
"aku kuliah dulu . ."
Wulan mencium punggung tangan Adi pamit, saat mobil sudah sampai didepan gerbang kampusnya.
"ambil ini !
Jangan ditaruh sembarangan lagi."
Adi menyerahkan debit card yang pernah Wulan tinggalkan begitu saja dikursi mobil. Kali ini Wulan terima, karena itu sudah menjadi haknya.
Saat kakinya melangkah memasuki kampus, perasaan berat mulai muncul didalam hati Wulan. Semuanya tak lagi sama seperti dulu. Kalau saja ini hanya mimpi, ia ingin segera bangun dari tidurnya.
Wulan iri melihat canda tawa mahasiswa yang tengah berkumpul. Bisa melakukan hal yang mereka inginkan, menjalin hubungan pacaran dengan laki laki idamannya.
"selamat pagi ibu tiri . ."
Damar mengejar langkah Wulan setelah memarkirkan mobilnya.
Perempuan itu tidak menjawab, masih meneruskan langkahnya.
Bahkan sekarang, Damar sudah mengganggunya seperti anak anak lain. Baginya itu bukan sapaan, tapi hinaan.
"W u l a n . ."
Dihadapannya sudah ada seseorang yang berlari kearah Wulan. Dia memeluknya hingga tersentak kaget.
"eva . . Uhuk uhuk. Sesak tahu"
Wulan menepuk tangan Eva yang melingkar dilehernya.
"gila, loe kemana aja ? Gue kangen banget sama loe tahu nggak sih."
Nyerocosnya Eva juga sangat Wulan rindukan, akhirnya ia bisa kuliah lagi setelah lama absen.
"iya gue juga, gue banyak urusan kemaren. Yuk masuk !"
Tanpa menghiraukan Damar, Wulan pergi begitu saja bersama Eva.
"dasar gadis angkuh !"
Damar tersenyum sinis melihat perubahan sikap Wulan, yang kembali seperti pertama kali mereka mengenal.
Adi dan Eren memasuki sebuah ruang private disalah satu perusahaan real estate terkenal. Mereka akan mengadakan presentasi untuk mendapatkan projek pembangunan perumahan.
"haha selamat Adi Gunawan . . Atas pernikahanmu. Saya dengar istrimu sangat cantik, dan masih muda ? Jangan jangan gadis yang pernah kamu bawa ke pesta tempo dulu ?"
Buditama, pria tua berusia 50 tahun adalah pesaing bisnis Adi. Perusahaan mereka bergerak dibidang yang sama.
Sudah pasti, dia orang licik yang menerornya semalam.
"terima kasih, tapi itu urusan pribadi saya."
Serasa tidak perlu Adi meladeni orang itu. Muak sekali dia harus berhadapan dengannya. Kalau bukan untuk mendapatkan tender, Adi ingin segera enyah dan pergi.
"selamat pagi, bisa kita mulai presentasinya ?"
__ADS_1
Sang pemilik perusahaan datang bersama arsiteknya, memulai pertemuan penting ketiga pihak.
"sesuai ranking perusahaan bapak bapak yang terhormat, kami mempersilakan bapak Adi dari PT. Adiguna Perkasa yang pertama."
Bu Citra selaku founder dari Bumi Citra mempersilakan Adi melakukan presentasi.
Rapat berjalan sangat alot dan memakan waktu yang lama. Adi tidak akan mudah menyerah hanya karena ancaman. Ide idenya selalu bisa memuaskan client. Itu sebabnya pesaing selalu tidak suka dengan caranya yang jujur dan bersih.
"setelah menimbang dan membahas dengan perancang saya, kami memutuskan untuk memakai jasa dari PT. Adiguna Perkasa. Meski anggaran tidak serendah perusahaan pak Budi, tapi visi misi pak Adi sangat masuk akal. Sekali lagi terima kasih, dan selamat untuk pak Adi."
Bu Citra dan arsiteknya mengajak Adi dan Eren berjabat tangan. Kontrak juga sudah diterima dan ditanda tangan.
"terima kasih bu Citra."
Adi merasa tidak asing dengan arsitek wanita itu. Kalau tidak salah mengenali, dia kakak dari temannya Wulan Eva.
"ada apa pak ?"
Eren melihat Adi sedikit gelisah sejak pertemuan pertama dengan Buditama.
"jam berapa ini ? Jangan sampai Wulan pulang sendiiri."
Pertemuan itu berlangsung cukup lama, Adi sampai lupa kalau dia harus menyuruh seseorang menjemputnya.
