DamarWulan

DamarWulan
Sangkar Emas


__ADS_3

Mata Wulan masih terjaga hingga fajar menyingsing, menelusup ke celah jendela kamar.


Sejak tadi malam tubuhnya hanya bersandar pada sofa. Memikirkan nasib hidupnya yang tidak terlihat kejelasannya.


Seketika bayangan Damar muncul dibenaknya. Betapa malunya Wulan pada Damar yang menjadi saksi kehancuran keluarganya.


Kalau saja tahu akan seperti ini, dia akan meminta nomer telpon Damar. Supaya bisa menjemput dan membawanya kabur.


Jelas ada yang tidak beres, dirinya seolah dikurung dirumah itu.


Tok tok tok . .


Seseorang berdiri didepan pintu kamar Wulan.


"kalau sudah siap, ditunggu dibawah untuk sarapan non".


Eren menyelidik, dia tahu kalau Wulan pasti tidak tidur semalaman.


Wulan kembali menutup pintu, dan mencari handuk di area walk in closet. Kopernya juga sudah berdiri disamping meja rias.


Dia menghembuskan nafas kasar, lalu masuk ke kamar mandi.


"kamu masih cantik Wulan, tapi sekarang miskin".


Wulan tengah menatap tragis dirinya dicermin.


Jatuh miskin tidak mengurungkan niatnya untuk tetap cantik. Dia mengepang rambutnya yang curly, lalu memasang anting besar.


Fresh sekali, Wulan mengenakan kaos turtle neck berwarna biru langit.


"silakan non !"


Eren menyiapkan kursi untuk Wulan, kecantikannya bahkan bisa menyita perhatian Eren.


"aku belum lapar, bisa ke kampus sekarang ?"


Bukannya tidak ingin sarapan, Wulan berniat untuk segera kabur dari sana.


"peraturan dirumah ini, kita harus sarapan, makan siang dan makan malam bersama. Setelah itu boleh pergi".


Lantas mau menunggu siapa lagi pikir Wulan. Harusnya sarapan segera dimulai, makanan sudah tersaji sejak dirinya turun.


"selamat pagi Pak".


Eren menyapa seseorang yang baru tiba di meja makan. Pria itu duduk dikursi tunggal, sebelah kiri Wulan.


"segar sekali . ."


Kata pertama yang diucapkan olehnya ketika melihat Wulan secara langsung.


"apelnya, saya minta satu".


Dia terlihat berusaha menutupi rasa gugupnya.


Eren duduk disebelah Wulan, jadi hanya Wulan yang bisa menjangkau keranjang buah.


Sadar akan hal itu, dia mengambil buah apel dan memberikannya pada orang yang meminta tanpa meliriknya.


"Eren, sebelum ke kantor kita antar nona ini ke kampusnya".


Pria yang tak lain adalah pak Adi Gunawan pemilik dari PT. Adiguna Perkasa memerintah pada sekretarisnya untuk menjalankan tugas.


"tidak usah, saya terbiasa menyetir sendiri. Kalau begitu saya permisi". Tanpa menyentuh apapun, Wulan beranjak dari kursi.


"arogan sekali kamu Wulan".


Kata kata pak Adi mampu menghentikan langkah Wulan.


Siapa dia, berani menilai Wulan tanpa mengenalnya terlebih dahulu.


"dirumah ini, kamu tidak bisa membantah setiap perintah yang saya ajukan".

__ADS_1


"kalau begitu saya berterima kasih pada bapak untuk 1 malam kemarin. Bukan keinginan saya juga untuk tinggal disini".


Dia membalikan badan dan mulai menatap pria itu.


Wajah pemilik rumah sangatlah familiar, tapi dimana Wulan pernah melihatnya.


"pilih diantar, atau pergi bersama pengawal saya ?".


Pak Adi tersenyum jahat pada Wulan, membuat gadis itu bergidik seram membayangkan dirinya harus diikuti bodyguard.


"duduk lagi non, kita mulai sarapannya".


Eren berdiri meraih tangan Wulan dan mengajaknya duduk.


Kasihan sekali wajah Wulan seperti pasrah diperintah.


Seenak apapun menu sarapan dirumah itu, tidak ada yang masuk kedalam perutnya.


Wulan menyantap makanan dengan cara memandanginya.


Di dalam mobil, Wulan duduk disamping pak Adi, sementara Eren didepan bersama supir. Perjalanannya menuju kampus terasa penuh ketegangan bagi Wulan. Berulang kali dia menggigit bibir bawahnya.


"jam berpa kamu selesai kuliah ?"


Tanya pak Adi yang masih fokus dengan ponselnya.


"tidak usah jemput, saya akan pulang sendiri".


"lalu kamu akan kabur dan tidak kembali kerumah ?"


Pria yang masih sangat tampan dan awet muda itu memasukan ponselnya kedalam saku kemeja.


Lalu meraih ponsel milik Wulan yang sejak tadi dia genggam.


"eh pak, jangan diambil saya mohon". Wulan berusaha merebut kembali ponselnya, namun ada halangan dari tangan pak Adi yang terentang.


Setelah selesai memencet sebuah nomer pak Adi melakukan panggilan. Ponsel disakunya lah yang berbunyi, itu nomer telpon Wulan.


"ini saya kembalikan".


"bu Eren, berhenti disini mobilnya". Wulan menghentikan supir melalui Eren. Supir menurut setelah anggukan dari Eren.


