DamarWulan

DamarWulan
Pendamping ?


__ADS_3

"kenapa baru pulang ?"


Pak Adi duduk disofa ruang tamu, sudah menunggu kepulangan Wulan sejak tadi.


"maaf pak, tadi saya bertemu teman. Oh iya, saya punya kopi buat bapak. Ini buatan saya sendiri".


Wulan menaruh sebuah kantung karton yang berisi cup of iced cappucino untuk pak Adi.


"saya tidak minum kopi, tapi terima kasih. Lebih baik kamu bersiap, kamu harus ikut saya !"


Mendengar perintah pak Adi, Wulan hanya menurut dan naik ke kamar atas.


Tidak ada lagi adu argumen, dan itu membuat pak Adi sedikit heran.


"Eren, tolong bantu dia"


Pak Adi juga menugaskan Eren untuk naik menyusul Wulan.


"baik pak"


Didalam kamar Wulan melirik kearah ranjang mewahnya, ada box kecil dan sebuah dress yang dibungkus plastik laundry.


Jadi dia harus memakai itu semua ? Tebak Wulan dalam hati, lalu masuk kekamar mandi dengan handuknya.


Suara pintu diketuk ketika Wulan selesai mandi dan mengenakan pakaian dalam.


"ada apa ?"


Tanya Wulan pada Eren yang berdiri didepan pintu.


"saya akan membantu non Wulan untuk bersiap".


"tidak usah, saya bisa sendiri"


Wulan menghela nafas dan kembali menutup pintunya.


Selang berapa menit, dia turun tangga. Disana pak Adi sudah menunggu dengan stelan jas hitamnya.


Cantik . .


Pak Adi tidak salah memilih dress untuk Wulan. Beliau tersenyum tipis menatapnya.


"silakan non !"


Eren menuntun Wulan mengikuti langkah pak Adi untuk masuk kedalam mobil.


Kemana pria itu akan membawanya, apalagi sekarang.


Sejak kejadian dikampus, Wulan akhirnya membuka situs online yang ramai dibicarakan.


Meski ragu, setidaknya dia harus mengetahui kabar terlengkapnya. Kesimpulan yang dibuat oleh Wulan, bahwa kemungkinan besar dia memang di jual untuk membantu perusahaan ayahnya.


Pantas saja dia sampai berteriak di halte. Wulan ingin meluapkan kekesalannya, bukan pada ayahnya melainkan keadaan.


Sekejam inikah teguran Tuhan pada diri Wulan, yang biasanya hidup berkecukupan.


Kalau boleh memilih, Wulan ingin terlahir dari keluarga yang biasa saja. Beruntungnya Wulan memang bukan tipe gadis yang manja atau sosialita. Jadi tidak terlalu buruk baginya menghadapi kesulitan ini.


Tapi apa harus dia menjadi tumbal ? Untuk pria yang lebih pantas jadi mertuanya ?


Apa pak Adi punya anak, atau istri ? Bagaimana kalau Wulan dijadikan istri simpanan.


Sekarang, dirinya hanya perlu menuruti segala perintah pak Adi. Demi kelancaran proses pemulihan perusahaan ayahnya.


"apa kamu senang masih bisa mengenakan pakaian dan perhiasan bermerk ?"


Ditengah perjalanan pak Adi buka saura, niatnya hanya mencairkan suasana.


Berbeda bagi Wulan, itu seperti sebuah hinaan secara halus. Dia menyunggingkan senyum sinisnya dengan tatapan datar.


"orang orang terlalu kejam menilai saya, sangat menyakiti perasaan."


Pak Adi memejamkan matanya, menyesal telah melontarkan pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


"maaf . ."


Pelan pak Adi mengucapkannya namun terdengar jelas oleh Wulan.


"tidak apa, saya sudah terbiasa".


Tak terasa, setetes air bening terjun meluncur dipipi Wulan yang tidak memakai bedak sedikitpun.


Wulan memalingkan wajah dan segera mengusapnya dengan cepat.


Pak Adi melihat pergerakan itu, hatinya hancur melihat Wulan menangis.


Mereka telah sampai disebuah gedung pertemuan.


Round table tertata rapi dengan vas bunga segar untuk menghiasinya.


Tata cahaya, dekorasi ruangan dan panggung megah sangat indah dipandang.


"selamat datang pak Adi, mari kami antar kemeja bapak."


Tim panitia pelaksana menyambut kedatangan pak Adi dengan penuh hormat.


Wulan mengekor dibelakang pak Adi bersama Eren.


Sementara supir dan pengawal hanya berdiri di pojok ruangan.


"Adi Gunawan . .


Wah wah wah, kita lihat siapa yang datang dengan seorang wanita . .


Oh masih gadis sepertinya ? Cantik sekali"


Pria yang sudah duduk lebih dulu dimeja VIP itu menyapa pak Adi, tepatnya seperti menyulut emosi. Matanya bahkan sangat tajam melihat kearah Wulan.


