
Wulan duduk dengan perasaan kurang nyaman, sejak tadi dia selalu diperhatikan sekitarnya. Yang perempuan menatap sinis, berpikir Wulan bukan wanita baik baik.
Sementara kaum laki laki memperlihatkan tatapan tergoda dengan paras cantiknya.
"maaf sudah membuatmu menunggu lama, Wulan."
Akhirnya kedatangan Damar bisa membuatnya merasa aman dan tenang.
Laki laki itu tahu, Wulan sedang tidak enak perasaan.
Sebelum duduk, Damar menutup punggung Wulan dengan hoodienya.
"terima kasih."
Pertama kalinya, Wulan tersenyum senang diperlakukan secara istimewa oleh seorang laki laki.
"Kamu sepertinya habis menghadiri pesta ..?"
Damar tidak bisa menghindari pesona Wulan sejak melihatnya dari jauh. Hatinya selalu bergetar setiap dekat dengannya, sebaik mungkin Damar menyembunyikan perasaannya dihadapan Wulan.
"iya, tapi tidak lama.
Aku lapar sekali, boleh kita memesan sekarang ?"
Sekarang Wulan tidak lagi merasa malu saat dekat Damar, tidak ada pengaruhnya lagi. Selain itu Wulan memang tipe perempuan yang blak blakan kepada siapapun.
"boleh sekali, biar aku yang pesankan."
Damar beranjak dari kursinya, dia berjalan menuju kasir untuk memesan makanan dan minuman.
Wulan memang tidak sempat menyicipi menu mewah catering terkenal diacara tadi. Malah buru buru kabur menghindaei Dini.
Disela sela makan, Wulan selalu mencuri pandang pada Damar. Seumur hidupnya, ini yang pertama. Pintu hatinya diketuk oleh seorang laki laki. Usia mereka memang masih muda, perjalanan juga masih panjang. Tapi apakah salah jika Wulan dan Damar merasakan bagaimana menyukai seseorang itu ?
"apa ada yang salah denganku Wulan ? Kenapa kamu selalu menatapku. ."
Ketiga kalinya Wulan tertangkap basah oleh Damar, mata mereka bertemu cukup lama.
"tidak ada, aku hanya senang kamu mengajakku bertemu."
Perempuan itu tertunduk malu, bisa bisanya dia ketahuan tengah memperhatikan Damar.
"aku juga akan mengantar kamu pulang Wulan."
"uhuk uhuk . ."
Wulan tersedak mendengar Damar akan menemaninya pulang. Gawat sekali kalau Damar tahu Wulan sekarang tinggal bersama seorang om om.
"minumlah !"
Perintah Damar menyodorkan gelas air kedekat jangkauan Wulan.
"tidak usah, aku akan naik taxi online."
Setelah tenggorokannya mulai membaik, Wulan menatap layar ponselnya.
Ini sudah terlalu malam, pak Adi pasti marah kalau Wulan pulang terlambat. Nanti ketahuan deh kalau dirinya tidak langsung pulang kerumah.
"aku akan pulang sekarang, Damar terima kasih untuk makan malamnya. Semoga lain waktu aku yang akan membelikannya untuk kamu."
__ADS_1
Wulan berniat memberikan kembali hoodie milik Damar, namun laki laki itu segera memakaikannya kembali ketubuh Wulan.
"pakai saja,!"
Damar tersenyum, dia memegang pundak Wulan dengan kedua tangannya cukup lama. Seolah tidak ingin berpisah dengannya.
Damar mengantar Wulan ketepi jalan, menemaninya sampai benar benar mendapatkan taxi.
Dia berusaha menjaga Wulan dari sekeliling, bisa saja ada yang usil padanya.
Apalagi ini sudah mulai larut malam, tidak baik juga perempuan seperti Wulan keluyuran.
Saat taxi mulai melaju meninggalkan Damar, Wulan menoleh kebelakang untuk melihat wajah itu.
Wajah yang masih setia memandang dirinya yang mulai menjauh.
Didepan gerbang rumah pak Adi, Wulan sudah turun dari taxi.
Dia berjalan mengendap endap menuju jendela post satpam.
Tok tok . .
Wulan mengetuk kaca jendela yang jika dibuka hanya bisa melihat wajah saja.
"Non Wulan, kenapa baru pulang ? Bisa marah kalau tuan tahu."
Pak Satpam tepuk jidat mendapati Wulan yang masih diluar rumah, padahal tuannya sudah kembali cukup lama.
"bukain dong pak, nanti sisanya biar saya yang tanggung."
Sudah pasti pak Satpam akan membukakan gerbang untuk Wulan, bisa dipecat dia kalau tidak membiarkan Wulan masuk.
Hati hati sekali satpam yang bertugas malam membuka gerbang kecil khusus keluar masuk orang.
