
Wulan termenung, matanya masih setia menatap tajam Adi yang melamarnya.
Bimbang bukan main perasaannya hari ini. Kebersamaannya dengan Damar membuat hatinya bahagia. Usia mereka tidak beda jauh, Wulan menyimpan harap lebih pada kedekatan yang baru saja dimulai.
Dan sekarang, pria yang usianya terpaut 22 tahun dengan Wulan melamarnya. Ia tahu betul, dirinya tidak bisa menolak perintah Adi. Adilah yang menyelamatkan perusahaan ayahnya dari kebangkrutan. Parahnya Adi sudah dihujam pesona Wulan, bukan hanya parasnya juga kepribadiannya yang menarik.
"apa bapak akan menarik semuanya dari ayah, jika saya menolak ?"
"tergantung padamu. Beri aku waktu agar aku bisa membuktikan, kamu akan bahagia bersamaku."
Tegasnya meyakinkan Wulan yang terlihat jelas sangat bimbang dimatanya.
"aku sangat lelah . ."
Wulan melepaskan genggaman tangan Adi, dia berbaring memunggunginya. Percobaan pertama sudah Adi lakukan, dia akan terus mencobanya esok, lusa atau hari hari berikutnya.
Menyukai Wulan berlaku bagi orang yang merasa mampu untuk membahagiakannya. Selama ini Wulan membatasi diri karena sekelilingnya yang membuat batasan itu sendiri.
Pertama kali Adi mencari informasi tentang keluarga Bagaskara, hatinya sudah terpikat oleh tatap matanya yang tegas.
Ada sesuatu didalam diri Wulan yang perempuan lain tidak memilikinya. Prinsip, pemikiran dan sudut pandang yang ia yakini terhadap orang orang disekitarnya.
Didepan pintu kamar Wulan, Adi masih berdiri. Kenapa dia bisa jatuh hati pada gadis jauh dibawah usianya. Kalau memang benar Wulan cinta terakhir dihidupnya, Adi akan Terus berjuang untuk mendapatkannya. Tekadnya kini sudah bulat.
🍀🍀🍀
Pagi itu disambut dengan gemericik air hujan. Menghadirkan rasa malas bagi yang hendak melakukan aktifitasnya. Sama halnya Wulan, gadis yang akan menginjak usia 20 tahun ini menggeliat menarik selimutnya. Mencari kenyamanan untuk tidur kembali.
"Wulan, apa kamu tidak kuliah ?"
Suara berat yang sangat Wulan kenal membuatnya membuka mata.
"ayah. . ."
Bukan main Wulan gembira melihat ayahnya kini duduk dihadapannya. Tubuhnya spontan memeluk pak Bagaskara. Dari wangi tubuhnya benar, itu bukan mimpi atau halusinasi.
"cepat mandi Wulan, pak Adi sudah menunggu kita untuk sarapan."
Wulan melepas pelukannya, dilihatnya wajah Bagaskara. Banyak guratan didahinya, pipi yang dulu berisi sekarang sedikit kurus hanya dalam beberapa hari saja mereka tidak bertemu.
"apa Wulan harus menikah dengan pak Adi ? Ayah Wulan tidak mau, bisakah kita menolaknya ? Wulan akan bekerja yah, untuk biaya kuliah. Ayah gak perlu terusin usaha yang sudah jatuh. Wulan mohon sama ayah, mmm ?"
Bagaskara termenung, kepalanya tertunduk malu tak berani menatap puterinya.
Ini semua salah Bagaskara, tidak mampu memimpin perusahaan dengan bijak.
Dalam berbisnis asuransi, jika cash flow tidak berjalan dengan baik maka akan ada kerugian besar. Wulan memang tidak pernah menuntut hidup mewah, tapi dia ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
"maafkan Ayah Wulan, ayah salah. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan, selain menuruti semua keinginannya. Beliau sudah sangat baik membantu ayah."
Mendapat penolakan dari sang ayah, hati Wulan amat hancur. Bukan membencinya, melainkan putus asa terhadap keadaan. Andai saja ada solusi lain untuk menyelesaikan masalah ini. Apa Wulan kabur saja ?
__ADS_1
Ah pak Adi pasti bisa menemukannya bahkan sampai keujung dunia sekalipun.
"Wulan mandi dulu yah . ."
Pasti masih banyak cara, Wulan akan terus memikirkannya. Sekarang ia hanya perlu menenangkan pikirannya yang kacau karena lamaran pak Adi.
Dimeja makan, mereka berkumpul bersama Eren juga.
Seperti sebelumnya, Wulan tidak nafsu jika menu sarapannya langsung makanan berat.
Dengan malas Wulan mengambil roti, dan mengolesinya dengan selai cokelat.
Eren memperhatikan setiap ekspresi Wulan, sebagai seorang wanita dia juga paham tentang perasaannya.
Kasihan, dia masih sangat muda jika harus menikah dengan bosnya. Wulan lebih pantas menjadi istri dari tuan muda, anak Adi.
Benarkah Adi menyukai daun muda ini ? Kehidupan Wulan bisa saja berbahaya, jika terus dekat dengan bosnya.
