
Harum . .
Ia ingin seharum bunga yang orang orang sukai. Secantik rupanya, yang bisa memikat hati. Berguna menyenangkan bagi penikmatnya.
Andai Wulan bisa seperti bunga yang kini berbaris rapi di florist milik Eren.
Healing camp, Eren memiliki konsep rumah yang bisa menenangkan penghuninya.
Taman asri nan hijau, bisa memberi kenyamanan tersendiri.
"non, ayo sarapan dulu ! Nanti teh melatinya dingin."
Teriak seseorang dari arah teras memanggil Wulan yang masih asik menyiram bunga.
"iya, sebentar lagi."
Wulan balas berteriak agar dia mendengar, dan mau menunggunya.
Setelah semua bunga mendapat nutrisi, Wulan berjalan riang menuju teras.
"wah, pisang goreng ? Pasti enak . ."
Matanya berbinar melihat gorengan yang sudah menarik perhatiannya.
"bibik tahu, nyonya kan suka sama makanan ringan begini. Kebetulan abis belanja ditukang sayur, eh ada pisang."
Bi Marni duduk dibawah kursi, menghadap Wulan.
Setiap pagi beliau akan mengecek keadaan kakinya.
Akibat traumanya, Wulan mengeluh sering merasa kesemutan.
"bik, gak usah. Mending bibik duduk makan bareng, Wulan udah gak ngerasa kesemutan lagi. Ini kan sudah lebih dari seminggu."
Dengan tangan kanannya sibuk memasukkan pisang kemulutnya, Wulan menarik bik Sumi untuk ikut duduk dikursi samping.
"baik non, oh iya. Bu Eren titip pesan, katanya pulang malem lagi."
Mendengar kabar itu, raut wajah Wulan mendadak masam. Ia menaruh kembali sisa pisang itu kepiring.
"Wulan mandi dulu ya bik."
Ia masuk kedalam rumah, bik Sumi tahu kalau Wulan pasti kecewa.
Setelah pulang dari rumah sakit, Adi selalu sibuk mengurus pembatalan kerja samanya dengan Bumi Citra. Mengurus segala sesuatu, termasuk berkas untuk diajukan ke pengadilan. Ya, Adi tidak ingin mereka lolos. Dia ingin hukum mengadili mereka yang sudah sangat brutal menyiksa istrinya.
Kantor, pengadilan, rumahnya, rumah Eren, Adi selalu bolak balik membagi waktunya.
Untungnya, Eren tidak mengabulkan perintah Adi untuk menyiapkan berkas gugatan cerai. Jadi keduanya masih suami istri.
Yang Wulan tidak sukai, Adi seperti sengaja menjaga jarak. Entahlah, dia bahkan menyuruhnya tinggal dirumah orang tua Eren yang sudah tiada.
Katanya demi keselamatan Wulan, agar jauh dari jangkauan media massa.
Akibat kasus penyerangan, media sengaja mengangkat berita itu ke publik. Terlebih status Adi dan Citra yang bukan sembarang orang. Mereka adalah pengusaha yang sudah mempunyai nama.
"gila ya bos gue, dia kejam bukan cuma sama karyawannya. Bahkan sama orang lain."
Kencana masih saja marah marah dirumahnya, Eva yang mendengar semakin bosan. Kak caca selalu membahasnya jika sudah diingatkan berita di TV, atau koran harian.
"loe keluar saja dari Bumi Citra, kerja sama bokap gue."
Seorang laki laki menjawab dengan santai sambil melahap cerealnya.
"gue gak mau sistem freelance, sama aja kaya pengangguran."
"gak ada sistem gituan, dia emang lagi nyari 1 macem loe."
"ah bosen dengerin kak caca sama kak Damar ngomongin kerjaan. Mending kasih tahu gue dimana Wulan sekarang !"
Eva menggerutu kesal melihat Kencana dan Damar asik sendiri. Dia sudah seperti obat nyamuk diantara keduanya.
"kan kamu tahu sendiri dek, Wulan lagi tahap pemulihan. Nih makhluk satu lagi diumpetin, biar gak di ekspose."
Kencana menunjuk wajah Damar dengan jarinya tanpa rasa canggung.
Dari sekian banyak tempat, entah apa yang membawa Damar numpang dirumah Eva. Dikelilingi 2 perempuan yang berisik, setiap hari cekcok bahas hal gak penting.