Wulan mempercepat langkahnya, bahkan dia melepas heelsnya supaya tidak menimbulkan suara berisik.
Pa Akmal menggelengkan kepala melihat kelakuan Wulan, dia kembali menutup gerbang dan menguncinya.
Ceklek . .
Wulan masih berdiri bingung harus mengetuk pintu atau menelpon pak Adi, tapi pintu sudah terbuka begitu saja. Seolah tahu kalau Wulan ingin masuk.
"kemana saja kamu Wulan ? Bukankah kamu sudah berjanji untuk langsung pulang."
Sorot mata pak Adi menakutkan, layaknya seorang suami yang marah menunggu istrinya pulang malam.
"anu pak, saya lapar. Jadi makan dulu tadi."
Tidak ada yang salah dengan ucapan Wulan, dia hanya tidak jujur dengan siapa dia makan malam. Sesaat pak Adi diam, menatap wajah Wulan.
"saya maafkan, cepat masuk dan istirahat !"
Wulan bernafas lega, beruntung sekali pak Adi tidak memarahinya.
Alasannya karena pak Adi maklum, bahkan dipesta dirinya tidak memberi makan Wulan.
"baik pak"
Wulan berjalan menunduk melewati tubuh pak Adi yang masih mengawasinya.
__ADS_1
Tatapan pak Adi tajam melihat Wulan mengenakan hoodie laki laki, padahal sejak berangkat kepesta bersamanya Wulan tidak membawa hoodie itu.
"siapa yang kamu temui Wulan ?"
Tanya pak Adi dalam hati. Kali ini dia akan membiarkan Wulan, hanya karena takut Wulan kelelahan jika harus di interogasi olehnya.
Wulan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Lelah sekali rasanya menjalani kehidupan seperti ini.
Tidak sebebas dulu, kini hidupnya diatur dan dipantau oleh pak Adi.
Orang yang akan menyelamatkan nasib ayahnya.
Dia tahu, rumah itu pasti dilengkapi cctv. Kalau tidak, mana bisa pak Adi sudah berdiri membukakan pintu oleh tangannya sendiri.
Lain kali Wulan harus lebih berhati hati lagi.
Anak gadis pak Bagaskara tertidur tanpa mengganti dressnya. Biar saja, Wulan hanya ingin segera mengakhiri hari hari beratnya dirumah itu. Kalau saja bisa memohon, Wulan akan minta pada ayahnya untuk hidup seadanya. Birapun tidak kaya atau memiliki perusahaan, asal jangan jual dirinya pada pria itu.
🍀🍀🍀
Pagi sekali Wulan bangun, lebih awal dari fajar yang masih belum menampakkan diri.
Dia turun kedapur sebelum mandi, langkahnya masih lemas. Wulan menguap sepanjang jalan, sejujurnya dia masih mengantuk.
Dibukanya lemari es, meneliti bahan apa yang bisa dijadikan menu sarapan.
Matanya tertuju pada gelas plastik berisi kopi, itu pemberian Wulan untuk pak Adi.
-jangan diminum, milik pak Adi-
Secarik kertas menempel, pasti tulisan Eren. Kenapa pak Adi masih menyimpannya, bukankah dia tidak suka kopi.
Wulan mengangkat kedua bahunya, lalu mulai mengeluarkan telur, roti dan beberapa buah apel.
"selamat pagi semua . ."
Wulan yang sudah mandi sebelumnya menyapa pak Adi yang baru tiba dimeja makan, diikuti Eren yang menarik kursi untuknya duduk.
"apa ini ?"
Pak Adi menyelidik ke atas meja yang sudah tertata rapi, jelas Wulan yang menyiapkannya.
"jus apel dan egg sandwich. Saya hanya bisa memasak sarapan sehat. Semoga bapak suka."
Bukan harapnya pak Adi akan suka dengan sarapan buatan tangannya.
Wulan sengaja, dia tidak bisa menerima makanan berat dipagi hari.
"saya tidak makan menu sperti itu, Eren kita ke kantor sekarang. Kita sarapan disana saja."
Belum sempat duduk, pak Adi langsung pergi begitu saja mengabaikan Wulan dan masakannya.
Meski mencoba untuk biasa saja, Wulan tidak bisa bohong kalau dia kecewa pak Adi tidak menghargai usahanya. Tapi dia tahu diri, siapa Wulan bagi Pak Adi.
Dia sendirian menyantap sarapan yang dibuat olehnya.
Tidak ada orang dirumah itu, semuanya sudah bekerja ke tempatnya masing masing.
__ADS_1
Apa tidak ada asisten rumah tangga ? Lalu siapa yang menyiapkan makanan kemarin.
Wulan semakin penasaran dengan rumah itu. Kenapa pak Adi sangat misterius, menyimpan banyak rahasia. Atau Wulannya saja yang tidak tahu apa apa.