20 tahun Adi Gunawan menjalankan bisnisnya dibidang jasa konstruksi / kontraktor. Perlu waktu 2 tahun Adi mengumpulkan modal untuk merintisnya. Saat itu Adi menikah muda dengan mama dari anaknya. Seluruh ide dan tenaga dia curahkan, demi masa depan yang lebih baik.
Ratusan kali dia mengirim proposal, dan mengikuti puluhan tender. Karena ketekunannya, dia berhasil dipercaya oleh beberapa perusahaan dan isntansi pemerintah untuk mengerjakan proyek besar.
Banyak pesaing yang iri dan tidak suka. Menghasilkan ketidak amanan hidup keluarganya. Istrinya yang sering melamun dan ketakutan, berujung sakit sakitan dan meninggalkan mereka di saat anak laki lakinya berusia 12 tahun. Itu masa masa tersulit Adi dan anaknya.
Eren akan membantu Wulan, untuk selalu aman berada disamping Adi, Jika Adi tulus menginginkannya menjadi pendamping hidup.
"non Wulan, biar saya saja yang antar ke kampus."
Wulan hampir tersedak oleh fresh orange yang diminumnya. Tingkat kegugupannya bertambah saat Adi menatap kearahnya.
"panggil ibu Wulan, harus sopan."
Ayah Wulan memegang tangannya, agar tidak bersikap buruk pada orang yang lebih tua.
"tidak apa pak Bagas, saya yang minta. Lebih nyaman begitu."
Eren tersenyum ramah pada Bagaskara yang mencoba untuk mengerti.
"kalau begitu, kamu ikut saya ke kantor. Tidak akan lama, setelahnya kita pergi kesuatu tempat."
Adi sudah selesai dengan makanannya, giliran kopi hitam yang diteguk nikmat oleh bibir manisnya.
Sadar Wulan, kenapa kamu memperhatikannya sampai kesana.
"iya, Wulan akan ikut pak. Ayo ganti baju Wulan, jangan membuat pak Adi menunggu lama !"
Tanpa mendengar jawaban dari anaknya, Bagaskara menyetujui perintah Adi yang hanya 2 tahun dibawahnya.
Wulan berdiri, mendorong kursinya dengan keras dan tidak enak didengar. Rencananya untuk rebahan dikamar seharian batal karena ulah pak Adi.
"loh, ayah mana ?"
__ADS_1
Eren dan Adi sudah menunggu didepan mobil, Wulan yang baru keluar celingukan mencari keberadaan ayahnya.
"beliau banyak pekerjaan, non harus maklum."
Tangan Eren bergerak membuka pintu mobil, mempersilakan Wulan masuk.
Tidak perlu waktu lama untuk supir melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota. Waktu tempuh dari rumah ke kantor sekitar 30 menit kalau tidak macet. Adi berjalan setelah security membukakan pintu untuknya. Dia memutar untuk membantu Wulan turun dari mobil.
"cantik . ."
Gumamnya, masih bisa didengar oleh Wulan.
"pak, tangannya !"
Mata Wulan tajam melirik kearah tangannya yang masih setia digenggam oleh Adi.
"mari Pak, Non"
Eren memimpin jalan untuk Adi, diikuti Wulan berjalan dibelakangnya.
Ditempat itulah Adi disegani, dihormati dan disanjung oleh karyawannya. Dari jajaran atas hingga bawah, mereka disejahterakan oleh kebijakan perusahaan yang dibuat oleh seorang Adi Gunawan.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya, menunduk hormat menyapa.
Mereka terkesima melihat sosok perempuan asing bersama pak Adi. Cantik, anggun mengenakan dress hitam selutut dengan sepatu sneakers putihnya.
Siapa dia ? Apa calon karyawan baru, atau calon istri.
Wah pak Adi memang hebat, selain sukses dia juga masih tampan dan awet muda. perempuan manapun tidak bisa menolak kharismanya.
Wulan risih menerima tatapan dari karyawan Adi. Andai saja dia bisa menolak, mana mau pergi ke kantor. Bukan seleranya untuk bekerja di perkantoran.
Wulan ingin bekerja bebas dialam terbuka, menyaksikan fenomena alam yang tidak bisa semua orang pahami.
Ah, Wulan jadi ingat Damar, sedang apa dia sekarang ?
Pernahkah Damar merindukan dirinya ?
"tunggu di dalam, aku ada rapat dengan client kurang lebih 30 menit dari sekarang. Kalau kamu butuh sesuatu, telpon ke nomer 7."
Adi mengantar Wulan sampai depan ruangannya, sebelum dia tinggalkan untuk meeting.
"iya."
Wulan masuk setelah Eren membukakan pintu untuknya.
Adi tipe pengusaha yang ontime dan menepati janji. Jam kerja baru saja dimulai, ia harus bertemu dengan tamunya.
Tamu yang juga menghargai kesempatan untuk bertemu dengan pemilik perusahaan.
"terima kasih bapak sudah mau bertemu dengan saya. Ini proposal yang saya ajukan, semoga bapak berkenan untuk membaca."
__ADS_1
Pria paruh baya itu menyodorkan map berisi proposal. Niatnya ingin mengajukan kontrak kerja, menjadi penyuplai bahan berat untuk perusahaan besar yang Adi miliki.