DamarWulan

DamarWulan
Curhat


__ADS_3

Sesulit apapun keadaan, Wulan tidak bisa kabur begitu saja.


Demi cita citanya menjadi peneliti, dia akan terus giat belajar dan menimba pengetahuan.


Mimpinya waktu kecil sangat tinggi, ia ingin bekerja di salah satu instansi pemerintah luar negeri agar bisa membanggakan negara kelahirannya.


Wulan sadar, manusia hanya bisa berencana. Tuhan lah yang akan menentukan setiap takdir umatnya.


Pikirannya yang semrawut tidak membuatnya hilang fokus. Penjelasan rumit yang dosen sampaikan masih bisa masuk ke otaknya.


"kita kuis ya teman teman".


"yaaah . ."


"huu . ."


Mereka sangat kecewa dengan dosen, mengadakan kuis secara mendadak. Padahal banyak sekali yang tidak sepenuhnya mencerna materi.


setelah mengisi beberapa soal, Wulan maju menyerahkannya pada dosen.


"Wulan A+, selamat ya. Kamu boleh meninggalkan kelas".


Dosen memuji jawaban yang Wulan tulis. Syukurlah dia bisa keluar dengan cepat.


Beberapa teman mata kuliahnya juga berdecak kagum pada Wulan.


"kamu dimana ?"


Tanya seseorang disebrang dalam panggilan telpon.


Wulan hanya diam, dia sedang duduk dihalte depan kampus. Kebetulan mata kuliahnya sudah selesai dengan cepat.


"saya masih ada mata kuliah".


Jawabnya berbohong, Wulan memandangi lalu lintas kendaraan dihadapannya.


"baiklah."


Kemudian sambungan telpon ditutup begitu saja.


Cukup banyak hal yang dipikirkan olehnya.


Salah satunya, Wulan menyesal tidak memiliki banyak teman dekat. Kalau saja dulu pergaulannya luas, dia bisa meminta tolong pada temannya.


"Aaaaaaa . ."


Teriakan Wulan membuat kaget orang orang disekelilingnya. Mereka menatap aneh pada gadis cantik itu.


"cantik cantik stres".


Celetuk seseorang disebelah Wulan, lalu kabur dari tempat duduknya.


Cess . .


Sesuatu yang dingin menempel pada pipi putih Wulan.


Dia melirik kearah samping, ingin tahu siapa yang melakukannya.


"minumlah".


Katanya menyodorkan minuman botol untuk segera diambil oleh Wulan.

__ADS_1


"Pak Adi tidak ada kerjaan ? Kenapa bapak disini, jam segini ?".


Wulan meraihnya, lalu meminum hingga setengahnya.


Pria itu tersenyum melihat Wulan dehidrasi, karena sejak tadi duduk dihalte yang cukup panas itu.


"saya ingin makan siang disekitar sini, lalu melihat kamu duduk melamun. Ayo kita makan". Pak Adi mengulurkan tangannya, menunggu Wulan menerima dan bangkit dari duduknya.


"saya sedang tidak punya alasan menolak ajakan bapak".


Wulan menghiraukan tangan pak Adi dan berjalan memimpin didepan.


Mereka berjalan menyusuri trotoar, pak Adi sengaja berjalan dibelakang Wulan untuk memberi kenyamanan pada gadis itu.


Masih banyak mahasiswa disekitaran luar kampus, tidak baik bagi Wulan jika terlihat bersama seorang om om.


Wulan mengajak pak Adi ke kafe dekat kampus. Disana menyediakan berbagai macam olahan ayam, keduanya duduk menungggu pesanan.


"kamu tidak bertanya, kenapa di tampung dirumah saya?"


Pak Adi duduk bersandar dikursi dengan menumpangkan kakinya.


"saya tahu pasti terjadi sesuatu antara bapak dan ayah saya. Mungkin saya di jual ke bapak untuk menghidupkan kembali perusahaannya".


Pak Adi sangat terkejut mendengar jawaban Wulan. Bagaimana bisa dia mengetahui itu.


"hahaha . . Pikiran saya jauh sekali kan pak ?


Bapak pasti merasa kasihan dengan ayah saya, maka dari itu terpaksa menampung saya".


Wulan termehek, merasa lucu dengan dugaannya yang terdengar tidak mungkin. Pak Adi hanya menghela nafas, beliau lega ternyata Wulan tidak menyadari kalau ucapannya memang benar.


"apa kebangkrutan ayahmu sangat menyiksa ? Hingga kamu berteriak tadi".


