DamarWulan

DamarWulan
Dia Damar


__ADS_3

Mata kuliah bahasa inggris, mahasiswa dari semua tingkat bergabung demi mendapatkan english Course.


Wulan sudah siap dengan pena dan buku materinya. Sedikit mengantuk, dia menenggelamkan kepalanya kesamping kiri karena bosan menunggu dosen tiba.


Hanya kursi sebelah kiri Wulan yang tersisa, dan itu menjadi hak milik laki laki yang baru saja duduk.


Wulan tertegun melihat orang itu, matanya masih meneliti wajah maskulinnya.


3 minggu yang lalu, saat masa ospek. Laki laki itu sudah menaruh perhatiannya pada Wulan. Manusiawi, dia menilai Wulan cantik dan sempurna.


Siapa yang bisa menghindari pesonanya ? Mungkin hanya laki laki yang tidak normal. Perempuan saja iri ingin bisa sepertinya.


"moona, maju kedepan".


Perintahnya pada Wulan, dengan nama panggilan yang disamarkan.


"siap kak"


Perempuan yang baru lulus Sekolah Menengah Akhir itu menurut.


"lain kali no make up, ini masih masa ospek".


"maaf kak, ini bukan bedak atau foundation. Wajah saya memang putih pucat pasi".


Saat itu peserta ospek memang diharuskan mengenakan baju dan celana panjang.


Jadi tidak ada yang tahu kalau tubuh Wulan memang sangat putih. Dia hanya memakai liptint sebagai pewarna bibir.


"bohong tuh Dam, palingan pake pemutih".


Dini yang juga salah satu anggota BEM tidak percaya dengan ucapan Wulan.


"kita buktikan, kamu berdiri memisahkan diri didepan".


Damar bukannya tega, dia hanya tidak ingin kehilangan kredibilitasnya sebagai ketua BEM kampus.


Salahnya juga malah mengganggu Wulan.


Setelah beberapa menit, wajah Wulan semakin memerah karena kepanasan. Keringatnya juga bercucuran.


"Dam kasian dia, kalau pake bedakmah luntur kali. Ini dia malah merah mukanya".


Sekretaris Damar yang perempuan merasa kasihan melihat nasib Wulan. Kalau berlebihan, bisa saja timnya terkena sanksi.


"oke, kamu boleh istirahat sama yang lain".


Damar menyudahi masa pendisiplinan Wulan.


---


"bangun, Dosen sudah datang".


Damar menyadarkan Wulan yang sedang mengingat kejadian itu, dengan menghentakan penanya ke kening Wulan.


Langsung saja Wulan duduk tegak dan merapikan rambutnya.


Kalau bukan karena butuh nilai, Zoya sudah pulang sejak tadi.


Bahasa inggris adalah bahasa dunia yang wajib dikuasai. Sejak kecil Wulan sudah dididik berbicara dengan bahasa itu.


Begitu juga dengan Damar, bagi keduanya mata kuliah bahasa inggris hanya formalitas semata.


Tinggal mendalami beberapa peraturannya saja.

__ADS_1


Ditengah pembahasan soal, Damar menarik buku catatan Wulan dan menulis sesuatu.


"aku minta maaf soal ospek. Kulitmu tidak iritasi bukan ?"


Begitu isi tulisan tangan Damar untuk Wulan. Perempuan cantik itu juga menarik buku milik Damar dan menjawabnya.


"gatal gatal, but it was ok."


Wulan melirik dan sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Damar, please explain this part. You will help me, wont you ?"


Damar ketahuan oleh dosen sedang mengamati arah sampingnya. Jadilah dia kena hukuman untuk menjelaskan maksud dari sebuah paragraf.


Wulan tertawa jahat menyaksikan Damar yang sedang berdiri menjelaskan disamping dosen. Setidaknya rasa jengkel Wulan berkurang untuk Damar.


Di sebuah kantor, seorang pria berusia 44 tahun tengah sibuk dengan beberapa berkas untuk ditanda tangani.


"maaf pak, diluar sudah ada pak Bagaskara ingin bertemu".


Sekretaris yang usianya hampir sama dengan laki laki itu menyampaikan informasi.


"persilakan masuk".


Pria yang masih terlihat tampan diusianya, membetulkan posisi kacamata dan menutup berkasnya.


Tak lama kemudian sekretaris kembali masuk bersama pria yang bernama Bagaskara tadi.


"silakan duduk".


Pria yang tak lain ialah pemilik perusahaan juga ikut duduk disofa berhadapan dengan tamunya.


