DamarWulan

DamarWulan
Teror


__ADS_3

Sedetikpun Wulan tidak bisa memejamkan matanya. Ia terus saja membolak balikan posisi tubuhnya yang sedang berbaring. Wulan rindu kuliah, kangen bertemu Eva yang cerewet, atau sekedar ingin melihat keadaan Damar ?


Plug . .


Tiba tiba aliran listrik rumah padam begitu saja. Semua penghuni kaget, meraih ponsel masing masing untuk menyalakan lampu senter. Kecuali Wulan, selama ini dia sudah tidak memegang ponselnya. Adi masih menyita barang pribadi milik Wulan.


"gelap sekali . ."


Gerutu Wulan bangun dari tempat tidur, tangannya meraba mencari jalan menuju pintu. Sejak kecil, dadanya selalu sesak saat berada didalam kegelapan seperti ini. Maka dari itu ayahnya memasang genset dirumah mereka dulu.


"Wulan !"


Setelah menyalakan lampu senter, Adi berlari menuju kamar Wulan. Ia baru ingat kalau Wulan tidak memegang ponsel. Dia pasti sangat ketakutan, kasihan dia.


"kamu baik baik saja ?"


Menggunakan senter, Adi melihat Wulan yang sedang berdiri memegangi pintu kamar. Nafasnya terdengar tidak beraturan, keringat dingin muncul dikeningnya.


"sesak . .


aku tidak bisa lama lama didalam kegelapan."


"Eren !"


Adi berteriak berharap sekretarisnya bisa mendengar dari bawah.


"saya pak."


Cepat sekali Eren sampai, bersamaan dengan listrik yang menyala lagi.


"ayo Wulan, kita ke kamarku saja. Temui aku diruang kerja Eren, ada tugas untuk kamu kerjakan."


"baik."


Ia juga berniat menyampaikan hal penting pada Adi.


"ini ponselku, kamu bisa menggunakannya jika listrik mati lagi. Sandinya tanggal lahir Damar."


Adi memberikan ponsel miliknya, ia juga sedikit ragu memberitahukan kode sandi yang memakai tanggal lahir Damar pada Wulan.


"aku tidak tahu tanggalnya." mengetahui Wulan tidak mengenal anaknya dengan baik membuat Adi menyunggingkan senyumnya.


"kamu ini, ada ada saja. xxxxxx, aku ada urusan pekerjaan dengan Eren."


Adi meninggalkan istri kecilnya dikamar sendirian, dia harus membahas satu hal penting diruang kerjanya.


"saat saya dan anak buah cek kilometer, rumah rumah lain tidak mati listrik pa. Saya mengajukan komplain pada PLN, katanya box listrik rumah bapak ada yang hack. Saya berasumsi kalau mereka mulai mengganggu kembali. Kabar pernikahan bapak pasti sudah sampai ditelinga mereka."


Eren memaparkan hasil kerjanya pada sang bos. Raut wajah keduanya sangat serius, penuh dengan guratan kekhawatiran.


**** !!


Umpat Adi dalam hati, jujur hatinya mulai cemas dengan keselamatan sang istri. Maria yang saat mendampinginya saja tidak sanggup, hingga sakit sakitan karena terguncang. Apalagi Wulan yang masih muda.


"perketat keamanan rumah, dan ikuti Wulan juga Damar. Kita perlu menutupi identitas mereka, jangan sampai ada yang tahu. Besok, panggil orang untuk pasang genset. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi !"


"baik pak, akan saya kerjakan."

__ADS_1


Eren pamit keluar dari ruang kerja Adi.


-ini pasti gara gara tender lagi, bren*sek !-


Kedua tangan Adi menggebrak meja kerjanya. Matanya memerah menahan amarah didadanya. Jangan sampai Wulan tahu soal ini.


Wulan rebahan dengan menyembunyikan badannya dibawah selimut. Tangannya masih setia menggenggam ponsel Adi. Berjaga jaga siapa tahu akan mati listrik lagi. Mendadak pikirannya mulai usil, jarinya mulai mengetik kode untuk membuka ponsel.


Setelah terbuka, Wulan menggigit bibirnya melihat wallpaper yang menggunakan fotonya. Ia ingat, foto itu Wulan posting di akun media sosial miliknya. Diambil saat acara pensi di SMA, mengenakan topi yang sangat cocok dengan warna rambut yang di bleaching.


Dret dret . .


Sebuah private number memanggil, Wulan bingung harus membiarkan atau menjawabnya. Ia menunggu sampai panggilan itu berhenti sendiri.


Dret dret . .


Kembali nomer pribadi itu melakukan panggilan. Memaksa Wulan untuk mengangkatnya. Bukan tidak sopan, bisa saja Wulan berlari memberikan ponselnya pada Adi. Tapi suaminya sedang ada urusan penting bersama Eren. Toh nanti bisa Wulan sampaikan pada Adi pesan dari si penelpon.


