DamarWulan

DamarWulan
Penyesuaian


__ADS_3

Lampu lampu gemerlap menerangi jalanan kota Jakarta, menambah kesan indah suasana malam itu.


Angin berhembus menusuk lapisan kulit, harusnya tak terasa jika kaca mobil tertutup.


"Wulan akan aku tutup sekarang !"


Kata laki laki yang mengemudikan mobil.


"jangan, sebentar lagi saja Dam."


Tolak Wulan yang masih menyimpan dagunya diatas tangan, menikmati pemandangan yang masih saja ramai.


"Kamu gadis otoriter Wulan, harusnya besok baru boleh pulang."


Damar mengomeli Wulan yang memaksa ingin segera pulang.


"ya, dan aku juga oportunis. Kamu puas ?"


Serangnya dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Aku tidak akan pernah puas Wulan, dan aku pikir kamu tidak begitu."


Damar melirik kesamping memastikan ekspresi perempuan itu.


"kenapa ?"


Tanya Wulan penasaran, ia menutup kaca mobil dan fokus memandang Damar.


"kamu keras kepala, berpendirian teguh juga tidak mudah goyah. Itu membuatku tidak bisa memiliki peluang."


Damar menunjukan kekecewaannya pada Wulan.


"ada peluang bagus untukmu Dam, kita masih bisa jadi teman."


Wulan sadar kalau dia dan Damar tidak akan pernah bisa melanjutkannya lagi.


Sekarang ia hanya perlu memperbaiki hubungannya dengan Damar, agar tidak ada rasa canggung diantara mereka.


Damar dan Wulan tiba di rumah, disambut Jiro yang selalu setia menjaga Wulan.


Bi marni kebetulan bekerja 24 jam hari itu, syukurlah rumah dalam keadaan ramai.


"bibi sudah siapkan makan malam untuk nyonya dan tuan muda."


Tangan bi Marni mengambil alih tas berisi pakaian yang dibawakan Damar.


"kalian saja yang makan aku masih kenyang."


Wulan naik keatas, Damar mengajak bibi, Jiro dan juga rekannya untuk makan bersama.


Damar sudah terlalu sering makan sendirian, tidak ingin ada lagi rasa kesepian.

__ADS_1


Benar kata Wulan, mulai saat ini mereka hanya perlu menempatkan diri sebagai seorang teman.


"kamu kapan pulang mas ?"


Gumam Wulan menantikan kembalinya sang suami.


Sejak sadar ia terus menghubungi Adi, namun dia belum membalas pesannya.


Wulan duduk disofa menyandarkan kepalanya. Menyalakan TV yang malah menonton dirinya sendiri. Tangannya masih setia menggenggam ponsel menunggu Adi menghubunginya.


Dret dret . .


Ponselnya bergetar membuyarkan lamunan Wulan.


"Ya Tuhan Wulan, ini benar kamu sayang ?


Kamu sudah sadar, kamu dimana sekarang ?"


Terdengar antusias sekali suara Adi di sebrang telpon.


"satu satu mas tenanglah.


Sekarang aku ada dirumah, tadi pulang bersama Damar. Kapan kamu akan kembali mas ?"


Wulan senyum senyum sendiri mengobrol dengan sang suami lewat telpon. Biasanya saat berhadapan langsung, Wulan lebih banyak diam menahan gugup.


"Secepatnya aku akan pulang, tunggu aku sayang."


"Semua akan baik baik saja mas, aku pasti menunggumu pulang."


Wulan menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup kencang mengatakan hal manis itu pada Adi.


"Akan aku kirim anak buahku untuk mengawasi rumah, pastikan Damar menjagamu dengan baik."


Tut tut tut . .


Mendadak sambungan telpon terputus. Dikamar hotel, Adi mengumpat akibat batre ponselnya yang lemah sehingga mati.


"Kok mati ?"


Tak lama setelahnya Eren mengirimi Wulan pesan, mengatakan kalau batre si bos habis jadi harus di charge terlebih dulu. Keduanya tengah menjamu client pemilik projek yang tengah bermasalah.


Wulan memilih merebahkan tubuhnya ditempat tidur, membiarkan TV tetap menyala demi mengusir kesepian malam tanpa Adi. Sudah berapa lama sejak mereka tidak berhubungan intim, rasanya tak sabar Wulan ingin segera mengandung darah daging Adi lagi.


"Mama menantikanmu sayang. ."


Ucap Wulan seraya mengelus elus perut ratanya. Ia baru sadar setelah kehilangan, kalau mengandung buah hati ternyata sangat membuatnya bahagia. Kalau saja dulu Wulan lebih cepat menyadarinya, akan ia pertaruhkan nyawa demi menjaga janin diperutnya.


