DamarWulan

DamarWulan
dekat, tapi jauh


__ADS_3

Wulan berdiri didepan gerbang, mencari keberadaan pemjemputnya.


Suasana diluar kampus sudah sepi, karena mata kuliah Wulan benar benar padat hari itu.


"masuk non !"


Sebuah mobil mendekati Wulan, satu pengawalnya keluar membukakan pintu untuknya.


"kata sandi ?"


Pertanyaan Wulan berhasil mengecoh orang berpakaian serba hitam itu. Wulan sedikit ragu, ia takut mereka bukan anak buah Eren. Soalnya Adi pernah mengingatkannya, gunakan kata sandi untuk mengenali anak buahnya. Sayangnya Wulan terlambat untuk kabur.


"ayo cepat masuk !"


Pria botak itu menarik paksa Wulan, agar segera masuk kedalam mobil.


"lepas ! Tolong . ."


Wulan berusaha melepaskan diri dari cengkramannya. Dia memaksa Wulan hingga benar benar masuk.


"Damar !!!"


Dari arah dalam Wulan melihat mobil jeep Damar keluar.


"diam !"


Penculik itu tidak ingin Wulan berteriak menimbulkan keributan, dia terpaksa membuatnya pingsan.


"Wulan . ."


Damar mendengar teriakan Wulan dan melihatnya sekilas mendongak keluar kaca mobil.


Tak pikir lama, dia langsung tancab gas melajukan mobilnya dengan cepat mengejar mobil itu.


"halo, pa . ."


Dia tidak bisa egois, ingin menyelamatkan Wulan sendirian. Kemarin saja dia kalah jumlah, akhirnya Damar menelpon papanya.


-ada apa Damar ?-


Jawab Adi diujung telpon.


"Wulan sepertinya diculik, dia pikir itu anak buah papa. Lacak GPS Damar, sekarang lagi ngikutin mobil penculiknya."


Ia langsung mematikan sambungan, kembali fokus mengejar Wulan.


"sial sial sial . ."


Adi memukulkan lengannya kemobil, merasa tidak becus menjaga istrinya.


"ada apa pak ?"


Didepan Eren melihat Adi yang kesetanan.


"lacak keberadaan Damar ! Wulan diculik."


Mati Eren, dia sudah gagal menjaga nona muda. Dengan cepat Eren mengecek lokasi mobil Damar menggunakan tabletnya.


"jalan CR, cepat susul !


Halo, kita ikuti mobil tuan Damar. Saya kirim lokasi terkini."


Eren memerintahkan anak buahnya yang lain agar menyelamatkan Wulan dan Damar. Mereka harus lebih cepat untuk mencegatnya.


Tim Eren lebih dulu sampai dijalan yang sedang sepi itu. Mereka menghentikan laju mobil penculik, diikuti Damar dari arah belakang.


Para penculik kelabakan dihalang oleh beberapa orang yang akan menolong sanderanya.

__ADS_1


"lawan mereka !"


Merekapun terpaksa keluar untuk meladeni musuhnya.


Perkelahian berlangsung, tidak bisa dihindari lagi.


Damar turun dari mobil, dia langsung berlari menghampiri keberadaan Wulan.


Saat pintu dibuka, Wulan tergeletak tak sadarkan diri.


"Wulan, bangun !"


Tubuh Wulan dikeluarkan Damar dengan menggendongnya menuju mobil miliknya. Secara bersamaan Adi dan Eren sampai, mereka mendekati Damar.


"siapa yang menyuruh kalian ?!"


Tegas sekali salah satu anak buah Eren menginterogasi penculik yang masih sadar.


"tututuan Buditama."


Jawabnya terbata bata menahan sakit. Tidak akan ada untungnya jika dia masih bungkam, ujung ujungnya mereka akan lenyap juga ditangan Adi.


"laporkan sama bos lu, kalau kalian sudah gagal !"


Tambahnya lagi, membiarkan mereka pergi.


"lain kali jangan lengah pah !"


Damar marah pada papanya, kalau saja dia tidak melihat Wulan saat itu mungkin sudah lain ceritanya. Dia tahu, Buditama pasti salah satu saingan Adi. Tanpa memperdulikan sang papa, Damar masih menggendong Wulan untuk membaringkan tubuhnya dimobil Adi.


"Thanks Damar, sudah menyelamatkan mama kamu."


Damar tersenyum miris mendengar ucapan papanya, dia berjalan begitu saja meninggalkan mereka.


🌙️🌙️🌙️


Wulan membuka matanya, pundaknya terasa nyeri akibat dipukul sebelumnya. Ia mengamati sekeliling, sempat berpikir dirinya sudah disekap entah dimana.


"kamu sudah bangun ?"


