
Wulan akhirnya ikut ke persidangan satu minggu kemudian. Ia memakai topi dan kacamata untuk menutupi wajahnya. Adi teguh pendirian, tidak ingin istrinya menjadi bahan konsumsi publik.
Eren setia mendampingi Wulan, agar terhindar dari kejaran wartawan.
Ia tak menyangka, kalau hari itu Wulan akan duduk dikursi pesakitan. Tangannya mulai dingin, saat duduk menunggu sidang dimulai. Adi menggenggamnya, mencoba memberi ketenangan.
Dini dan Citra masuk, mereka berada dimeja tergugat. Hakim membuka sidang, dan melanjutkan dengan meminta korban memberi kesaksian.
"saya tidak menyangka, paras akan menjadi boomerang. Yang saya tahu, suami saya bahkan tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Saya terima, kalau mereka melukai saya. Tapi ada nyawa yang tidak berdosa yang dilenyapkannya. Saya memohon agar hukum bisa adil, terima kasih."
Meski berusaha kuat, tetap saja air matanya terjatuh berulang kali.
Hiks hiks . .
Adi meraih Wulan masuk kedalam pelukannya.
"kamu hebat Wulan ! Semuanya sudah berakhir, tegakkan kepalamu."
Dini menatap kearah Wulan yang sangat dilindungi suaminya. Ia juga tidak menyangka, kalau Wulan sedang hamil saat itu. Kalau saja semuanya bisa diperbaiki, namun sudah terlambat.
"dengan ini kami menjatuhi hukuman pada saudari Dini 1 tahun penjara, dan saudari Citra 6 bulan. Sidang berakhir, terima kasih."
Ketok palu, hukuman sesuai yang diperkirakan pengacara.
Wulan bisa bernafas lega, kini dikampus tidak akan ada yang mengganggunya lagi.
Dulu ia berani melawan Wulan atau pengganggu lain, tapi karena trauma Wulam sedikit ragu dan cemas.
Diam diam, Damar juga mengikuti jalannya persidangan tanpa sepengetahuan papanya. Dia duduk disudut ruangan, tersenyum lega saat orang yang telah menyakiti Wulan dipenjarakan.
"kamu mau kemana ? Akan aku antar kemanapun yang kamu mau."
Adi berjalan meninggalkan ruang sidang sambil merangkul bahu Istrinya.
"mmm, nonton mas. Kali ini aku yang pilih filmnya."
Damar lega, Wulan sudah terlihat bahagia bersama papanya. Ini saatnya dia juga melangkah maju, meski dihatinya belum tergantikan posisi Wulan.
"ada apa ?"
Tanya Damar cuek pada seseorang yang menelponnya.
"antar aku, ini penting Dam !"
Suara perempuan yang cempreng, memaksa Damar hanya menurut untuk datang menjemputnya.
"dasar kereta Kencana."
Sarkasnya pada sambungan telpon yang sudah ditutup cepat.
Film bergenre romantis, Wulan dan Adi sudah duduk dengan popcorn juga minumnya. Kali ini mereka berbaur dengan penonton lain, tidak ada acara sewa 1 thatre.
Sudah mulai sekitar 5 menit, pasangan muda baru saja datang. Yang laki laki duduk disebelah Wulan.
"ya ampun Ca, ini hal penting yang kamu maksud ?"
Bisik laki laki itu mendekat ketelinga pasangannya, membuat Wulan terganggu hingga menoleh.
"astaga . ."
Kaget bukan main, Wulan melihat keduanya seperti sedang berciuman.
"Wulan ?"
"loh Dam, kamu nonton juga ?"
Adi ikut menoleh kearah Damar yang datang bersama Kencana.
"iya pa, nih makhluk maksa."
Damar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bukan tipe laki laki yang suka nonton. Damar lebih suka olahraga, kerja atau sekedar ngobrol sambil ngopi.
__ADS_1
Usai film berakhir, keempatnya keluar bersamaan. Adi yang lapar, mau tidak mau mengajak anaknya dan Kencana untuk makan bersama. Meski dia tahu kalau Wulan akan merasa canggung.
"Wulan, aku beli sesuatu dulu. Kamu duluan sama mereka ya ?"
Adi yang teringat sesuatu, meminta Wulan menunggunya.
"tapi mas . ."
Hanya kecupan yang Adi berikan, lalu berjalan meninggalkannya. Terpaksa Wulan menyusul Damar dan kencana.
"kamu mau pesan apa Wulan ?"
Tanya Damar yang duduk berdampingan dengan Caca.
"Dam, kita pesan roasted duck aja ya !"
Caca malah asik sendiri memilih menu, seolah tidak menganggap Wulan ada.
Tuk tuk . .
Damar mengetukkan jarinya dihadapan Wulan yang masih diam menatap kearahnya.
"wagyu steak, welldone mushroom sauce."