"sangat. Saya tidak munafik, saya khawatir kuliah saya akan terbengkalai. Tapi yang paling saya takutkan, ialah nasib ayah. Apa bisa dia hidup biasa saja tanpa kemewahan."


Penuturan Wulan sangat masuk akal. Bahkan terbilang bijak, karena dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Jika saja itu orang lain, mereka akan pusing tidak bergelimang harta lagi untuk bisa foya foya.


"lalu gaya hidupmu, apa kamu tidak takut ?"


Wulan melebarkan senyumnya pada pak Adi yang terlihat kepo tentangnya.


"saya tidak pernah meminta apalagi memaksa, ayah saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Materi masih bisa dicari bukan ?"


Hari itu, pak Adi menemukan pelajaran hidup baru dari seorang Wulan.


Beliau tidak menyangka, kalau Wulan sangat kritis dan berprinsip.


"terima kasih, bapak sudah mengenyangkan perut saya. Bolehkah kita berpisah disini ? Saya janji akan pulang"


Mobil alphard putih milik pak Adi sudah menunggu ditepi jalan. Disana juga ada Eren dan supir sedang berdiri.


"kamu mau kemana ? Biar saya antar".


"tidak usah pak, saya tahu bapak pasti sibuk. Saya harus pergi kesuatu tempat".


Wulan berjalan kembali ke halte, meninggalkan pak Adi yang masih menatap punggungnya.


"keras kepala".


Gumamnya dalam hati lalu menuju mobilnya.

__ADS_1



Tatapan gadis itu fokus pada cangkir kopi panas. Satu kenikmatan luar bisa menyeruput kopi disore hari.


Apa yang bisa dia tangkap dari sebuah kopi, matanya beralih ke bar. Memperhatikan seorang barista yang sibuk meracik kopi.


"ada yang bisa dibantu kak ?"


Tanya laki laki itu menangkap pandangan Wulan.


"tidak, apa aku boleh mencoba membuat racikan untuk di take way ?"


Pikiran Wulan mulai melangkah kedepan. Untuk sementara dia akan memulai satu langkah yang baru. Mendalami sesuatu yang sangat disukainya.


"karena kak Wulan pelanggan tetap, aku kasih izin. Kemarilah kak". Barista itu tersenyum dengan tangannya yang masih fokus meracik kopi.


Wulan memang sangat sering datang ke kedai kopi yang terletak di salah satu mall terbesar di jakput.


Para karyawannya juga sampai hafal kopi yang selalu dipesannya.


"Levin, kalau aku jadi tukang kopi, kamu gak masalahkan kita jadi saingan ?".


Wulan berusaha membuat iced americano dengan mendengarkan isntruksi dari Levin.


"tidak kak, Levin malahan ikut senang kalau kakak bisa jadi tukang racik kopi.".


Levin 2 tahun lebih muda dari Wulan, dia sudah bekerja paruh waktu di kedai kopi itu selama 1 tahun demi biaya tambahan sekolahnya.


Seorang pembeli masuk dari pintu, membuat Levin menoleh dan menyapa.


"selamat datang, mau pesan apa bang ?"


Suara Levin yang menggema juga mengalihkan perhatian Wulan.


Dia terkejut melihat sosok pembeli itu.


"Damar (Wulan)"


Laki laki dan gadis itu memanggil nama masing masing secara bersamaan.


"kamu lagi apa ?"


Tanya Damar melihat Wulan sedang menggenggam iced americano.


"ini, aku traktir kamu. Levin jangan tagih Damar, aku yang bayar".


Wulan menyodorkan kopi buatannya ke depan Damar.


Damar dan Wulan duduk dikursi luar kedai.


Wulan mengingat kejadian dikampus, Damar menyobek artikel tentang kebangkrutan ayahnya di mading. Sampai laki laki itu memukul Gilang yang memasangnya.


"lain kali jangan libatkan diri kamu dalam masalah orang lain Damar".


"kamu bukan orang lain Wulan !" Damar langsung menyela perkataan Wulan, dia tak terima kalau Wulan menjaga jarak.


"aku pulang . ."


Tidak ingin mendengar perkataan Damar lebih jauh, Wulan beranjak dari kursinya dan meninggalkan kedai kopi.


Damar melupakan sesuatu, dia langsung berlari menuju kasir. Levin terpaksa memberikan informasi member pada Damar karena terus memaksa.

__ADS_1


Tapi Levin juga tahu, kelihatannya Wulan memang akrab dengan Damar.


Damar menyimpan nomer Wulan.


__ADS_2