
"kamu pergi kemana saja Wulan ? Eren menunggu lama untuk menjemputmu."
Saat menatap wajah Wulan, kemarahannya selalu saja kalah oleh rasa gugup teramat dalam.
Tadinya pak Adi ingin sekali memaki Wulan, namun urung.
Kakinya melangkah mendekati Wulan yang masih diam.
"saya minta maaf selalu merepotkan bapak. Saya pergi bersama teman kuliah."
Pak Adi memaku, berdiri dihadapan Wulan. Jarak mereka dekat sekali, detak jantung Wulan sampai terdengar oleh telinganya.
Nafas gadis itu memburu, panas terasa oleh orang dihadapannya.
"kamu demam Wulan,"
Tangan gentlenya menempel dikening Wulan, pak Adi merasakan suhu badan Wulan yang tidak biasa.
"aku tidak apa apa, tolong jangan berlebihan."
Secara cepat Wulan menepis tangan pria yang bisa saja menikahinya karena keterpaksaan.
Ayahnya sudah menjual dia demi pemulihan perusahaan. Itu kenyataan pahit yang selalu Wulan ingat saat berdekatan dengan pak Adi.
"tidak bisa, kamu sudah mencuri seluruh perhatianku Wulan."
"aku sadar diri, seharusnya aku selalu menurut tanpa mempersulit keadaan. Lakukan apa yang bapak mau, toh ayah juga sudah menjualku bukan ?"
Wulan tidak bisa lagi berpura pura, dia mengetahui semua kesepakatan yang mereka lakukan. Meski tidak ada yang memberitahunya.
"persetan dengan transaksi, aku tidak peduli lagi. Aku sudah terlanjur menyukaimu."
Ungkapan perasaan pak Adi sangat mengejutkan Wulan. Seumur umur, baru kali ini ada yang menembak Wulan. Dan orang itu seumuran dengan ayahnya.
"hacih . ."
Mendadak hidungnya gatal, Wulan bersin bersin kearah wajah pak Adi.
Pria itu memejamkan matanya menerima tumpahan bersin dari gadis yang sudah menguasai hatinya.
"kamu flu dan demam, aku akan membawamu kekamar."
Kedua tangan pak Adi menyentuh tubuh Wulan untuk pertama kalinya. Ya, dia membopong Wulan menaiki tangga. Terpaksa Wulan mengalungkan tangannya ke leher pak Adi untuk bertahan.
Detak jantung pak Adi sangat cepat, terdengar jelas oleh Wulan. Wulan tak kuasa menahan tawanya, hingga melipat kedua bibirnya.
"kau puas Wulan ? Sudah membuatku seperti ini."
Pak Adi seolah tahu apa yang sedang Wulan pikirkan tentangnya.
"apa bapak punya anak ? Istri bapak kemana ?"
Tenanglah, bukan sebuah dosa kan kalau Wulan bertanya. Gadis itu hanya ingin tahu seluk beluk hidup pak Adi. Rasanya curang, pak Adi sudah mengetahui seluruh kisah Wulan. Sementara dirinya sama sekali tidak mengenal pak Adi.
"istriku sudah tiada, anakku tidak tinggal dirumah ini. Dia selalu membangkang, menolak semua perintahku."
Kini mereka sudah sampai dikamar Wulan, pak Adi menurunkan tubuh gadis belia yang bahkan pacaran saja belum pernah. Sekarang Wulan malah berduaan dikamar, dengan seorang pria ?
Susah payah dia menelan ludahnya, mencoba untuk tenang. Terlebih pak Adi pria terhormat, tidak mungkin berbuat macam macam. Palingan satu macam, yaitu . .
Dia berlutut dihadapan Wulan, tangannya mulai memegang tangan dingin milik Wulan.
"apa yang kamu lakukan dengan temanmu, sampai kau seperti ini ?"
__ADS_1
Bisakah pak Adi tidak memperlakukan Wulan sebagai seorang wanita ? Wulan sangat gugup, perasaannya dikungkung dua laki laki berbeda sifat. Sejak kecil Wulan hanya bertemu dengan ayahnya, kenapa sekarang jadi rumit.
"hacih . ."
Berterima kasihlah Wulan pada hidungnya yang kini memerah. Dia bisa menghindar dari pertanyaan pak Adi.
"ganti bajulah, tidak usah mandi. Aku akan kembali membawa obat."
Pak Adi bediri, mengelus ujung kepala Wulan sebelum keluar dari kamar itu.
Apa, aku kamu ?
Ah sial, kenapa jadi begini. Bahaya kalau pak Adi sungguh menyukainya. Bagaimana kalau Wulan dipaksa menikah oleh CEO berhati dingin itu ?
Wulan lari terbirit birit ke kamar mandi dengan pakaian gantinya, takut kalau pak Adi akan masuk secara tiba tiba.
Perintah pak Adi tak digubris sama sekali, Wulan membilas seluruh tubuhnya menggunakan air hangat. Tidak enak kalau tidak mandi, apalagi dekat dengan pria perfectionist macam pak Adi.
Wulan menatap pantulan dirinya dicermin meja rias, mengamati wajahnya dengan seksama.
Dia perlu tahu dulu kabar ayahnya, sebelum memutuskan sikap yang akan diambilnya.
