
Wulan menikmati hari liburnya dengan berjalan jalan disore hari. Ia pergi belanja ke swalayan yang terletak di mall sebelah rumahnya.
Membeli roti, telur, sayur serta perlengkapan dapur lainnya.
Dispot buah, Wulan memilih beberapa mangga mentah.
Rasanya menggugah selera, Wulan ingin langsung memakannya.
"jadi ini, istrinya Adi Gunawan ?"
Seorang wanita seumuran ayahnya datang menghampiri Wulan bersama anak gadisnya.
"iya mi, perebut laki laki orang. Om Adi, Damar. Dasar loser !"
Dini ikut semangat menghardik Wulan dikeramaian.
"maaf, kamu bilang laki laki orang ? Apa Damar pacar kamu ? Atau mas Adi pacar tante ? Bukan, lalu kalian masih menyalahkan saya. Sungguh memalukan."
Menurutnya hanya akan membuang waktu melawan mereka, Wulan memilih berjalan menuju kasir.
"arogan sekali dia, kita harus kasih pelajaran Din. Mama punya ide."
Citra, adalah ibu dari Dini membisikkan rencana jahat yang akan mereka lakukan pada Wulan.
"setuju mi, selain wanita sukses mami cerdas sekali."
Dini sangat membanggakan ibunya yang memiliki usaha properti itu.
Banyak sekali belanjaan Wulan, sehingga ia kesusahan membawa 2 kantung kresek penuh.
Wulan berjalan kaki menyusuri gang kecil sebelah pusat perbelanjaan itu.
Langkahnya dicegah ketika Wulan hendak membuka gerbang kontrakannya.
"apa apaan ini ?"
Dua orang itu menarik belanjaan Wulan hingga jatuh berserakan.
"kamu tahu, aku bahkan memilih suamimu untuk mengerjakan projek milikku. Kamu pikir aku mau menghabiskan modal sebesar itu ? Kalau bukan karena aku menyukainya."
Wanita tua memegang dagu Wulan menggunakan salah satu tangannya.
Plak . .
Dia menampar keras Wulan, sehingga darah segar mengalir disudut bibirnya.
"loe goda Damar, pacarin dia setelah itu khianati dia. Gue yang udah lama deketin dia bahkan susah payah selalu ditolaknya."
Kini giliran Dini yang menarik kasar rambut Wulan.
"kalian sudah gila, tidak bisa mendapatkan yang kalian kejar lalu menyalahkanku."
Wulan berusaha menarik tangan Dini untuk melepaskan jambakannya.
"dasar wanita matre !"
Dini dan Citra kompak membanting tubuh Wulan ke pagar besi, hingga tubuhnya terjatuh ketanah.
Wulan yang masih belum sepenuhny pulih dari demam, merintih kesakitan pada bagian perutnya.
"Ayo Din, kita pergi !"
Citra mengajak Dini meninggalkan tempat itu. Dengan kasarnya Dini menendang perut Wulan cukup keras menggunakan kakinya.
"mampus loe !"
Umpat Dini, lalu pergi menyusul sang ibu.
"aww . . Aah . .
ma . . afin mama . ."
Wulan memeluk perutnya, menahan sakit bukan main yang tengah dirasakannya. bahkan ia sudah tidak memiliki tenaga untuk bersuara.
Darah segar mulai mengalir dari pangkal pahanya, terlihat jelas karena Wulan mengenakan dress saat itu.
Adi dan Damar juga Eren terus mencari keberadaan Wulan melalui GPS ponselnya yang dilacak.
Sampai mereka berhenti di gang, menuju kontrakan Wulan.
__ADS_1
"pah, itu Wulan !"
Damar menunjuk kearah sesosok tubuh yang sudah tidak sadarkan diri. wajahnya sedikit bisa ia kenali dari jauh.
"Wulan . . ."
Adi berlari kencang menuju arah itu, penuh harap kalau itu bukanlah Wulan.
Setelah terduduk, Adi memangku tubuh yang sudah tak sadarkan diri. Menepuk pipinya berulang kali agar terbangun.
"Eren cepat panggilkan mobil !"
Perintah Damar berteriak pada sekretaris papanya. Dengan cepat Eren meminta supir untuk datang ke lokasi.
"bangunlah sayang ! Istri kecilku, aku mohon kamu harus sadar."
Damar sangat takut melihat darah membanjiri kaki Wulan. Pasalnya Damar tahu kemungkinan dari hasil tes Wulan.
Wulan sudah ditangani di IGD, dokter sedang memeriksa keadaannya. Dibantu suster yang membersihkan darahnya.
Sementara diluar ruangan, Adi tertunduk lemas dikursi tunggu. Kalau saja dia lebih cepat datang kepadanya, semua hal buruk tidak akan terjadi menimpa Wulan.
"periksa cctv kontrakan nona, laporkan secepatnya !"
Eren sejak tadi melakukan beberapa panggilan. Mulai dari menelpon polisi, untuk melaporkan kasus penyerangan. Barusan, Eren menyuruh anak buahnya mencari barang bukti.
"pah . .
Demi Tuhan aku tidak pernah menyentuhnya, dia anak papa"
Damar berusaha meyakinkan papanya supaya percaya dengan apa yang dikatakannya. Dia tahu kalau Adi pernah meragukan Wulan.
"keluarga pasien . ."
Dokter keluar memanggil, untuk memberitahu kondisi terkini Wulan.
"saya suaminya dok."
Adi mendekat ingin segera mengetahui keadaan istrinya.
