
"Wulan buka pintunya ! Aku minta maaf soal tadi karena aku terlalu khawatir."
Ketiga kalinya Damar mengetuk pintu kamar Wulan berharap ia mau membukakannya. Sayang masih belum ada jawaban dari pemilik kamar utama.
"Bagaimana ini tuan muda, nyonya harus makan malam atau saya dimarah tuan Adi."
Bi Marni ikut cemas dengan tangan membawa nampan berisi makanan dan segelas air.
"Saya juga bingung bi, Wulan memang sangat keras kepala."
Ceklek . . .
Pintupun akhirnya terbuka, menampilkan sedikit wajah Wulan dibaliknya. Damar sedikit mendorong agar bisa masuk namun Wulan menahannya memberi tanda tak ingin diganggu.
"Bi saya akan turun kalau lapar, jadi tolong jangan ketuk lagi pintunya. Saya mau langsung istirahat."
"Baik non."
Bibi menurut kemudian meninggalkan Damar bersama Wulan.
"Mau apa lagi ?"
Tatap Wulan tajam pada Damar.
"Kamu sakit ? Kata Jiro belum minum obat dari siang."
"Oh itu, hanya vitamin. Papa kamu juga tahu."
Kediaman Damar menyelesaikan percakapan keduanya. Wulan segera menutup kembali pintu kamarnya. Ya, Wulan memang memberitahu Adi kalau dirinya dianjurkan minum vitamin. Padahal kenyataannya itu obat penguat jantung. Jika Wulan sudah dinyatakan hamil ia harus berhenti meminumnya. Atau akan berbahaya bagi janinnya nanti.
.
.
.
.
Wulan sudah mulai melakukan aktifitasnya yaitu kuliah, berangkat ke kampus diantar jemput oleh Jiro dan kadang kadang bersama Damar. Semua mahasiswa kini tahu cerita lengkap mereka berkat majalah bisnis. Menampilkan sosok Adi dengan kisah kehidupan barunya sekarang ini. Bagaimanapun dunia perlu tahu siapa wanita yang dicintainya.
Hal itu juga yang membuat seseorang terpaksa hadir diantara mereka. Bukan keinginannya, melainkan suatu keadaan mendesak mengharuskan dirinya kembali ke tanah air.
"Moma, kapan kita kembali ke mumbai ? Depika rindu nenek. Lagipula disini tidak ada Baba kan ?" Rengek anak gadis berusia 5 tahun pada ibunya.
"Sayang, moma perlu bertemu Baba kamu. Biar nanti Baba bisa tahu kalau kamu hadir diantara kami."
Tangannya bergerak mengelus pipi chuby Depika. Sorot mata sang ibu menghadirkan kepiluan mendalam menatapnya.
Keduanya masih duduk setia di Cafetaria sebuah perusahaan sukses di Ibukota. Sesuai informasi bagian receptionist kalau Direktur Utamanya akan tiba dikantor sesaat lagi setelah perjalanan bisnis cukup lama dari luar Kota.
"Gak mau moma, Depika tidak betah disini. Depika mau pulang ke Mumbai sekarang juga !"
Depika berteriak menepis tangan ibunya kemudian berlari kearah pintu keluar. Karena sama sama tak melihat jalan, ia bertabrakan dengan seorang laki laki bertubuh tegap dan tinggi.
"Hei malaikat kecil, kenapa berlarian ?"
Depika sudah berada dalam gendongannya, bahkan dia mengusap sisa tetesan air mata Depika.
"Om tolong antarkan Depika ke Bandara, aku mau pulang bertemu nenek. Disini tidak menyenangkan."
"Depika, jaga sikap nak !"
Wanita berpakaian formal itu mengambil alih tubuh Depika dari pangkuan om tampan.
"Maafkan puteri saya, dia sudah bosan menunggu sejak tadi."
"Tidak masalah, memang kalian menunggu siapa ?"
"Sharma . . ."
Belum sempat menjawab pertanyaan tadi, seseorang menyapa Sharma dari jarak masih cukup jauh dihadapan mereka. Suaranya masih terdengar ditelinga Sharma, suara pemilik hati yang sejak dulu tak bisa tergantikan oleh siapapun.
"Pah, akhirnya datang juga."
__ADS_1
Ia berjalan cepat mendekati pria yang disebut papa olehnya.
