DamarWulan

DamarWulan
Penyitaan


__ADS_3

Usai makan siang, Damar mengantarkan Wulan kerumahnya. Terletak diperumahan elit jakarta pusat, rumah Wulan megah bak istana.


"kenapa rumah kamu ramai sekali ?"


Damar melihat ada beberapa orang yang sedang mengobrol secara serius.


"mending kamu langsung pulang !"


Merasa ada yang tidak beres, Wulan buru buru keluar dari mobil.


"ada apa yah ?"


Gadis itu memotong pembicaraan tanpa memikirkan sopan santun.


"kalau begitu kami permisi, jangka waktunya sampai besok rumah ini sudah harus kosong ya pak".


Kedua petugas bank pamit meninggalkan Wulan dan ayahnya. Sebelum naik mobil, salah satunya memasang papan dipagar rumah.


"Ayah bangkrut Wulan, semuanya sudah terlambat".


Mendengar kata bangkrut berhasil membuat kaki Wulan lemas dan terjatuh.


"kenapa bisa ? Ini hanya mimpi kan yah ? Kenapa Tuhan begitu mudahnya membalikan dunia seseorang . ."


Tatapannya kosong, dunianya seperti runtuh menimpanya.


Wulan yang terbiasa hidup berkecukupan, hari itu bahkan diusir oleh pihak bank dari rumahnya sendiri.


"ayah menggadaikan rumah ini untuk modal usaha. Karena perusahaan minus tanpa income yang cukup, ayah rugi besar nak. Ayah minta maaf sama kamu Wulan."


Ayah Wulan memeluknya yang masih terduduk lemas dilantai depan pintu.


"Ayah janji akan menyelamatkan kamu dari krisis ini. Percayalah !"


Ayah Wulan melirik kearah mobil yang terparkir, dia melihat Damar yang masih berdiri disana.


"dia siapa nak ?"


Wulan melepaskan pelukan ayahnya dan melihat ke arah Damar.


Meski tidak memiliki kekuatan, dia berusaha untuk berdiri dan menghampiri laki laki yang sudah berhasil mengetuk pintu hatinya.


"pergi kamu dari sini ! Sudah aku bilang sejak tadi, lebih baik kamu pulang. Kenapa harus kamu yang melihat semua ini".


Emosinya meluap luap, Wulan memukuli dada bidang Damar dengan kedua tangannya.


Damar hanya diam, namun tangannya bergerak memeluk Wulan.


Melihat keduanya, ayah Wulan mengira kalau anak gadisnya memiliki hubungan dengan laki laki itu.


"aku membencimu Damar".

__ADS_1


Wulan meronta melepaskan pelukan Damar, dan mendorongnya untuk menjauh.


Tanpa berkata apa apa, Damar menuruti keinginan Wulan dan segera pergi.


Dia tahu, Wulan hanya ingin mengeluarkan kekesalannya. Rasa kecewanya terhadap keadaan, menjadikan Damar kambing hitam kemarahan Wulan karena menyaksikan kehancuran ayahnya.


"kita berkemas sekarang Wulan, ayah akan antar kamu ke suatu tempat". Ayah Wulan masuk ke dalam rumah terlebih dulu.


Berat sekali rasanya, Wulan harus meninggalkan rumah. Bukan karena kemewahannya, melainkan kenangan indah yang tercipta disana.


Ayah Wulan menarik tangannya supaya di percepat, mereka harus segera pergi. Mobil Wulan masih aman dari sitaan, karena ayahnya membelikan mobil itu secara cash.


"kita ke rumah siapa yah ?"


Mobil mereka sudah sampai dikediaman seseorang.


Rumahnya jauh lebih besar dari milik keluarga Wulan.


Pria itu hanya diam, masih sibuk mengatur setir untuk memarkirkan mobil sedan mewah milik anaknya.


"kamu tunggu disini, ayah akan panggil kalau urusannya sudah selesai".


Laki laki paruh baya itu keluar dari mobil. Dari kejauhan Wulan melihat ayahnya sedang berbicara dengan seorang perempuan yang berpakaian formal.


"silakan masuk, pak Adi sudah menunggu anda pak Bagas".


Sekretaris pak Adi mengajak ayah Wulan menuju ruang bosnya.


"bagaimana hasilnya pak Bagas, apa dia mau ?"