Pak Adi tak bergeming, dia duduk menunjukkan ekspresi tak nyaman jika semeja dengan pria tua itu.


"bu . ."


"panggil saja saya Eren non !"


Eren membungkukkan badannya untuk mendengarkan Wulan.


"saya perlu ke toilet."


Setelah mengetahui keinginan nonnya, Eren pindah kesamping pak Adi dan kembali berbisik.


"antar saja."


Pak Adi meminta Eren untuk menemani Wulan ke toilet, supaya Wulan tidak berbuat macam macam.


"apa tuanmu sangat takut aku kabur ? Kamu tunggulah disini !"


Sampai didepan pintu Wulan meminta Eren menunggu, dia tidak nyaman kalau harus terus diikuti.


"kamu tahu kan Adi Gunawan ? Mami tuh naksir dia sudah lama, sekarang waktu yang tepat buat merayunya."


dibalik bilik toilet Wulan mendengar percakapan seorang wanita dengan anaknya.


"mi bukannya pak Adi itu punya anak laki laki ? Tapi identitasnya selalu dirahasiakan, sampai tidak ada yang tahu."


Suara anak perempuannya tidak asing, Wulan tahu siapa dia.


Mati Wulan kalau sampai Dini melihatnya bersama pak Adi.


Ponsel Wulan menyala, mode senyap untuk nada panggilan.


Nomer baru memanggil disaat yang tidak tepat.


"aduh siapa lagi ?"


Wulan memaki tanpa bersuara.


"non . . Apa sudah selesai ?"

__ADS_1


Eren menyusul kedalam untuk menjemput Wulan.


"yuk sayang !"


Wanita itu mengajak anaknya keluar dari toilet, disusul Wulan yang juga keluar dari bilik toilet.


"untunglah . ."


Akhirnya Wulan bernafas lega, bisa terhindar dari Dini.


"ada masalah non ?"


Eren melihat Wulan berkeringat dan sedikit pucat.


"Eren, didalam ada mahasiswa satu kampus. Mulutnya ember sekali, apa bisa aku pulang saja ?"


Melihat wajah Wulan yang pucat, Eren percaya kalau gadis itu tidak sedang berbohong.


"saya akan izin ke bapak, non tunggu dimobil. Ada supir dipintu masuk"


Eren meninggalkan Wulan untuk pergi kemeja pak Adi.


Begitu juga dengan Wulan yang bergegas keluar dengan perasaan was was.


"saya datang bersama pendamping saya, dia orang yang sangat istimewa"


Kata kata pak Adi di mik berhasil menahan langkah Wulan. Eren juga nampak gusar karena belum sempat melapor, bosnya sudah naik stage.


"saya tahu, mungkin saya bukan orang yang sempurna. Tapi akan saya buat dia bahagia disamping saya"


Pandangan Pak Adi mencari sosok yang dimaksud, tapi hanya Eren yang ada dimejanya.


Tidak lama, kemudian beliau menyudahi pidatonya, pasti terjadi sesuatu dengan Wulan.


"mi, kok bicara pak Adi kayak yang punya pasangan. Memang siapa ?"


Dini terus memperhatikan gerak gerik pak Adi, dia sangat penasaran siapa pesaing maminya.


"belum nak, mami yakin dia masih duda."


Maminya Dini masih menanggapi santai sambutan pak Adi, pikirnya hanya untuk menutupi kekurangan orang itu saja didepan publik.


"ada apa ?"


Tanya pak Adi pada Wulan, mereka tengah berdiri di carpot gedung.


"saya ingin pulang, bapak teruskan saja acaranya. Saya bisa naik taksi kerumah"


Pak Adi menghembuskan nafas kasarnya sebelum mengiyakan permintaan Wulan.


Eren sudah menjelaskan detailnya tadi, terpaksa pak Adi mengizinkan Wulan pulang lebih awal.


"kamu dimana ?"


Didalam taxi Wulan kembali menerima panggilan dari nomer yang sama saat ditoilet.


Sekarang dia tersenyum karena sudah tahu siapa pemiliknya.


"dijalan, kenapa ?"


Wulan menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata. Ada rasa gugup didadanya, kenapa Wulan berharap lebih padanya ?


"berhenti disuatu tempat, akan aku jemput. Send me your location !"


Sambungan telpon terputus, Wulan langsung menghentikan taxi.


Setelah berhenti didepan sebuah kafe, jemari Wulan mengetik menuruti perintah laki laki tadi.


Banyak yang menatapnya saat itu. Bagaimana tidak, Wulan mengenakan gold strip dress selutut dengan anting dan kalung mewah.


"mati aku, kenapa tadi tidak pinjam jas sama pak Adi"


Kini perasaannya mulai tidak nyaman, Wulan memutuskan untuk segera masuk ke dalam kafe.

__ADS_1


__ADS_2