Wulan keluar begitu saja tanpa bilang apa apa. Bahkan sengaja menutup pintu mobil dengan keras.


Pak Adi terkekeh melihat tingkah Wulan.


"ayo jalan !"


Perintahnya pada pak supir. Mobilnya melalui Wulan yang tengah berjalan menuju gerbang kampus.


Ada rasa aneh menyeruak dihati pak Adi melihat Wulan berjalan sendirian. Malang nian, gadis cantik yang akan menjadi haknya.


Seorang mahasiswa tengah bersandar di pagar besi.


Hampir setengah jam mengawasi setiap orang yang melewati pintu masuk kampus.


Matanya berbinar ketika melihat orang yang ditunggu berjalan mendekat.


"Wulan . ."


Sapanya pada gadis yang menjinjing totebagnya dengan lemas.


Wulan tahu suara siapa yang memanggilnya, dia mempercepat langkahnya melewati laki laki itu.


Namun tangannya berhasil dicegat dengan kuat.


"lepaskan tanganku Damar ! Jangan pernah muncul dihadapanku lagi". Sekuat tenaga Wulan melepaskan tangan Damar, dan berhasil.


"kamu terdengar sebaliknya Wulan, aku tahu kamu tidak ingin aku mengabaikanmu bukan ?"


Damar seolah tidak peduli dengan tatapan mahasiswa lain. Suaranya keras memekik ditelinga Wulan.

__ADS_1


"percaya diri sekali kamu, memangnya kamu siapa ? Kamu hanya mahasiswa gak jelas, yang sok berkuasa".


Wulan sangat ingin menghindari Damar. Dia berlalu meninggalkannya begitu saja.


Apa benar Wulan malu atas keadaannya ? Atau karena dirinya sudah mulai membuka hati untuk Damar disaat yang tidak tepat.


"gadis keras kepala".


Damar berdecak kesal melayangkan tangannya.


Langkah Wulan tertuju ke perpustakaan. Sebelum kelas dimulai dia ingin sekali tidur sebentar saja.


Lagi lagi ada orang yang menghalangi langkah mungilnya.


"Kara Insurence mengalami kerugian besar, berpotensi bangkrut".


Perempuan itu mengulang kalimat yang menjadi judul berita pagi tadi dengan penuh penekanan.


"Tuhan memang maha adil, menghukum hambanya yang angkuh seperti loe".


Hinaan perempuan dihadapan Wulan mendidihkan darah disekujur tubuhnya.


Matanya terasa perih, nafasnya memburu. Sekuat mungkin Wulan menahan emosinya.


"benarkah ? Kalau begitu gue akan sangat bersyukur, karena Tuhan masih peduli sama gue. Dunia itu berputar Din, tidak selamanya diatas terus".


Sebelum Wulan mendengar hinaan lanjutan dari mulut Dini, lebih baik dia menguatkan dirinya sendiri dengan ucapannya.


Dini tak berkutik, tak mampu menjawab balasan Wulan. Justru dia yang ingin melontarkan kata kata itu.


Jangan kehilangan harga diri meskipun Wulan jatuh miskin. Perjuangkan yang menurutnya benar, jika memang itu bisa membuat Wulan tegar.


"Wulan . . Gawat !"


Eva terengah engah mengejar langkah Wulan yang hampir masuk perpus.


"ada apa lagi ?"


Sejak sampai dikampus, Wulan selalu di cegat. Eva adalah yang ketiga kalinya.


"Damar berantem sama Gilang".


"bukan urusan gue Va, lagian siapa Gilang ? Gak kenal gue".


Gemas sekaki Eva, dia menarik Wulan secara paksa. Membawanya menuju mading kampus.


"Lan, Gilang katanya pernah minta nomer telpon loe tapi ditolak. Sekarang dia lagi nyebarin berita kebangkrutan bokap loe. Damar gak terima dan ngamuk".


Sebelum sampai mading, Eva menjelaskan kronologinya pada Wulan.


"Damar cukup !"


Hampir saja laki laki itu menonjok wajah Gilang, Wulan segera melerai.


Semua orang sangat tertarik dengan adegan itu. Ada pula yang merekamnya menggunakan ponsel.


"Dengar semuanya ! kara Insurence yang dulunya sangat disegani, sekarang sudah jatuh bangkrut. Dan gadis sombong ini sudah jatuh miskin. Kita lihat saja, apa dia masih bisa berlagak agung lagi ?"


Gilang sangat keterlaluan, rasa malunya saat ditolak Wulan dibalasnya dengan hinaan. Banyak yang tidak menyangka, kalau Wulan sekarang hanyalah gadis biasa.


Brug. .


Ditonjok juga akhirnya Gilang oleh Damar hingga terpental ketembok.


Wulan terperanjat, dia menutup mulutnya melihat Damar yang biasanya kalem seperti sedang kesetanan.


"Damar !"


Wulan mendorong badan laki laki jangkung itu saat dia hendak menonjok lagi.


"kamu pikir siapa ? Aku gak butuh pembelaan dari kamu".

__ADS_1


"see, gadis yang loe bela bahkan tidak menghargai usaha loe. Gue sangat heran, terbuat dari apa hatinya".


Gilang menatap Wulan dengan sinis, sementara Wulan masih melotot pada Damar yang masih mengawasi Gilang.


__ADS_2