"driver sudah stand by pak, di tempat tadi nyonya turun."
Mata kuliah yang Wulan hadiri cukup padat. Keluar masuk kelas beberapa kali. Tugasnya juga menumpuk selama dia absen. Dikursi taman, Wulan ditemani Eva untuk mengerjakan tugaz yang harus diselesaikan secepatnya.
"gue gak bawa laptop Lan, jadi ini gimana ? Coba loe minta tolong kak Damar, kali aja dia bawa. Telpon gih !"
Eva sampai melongo mendengar Wulan yang katanya tidak punya ponsel itu.
"hah ? Emang loe benar benar udah gak punya banget Lan ?"
Wulan menahan senyumnya melihat ekspresi Eva yang sangat prihatin padanya.
"haha enggak, hape gue lagi disita."
Akhirnya dia tertawa terbahak bahak, hingga menitikan air mata diujung matanya.
"sama siapa ? Loe nangis tuh . ."
Tidak ingin temannya khawatir, Wulan menyeka setetes kristal bening itu.
"sama suaminya lah . . Iya kan Gilang ?"
Dini dan Gilang menghampiri Wulan yang dilihatnya dari kejauhan. Mereka sudah siap melancarkan aksinya menghina Wulan.
"waw, gue penasaran sekaya apa sih suami loe ? Sampai loe bertekuk lutut sama dia, yang seumuran dengan bokap loe."
mendengar keduanya, Eva melirik kearah Wulan dengan tatap penuh tanya. Orang orang ini hanya membual, atau Wulan memang menutupi rahasia.
"Lan, jawab mereka ! Jangan diam aja loe di gosipin gak bener."
"haha Eva Eva, cewek matre ini diam karena emang semuanya benar."
__ADS_1
"cukup Dini !"
Damar berjalan menghampiri, melihat mereka berkumpul bersitegang seperti sedangadu mulut.
"lagipula bukan urusan kalian, itu kehidupan pribadi dia. Pergi kalian !"
"oh my god, jangan jangan loe udah tahu lagi Dam ?
Kasihan sekali loe, dikhianati cewek gak tahu diri kayak dia."
Gilang menepuk pundak Damar sok sok simpati, padahal mengejeknya.
Damar menepis kasar tangan Gilang.
Tidak mau bonyok lagi ditangan Damar Gilang mengajak Dini pergi dengan menarik tangannya.
"Lan, kenapa loe diem aja ? Gue pikir loe udah anggap gue temen, ternyata hal kayak gini loe gak kasih tahu gue !"
Perasaan Eva tersinggung dengan sikap Wulan yang tertutup padanya.
"gue harus gimana Va ? Hape aja gue gak ada sekarang, maafin gue . . Hiks hiks . ."
Tidak tega Eva melihat Wulan menangis, ia memeluknya untuk menenangkan Wulan.
"jangan nangis, loe gak pantes tahu.
Eh kak Damar, bawa laptop gak ? Ini Wulan butuh, buat ngerjain tugas dadakan."
"gak usah . ."
Damar tidak mengindahkan penolakan mantan kekasihnya. Dia mengeluarkan laptop miliknya dari tas.
"pakai saja, gue tungguin."
Karena butuh, Wulan terpaksa menggunakannya. Untung saja ada Eva, jadi tidak terlalu canggung. Pokoknya Wulan thanks to Eva. Kini ia fokus membuat grafik tabel hasil penelitiannya. Damar mencuri pandang, dia masih mengenakan kalung pemberiannya.
Mereka juga belum pernah mengatakan putus, artinya masih terikat hubungan.
Tapi janur bahkan sudah layu, Wulan sudah pergi jauh darinya. Sekarang Damar hanya bisa menjaganya sebagai seorang anak yang berbakti pada papa.
"thanks ya . . Kita pamit"
Selesai dengan tugasnya, Wulan menyerahkan kembali laptop ke pemiliknya. Ia langsung meninggalkan Damar bersama Eva.
"Wulan tunggu !"
"ada apa ?"
Langkahnya terhenti, Wulan berbalik. "kaki loe ?"
Apa, sekarang Damar bahkan menjaga jarak dengan loe guenya. Sudah bukan aku kamu lagi.
Sabar Wulan, ini hukuman yang pantas kamu terima karena membohonginya.
"baik baik saja."
__ADS_1
Ia kembali berjalan menyusul Eva yang sudah lebih dulu.