
Hiruk pikuk ibukota dengan segala problemanya. Kemacetan, banjir, politik, bursa saham semuanya sudah menanti kedatangan Adi dan Wulan. Kembalinya mereka juga membawa harapan bagi Adi, semoga Wulan tidak akan berbuat nekad.
Pasalnya tadi pagi sebelum take off, Wulan meminta ponsel, tas dan kunci mobilnya dikembalikan.
Ia juga sempat menarik uang di mesin Atm cukup banyak.
Eren dan supir sudah menunggu mereka didepan pintu masuk.
"Eren, kamu bawa yang aku minta ?"
Wanita itu hanya mengangguk dengan ragu menatap bosnya.
"ini non"
Wulan meraih tas kuliah dan juga kunci mobil yang diserahkan Eren.
"tapi non . ."
Setelah mendapatkan yang ia
inginkan, Wulan langsung memasuki mobil kesayangannya yang terparkir dibelakang mobil Adi.
"biarkan saja, saya terpaksa menuruti kemauannya. Ini hukuman untuk saya."
Sempat khawatir takut Wulan kabur, Adi mau tidak mau membiarkannya. Dia yakin, kalau Wulan tahu betul tugas dan tanggung jawabnya.
"apa ada masalah?"
Eren melihat sendu diwajah Adi, apalagi mengingat Damar menyusul mereka.
"tidak ada. Ayo kita pulang, aku harus bertemu dengan Damar."
Setelah barang masuk semua, mobil melaju meninggalkan bandara.
"yes . .
Welcomeback kesayangan."
Tangan Wulan mengelus setir mobil, dan mulai mengikuti lirik lagu yang sudah ia putar.
-semuanya akan berjalan sesuai rencana. Aku hanya perlu mengikuti alurnya-
Dalam hatinya Wulan terus berfikir positif. Semoga akan ada jalan untuk masalah hidupnya.
Sebelum kekampus, Wulan menghentikan mobilnya untuk mampir ke sebuah apotek.
Tabungan uang jajan Wulan masih aman, tidak diblokir pihak bank. Sama sekali Wulan tidak ingin bergantung pada Adi.
"mau beli apa kak ?"
Tanya apoteker pada Wulan yang masih bimbang itu.
"eu . . Mbak, saya mau beli pil kb. Tapi yang bagus kualitasnya."
Wulan sempat tengok kanan kiri, untung masih sepi. Ia malu, perempuan seusianya sudah membeli obat macam itu.
"ini yang paling bagus. Jangan sampai terlewat diminum, bisa hamil nanti. Malam ini minum yang hari rabu."
Petugas apoteker sangat profesional melayani Wulan yang pemula.
Dia juga tidak memandang rendah dirinya, artinya sudah banyak remaja yang melakukan hal ini.
"berapa mbak ?"
Tanya Wulan mengeluarkan dompetnya.
"50 ribu kak."
Uang pas, mereka saling bertukar. Wulan langsung memasukkan kresek itu kedalam tasnya.
"eh ada Wulan . .
abis beli apa, ****** ya ?"
Didepan pintu, seseorang berpapasan dengan Wulan. Untung saja dia tidak melihat apa yang dibeli Wulan.
__ADS_1
"bukan urusan loe Gilang. Minggir !"
Masih salah tebakanmu Gilang, ini pengaman untuk perempuan. Wulan terkekeh meninggalkan laki laki rese itu.
"kalau baik sedikit saja, dia cantiknya kebangetan ckckck."
Gilang berdecak kesal menyaksikan Wulan naik mobil.
"Damar, kemari kamu !"
Adi menghentikan langkah Damar yang sudah mau pergi ke kampus.
"ada apa pah ?"
Tanyanya menunjukkan wajah malas.
Plak . .
Sebuah tamparan mendarat dipipi mulus Damar.
"berani beraninya kamu mengganggu Wulan ! Kamu tidak menghargai papa ?"
"cuih . . Apa dia ngadu sama papa ? Memang apa yang dia katakan, jangan bilang Wulan tidak jujur kalau aku sempat menciumnya secara paksa."
Sinis sekali Damar memancing emosi Adi.
Plak . .
Lagi, giliran pipi sebelahnya yang ditampar sang papa.
Kalau sudah keterlaluan, Adi akan berani menghukum dan mendidik anaknya dengan keras. Terlebih Damar sudah dewasa, bukan anak kecil lagi.
"terima kasih pah oleh olehnya. Harusnya aku yang memiliki dia, papa sudah merebut dan merusak semuanya."
Damar membanting tasnya kebawah, pergi dengan rasa marah pada Adi dan juga Wulan.
-salahkan dirimu sendiri Damar, yang tidak bisa meraihnya-
Lirih Adi dalam hati.
Keputusannya tidak pernah salah, Adi mengejar cinta Wulan hingga dapat. Meskipun saat ini, istrinya masih belum bisa membalas perasaannya.
Wulan berlari kearah temannya yang sedang berjalan menuju kantin.
