
Seseorang dari masa lalu ?
Menjelang makan siang Wulan baru saja tiba di cafe dekat kantor Bagaskara. Ia turun dari mobil layaknya nyonya, Jiro membantu membukakan pintu. Mulai sekarang Wulan tidak akan pernah sendirian jika bepergian, mutlak perintah sang suami.
Wulan berjalan dengan sangat anggun memasuki cafe bernuansa modern klasik. Suasana yang tenang menjadikan cafe ini disukai beberapa karyawan kantor Kara Insurence. Melepas penat di jam istirahat maupun pulang bekerja.
Sang ayah melambaikan tangannya menyambut kehadiran harta satu satunya yang Bagas miliki. Wulan berlari kecil menghampiri kemudian langsung memeluknya.
"Wulan kangen sama ayah, ," Lirihnya menitikan air mata bahagia bisa bertemu sang ayah kembali.
"Ayau juga, ayah bahagia lihat kamu sehat kembali Wulan."
Keduanya duduk, berlanjut memilih makanan khas Italia sesuai tingkat kepopulerannya.
"Apa Adi masih belum pulang ?"
Wulan sekedar menggeleng tak semangat, ia juga sedih menanti kepulangan Adi. Ayah Bagas hanya tersenyum melihat ekspresi Wulan.
"Yang sabar, namanya juga punya suami pengusaha. Ayah bangga sama kamu, Wulan selalu berusaha menjadi istri yang baik bagi Adi. Meski ayah tahu kalau itu tidak mudah bagi kamu."
Tangan Wulan digenggam oleh Bagas, menyalurkan kekuatan pada sang puteri untuk tetap lapang dada menerima semua kehendak Tuhan.
"Aneh ya Yah, Wulan gak ngerti kenapa bisa mencintai mas Adi. Padahal usia kami terpaut sangat jauh. Semoga Wulan sama mas Adi bisa terus sama sama sampai akhir."
Makanan tiba bertepatan dengan seuntai do'a terpendam dari hati terdalam Wulan.
"Ayah akan selalu berdoa yang terbaik untuk Wulan. Sekarang kita makan dulu." Wulan mengangguk, ia mulai melahap aglio e olio kesukaannya. Bagaskara tak henti hentinya menatap Wulan merasa beruntunh sang puteri dicintai laki laki seperti Adi.
Ditengah suasana makan siang, seseorang melangkah mendekati meja mereka. Wanita itu berwajah campuran Indo-India dengan tubuh semampai. Rambutnya pendek seukuran telinga.
"Permisi, apa benar anda nyonya Adi ?"
Sapanya berdiri disamping meja Wulan, Bagas dan Wulan kompak mendongakkan kepala melihat siapa wanita itu.
"Iya betul, maaf siapa ?"
"Saya Sharma, hanya teman wanita suami anda nyonya. Mungkin kita akan bertemu lagi lain waktu, maaf menyela acara makan kalian."
Hanya itu, yang diucapkan Sharma pada Wulan lalu pergi keluar cafe.
Siapa dia, kenapa Wulan harus bertemu dengannya lagi ? Entahlah Wulan tak ingin mengambil pusing. Mungkin saja dia rekan bisnis Adi atau teman lama. Tapi kenapa Sharma mengatakan kalau dirinya teman wanita ? Bukankah itu berarti spesial.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan, nanti Adi pasti menjelaskannya."
Seperti mengerti isi pikiran anaknya, Bagaskara mencoba menenangkan keadaan emosi Wulan.
"Wulan baik baik saja Yah, setelah ini Wulan akan mampir ke rumah Eva."
Menyembunyikan kekhawatirannya, ia berusaha tersenyum pada Bagaskara.
Usai makan siang bersama, Wulan minta diantar oleh Jiro ke salah satu mall terdekat. Karena Eva ingin Wulan menyusulnya kesana. Suatu keajaiban bagi Eva bisa bertemu dengan sahabat satu satunya. Biasanya akan sulit membuat janji dengan Wulan karena siapalagi kalau bukan Adi yang melarangnya pergi kemana mana.
"Nyonya, Tuan bertanya apa anda sudah minum obat ?"
Jiro melirik Wulan melalui kaca spion.
"Aku lupa membawanya, nanti akan aku minum saat dirumah."
Jawab Wulan yang duduk dikursi belakang.
"Mungkin Tuan akan cukup lama diluar kota, beliau menyampaikan pesan permintaan maaf."
"Aku tahu, biarkan saja."
"Eva, , , aku kangen banget sama kamu."
Ucap Wulan seketika langsung memeluk sang sahabat.