Adi menghampiri Wulan dan duduk ditepi ranjang.


"mas . ."


Tiba tiba tangan Wulan tidak bisa dikontrol olehnya, ia memeluk Adi.


"tenanglah, kamu sudah dirumah. Aku minta maaf tidak bisa menjagamu dengan baik."


Sempat terperanjat kaget, Adi membalas pelukan istrinya. Wulan pasti sangat ketakutan, kasihan dia. Ini kali kedua Wulan mendapat tekanan dari musuhnya.


Tok tok tok . .


Suara pintu diketuk menghentikan adegan romantis antara Adi dan Wulan.


"masuk !"


"tuan muda sudah datang, pak."


Eren yang datang kekamar mereka, hanya dia yang selalu wara wiri. Tidak bisa sembarang orang masuk kekamar pribadi milik Adi, apalagi sekarang ada Wulan.


"aku akan turun."


Adi memerintah Eren untuk menemani Damar selagi menunggunya.


"kamu tunggu disini, ini tidak akan lama." Adi tidak ingin Wulan tahu kalau Damarlah yang menyelamatkannya. Lagipula biasanya Damar tidak akan lama, hanya menyampaikan hal penting saja.


"kalau begitu aku ikut."

__ADS_1


Kejadian kejadian yang pernah dialaminya, membuat Wulan takut sendirian.


"ada apa Eren ?"


Adi turun diikuti Wulan dibelakangnya. Sejak tadi Eren dan Damar masih mematung, saling bertatapan.


"papa sering bujuk Damar untuk pulang, mulai sekarang aku akan tinggal disini."


Keputusan anaknya pasti beralasan, butuh waktu lama Damar baru bisa kembali kerumahnya.


Kenapa sekarang Damar ?


Setelah kamu tahu Wulan tinggal bersama papa, sesuka hati kamu kembali lagi kerumah.


Batin Adi membuncah, tidak mungkin dia menolak kedatangan Damar didepan istrinya.


"terserah kamu saja Damar.


Ayo Wulan, aku sudah mulai lapar."


Adi meraih tangan Wulan, menggandengnya menuju meja makan. Melewati Damar begitu saja.


Panas membara membakar hati Damar, tindakannya tinggal bersama mereka mungkin salah.


Tapi ini satu satunya cara agar Damar bisa menjaga Wulan. Jujur, dia masih belum ikhlas gadis itu menjadi istri papanya.


Hati kecilnya masih menyimpan cinta untuk Wulan.


"ayo tuan, kita makan malam dulu. Barang barang biar si mamang yang naikin keatas."


Tak lama, petugas rumah membawa koper milik Damar menuju kamarnya dulu.


Suasana makan malam sangat canggung, tidak ada yang bersuara. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Sesekali Damar mencuri pandang kearah Wulan yang duduk dihadapannya.


Adi berdehem untuk menghentikan aktifitas Damar yang tertangkap olehnya.


"Wulan, besok kamu ikut aku ke Bali. Ada pekerjaan yang harus diurus."


Keberadaan Damar membuat Adi harus waspada.


Terpaksa dia mengajak Wulan, padahal istrinya baru masuk kuliah setelah lama absen.


"iya, kebetulan besok sama lusa tidak ada jadwal."


Wulan terpaksa bohong, dia harus kembali bolos kuliah. Dia tidak mau ditinggal berdua saja dengan Damar. Meski hatinya ingin, tapi ia sadar betul kalau itu tidak boleh.


"aku sudah selesai, duluan ya mas."


Wulan tidak ingin terus terusan terjebak dengan kedua pria itu. Hidupnya saja sudah susah ditata, sekarang keberadaan Damar menambah lukanya.


"papa juga sudah selesai, kamu teruskan makannya Damar."


Tak lama setelahnya, Adi juga selesai dan menyusul Wulan kekamar.


"Ren, tega ya kamu sama saya. Harusnya kamu kasih tahu saya siapa saja yang dekat sama papa."


Sejak pertama kali Eren bekerja dengan Adi, dia sudah menganggap Damar juga anak asuhnya. Memenuhi segala kebutuhan yang Damar perlukan.


"saya gak tahu kalau nyonya itu pacar tuan muda.


Sekarang mendingan move on aja, bapak sangat mencintai nyonya."


"enak saja kamu bicara, memangnya aku juga tidak cinta sama dia ?"


Damar tidak terima Eren selalu membela papanya. Dia merajuk dan bangkit dari kursinya.

__ADS_1


"ckckck . . Tuan muda ini, masa tega saingan sama papanya sendiri. Lagipula Wulan sudah menikah."


Dalam hati Eren merasa kasihan pada anak yang selalu diurusnya. Tragis memang, tapi tidak ada yang bisa melawan takdir.


__ADS_2