"lagian gue gak habis pikir sama si Dini, bener bener hati iblis dia."
Eva geleng geleng masih belum bisa terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
"gue pergi dulu. Ca, bokap serius pengen loe gabung. Bentar lagi gue juga masuk kerja."
Sebelum berangkat, Damar mengambil tas dan jaketnya sambil meyakinkan Kencana soal pekerjaan.
"Dek, menurut kamu Damar gimana ?"
Kencana bertanya pendapat adiknya tanpa mengalihkan tatapnya pada punggung Damar yang sudah keluar rumah.
"janganlah kak, dia cintanya sama Wulan. Kakak gak bakal ada harepan sama kak Damar."
"yee, dikasih pertanyaan apa jawabnya kemana. Aneh kamu, lagian Wulan kan istri papanya."
Kencana sudah meneguk habis susunya, lalu berdiri mengambil tas kerjanya.
"see you Eva, adek kakak yang hidupnya gitu gitu aja."
Kak Caca suka sekali menggoda Eva, membuat rasa iri selalu muncul dihatinya. Meski begitu, mereka saling menyayangi.
Disebuah ruang, Adi dan Eren didampingi pengacaranya mengajukan bukti rekaman cctv. Juga kesaksian tertulis dari Eva, kalau Dini selalu mengganggunya dikampus.
"kalau ini sudah masuk persidangan, korban harus siap untuk hadir. Apa bapak yakin ?"
Pengacara yang usianya hampir sama dengan Damar anaknya, kembali mengkonfirmasi kesiapan clientnya.
"apa tidak ada cara lain ?
Saya tidak ingin dia muncul di publik. Lagipula, hasil medis sudah menegaskan semuanya."
"akan saya coba ajukan, semoga pengadilan mengabulkan."
Adi dan Eren menyelesaikan jadwal mediasi yang diberikan oleh hakim.
"bagaimana pergerakan mereka ?"
Tanya Adi pada Eren, mereka sudah berada dalam mobil untuk kembali kekantor.
"Bu Citra dan Dini masih jadi tahanan kota, masih diawasi pihak berwajib. Untuk semua biaya yang sudah dikeluarkan, sudah diganti dan di transfer tadi pagi. Tinggal pembayaran upah tukang yang seminggu terakhir."
Eren melaporkan semua perkembangan yang terjadi.
Adi yang mendengar, hanya membetulkan posisi kacamatanya.
"percepat pencairan dananya, saya tidak mau mereka menunggu lama."
"baik pak. Saya pikir, hari ini kerjaan sudah selesai semua. Bapak bisa pulang cepat, bagaimana ?"
Eren yang duduk didepan, melirik kebelakang melalui kaca spion.
"benarkah ?
Kalau begitu, antarkan aku kerumahmu !"
Senyum Eren mengembang, akhirnya Wulan akan bertemu dengan suaminya, dia pasti senang.
"kita pulang. ."
Eren mengeraskan suaranya sengaja agar Wulan bisa mendengar. Adi yang sudah merasa letih langsung masuk menuju kamarnya.
"Eren, kamu sudah pulang ? Aku masak buat makan malam, sama bik Marni."
Wulan antusias bercerita pada Eren, ini pertama kalinya setelah sekian lama.
"iya, nanti kita makan bareng. Dia masuk kamar."
Wulan menyunggingkan senyumnya, ternyata Adi ikut pulang bersama Eren.
Ia langsung berlari kecil menuju kamarnya yang terletak di bawah anak tangga.
"mas, , kamu tidur disini kan ?"
Saat masuk, Wulan melihat suaminya sedang melepas pakaian bersiap untuk mandi.
"iya, kamu gimana ? Masih kesemutan atau ada hal lain yang mengganggu ?"
Adi belum meliriknya sama sekali, Wulan kesal dibuatnya. Secara paksa, dia membalikkan badan Adi supaya menatapnya.
"kamu yang mengganggu pikiranku. Kamu mengabaikan keberadaanku, apa yang kamu inginkan ? Aku benar benar gak paham mas . ."
Melihat Wulan yang mulai emosi, Adi langsung memeluknya. Dia tidak ingin istrinya histeris, karena belum sepenuhnya stabil.