"perusahaanku colapse, butuh bantuan dana untuk menutupi kerugian".


Langkah Pak Bagaskara sangat berat ketika harus datang ke kantor itu. Tapi demi anak semata wayangnya beliau rela melakukan apapun.


Karena pak Adi masih diam, pak Bagaskara memohon dengan sepenuh hati supaya tergerak hatinya.


"kalau begitu, jodohkan saja anakmu sebagai gantinya".


Syarat yang diajukan oleh pak Adi sedikit memberatkan posisinya. Kasihan anak gadisnya harus berkorban demi kerugian usaha ayahnya.


"nanti saya akan coba membujuknya, semoga bisa mau dijodohkan dengan anak bapak".


Terlihat pak Bagas mengepalkan kedua tangannya. Beliau ragu kalau bisa dengan mudah membujuk anaknya.


"bukan, dia akan menjadi pendampingku".


Hah . .


Apa Pak Bagas tidak salah dengar, itu sama saja dengan menjual anaknya untuk pria yang usianya terpaut 20 tahun lebih.


"kalau dia setuju, baru saya akan kucurkan dana. Dan dia harus tinggal dirumahku agar nantinya terbiasa".


Pak Adi membenamkan dirinya kesofa, pikirannya mulai membayangkan sesuatu.


Dia hanya perlu mencoba sekali, untuk mengisi kembali ruang kosong dihatinya.


"kalau kami siap, saya akan datang lagi ke kantor".


Pak Bagas ingin segera keluar dari ruangan itu untuk menetralkan perasaannya.


"silakan".

__ADS_1


Setelah pamit, pak Bagas langsung pergi dari ruang Komisaris.


Menyisakan pak Adi dan sekretarisnya.


"apa dia masih belum mau pulang juga ?"


Pak Adi menanyakan kabar seseorang pada sekretarisnya.


"masih belum, dia masih sibuk dengan kuliahnya. Katanya akan pulang jika waktunya tepat".


Mendengar jawaban yang tidak memuaskan, pak Adi memijat keningnya sambil menutup mata.


Kelas telah berakhir, mahasiswa berhamburan keluar.


Ada beberapa yang langsung pulang, tak sedikit juga yang masih lanjut.


"aku traktir kamu makan siang, sebagai permintaan maafku".


Damar dan Wulan berjalan bersama keluar menuju area parkir.


"serius kamu ?"


Seolah tidak percaya, Wulan membulatkan matanya dan menepuk lengan Damar.


"kamu bawa mobil ? Biar aku yang nyetir".


Damar tersenyum menatap Wulan yang masih heran.


Selama perjalanan, Wulan asik sendiri memandang jalanan kota. Sementara Damar merasa kagum, dengan gantungan yang berlafadz Allah dan Muhammad.


Terlihat di daftar putar musik juga ada lagu bernuansa religi.


Wulan memilih makan siang di Rumah Makan yang mereka lewati. supaya tidak bingung memutuskan.


"aku pesan nasi capcay ya bu, pake nasi merah. kamu mau makan apa ?".


Damar yang mendengar pesanan Wulan telrihat mengernyitkan dahinya.


"sama, maksudnya pesan 2 porsi bu. minumnya mineral botol 2".


setelah selesai mencatat, ibu pelayan permisi menyiapkan makanan didapur.


senyap, tidak ada yang berbicara sama sekali. pikiran mereka masih sibuk menerka sifat masing masing.


"Damar ?"


akhirnya Wulan memecah keheningan yang berlangsung.


"eh iya, ada apa ?"


laki laki itu terperanjat kaget karena sedang melamun.


"maksudku nama panjang kamu apa ?"


Kalau nama lengkapnya, Damar sudah tahu. giliran Wulan yang ingin tahu nama lengkap laki laki yang sedang ditatapnya.


"Damar Putra, kenapa kamu bertanya ?"


dia menyelidik ekspresi wajah Wulan yang tidak bisa ditebak olehnya.


"tidak, aku cukup terkejut bisa diajak makan siang oleh seorang Damar. yang notabeni jutek sama sekelilingnya".


asumsi Wulan membuat Damar tertawa, jadi sejak tadi itu yang sedang dipikirkan oleh Wulan.

__ADS_1


"aku juga heran, kenapa bisa berani mengajak perempuan setegas kamu".


Damar adalah orang pertama yang menilai Wulan tegas. bukan arogan, angkuh atau sombong sperti perkiraan orang selama ini.


__ADS_2