
Setibanya Wulan didepan gerbang, betapa terkejutnya ia melihat sosok pria yang sudah menanti kedatangannya.
Wulan menelan ludah, berjalan ragu menghampirinya.
"masuk kamu !"
Tangan Wulan ditarik paksa oleh Adi, berjalan secepat mungkin untuk segera masuk kedalam rumah.
"aww sakit, lepasin pak !"
"pak, bapak menyakiti non Wulan"
Eren mengejar langkah Adi yang terus menarik Wulan, Eren tak tega melihat Wulan yang meringis kesakitan. Adegan itu terus berlanjut hingga kedepan kamar Wulan.
"ambil tasnya Eren !"
Terpaksa Eren menuruti perintah Adi yang sedang mengamuk. Tas itu berisi dompet dan ponsel milik Wulan, Adi ingin menyitanya sebagai hukuman.
Dia juga mendorong tubuh Wulan masuk kekamarnya, lalu mengunci pintu.
"buka ! Buka pintunya, Eren bilang sama orang itu. Lebih baik aku mati daripada menikah dengannya !"
Dari dalam kamar, Wulan terus berteriak menggedor gedor pintu. Berharap Adi lebih terpancing lagi emosinya. Sekalian basah Wulan ingin segera mengakhiri semuanya.
"jangan beri dia makan, ."
"tapi pak ?" Eren ragu untuk melakukannya, terlalu keras bosnya marah pada Wulan. Andai saja dia tidak melaporkan Wulan pada Adi, mungkin akan baik baik saja.
"tunggu perintahku selanjutnya, jangan pernah biarkan dia keluar dari rumah ini !"
Adi merebut tas Wulan yang dipegang Eren, wanita itu terperanga menyaksikan sikap Adi yang berbeda dari biasanya.
"kenapa bapak begini ?"
Tanya Eren dalam hati, dialah saksi saat Adi benar benar terpikat oleh Wulan. Kopi buatan Wulan yang tidak ia minum, sengaja disimpan didalam kulkas. Adi sangat menyukainya, sayang dia hanya menyukai kopi hitam. Wulan yang pernah membuatkan sandwich dan jus apel, Adi juga diam diam menyuruh Eren untuk membawanya kekantor tanpa sepengetahuan Wulan.
Sejujurnya Adi tidak ingin menyiksa Wulan, dia hanya kesal. Wulan terus saja menemui laki laki yang sama, dia sangat tidak suka.
Diruang kerja, Adi memeriksa isi tas anak gadis Bagaskara.
Matanya tajam menyoroti wallpaper ponselnya, foto seorang pria yang tersenyum bersandar di pagar pembatas dermaga.
Brak . .
Tangannya mengepal memukul meja, rahangnya menguat menahan emosi. Dadanya naik turun, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"halo . .
Aku akan menikahi Wulan minggu depan. Pastikan puterimu melakukannya dengan baik !"
Adi menelpon Bagaskara untuk menyelesaikan masalah ini. Lebih cepat lebih baik, dia tidak ingin ada yang merebut Wulan dari tangannya. Siapapun, tak terkecuali.
"baik pak." jawab Bagas penuh keraguan disebrang telpon.
__ADS_1
"kenapa harus dia Wulan ? Dia anakku, aku tidak akan membiarkanmu terus dekat dengannya."
Damar Putra Gunawan, laki laki yang dijadikan wallpaper diponsel Wulan. Sosok pemilik hoodie, dan yang ditemui Wulan barusan lewat foto yang dikirim anak buahnya selama mengawasi gadis itu.
Adi kembali kekamar Wulan, membukakan pintu yang sempat dia kunci. Dilihatnya Wulan tengah duduk memeluk lututnya disamping tempat tidur. Adi berjongkok untuk mengamati wajah Wulan, tatapannya kosong penuh kebencian pada dirinya.
"kamu tahu Wulan ? Aku sudah menyuruh anak buahku untuk menghajar laki laki itu. Aku bisa berbuat lebih jika kamu menolak untuk menikah denganku."
Perasaan Wulan tak karuan mendengar ancaman Adi, ia bangun dari duduknya berniat untuk lari keluar kamar. Sayang, Adi lebih sigap darinya. Adi menahan tangan Wulan, menariknya kedalam dekapannya. Wulan menjaga jarak dengan kedua lengannya.
"bapak jahat, dia tidak salah apa apa ! Jangan ganggu dia atau aku benar benar lenyap dari dunia ini."
Wulan memukuli dada Adi berkali kali, berharap lepas dari kungkungan lengan Adi pada pinggangya.
"minggu depan, menikah denganku atau dia akan celaka."
Mana mungkin Adi berani melakukannya, Damar adalah anak satu satunya. Kalau mengancam dengan penarikan kembali investasinya, Adi tahu Wulan tidak akan takut. Dia sangat terpaksa sekali melakukan kebohongan itu.