Kata bik Marni dan Eren, Wulan sebentar bahagia sebentar kesal. Kadang murung menyendiri dikamar, tidak keluar sama sekali.
__ADS_1
"aku minta maaf Wulan. Kamu masih belum bisa, sebentar lagi saja."
Adi tahu keinginan Wulan, dia sangat ingin melayani suaminya. Itu yang membuat Adi tidak betah tidur disana, dan lebih memilih pulang kerumahnya.
"kamu pulang aja ! Aku mau tidur sendiri, aku gak mau lihat kamu."
Wulan melepaskan pelukan suaminya, dia berjalan keluar kamar entah mau kemana kakinya melangkah.
Adi berdecak kesal, kembali memakai pakaian meski dirinya belum sempat mandi.
"Wulan !"
Teriak Adi mencari keberadaan istrinya, orang rumah panik menghampiri.
"ada apa ?"
Eren khawatir melihat Adi yang kelabakan.
"cari dia sekarang !"
Perintahnya, lalu mulai berlari kearah luar. Eren, bi Marni dan tukang kebun akhirnya berpencar mencari Wulan.
"Aaa . ."
Seseorang terperanjat kaget hingga jatuh tersungkur, ketika sebuah mobil hampir saja menabrak tubuhnya.
Pengemudi diikuti seorang perempuan keluar untuk mengecek keadaan si korban.
"Wulan !"
Betapa terkejutnya melihat Wulan duduk dengan tatapan kosong. Laki laki itu langsung memeluknya, memberi ketenangan.
"Damar, ajak Wulan masuk kemobil !"
Pinta perempuan yang datang bersamanya.
Karena marah, Wulan berjalan cepat keluar rumahnya. Niatnya ingin membeli sesuatu di mini market sebrang jalan raya.
"kamu tahu itu bahaya ? Ini sudah gelap, ngapain keluyuran sih ! Memangnya papa kemana, dia bakal marah kalau tahu kamu hampir ketabrak. Coba kalau orang lain, kamu udah balik lagi ke rumah sakit."
Saking kesalnya, Damar berteriak memarahi Wulan tanpa memperdulikan kondisinya.
"Damar, parah loe ! Bukannya dibikin tenang, malah diceramahi."
"Eh Ca, loe diem sebentar. Ini urusan keluarga, gue kesal sama Wulan yang masih saja labil."
Yang lagi dibahas masih saja diam, tidak mau ambil pusing ocehan anak sambungnya bersama perempuan entah siapa.
Sesampainya mobil Damar dihalaman rumah Eren, Wulan turun lebih dulu. Dia masuk dengan cepat, tidak ingin mendengar lagi suara Damar yang berisik.
"kamu dari mana ?"
Adi menghadang dipintu, dengan amarah yang coba ditahannya.
"aku baru tahu, kamu punya anak cerewet minta ampun."
Ketus Wulan mengabaikan Adi.
"pah, kalian masih belum baikan ? Dia lari lari tadi, untung gak Damar tabrak."
Damar masuk kedalam mengajak Kencana. Hubungan Adi dan Damar memang tidak serenggang dulu, keputusan bijak sudah diambil oleh anaknya. Dia sudah mau Move on, mulai menganggap Wulan ibu sambungnya.
Alhasil, mereka makan malam bersama setelah Adi selesai bersih bersih.
Wulan masih saja diam, makanannya juga hanya ia mainkan dengan sendoknya.
"pah, Caca kesini mau bahas soal lowongan arsitek. Katanya siap, kalau proses pengunduran dirinya sudah selesai."
Damar membuka suara, ya setidaknya untuk mencairkan suasana.
"keputusan yang bagus, saya akan tunggu."
Adi melirik kearah Wulan yang terlihat tidak selera makan.
Mereka harus ekstra sabar menghadapi perubahan sikap Wulan, bagaimanapun itu salah satu efek trauma yang dialaminya.
"sepertinya kalian asik bahas kerjaan, lanjutkan !"
tanpa memakan masakannya sendiri, Wulan pamit dari meja makan dan segera ke kamarnya. Adi menghela nafas, sabar. istrinya memang baru genap 20 tahun minggu depan.
"saya sudah selesai, kalian lanjutkan saja."
__ADS_1
Adi pergi menyusul Wulan.