Saat pak Adi ke kamar nanti, Wulan ingin menanyakan kabar ayah tersayangnya.
"maaf tuan, ada tuan muda diluar . ."
ART yang kebetulan jaga malam menghampiri pak Adi yang sibuk mencarikan obat penurun panas untuk Wulan. Wanita yang lebih tua dari majikannya memberitahu kedatangan anak laki laki pak Adi.
"tolong berikan ini pada nona diatas !"
Singkatnya perintah pak Adi menyerahkan nampan berisi air dan obat ke ARTnya.
Ini kesempatan Adi untuk memperbaiki hubungannya dengan sang anak. Sejak lulus SMA, anaknya keukeuh mau tinggal sendiri. Bahkan menolak segala fasilitas yang papanya berikan.
Adi mempersiapkan dirinya, membuka pintu dengan hati hati. Dia melihat punggung kekar putera satu satunya. Anak laki lakinya sudah semakin tinggi, usianya berbeda 2 tahun dari Wulan.
"masuklah !"
Kata pertama yang keluar dari mulut orang tua laki laki yang kini menoleh kearahnya.
Laki laki itu mengawasi tajam papanya.
"aku tidak lama, stop papa kirim orang untuk mengawasiku pa. Usaha papa tidak akan berhasil."
Tidak sampai satu menit, anak laki lakinya meninggalkan Adi begitu saja.
Dia langsung melajukan mobilnya tanpa rasa ragu.
"Eren !"
Teriakan Adi cukup keras hingga ke telinga Eren yang selalu berdiri tidak jauh dari bosnya.
Wanita super itu selalu prima melayani Adi, kapan dan dimanapun.
Bosnya juga sengaja memerintah Eren untuk tinggal bersamanya. Untuk memudahkan mengurus pekerjaan Adi.
"saya pak . ."
Eren memposisikan dirinya disamping Adi, agar mendengar dengan jelas setiap perintahnya.
"apa kamu masih mengawasi dia ?"
"saya belum menerima pesan dari bapak untuk berhenti."
__ADS_1
"lupakan dia, ganti orang untuk mengawasi setiap gerakan Wulan. Aku ingin tahu dengan siapa saja dia bertemu."
Eren mengangguk, dia langsung permisi menelpon memerintah anak buahnya.
Kebiasaan Eren tidak masalah bagi Adi. Dia ingin sekretaris yang cekatan, tidak bertele tele banyak tanya.
Terhituny 10 tahun Eren mengabdikan dirinya di perusahaan yang bergerak dibidang jasa pembangunan itu.
Eren langsung didapuk menjadi sekretaris Adi karena kecerdasannya.
Lelah menunggu, akhirnya Wulan tertidur begitu saja. Hari ini badannya terasa remuk, ditambah demam dan flunya.
Untung saja besok tidak ada mata kuliah, Wulan bisa istirahat dengan cukup kalau saja nantinya susah tidur.
"aduh, si non udah tidur kali ya ? Masuk saja atuh, ini kan obat yang harus diminum."
Meski ragu, ART yang diketahui namanya Marni itu mengendap endap menaruh nampan diatas nakas.
Terdengar rintihan Wulan, meringis merasakan nyeri disekujur tubuhnya.
Membuat bi Marni khawatir, bibi paruh baya itu menempelkan tangannya kekening Wulan.
Gawat, Tuan harus tahu keadaan gadis yang entah siapa ini.
Bi Marni mencari keberadaan tuannya, mencari diruang kerja tujuan utama. Benar saja, Tuannya sedang menghisap cerutu dengan tatapan kosong.
"ada apa bi ?"
Adi bertanya setelah bi Marni mengetuk pintu yang sudah terbuka.
"anu tuan, si non mengigau. Badannya panas, mau dikasih obat lagi tidur."
Mendengar laporan bi Marni, Adi langsung bergegas menuju kamar Wulan. Tak lupa dia mematikan cerutunya.
"ayah . ."
Hati Adi terenyuh, merasakan perih saat melihat gadis kecilnya jatuh sakit. Terlebih dia sangat merindukan ayahnya.
Mungkinkah untuknya mempertemukan Wulan dan Bagas ?
"Wulan, bangunlah ! minum obat dulu. ."
Adi duduk ditepi ranjang, memegangi lengan Wulan untuk membangunkannya.
terdengar suara khas Adi, Wulan membuka mata dan berusaha duduk. sigap sekali Adi membantunya bersandar.
"terima kasih, bapak sudah merawat saya."
Wulan menerima obat dan air minum, kemudian meneguknya.
"apa kamu ingin bertemu ayahmu ?"
"tidak, ayah pasti sangat sibuk. aku tidak mau mengganggu urusannya."
meski dalam hatinya Wulan ingin sekali bertemu dengan sang ayah, dia mengurungkan niatnya.
ada gerakan tangan Adi, kini dia mengelus pipi merah merona milik Wulan. yang menerima perlakuan hanya bisa pasrah, tidak bisa menolak.
"menikahlah denganku Wulan ?! aku tidak tahan melihatmu menderita . ."
dirinya bersungguh sungguh, tanpa embel embel kesepakatan gila yang membeli hidup Wulan dari ayahnya.
__ADS_1
Adi Gunawan