"oke, aku akan melakukannya. Sebelum hari itu, jangan larang aku untuk bertemu dengannya !"
Adi menyunggingkan senyumnya mendengar jawaban Wulan.
"anak buahku akan selalu menjagamu, jangan terlalu sering menemuinya !"
Tangannya mulai lepas dari tubuh Wulan, Adi keluar dari kamar membiarkan Wulan. untuk beristirahat.
Bukan menjaga, tapi mengawasi dan memata matai lebih tepatnya. Baru saja Wulan merasakan kebahagiaan, sesaat kemudian direnggut oleh pria tua itu.
Masih kuat, Wulan sama sekali tidak ingin air matanya jatuh hanya karena Adi.
Esok harinya Wulan berangkat kuliah diantar oleh supir, atas perintah Adi.
"pak, berhenti disini saja !"
Wulan menyetop mobil disebrang halte, dia akan berjalan selebihnya sampai gerbang kampus.
Sebelum keluar,Wulan menyimpan debit card yang diberikan Adi dikursi mobil. Ia sama sekali tidak ingin memakainya.
"Damar . ."
Wulan melihat kekasihnya baru saja keluar dari mobil.
"pagi cantik . ."
Laki laki jangkung itu menggandeng tangan Wulan, ah indah sekali rasanya.
"kamu baik baik saja ?" tanya Wulan memeriksa keadaan Damar.
"aku baik baik saja Wulan."
Aneh, kenapa Damar tidak terluka ? Apa pria itu hanya menggertaknya saja. Bagaimanapun pak Adi pasti sudah tahu identitas Damar, yakin Wulan.
"Levin menawarkan pekerjaan, di Mall P. Aku akan menata hidupku kembali, aku tidak ingin bergantung sama ayah terus."
__ADS_1
Sekarang Wulan punya tempat untuk mengadu, ia tidak akan sungkan lagi bercerita pada Damar.
"asal tidak mengganggu kuliah, dan jangan sampai kelelahan."
"wah wah wah, Wulan. Hebat sekali kamu, kemarin bersama om om yang bayarin kamu belanja. Sekarang mesra mesraan sama ketua BEM."
Gilang sengaja menghampiri Damar dan Wulan, untuk melancarkan aksinya mengganggu gadis yang pernah menolaknya.
"tutup mulutmu Gilang, jika kamu tidak ingin wajahmu hancur."
"haha . . Tanyakan saja pada dia, pria yang kukira ayahnya bahkan mengaku sebagai calon suami Wulan."
Cukup puas dengan respon Damar yang menoleh kearah Wulan, Gilang pergi begitu saja.
Wulan masih mematung, merasakan Damar yang terus menunggu jawaban atas rasa penasarannya.
"masuklah duluan Wulan, aku masih ada urusan."
Dia tahu, kalau Wulan belum siap menceritakan masalahnya. Damar akan menunggu sampai dia benar benar siap untuk terbuka.
"kamu mau kemana ? Aku tidak ingin masuk hari ini, kita pergi saja mm ?"
Tak ingin jauh dari Damar, Wulan menahan Damar untuk tidak meninggalkannya.
"ayo, ikut aku."
Atas permintaan Wulan, Damar rela bolos kuliah. Mereka kembali keparkiran, mobil Damar meninggalkan kampus.
"sebenarnya hari ini aku tidak ada jadwal kuliah, aku sengaja datang untuk lihat kamu."
Ditengah perjalanan Damar memecah kebisuan Wulan. Gadis itu memang tidak banyak bicara, matanya yang selalu mewakili suara hatinya.
"aku dengar dari Levin, kamu bekerja di salah satu resto mall P ?"
Wulan jadi teringat, kemarin dia sempat melihat Damar giat bekerja sebagai barista.
"iya, untuk uang jajan. Aku juga gak mau terus bergantung sama papa."
Damar senang, melihat Wulan mulai antusias mengobrol dengannya.
"aku belajar bikin kopi sama Levin, lain kali kamu juga harus ajarin aku !"
Gemas sekali, Damar mengacak rambut Wulan.
Saat pandangannya beralih sebentar, secara mendadak mobilnya disalip oleh sebuah mobil. Bahkan Damar terpaksa rem mendadak, tangannya menghalangi Wulan agar ia tidak terbentur.
"sial !" umpat Damar yang lajunya dicegat oleh mobil itu.
"turun !"
3 laki laki bertubuh kekar mengepung mobil Damar, mereka memaksa agar penumpangnya keluar.
"kamu disini saja, jangan kemana mana !"
__ADS_1
"tidak, mereka akan menyakitimu. Mundur Damar, ayo !"
Panik sekali Wulan melihat salah satu bodyguard Adi berdiri, siap untuk menyeretnya.