulan, tapi dia ingin Wulan tahu kalau dirinya sangat spesial dihidup Adi.
"bapak sama katronya kayak saya, baru kali ini juga saya menginjakkan kaki di bioskop."
Wulan nyengir menunjukkan gigi putih dan rapinya.
"aku pikir kamu remaja yang suka sekali nonton. Duduklah disini, Eren akan membawa minuman dan popcorn."
Aah Wulan baru sadar, sekarang disana cuma ada dia dan Adi. Lampu lampu sudah dimatikan ketika film akan dimulai.
Kenapa horor ?
Mungkin Adi berpikir kalau genre itu cocok sekali ditonton berdua. saat Wulan takut, ada kesempatan dia dipeluk olehnya.
Segitunya Adi melancarkan aksi pendekatannya pada Wulan.
__ADS_1
"kamu takut ?"
Tanya Adi melirik kearah samping, Wulan hanya menatap lurus kelayar.
"palingan hantunya ecek ecek pak, bapak kali yang takut."
Jawab Wulan enteng, seolah tidak akan takut sama sekali.
"aaa . ."
Wulan berteriak keras sambil mencengkram lengan Adi, dia menunduk tidak berani melihat kelayar setelah hantunya mulai muncul.
"haha, takut juga kamu."
Tawa Adi puas melihat Wulan yang menelan ludah sendiri.
"saya takut, karena hantunya jelek."
Wulan bergidik merapikan rambutnya yang sempat berantakan.
Hampir 2 jam film itu berlangsung, Adi mengajak Wulan untuk mencari makan siang. Eren menuntun keduanya untuk masuk ke sebuah restoran serba ada. Disana juga menyediakan snack, kopi, cake pokoknya komplit.
Jadi Wulan tidak akan bingung memilih.
Mata Wulan terbelalak setelah melihat sesosok makhluk yang ia kenal. Laki laki itu tengah sibuk menyiapkan beberapa jenis minuman dibar yang terbuka.
Gawat sekali.
"pak, cari tempat lain saja ! disini ramai sekali."
Alibi Wulan menarik tangan Adi secara spontan. Eren yang hampir memilih menu, bingung mengikuti langkah mereka.
Pandangan Wulan masih sibuk mencari tempat makan yang jauh dari resto tadi. Adi tersenyum karena sejak tadi Wulan belum melepaskan tangannya.
-ya Tuhan, hampir saja Damar melihatku bersama pria ini. Apa jadinya nanti, pasti dia ilfeel sama gue-
Gerutu Wulan dalam hati, ia melirik kebelakang dan melepaskan tangannya malu.
"maaf pak, lupa."
Akhirnya Wulan mengajak Adi dan Eren ke tempat makan steak. Bukan apa apa, resto itu jauh bersebrangan dengan tempat Damar.
Bicara soal Damar, dia sedang apa disana ? Bekerjakah, jadi dia laki laki tangguh yang mencari uang jajan sendiri. Wah mandiri sekali, pasti jago meracik minuman.
"kok melamun, mau pesan apa ?"
Adi menjentikan jarinya membangunkan Wulan dari bayangan Damar.
"wagyu, medium welldone, Iced mericano."
Seperti sudah hafal menu, Wulan menyebutkan pesanannya tanpa melihat menu.
"Wulan ? Loe disini juga ?"
Kali ini suara perempuan yang Wulan kenal berjalan mendekatinya dari belakang.
"eh E . . Va, iya gue makan disini."
Kikuk sekali Wulan bertemu dengan Eva, gerak tubuhnya terlihat tidak nyaman oleh Adi.
__ADS_1
"tadi gue juga lihat dia, keren ya kuliah sambil kerja. Eh ini bokap loe ?"
Yang dimaksud Eva, adalah Damar. Kini tatapan Eva melihat kearah Adi yang memalingkan muka.
"bukan, teman ayah."
"Va, cepetan balik, kaki gue pegal nih."
Wanita dewasa yang bersama Eva menarik tangannya begitu saja, dia kesal karena Eva lamban.
"see you dikampus Wulan !"
Eva berteriak sambil berjalan ditarik oleh kakaknya, mungkin ?
Wulan menghela nafas lega, kenapa main petak umpet bisa menguras begitu banyak tenaga.
"kamu malu sekali ya, jalan sama saya ?"
Helaan panjang Wulan bisa dilihat oleh Adi, dia tahu Wulan pasti tidak nyaman berada didekatnya.
"tidak, hanya saja Eva tipe teman suka banyak tanya alias kepo. Tapi diak baik sama saya."
"apa kamu sering diganggu teman kuliah lainnya ?"
"hanya beberapa, tidak terlalu masalah."
Wulan tidak pernah ambil pusing soal keusilan teman kuliahnya. Selagi mereka tidak membulinya secara fisik, tidak masalah baginya.
Setelah menyantap makan siang, Adi kembali mengajak Wulan ke sebuah toko brand terkenal. Memang, Wulan memiliki tas brand itu, namun hanya satu. Itupun hadiah ulang tahun ke 17 dari ayahnya.
Untuk urusan shopping, Wulan tidak pandai. Semua barang yang ia punya, dibelikan oleh Bagaskara walau anaknya tidak meminta.
Wulan hanya berdiri, menunggu Adi yang sibuk sendiri berkeliling. Palingan pria itu ingin membeli sesuatu untuk keperluannya.
"heh gadis miskin, masih punya uang loe belanja disini ?"
Tunggu, siapa yang berdiri disampingnya ? Apa Wulan mengenal orang yang merendahkannya dengan suara keras.
Saat Wulan menengok kearahnya, dia tahu siapa orang itu.
Gilang, orang yang Damar pukul karena mengolok olok kehidupannya.
Kenapa harus Wulan bertemu dengannya, kesialan terus saja terjadi membuat Wulan kesal.
"Ada urusan apa anda menghina gadis ini ?"
Adi yang sudah selesai membayar belanjaannya, menghampiri arah dimana Wulan berada.
"siapa dia Wulan ? Apa sekarang kamu jadi simpanan, untuk mendapat kenyamanan hidupmu kembali ?"
Gilang ini benar benar menguji kesabaran Wulan. Kalau saja bukan tempat umum, sudah ia tampar muka yang menjengkelkannya.
"saya calon suaminya, dan Wulan bukan simpanan. Jaga bicaramu anak muda, atau kau akan berurusan denganku."
Adi tidak tega melihat Wulan yang hanya diam dihina oleh laki laki kurang ajar itu. Tanpa menghiraukan reaksi Wulan soal pengakuannya, Adi menarik tangan Wulan untuk segera pergi.
"dasar wanita matre."
Umpat Gilang melihat kepergian Wulan, dia sangat kesal tidak berhasil menyulut emosinya.
__ADS_1
Perjalanan menuju pulang, Wulan masih membisu. Ia menyandarkan kepalanya, memandang kearah samping.
kalau saja Adi bisa, dia ingin memeluk Wulan. atau meminjamkan bahunya untuk ia menangis disana.