"Papa ? Jadi dia , , ,"
Sharma memutar tubuhnya membelakangi kerumunan orang orang terpenting diperusahaan besar tempatnya berpijak sekarang.
"Pah syukurlah papa sudah kembali, Damar kewalahan menjaga Wulan. Sepertinya dia memang hanya bisa luluh sama papa."
Baru saja tiba, Adi sudah mendapat laporan dari putera Mahkotanya.
"Damar bisa kamu jemput dia sekarang dikampus ? Papa ada pertemuan penting."
"Loh bukannya Wulan sama Jiro ?"
"Tuan, lebih baik tuan turuti perintah papa tuan muda."
Seakan paham situasi genting, Eren meminta Damar segera pergi menjemput Wulan.
"Baiklah, ini tugas terakhirku. Oh iya, sampai jumpa lagi Depika !"
Teriak Damar melambai pada Depika yang tersenyum manis kearahnya. Damar seperti melihat sosok masa kecil dirinya.
Akhirnya Damar segera mengambil kunci mobil dari saku celananya menuju parkiran VIP. Setelah mobil lenyap dari pandangan Adi, dia berjalan kearah Sharma.
"Eren, siapkan ruang meeting untuk kami."
Perintah Adi tanpa menatap Sharma sedikitpun.
"Baik pak. Mari bu Sharma ikuti saya." Eren memimpin jalan menuju tempat biasa Adi mengadakan pertemuan penting dengan clientnya.
Tidak ada siapapun diruangan itu kecuali Adi dan Sharma. Depika sudah tertidur pulas dipangkuan momanya.
Raut wajah Adi menunjukkan ketidak nyamanannya bertemu lagi dengan sang mantan kekasih. Sharma menyadari hal itupun meremaz kedua tangannya dibawah meja.
"Ada hal apa sehingga kamu kembali kehadapanku ?"
Tak ingin basa basi, Adi melontarkan pertanyaan.
Sebelum melanjutkan perkataannya, Sharma menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Mengumpulkan segala kekuatan dan keberanian yang tersisa demi Depika.
"Di, Depika anakmu. Dia membutuhkan kamu sekarang."
Bagai disambar petir disiang bolong, Adi ternganga mendengar hal konyol keluar dari mulut Sharma. Sejak dulu prinsipnya selalu kuat, yaitu tidak pernah menanam benih sembarangan pada perempuan manapun. Sekalipun itu kekasih yang amat ia cintai dulunya.
"Jangan gila kamu Sharma ! Kapan kita melakukannya ? Kamu pergi meninggalkanku begitu saja, setelah 6 tahun kamu muncul lagi dan memberi berita kalau kau hamil darah dagingku ?
Apa maumu Sharma, katakan !"
Penuh penekanan Adi menuding wajah Sharma dengan telunjuknya.
"Kenyataannya Depika memang anak kamu Di. Kalaupun aku bisa, aku tidak ingin kembali, tapi dia hanya membutuhkan Babanya."
Wajah Adi bagai dibakar kobaran api, darahnya mendidih panas menjalar keseluruh tubuhnya. Ia memijat pangkal hidung akibat tidak bisa mencerna setiap ucapan Wanita berusia 40 tahun. Meski begitu Sharma masih sangat menawan dengan bentuk tubuh ideal.
"Please, bantu Depika. She needs your help." Sungguh terenyuh hati Adi melihat air mata seorang ibu memohon padanya.
Adi bukanlah pria jahat, bejad tak berperasaan. Mana mungkin ia lepas tangan begitu saja terhadap masalah pribadinya. Adi perlu mempelajari kisah rumit ini dari awal demi memutuskan sesuatu kedepannya. Terlebih Adi sangat khawatir jika Wulan sampai tahu hal ini dari orang lain.
"Oke, jelaskan semuanya padaku. Aku berhak memutuskan solusinya."
Mencoba tenang, Adi menarik nafas siap mendengarkan penuturan Sharma pasal Depika.
Panjang lebar dengan durasi waktu cukup lama Sharma memaparkan awal mula kejadian dirinya mengandung darah daging seorang Adiguna. Rasanya Adi ingin berteriak menyalahkan tindakan Sharma yang diluar batas wanita normal pada umumnya.
Demi cinta katanya ?
Sekarang Depika anak merekalah yang harus menanggung resiko dari tindakan curang sang ibu.
Sharma menangis tanpa jeda dengan terus menjelaskan secara rinci kehidupan yang dilalui mereka setelah pindah ke Mumbai bersama ibunya.
