
Usai makan siang Adi mengajak Wulan berenang di private pool. Setiap kamar memiliki fasilitas kolam renang. Cuacanya juga sangat pas untuk menikmati aktifitas intim suami istri itu.
"aku gak bawa simming suit mas, mas aja yang renang."
Sedari tadi mereka masih berdebat membahas pakaian renang.
"pakai baju dalam juga cukup, mas tunggu diluar ya !"
Wulan gigit jari, dia benar benar malu kalau harus berpakaian terbuka. Padahal Adi sudah jadi suaminya, apa kabar tadi Wulan yang sok sokan minta diperawanin.
Keinginan suami adalah perintah, suka tidak suka Wulan harus memenuhinya. Wulan berjalan kearah luar, kakinya mulai turun memasuki air.
Kedua tangannya masih menyilang menutupi bagian dadanya.
"kemarilah !"
Adi terkekeh melihat sikap Wulan yang malu malu.
Air kolam seukuran dadanya, karena tubuh Wulan memang terbilang pendek. Susah payah dia berjalan kearah Adi yang bersandar disebrang kolam.
"bagus, pemandangannya. Bapak terbaik !"
Wulan mengacungkan 2 jempol, memuji hasil karya suaminya.
"mulai lagi."
"aku muji kamu sebagai kontraktor handal."
Adi melingkarkan tangannya memeluk pinggang Wulan. Mereka sama sama menatap langit yang sama.
Ada dorongan entah dari hati atau pikirannya, Wulan membalikkan badan dan merangkul leher Adi dengan kedua tangannya.
Cup . .
Dengan mengumpulkan keberanian, Adi mengecup singkat bibir Wulan.
Kini salah satu tangannya mendongakkan kepala Wulan untuk mempermudah Adi mel*mat bibirnya.
Lembut sekali gerakan Adi, tidak menuntut. Membuat nyaman Wulan dan ikut hanyut olehnya.
"manis . ."
Bisik Adi ditelinga Wulan.
"dingin, ,"
Gumam Wulan. Hangatnya ciuman Adi mengalahkan kedinginan yang dirasakannya. Wulan tidak terbiasa lama lama diair, ia akan selalu menggigil nantinya.
Adi menyudahi acara berenang mereka, Wulan harus segera membilas seluruh badannya dengan air hangat.
"kita mau kemana ?"
Posisi kamar mereka ada diatas, Wulan mengomel karena harus menuruni beberapa anak tangga.
"kalau kamu capek, naiknya biar aku yang gendong."
Sampai ditempat penyewaan sepeda, Adi mengajak Wulan untuk bersepeda mengelilingi desa Buahan.
Sore hari yang menyenangkan, Wulan benar benar dibukakan matanya. Tak selamanya yang indah itu harus jadi milik kita. Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang kita butuhkan, bukan inginkan.
Sekarang ia hanya perlu berusaha untuk membalas perasaan Adi. Sebelum semuanya terlambat.
"mas, beli souvenir !"
Mereka melewati jajaran kios yang menjual oleh oleh khas Bali.
Adi membayar semua belanjaan yang dipilih Wulan. Baru kali ini, Wulan membeli barang banyak. Tidak bermerk, harga murah.
__ADS_1
Ternyata penilaian Adi sudah keliru, menganggap Wulan suka hidup mewah dan glamor.
Sepulangnya bersepeda, Adi benar benar menggendong Wulan untuk naik kekamar.
"serius, aku turun saja."
"sudah diam, aku ingin melakukannya."
Kenapa malah bayangan Damar yang muncul. Dia juga pernah menggendongnya saat dirumah Damar.
Sadar Wulan, ragamu bersama Adi suamimu, tapi kenapa pikiranmu masih tertuju pada Damar anaknya.
Menjelang makan malam, Adi merebahkan tubuhnya yang lelah seharian.
Bukan hanya tenaga, pikirannya juga terkuras menyusun rencana agar Damar menjauhi Wulan.
Hari sudah gelap, Wulan juga malas untuk kemana mana setelah seharian beraktifitas.
Ia ikut berbaring, bersebelahan dengan Adi yang terpejam.
"Wulan, mas boleh melakukannya sekarang ?"
Adi memiringkan tubuhnya menghadap Wulan yang berpikir suaminya sudah tidur.
"mmm..."
Jawab Wulan mengangguk memperbolehkannya.
Adi mulai mengecup kening Wulan, turun kehidung yang kemudian menuju bibirnya.
Disana Adi menuntun Wulan untuk membuka mulutnya, membiarkan lidah mereka bersatu. Lenguhan Wulan semakin membuat Adi gila, tangannya mulai membuka baju tidur istrinya.
Sekian lama dia menantikan hal itu, Adi kini menye*ot dua gunung kembar yang kenyal milik Wulan.