- Adi Gunawan . . Haha bagaimana kejutan kecil dari saya ? Istri barumu pasti ketakutan saat listriknya padam haha. Mengalahlah ditender itu, kamu sudah sangat kaya. Berilah aku kesempatan untuk memenangkannya, agar aku tidak berbuat gila lagi pada kehidupanmu-


Tut tut tut . .


Sambungan telpon terputus begitu saja, setelah orang disebrang sana yang entah siapa berhasil membuat ancaman.


Wulan langsung bangun, ia sangat terkejut mendengar kata kata yang harusnya didengar oleh Adi.


"kenapa orang itu mengancam suamiku ? Tender, maksudnya saingan bisnis."


Suara pintu terbuka, itu pasti Adi. Dengan cepat Wulan menaruh ponsel dinakas samping. Ia kembali menenggelamkan tubuhnya didalam selimut.


"apa kamu sudah tidur ?"


Tanya Adi melirik kesebelah, dimana tidak ada suara dari istrinya.


Wulan membuka selimutnya menengok kearah Adi.


"belum, ada apa ?"


"badanku pegal pegal, bisa tolong pijit sebentar ?"


Adi menahan senyumnya, sebenarnya dia tidak berniat untuk menyuruh Wulan melakukan hal itu. Pikirnya iseng iseng berhadiah.


"bangunlah !"


Mengejutkan, Wulan bangun dan mau melakukannya. Mendengar jawaban sang istri, Adipun ikut bangun lalu duduk memunggungi Wulan.


Tangan mungil Wulan mulai memijit pundaknya.


"kamu pintar mijit, bisa masak, dan membuat kopi yang pas. Aku beruntung punya istri seperti kamu Wulan."


Adi memuji Wulan. Jarang sekali perempuan seusianya bisa melakukan hal hal itu. Terlebih Wulan yang biasa hidup nyaman dan enak.


"jangan terlalu memuji, aku takut mengecewakanmu."


Hanya itu yang bisa Wulan katakan, tapi hati kecilnya gembira. Usahanya dinilai baik oleh suami.


Enak ada istri, sekarang Adi jadi ada yang mengurus. Dia tidak akan kesepian dirumah besar itu. Dimasakkin makanan, dibuatkan kopi, disiapkan pakaian untuk bekerja. Sebelumnya Eren tidak pernah Adi izinkan melakukannya. Karena dia sekretaris, bukan asisten pribadinya.

__ADS_1


"tidurlah Wulan, kamu pasti lelah sekali."


Adi menghentikan tangan Wulan yang memijatnya. Sejak tadi istrinya sudah menguap entah berapa kali.


Sebelum berbaring, Wulan menyematkan bantal guling ditengah tengah. Membuat batas antara Adi dengannya. Adi terkekeh melihatnya, tidak apa lain kali dia benar benar akan menagih haknya.


🍀🍀🍀


Walau dalam tidurnya, Wulan terus mengingatkan dirinya agar bangun pagi sekali. Jangan sampai melakukan kesalahan dihari pertama sebagai seorang istri.


Urusan sarapan sudah ia selesaikan, memasak makanan berat untuk Adi. Suaminya harus makan nasi di pagi hari.


"mas, bangun !


Hari ini kamu antar aku kuliah kan ?"


Wulan menggerakkan lengan Adi untuk membangunkannya. Pria itu pasti benar benar kelelahan.


"iya aku akan bangun."


Adi menguap dan menggeliat, meregangkan otot ototnya agar tidak kaku. Dilihatnya Wulan sudah mandi dan berpakaian rapi.


Setelah selesai mandi, Adi keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilid dipinggangnya. Berbeda dengan Wulan yang memakai handuk piyama.


"ada apa ?"


Tanya Adi yang melihat wajah Wulan memerah.


"tidak ada, aku turun duluan."


Malu sekali Wulan, belum apa apa dia sudah merasa geli dan tak nyaman. Bagaimana melayani Adi diranjang nantinya ?


"tunggu, apa pakaianmu sudah habis ?"


Wulan yang tadinya mau masuk mobil, ditahan oleh pertanyaan Adi.


"kenapa ?" tanyanya bingung.


"sekarang kamu istriku Wulan, aku ingin kamu berpenampilan sedikit Feminim."


Adi bahkan mengangkat kedua jarinya untuk mengukur tingkatan.


"mas, kamu mau aku memperlihatkan tubuhku yang kurus kering ini ? Aku nyaman dengan pakaian tertutup."


Adi bukannya menilai buruk gaya fashion istri mungilnya. Hanya saja pagi itu Wulan mengenakan jeans abu berpadu kemeja oversize lengan panjang. Menambah kecantikannya dilengkapi sneakers putih.


"nyonya, tuan hanya iri. Istrinya terlihat sangat cantik dan muda."


"bilang sama dia Eren, dia bisa mengikuti gayaku agar terbawa lebih muda."


Jail sekali, Wulan berani meledek suaminya didepan Eren dan supirnya.


Mereka berdua terkekeh menahan tawa melihat keduanya.


"yasudah, ayo berangkat !"


Adi mengajak semuanya masuk mobil, dengan menahan rasa gemasnya pada Wulan.

__ADS_1


__ADS_2