"akan saya serahkan dia untuk bapak, tapi saya mohon jangan dulu mengatakan apapun. Agar tidak menolak, labih baik bapak membuatnya jatuh cinta terlebih dulu".


Keputusannya sudah bulat, pak Bagas tidak ingin anak gadisnya menderita. Bukan maksud menjual, dia hanya menjodohkannya.


"ide yang cukup bagus. Apa ini anak gadismu ?"


Pak Adi memutar laptopnya dan memperlihatkan foto Wulan untuk memastikan.


Pak bagas menunjukkan rasa herannya, jadi pak Adi sampai mengorek informasi tentang anaknya. Bahkan sejak tadi dia fokus menatap laptop tengah mengintip akun instagram Wulan.


"benar pak. Dia ada di dalam mobil sekarang".


Tangannya terlihat gemetar, seolah menyesali perbuatan yang telah ia lakukan pada Wulan.


"pak Bagas bisa pulang kerumah yang sudah saya siapkan. Orang saya akan mengantar lewat pintu belakang". Kemudian seorang bodyguard masuk untuk mengantarnya.


"bagaimana dengan anak saya pak ?"


"sesuai kesepakatan, dia akan tinggal dirumah ini mulai sekarang".


Tidak ada yang bisa diperbuat olehnya, demi kenyamanan hidup puterinya dia rela melakukan apapun.

__ADS_1


Terasa lama Wulan menunggu, dia memutuskan untuk keluar dari mobil. Gadis itu berjalan menuju pintu rumah dengan tatapan ragu.


"silakan masuk non Wulan". Sekretaris pak Adi membukakan pintu, dan mengajak Wulan untuk masuk.


"saya mencari ayah saya, kami harus pergi sekarang".


Wulan menanyakan keberadaan pak Bagas, tapi didalam tidak ada siapapun kecuali mereka berdua.


"non tidak perlu khawatir, ayah non baik baik saja. Beliau harus mulai merapikan perusahaannya. Non Wulan akan tinggal disini mulai sekarang, jadi mohon kerja samanya".


Apa yang sedang dibicarakan wanita ini ?


Wulan bahkan tidak bisa mengerti apa maksud semua ini. dia hanya membutuhkan ayahnya dan memulai hidup yang baru dari nol lagi.


"kenapa aku harus mempercayai anda ? Lebih baik saya permisi".


Wulan membalikan badan, yang ada hanya 2 asisten wanita itu sudah menghadang.


"tidak apa, saya mohon non percaya pada ucapan saya. Mari saya antar ke kamar".


Sekretaris berambut pendek yang berwajah datar melangkah, namun Wulan hanya terdiam.


Kali ini Wulan akan menurut, hanya untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.


Dia menaiki anak tangga mengikuti laangkah wanita didepannya.


"ini kamar non Wulan, orang saya akan mengantarkan koper. Jadi tidak usah takut. Nama saya Eren, kalau butuh apa apa tinggal cari saya di bawah".


Pandangan Wulan sama sekali tidak tertarik terhadap kamar itu, meski sangat mewah jika dibandingkan dengan kamarnya.


disebuah apartemen, tampak seseorang sedang sibuk dengan layar komputernya. dia membuka situs bisnis untuk mencari informasi.


Kara Insurence mengalami kerugian besar, berpotensi bangkrut.


tagline berita itu berhasil membulatkan kedua matanya.


terinci sekali penjelasan menurut data dari bursa saham, menerangkan kegagalan bisnis ayah dari gadis yang baru saja dekat dengannya.


masih dirahasiakan informasi investor yang kini tengah diincar oleh owner Kara Insurence.


andai saja laki laki itu bisa membantu dengan tangannya sendiri, namun keuangannya bahkan tidak sebanyak jumlah yang harus dibayar.


parahnya lagi, bisa saja perusahaan itu di akuisisi oleh investornya jika memang benar benar bangkrut.


"Kasihan Wulan, dia pasti sangat terpukul". gumamnya dalam hati, kemudian menyandarkan kepalanya pada kursi.


apa dia baik baik saja ? sekarang dia tidur dimana ?


ah kenapa dirinya jadi sangat peduli pada gadis itu.


bukankah bukan urusannya untuk ikut campur lebih jauh.

__ADS_1


"andai saja kamu sudah jadi orang sukses Damar, pasti gampang sekali".


Damar memijat keningnya, bahkan sudah larut sekali dia masih belum juga mengantuk.


__ADS_2