"mas . ."
Desahnya menahan sensasi enak yang diberikan Adi.
"dengar, jika ini yang pertama maka akan sakit Wulan."
Adi mulai memasukkan miliknya kedalam milik Wulan.
"Aah . . Sakit."
Wulan menggigit bibirnya meringis kesakitan, ia juga mencengkram lengan Adi. Terlebih saat milik suaminya sudah penuh masuk kedalam. Tangan Wulan meremas sprei untuk menyalurkan perasaannya yang tak karuan.
"mmm, ah . . Ayo terus sayang !"
Adi terus menghentakkannya, hingga sampai puncak kenikmatan dia mengalirkan cairan kedinding rahim Wulan.
Proses malam pertama itu berjalan cepat, hanya satu kali Adi melakukannya.
"terima kasih. ."
Adi berbisik dengan nafas memburu, keringat mereka membasahi tubuh masing masing.
"aku mau ke kamar mandi."
Rasanya nyeri, Wulan berjalan dengan hati hati. Ini pertama baginya, kenapa bisa Adi berpikir buruk tentangnya.
Bahkan Wulan tidak bisa merasakan indahnya percintaan mereka.
"Wulan . ."
Adi melihat bercak darah disprei, pasti istrinya sangat tersinggung dengan kata katanya tadi. Ah kenapa Adi malah bicara seperti itu padanya. Dia merasa sangat bersalah sekarang, sudah meragukan kesucian Wulan.
Dengan sehelai handuk, Adi berjalan menuju pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Wulan, buka pintunya ! Aku minta maaf, aku mohon keluarlah. Kita bicara diluar ya ?"
Berkali kali Adi mengetuk, namun tidak ada jawaban dari dalam.
Didalam kamar mandi, Wulan duduk diatas toilet. Ia masih merasa sakit dibagian kewanitaannya, namun tak seperih luka yang sudah Adi goreskan dihatinya.
"apa aku seburuk itu dimata mereka ?"
Tangan Wulan bergerak menekan tombol flush, agar Adi berpikir kalau ia sedang buang air.
Wulan membuka pintu dengan mengenakan handuk piyama.
"maafkan aku . ."
Adi meraih tangan Wulan, namun ia menepisnya dengan kasar.
"kalau kamu tidak bisa percaya, untuk apa kamu nikahi aku mas ?"
"perasaanku kalut tadi, aku pikir kalian sudah berhubungan jauh."
Adi menjambak rambutnya, kemarahan Wulan membuatnya frustasi.
"kamu pikir aku sehina itu ?"
Kini Wulan memakai baju dihadapan Adi, tangannya juga sibuk mengemas barang kedalam kopernya.
"tunggu !
Kamu mau kemana ? Ayolah Wulan, jangan kekanak kanakan"
Adi menahan Wulan yang berniat pergi dari kamar.
"ya, aku mungkin tidak sedewasa kamu. Aku masih 19, apa sekarang kamu menyesal menikahi aku ?"
Dalam marahnya, sesaat Wulan berpikir.
Dia mau kabur kemana ?
Dompet tidak ada uang tunai, ponsel juga masih belum dikembalikan. Ditambah, tidak ada tempat tujuan saat Wulan sampai di jakarta nanti. Gagal sudah rencananya melarikan diri dari Adi.
"kenapa, kamu mau kabur ?"
Wulan yang mematung membuat Adi mencium keraguan istrinya akan berani pergi begitu saja.
"pindah kamar, aku gak mau tidur sama kamu."
Adi terkekeh mendengar jawaban Wulan yang absurd.
"pindah kamar aku ikut, atau tidak sama sekali."
"haha mas . . Itu gak ada bedanya."
Meski tertawa, air matanya tetap jatuh tanpa bisa dilarang olehnya.
Adi segera memeluk istrinya, ini semua kesalahannya. Dia tidak bisa menjaga ucapan dan rasa penasaran akan tubuh Wulan.
"aku minta maaf, maaf Wulan."
Pelukan Adi semakin erat, sehingga isak tangis istrinya tidak ingin ia dengar.
"aku lapar, mau makan steak."
Wulan melepaskan pelukan Adi, perutnya mulai merasakan lapar.
"kamu kayak orang ngidam aja, aku pesan layanan kamar dulu. kita makan dikamar ya ?!"
Wulan mengangguk. kali ini Adi lolos dari kemarahannya, semua akan berakhir diwaktu yang tepat.
__ADS_1
bukan berarti ia akan membiarkan masalah ini berakhir. Wulan akan mengumpulkan poin poin kesalahan suaminya untuk bisa lepas dari jeratannya.
-Maaf mas Adi, aku tidak bisa hidup diantara kalian. ini benar benar menyesakkan. biar aku yang mundur, agar kalian berdua tidak terluka karena aku-