Ternyata selera Wulan sama dengan papa, mereka sangat cocok. Batin Damar lalu mengalihkan pandangannya.
-kak caca jelas menyukai Damar, dan laki laki itu mau diajak nonton olehnya. Tapi kenapa aku tidak suka melihat kedekatan mereka-
Sebisa mungkin Wulan menyembunyikan perasaannya.
"ekhem . ."
Adi kembali, dia berdehem lalu duduk disamping wulan.
"mas kamu lama sekali ? Kamu tahu kan aku tidak betah gak ada kamu."
Bisik Wulan mendekatkan tubuhnya kearah Adi.
Kobaran api mengelilingi Ditya yang menyaksikannya.
Adi mengelus ujung kepala Wulan.
🌙️🌙️🌙️
Lelah seharian menjalani aktifitas, Adi dan Wulan berbaring diranjang untuk istirahat. Perut kenyang, tidak lagi memikirkan makan malam. Wulan paling suka kalau sudah seperti ini, nyaman berada didekat suaminya.
Kedewasaan Adi menjaganya, kini membuat ia sangat bergantung.
"Wulan, terima kasih kamu sudah mau menerimaku."
Adi menarik Wulan untuk memeluk tubuhnya.
"Mm, aku yang bersyukur menjadi istri kamu mas."
Tangannya usil, mulai meraba dan mengelus dada sixpack Adi.
"jangan Wulan, kamu pasti lelah."
Dengan cepat pria itu menahan tangan Wulan.
"kamu tuh seperti candu mas, aku . . ."
Kata kata Wulan menggantung, ia bangun lalu bersandar.
"kamu kenapa ?"
Dia ikut duduk menatap Wulan, guratan cemas mulai menghiasi wajahnya.
"aku malu, sempat berharap kita pisah. Jujur, itu kesalahan terbesar dalam hidupku."
"kemarilah !"
__ADS_1
Wulan memeluk Adi yang sudah merentangkan tangannya.
"yang penting, sekarang kita sama sama."
Nyaman, itu yang dirasakan Wulan sekarang berada dalam dekapan Adi.
Keduanya tidur tanpa melakukan hubungan intim. Memang tidak seintens pasangan pada umumnya, tapi jika sudah terjadi Wulan bahkan hanya bisa pasrah meladeni serangan suaminya.
"Wulan, bangun sayang !"
Tengah malam, Adi menepuk pipi lembut Wulan. Ia berusaha membuka mata, kamar dirumah Eren gelap sekali.
Yang ada hanya dua titik cahaya lilin dihadapannya.
"selamat Wulan, usia kamu 20 sekarang."
Meski manahan kantuk, mata Wulan berbinar mendapat kejutan dari Adi.
Lalu ia menutup mata dan berdo'a. Ia panjatkan untaian harapan didalam hatinya, kemudian meniup lilin.
"terima kasih mas, aku gak nyangka kamu ingat."
Wulan tersanjung, Adi bahkan tahu cake kesukaannya yaitu tiramisu.
"ini, untukmu."
Adi menaruh cake dinakas, tangannya menyodorkan sebuah kotak. Sebuah cincin simple bertahtakan berlian, dia memasangkannya dijari manis Wulan sebelah kiri.
"indah sekali . ."
Sebuah kecupan mendarat dikening Wulan, dibalas ciuman bibir yang panas darinya. Wulan terus menuntut, menunggu Adi membalasnya.
Adi meraih tengkuk Wulan dan memeluk pinggangnya, memperdalam ciuman mereka.
akhirnya, percintaan tak bisa dihindari lagi.
lenguhan demi lenguhan, desahan yang terlontar begitu saja menghiasi ruangan.
tok tok tok . .
ketukan pintu terdengar tepat setelah mereka mengalami puncak kenikmatan.
Adi bangun dan memakai pakaiannya, dia berjalan membuka pintu.
"Tuan muda . ."
raut wajah Eren membuat Adi khawatir, tengah malam membawa kabar soal anaknya.
"dia masuk rumah sakit, berkelahi di . . .
klub malam."
ragu sekali Eren mengatakan tempat kejadian, tapi bosnya harus tahu situasinya.
"kamu jaga Wulan, biar aku yang kesana."
Adi kembali kedalam untuk mengambil dompet dan jaket tebal.
"mas, aku ikut !"
Wulan yang sudah memakai baju, sedikit mendengar kata rumah sakit.
"sayang, ini larut sekali. biar Eren yang menjaga kamu."
Adi menolak, dia tidak ingin Wulan terganggu pikirannya kalau tahu Damar babak belur.
"hati hati."
Wulan melepas kepergian suaminya, padahal ia ingin tahu keadaan Damar.
"Non, apa non masih . ."
__ADS_1
Melihat Wulan yang duduk tegang, Eren ragu kalau nonanya sudah bisa melupakan sang tuan muda.
sementara yang ditanya, hanya diam dengan tatapan kosong.