Lagi, Wulan menangis tersedu mengingat kejadian menyakitkan itu. Hidupnya memang tidak mudah sejak sang ayah bangkrut. Seolah dunia berubah menjadi kejam terhadapnya.


Fakta kondisi tubuhnya yang kurang baik jika mengandung dalam waktu dekat menjadi mimpi buruknya. Diam diam tanpa sepengetahuan Damar, Wulan bertemu dokter observator. Ia diberi saran agar menunda kehamilan demi kesehatannya. Karena dokter menemukan kelainan pada jantung Wulan.

__ADS_1


Jika saja penyiksaan yang dilakukan Gilang kemarin tak pernah terjadi, mungkin semuanya akan baik baik saja. Wulan ingin sekali marah melampiaskan, tapi sudah terlambat. Ia hanya bisa berdo'a semoga Tuhan memberinya kesempatan kedua.


☀️☀️☀️


Tidak biasanya Wulan telat turun ke ruang makan. Bibi bahkan sudah selesai menyiapkan beberapa menu sarapan pagi. Damar kini tengah berdiri didepan pintu kamar Wulan, ia ragu harus mengetuknya atau tidak usah. Namun Damar merasa bertanggung jawab atas Wulan, dia butuh sarapan.


"Lagi apa ?"


Suara seseorang dibelakangnya berhasil mengagetkan Damar.


"Eh, habis dari mana ? Aku pikir kamu belum bangun."


Damar memperhatikan Wulan dari atas hingga bawah, ternyata mantan kekasihnya itu baru selesai lari pagi.


"Kenapa belum sarapan, kata bibi makanannya sudah siap."


Wulan menggeser tubuh Damar meminta jalan untuknya masuk.


"Justru aku kesini mau mengajak sarapan bersama. Tumben kamu lari ?"


Sejak mereka tinggal bersama baru kali ini Damar melihat Wulan semangat dan berenergi.


"Biar sehat aja, udah gih sana turun. Kamu lagi gak ada niat godain ibu sambung kamu ini kan ?"


Bukannya menanggapi gurauan Wulan, Damar malah memutar bola matanya jengah kemudian pergi turun ke bawah.


Wulan menggelengkan kepalanya tak percaya jika hubungan mereka akan berakhir begini. Namun baginya yang terpenting saat ini ialah menjaga keutuhan cinta dalam pernikahannya dengan Adi.


Wulan harus fokus menjalani treatment atas saran obgyn. Sesekali ia akan check up ke rumah sakit, kasihan kalau Adi harus menunggu lama demi mendapat keturunan darinya. Selain itu Wulan juga berniat membuka usaha, ia sudah konsultasi pada Eren via chat karena Adi memang tengah sibuk sekarang ini.


Ting . .


Bunyi sebuah pesan masuk saat Wulan baru saja selesai mengenakan pakaiannya. Ternyata dari sang suami yang menanyakan kabar, apakah Wulan sudah sarapan atau belum.


Obrolan keduanya berlangsunh cukup lama, sehingga menimbulkan rasa rindu menggebu ingin segera bertemu. Ah Wulan merinding sendiri, kenapa ia bisa tergila gila pada duda tua beranak seusianya. Wulam bahkan lebih pantas menjadi menantunya. Beruntung Adi masih memiliki paras tampan awet muda, gaya hidupnya yang sehat juga menunjang kebugaran fisik.


Wulan juga sempat meminta izin ingin bertemu dengan sang ayah di jam makan siang. Dan Adi mengizinkannya dengan syarat Wulan harus ditemani Jiro jika Damar memang sibuk bekerja. Akhirnya Wulan hanya pasrah menuruti, ia sudah sangat merindukan Bagaskara. Ia juga berharap bisa menghirup udara segar setelah cukup lama mengurung diri disangkar emasnya.


"Aku berangkat ke kampus dulu, setelah itu langsung ke kantor. kalau butuh apa apa jangan sungkan telpon."


Damar meraih tasnya saat Wulan hendak duduk di kursi ruang makan.


"Tidak perlu, aku mau ketemu ayah dan nanti Jiro yang akan mengantar."


"Oke, jaga diri baik baik."


Tangan Damar sudah ingin mengelus ujung kepala Wulan namun ia urungkan. Itu hanya akan memperkeruh hubungan mereka, lagipula disana ada bi Marni setia menunggu. Damar tidak ingin sang papa salah paham lalu mencurigai Wulan.


Baginya sudah cukup Wulan menderita disebabkan oleh kehidupan mereka, jangan lagi ada musibah menimpanya. Jika mengingat perlakuan kasar terhadap Wulan, Damar ingin sekali membunuh pelaku. namun ia bisa bernafas lega setelah para penjahat itu mendapat balasan setimpal.


Wulanpun akhirnya sarapan bersama mereka yang bekerja pada Adi.

__ADS_1


__ADS_2