"pasien mengalami pendarahan hebat, dan janinnya yang baru berusia 5 minggu tidak bisa selamat. Ada kemungkinan trauma psikis mendalam akibat peristiwa yang dialaminya."
Adi terduduk dilantai, kakinya lemas tak kuasa menopang tubuhnya.
Pria itu tidak bisa lagi menahan air matanya, dia menangis sesenggukkan.
-hukum aku, jangan istriku. Kenapa dia harus selalu menderita karena ulah tanganku-
Adi mengutuk dirinya sendiri, menyesal teramat dalam.
Damar hanya pergi begitu saja, dia tidak tega melihat kesedihan papanya.
Setiap langkah yang Damar ambil, ia semakin sadar.
Cinta tidak bisa di paksakan, kalau memang sudah pergi lama. Tersisa rasa menyesal karena ketidak mampuan mempertahankannya.
Sekarang, Damar sudah melepaskan semua ikatannya dengan Wulan.
-jaga dirimu Wulan, kamu harus baik baik saja dan berbahagia-
"tuan . ."
Eren menghentikan langkah Damar yang hampir menjauh dari tempat Adi terduduk.
"pelakunya Dini dan Citra, pemilik Bumi Citra."
Informasi yang disampaikan Eren meluluh lantahkan usahanya yang baru saja ia putuskan.
"sialan !"
Kesal Damar meninju tembok disampingnya.
"kirim polisi untuk menangkap mereka ! Aku tidak ingin mereka lolos."
Sebelum Damar memerintah, Eren memang sudah melakukannya. Tapi bagaimana caranya memberitahu Adi, mereka sedang menjalankan kerjasama.
"kita akan menang tuan, rekaman itu juga memiliki audio."
Eren yakin semuanya akan berjalan sesuai rencana.
__ADS_1
🌿🌿🌿
"mmm . ."
Wulan membuka matanya, ia melihat sekeliling. Samar samar terlihat bayangan pria yang duduk menunggunya entah sejak kapan.
"Wulan, apanya yang sakit ?"
Adi berdiri mendekatkan wajahnya agar bisa mendengar perkataan Wulan yang masih lemah.
"bayiku ?"
Lirih Wulan menanyakan keberadaan buah hatinya yang baru ia ketahui sesaat yang lalu.
Selagi bersantai dikamar, Wulan sempat melihat testpack yang dia ambil kembali ditong sampah. Dua garis merah, Wulan sangat bahagia mengetahuinya.
Ia tidak pernah menyesali semua keputusan yang diberikan Tuhan. Menikah dengan Adi, memberikan kesuciannya, hingga rela hamil muda.
Adi terdiam, tidak bisa berkata apa apa. Wulan yang melihatnya langsung mencengkram kerah kemeja Adi menggunakan kedua tangannya.
"katakan mas ! Bagaimana dia ?"
Hancur sudah hati Wulan, kehilangan satu satunya harta dalam hidupnya. Kenapa begitu cepat, bahkan ia belum sempat menyambutnya dengan baik.
"tenanglah Wulan, kamu akan baik baik saja. Kita mulai dari awal lagi mmm ?"
Adi memeluk erat Wulan, baru kali ini dia merasa sakit yang luar biasa. Melihat seseorang yang paling berharga, kehilangan buah cintanya.
Kencang sekali Wulan menangis dalam pelukan suaminya. Biar seperti ini, Wulan ingin merasa aman didekatnya.
"aku takut mas . .
Jangan tinggalkan aku lagi !"
Benar kata dokter, Wulan sudah menunjukkan tanda tanda traumanya. Dia yang biasanya tidak bergantung, kini sangat membutuhkan sosok Adi.
"tidak akan, aku disini Wulan. Hanya untuk kamu, bersabarlah."
Adi membaringkan kembali istrinya agar tenaganya pulih kembali.
Wulan berbaring miring menatap wajah Adi pekat. Tangannya tidak ingin ia lepaskan sedetikpun.
Adi mengelus pipi Wulan berkali kali, dia sangat merindukannya.
Setelah Wulan tertidur, Adi keluar mencari keberadaan Eren.
Wanita itu super sibuk mengurus semuanya lewat sambungan telpon.
"Eren . . ?"
Adi melihat sekretarisnya mondar mandir tidak karuan.
"pak, saya tidak bisa menahan tuan muda. Dia sangat emosi."
"siapa pelakunya ?"
Tanya Adi tidak sabar ingin mendengarnya.
"Bumi Citra pak."
Ia tahu, projek ini memang berpengaruh untuk Adi karena sudah jalan cukup jauh.
"batalkan kerja sama, tarik semua karyawan kita."
Eren terperanga mendengar keputusan spontan yang diambil bosnya.
Bukan hanya mengalami kerugian, perusahaan Adi juga akan membayar ganti rugi pada perusahaan Bumi Citra. Belum lagi membayar upah karyawannya.
"tapi tuan, anda yakin ?"
Sekali lagi Eren memastikan.
"aku tidak takut jatuh miskin Eren, Wulan sudah mengajarkan banyak hal."
Adi kembali masuk kedalam, takut Wulan histeris mencari keberadaannya.
Disamping brankar, Adi duduk dikursi menatap wajah lelah istrinya. dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahagia saat tahu Wulan mengandung anaknya. tapi kenapa dia pergi begitu cepat, Adi bahkan belum sempat menyentuhnya.
"maafkan papa nak . ."
__ADS_1
gumamnya dalam hati, Adi menenggelamkan kepalanya diatas kasur. menggenggam tangan Wulan erat.