"Apalagi aku Wulan. Rasanya sudah seabad kita tidak bertemu." Eva melepaskan pelukannya, ia menarik lengan Wulan berjalan masuk.
"Wulan kamu pucat, apa masih belum pulih sepenuhnya ?"
Eva tahu betul keadaan Wulan, seminggu yang lalu temannya itu baru bisa keluar dari rumah sakit akibat koma.
"Aku baik baik saja, mungkin hanya kelelahan. Bagaimana kalau kita nonton film ?"
Karena Wulan merindukan saat saat dirinya bersama Adi. Melakukan kencan pertama dengan menonton sebuah film di bioskop.
"Terserah nyonya Adi saja, hamba akan menurut."
Keduanya tergelak kencang tak peduli tatapan pengunjung mall lainnya.
Sementara dirumah, Damar uring uringan tidak jelas sejak tadi. Dia sudah menelpon Wulan berulang kali namun tak ada jawaban. Jiro juga susah dihubungi akibat ponselnya mati.
__ADS_1
"Argh . . . Sial kau Jiro !"
Umpat Damar setengah berteriak, membuat bibi berlari kecil menghampirinya.
"Ada apa tuan muda ?"
"Ah tidak ada bi, hanya saja Wulan belum pulang sampai sekarang. Papakan sudah menitipkan Wulan padaku."
Damar menjambak rambutnya gusar memikirkan kabar Wulan.
Mobil yang membawa Wulan baru saja memasuki pintu masuk perumahan. Ia menangkap pemandangan seorang wanita tengah menggandeng anak perempuan. Ia terlihat kesusahan menenangkan puterinya untuk masuk ke mobil.
Tanpa merasa bersalah Wulan melangkah menenteng beberapa paperbag hasil buruannya bersama Eva. Jiro yang melihat tatapan Damar langsung menunduk menyesali kecerobohannya.
"Kamu habis dari mana Wulan ? Apa ponselmu hanya sebagai pajangan saja ?"
Sengaja atau tidak, Damar jelas membentak Wulan dihadapan semuanya.
Wulan tertunduk terkejut mendengar Damar seperti itu. Seumur hidupnya belum pernah ia dibentak, Adipun saat marah hanya mendiaminya tanpa bisa berteriak memaki.
Mengusap wajahnya kasar, Damar kehilangan kontrol terhadap Wulan. Ia menyesal dengan cepat atas apa yang ia lakukan barusan.
Wulan meletakkan belanjaannya begitu saja dilantai lalu naik kelantai dua menuju kamar tidurnya.
"Maaf tuan muda, ini salah saya yang tidak memberi info. Tadi nyonya bertemu nona Eva di mall. Nyonya juga belum meminum obatnya."
"Obat, obat apa ? Setahuku dia sudah pulih 100% tanpa obat obatan lagi."
"Saya kurang tahu, tapi akhir akhir ini Nyonya rajin minum obat. Bahkan saya yang membelinya diapotek sesuai resep dokter."
Damar dibuat bingung atas informasi dari Jiro. Ia memberi kode untuknya pergi ke tempat jaga, dan meminta Bibi membereskan barang barang milik Wulan.
Di kamarnya, Wulan menangis dalam diam. Entah mengapa Perasaannya kini mudah tersinggung. belum lagi memikirkan wanita bernama Sharma. Sharma juga terlihat disekitar rumah Adi, dia bersama seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun. Praduga muncul berkeliaran dipikiran Wulan saat ini. siapa dia ? Apa hubungannya dengan Adi ? Salahkah jika nanti Wulan menanyakannya langsung pada sang suami. Tinggal satu atap bersama Damar tetap saja bukan ide baik. Namun apadaya, ia hanyalah istri yang harus menuruti kehendak suami. Sekuat apapun Wulan bersikap sewajarnya pada Damar, masih sulit ia rasa.
Teringat sesuatu, Wulan beranjak dari tempat tidurnya. ia mengambil sebotol obat untuj diminum.
"Konsumsi secara rutin, supaya ibu bisa segera pulih dan bisa mengandung kembali. Tapi jika ibu sudah dinyatakan positif, tidak dianjurkan untuk meminum obat obatan yang bisa membahayakan nyawa ibu."
Begitu kiranya pesan dari Obgyn juga dokter observator Wulan. Wulan memiliki kendala lemah jantung, padahal secara medis ia dilarang untuk hamil lagi dalam kurun waktu tidak bisa ditentukan.
Obat yang sekarang ia rutin minum ialah obat penguat jantung. Wulan jadi rentan terkena sesak nafas atau hilang kesadaran akibatnya. Ia berharap Adi ataupun Damar tahu kondisinya.
__ADS_1