"Kalian pulanglah dulu, Eren akan mengutus beberapa orang untuk mengantar."
Setelah garis besarnya bisa Adi mengerti, ia beranjak tanpa tenaga pada kedua kakinya.
__ADS_1
Adi berjalan menuju pintu dan tanpa sengaja menatap tubuh gadis kecil tertidur pulas dipangkuan Sharma. Nuraninya ingin sekali mendekap Depika, namun logika Adi masih tertuju pada Wulan saat ini bahkan sejak pertemuan pertamanya dengan Sharma di lobby.
"Aku sudah bertemu Wulan, dia sangat cantik dan anggun."
Adi mengurungkan niatnya memutar handle pintu lalu berbalik setengah badan dan mengancam Sharma.
"Jangan pernah sentuh dia ! Atau kau akan menyesal."
Sharma hanya tersenyum miris memikirkan nasib dirinya juga Depika. Andai dia datang lebih awal mungkin keadaan tidak akan menjadi serumit ini. Balik lagi, ini semua Sharma lakukan demi Depika.
🌙️🌙️🌙️
Tidak biasanya rumah Adi seramai sekarang ini. Meja makan bahkan sudah penuh dengan berbagai macam menu makanan buatan Wulan dan Bi Marni. Eva juga Kencana terlihat hampir meneteskan air liurnya tak sabar ingin segera mencicipi.
"Gak salah ya pak Adi nikah sama kamu, ternyata Wulan pintar masak."
Puji Kencana, Wulan hanya tersipu malu mendengarnya.
"Wah wah ada acara apa nih kumpul kumpul ?"
Suara Damar menggema mengisi ruang makan, ia baru saja tiba dari kampus setelah Jiro memberi kabar kalau Wulan sudah pulang bersama Eva.
Wulan juga sengaja mengajak Kencana makan bersama dirumahnya. Demi menyambut kedatangan sang suami Wulan rela menyibukkan diri didapur. Sementara Eva asik sendiri nonton TV.
"Cepat mandi, sebentar lagi pak Adi pulang. Anggap saja ini makan malam penyambutan pertemuan kembali Adam dan Hawa."
Bukan Wulan yang menjawab, melainkan Kencana yang kini terkekeh menatap Wulan.
"Oh pantas saja, baiklah kalau begitu aku naik dulu."
"Damar aku ikut !"
Teriak Kencana mengejar langkah tegap milik Damar menaiki anak tangga.
"Sustt !"
Eva memanggil Wulan yang masih sibuk menata piring.
"Apa ?"
Tanya Wulan melirik sebentar pada Eva.
"Kamu gak cemburu lihat kak Caca sama kak Damar ? Mereka berduaan loh dikamar."
"Va, aku sudah punya suami. Dia segalanya bagiku sekarang."
Eva dibuat melongo dengan jawaban Wulan, ia mencari ketidak jujuran dimata Wulan. Hasilnya nihil, sekarang Wulan memang sudah menggantikan status kepemilikan hatinya.
"Kok bisa cinta berubah begitu mudahnya ?"
Gumam Eva namun masih bisa Wulan dengar.
"Karena setiap manusia sudah dipasangkan dengan jodohnya masing masing. Nanti juga kamu ketemu Va."
"Wulan aku pulang . . ."
Suara lembut itu sudah bisa Wulan dengar kembali dirumah ini. Ia menghentikan kegiatannya kemudian melepas celemek, berlari kecil mendatangi sumber suara.
"Halah otw jadi obat nyamuk nih, nyesel gue ikut makan."
Eva menundukkan wajahnya kesal.
Belum lagi ayah Wulan pasti hadir karena diundang otomatis bersama Eren.
"Mas . ."
Wulan berhambur memeluk tubuh Adi, menghirup aroma tubuhnya yang sudah ia lupakan karena kurun waktu cukup lama memisahkan mereka.
"Terima kasih, terima kasih karena kamu sudah sehat sekarang. aku minta maaf pergi lama meninggalkan kamu. Wulan aku sangat mencintai kamu."
Tak terasa, kristal bening muncul diujung mata seorang Adiguna. Wulan sadar kalau suaminya menangis, ia mendongak kemudian mengusap lembut menghapus air matanya.
"Aku juga mas. Sekarang mandilah, sebentar lagi ayah tiba. Maaf kalau rumah akan ricuh malam ini."
__ADS_1