"ceria banget kamu Wulan, hayoh . ."
Baru kali ini Eva melihat Wulan tersenyum girang, biasanya berwajah datar.
"aku punya oleh oleh buat kamu, nih."
Ia memberikan sebuah paperbag untuk Eva yang matanya terbelalak mendengar kata oleh oleh.
"ya ampun Lan, ini kan kain khas bali. Cokelat pod, aah suka. Thanks ya Wulan"
Gadis itu langsung memeriksa isi tas, girang sekali temannya ingat sama dia.
"maaf, selama ini aku tidak bisa cerita. Aku takut kamu juga menilai aku matre."
"tidak Lan, sama sekali. Pasti kamu jalan jalan ke bali sama pria waktu itu ya . ."
Eva dan Wulan mulai duduk dikantin, mengobrol sebelum mata kuliah dimulai.
"aku udah nikah sama dia Va, minggu kemarin."
Wulan menunjukkan cincin dijari manisnya pada Eva.
"jadi ucapan Gilang sama Dini bener ? Ya tuhan, aku ikut prihatin ya sama kamu."
Merasa simpati, Eva mengelus tangan Wulan. Memberi dukungan untuk teman dekatnya.
"thanks ya Va, sudah mau jadi pendengar."
Untuk berjaga jaga, Wulan tidak lupa menyimpan alamat rumah Eva. Sekarang ia harus lebih pintar untuk kabur.
"Heh Wulan, sini loe !"
__ADS_1
Tiba tiba Dini datang menggebrak meja lalu menarik rambut Wulan.
"Din, lepasin Wulan ! Gila ya loe."
Eva berusaha melepaskan tangan Dini yang menarik Wulan menjauh dari kantin.
"loe udah rebut om Adi dari nyokap gue, dasar cewek matre. Nikah cuma karena takut miskin loe dasar."
Plak . .
Setelah Dini melepaskan tangannya, berganti menampar pipi Wulan.
"kamu tahu apa soal hidup saya ? Siapa ibu mu, bahkan tidak seujung jaripun penting bagi suamiku."
Pertengkaran mereka ditonton banyak mahasiswa lain.
Sekarang Wulan tidak akan tinggal diam lagi. Dirinya tidak salah, jika tetap bungkam orang tidak akan tahu kebenarannya.
Eva mendukung Wulan sepenuhnya, dia yakin kalau temannya itu melakukan hal yang benar.
"oh jadi loe ngaku, udah nikah sama gadun ? Nih teman teman, si Wulan yang katanya cantik bak dewi sudah sold. ."
Plak !
Wulan membalas tamparan Dini. Darahnya mulai memanas disekujur tubuh.
"jaga mulut kamu Dini ! Saya sudah cukup sabar menghadapi kamu."
Wulan berjalan meninggalkan kerumunan itu, diikuti Eva dari belakang.
"gak masalah kali Din, kalau nikahnya sah. Lagipula bukan jadi simpanan, ataupun pelakor."
Damar yang sejak tadi memperhatikan, menghampiri Dini yang masih kesal.
"terus loe ikhlas ? Bukannya loe suka sama dia, kenapa loe bisa setenang ini ?"
"seperti kata Wulan tadi, seujung kukupun loe gak berhak ikut campur soal kehidupan kami."
Orang orang yang masih berkumpul sangat setuju dengan perkataan bijak ketua BEM kampus mereka.
Lalu kerumunan bubar dengan sendirinya.
"jangan berani menyentuh Wulan dengan tangan kotormu Dini. Atau gue akan lapor sama Dekan."
Setelah puas memperingati Dini, Damar meninggalkannya begitu saja. Dia mencari keberadaan Wulan.
"apa seberat itu hidup kamu Lan ?"
keduanya sudah duduk dikursi thatre, bersiap mengikuti mata kuliah bahasa inggri.
"masih banyak yang lebih susah diluar sana. Va, kamu ikut kelas bahasa inggris juga ?"
Eva mengangguk antusias sambil mengeluarkan agendanya.
"kak Kencana saja jadi arsitek, masa aku adiknya meye meye gak maju."
motivasi Eva beralasan, namun Wulan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"ok class, we'll begin the lectur. please give me attention !"
bersamaan dengan dimulainya kelas, seseorang mengisi kursi kosong disebelah kanan Wulan.
"fokus kedepan kamu !"
sempat menengok kearahnya, kini mata Wulan kembali ke dosen yang berdiri didepan.
terlihat Wulan meringis menyentuh bagian intimnya.
meski baru sekali, rasanya seperti sudah secara paksa dirobek.
"excuse me sir, Wulan is ill. let me escort her to the clinic."
"Damar, kamu apa apaan ?"
Wulan berbisik sambil menurunkan lengan Damar yang diangkat.
__ADS_1
"ok, help her please. get well soon miss Wulan."
dosen memberi izin, Damar menarik paksa Wulan tanpa merapikan tas dan bukunya.