
3.
Eren masih menemani Wulan dikamarnya yang dulu, ia juga mengobati kaki Wulan dengan perlengkapan kotak P3K. Eren sudah menganggap Wulan putrinya, atas dasar rasa cintanya pada sang mantan kekasih.
"perih, perih sekali."
Air mata Wulan terus menetes ketika sekretarisnya memberikan obat luka dikaki gadis kecil yang kini sudah menjadi nyonyanya.
Perih obat yang ditabur diatas luka tidak seperih luka dihatinya. Wulan menangis bukan karena goresan pecahan itu. Melainkan kenyataan yang begitu menyakiti hatinya.
"perih sekali ya non ?"
Dia tahu betul alasan yang membuat Wulan menangis.
"Eren, apa aku sangat matrealistis hingga menikah dengannya ? Aku jahat, mengkhianati Damar . ."
"susst . . Jangan bicara begitu !" Eren meraih tubuh Wulan untuk menenangkannya, dia tidak ingin gadis itu histeris atau trauma. Usianya masih terbilang muda sekali.
"menangislah sepuasnya, jangan di tahan ! Tapi tidak boleh berpikir buruk tentang diri sendiri, ini semua sudah takdir."
Untuk pertama kalinya Wulan menangis dipelukan Eren yang sudah seperti ibunya, dia selalu menjaganya sejak pertama kali datang kerumah itu.
Lebih baik Wulan mengeluarkan kekesalannya dari pada terus ditahan.
Pintu terbuka, Adi menyusul Wulan setelah mencari dikamar pribadinya.
Mengerti apa maksud bosnya, Eren melepaskan pelukan Wulan dan pamit keluar.
Adi berjalan kearah istrinya yang terlihat menyeka air matanya. Dia menekuk salah satu kakinya berlutut dihadapan Wulan.
"aku minta maaf, aku juga baru tahu kalau Damar laki laki yang pernah dekat dengan kamu."
Gerakan tangan Adi menuju pipi Wulan yang basah, dia mengusap air mata yang masih mengalir.
"saya tahu, hidup saya sudah jadi milik bapak setelah ayah saya berhutang budi sama bapak. Lakukan apapun yang bapak inginkan, saya tidak bisa menolak."
Adi bagai mendapat lampu hijau dari Wulan, tapi dia tidak bisa egois. Istrinya masih sangat muda, pendidikannya juga masih panjang. Dia hanya mengecup kening Wulan.
"jangan menangis, kamu segalanya bagiku Wulan !"
Dia tidak akan buru buru melakukannya, tidak sekarang Wulan. Suamimu yang lebih pengalaman ini, masih terbiasa menahan hasratnya.
"saya lapar pak . ."
"mas, panggil aku mas. Jangan pake saya, bapak atau anda. Sekarang kita suami istri Wulan."
Ucapan Adi tidak ada salahnya, bagaimanapun dia sudah menjadi suami Wulan.
"iya . . . Mas."
Adi mengajak Wulan turun untuk makan siang, tadi dia sempat menyuruh pegawainya menata kembali makanan yang sudah Wulan masak.
__ADS_1
"Eren akan menjaga kamu, selagi aku sibuk mengurus pekerjaan diluar kota."
Ketiganya makan bersama dimeja makan, Adi tidak pernah mempermasalahkan keberadaan Eren. Malah dia bersyukur akan ada yang menjaga Wulan nantinya.
"aku bisa jaga diri mmmas, nanti siapa yang bantu mas disana kalau Eren tidak ikut."
Sejujurnya Wulan tidak ingin hidupnya dikekang, kemana mana dikawal dan diawasi. Toh sekarang dirinya sudah sah jadi istri Adi.
"nanti aku carikan asisten saja, biar kamu ada temannya disini. Sekalian buat jadi supir pribadi, untuk mengantar kamu kemana mana."
"iya.
Apa besok aku boleh kuliah ?"
Tanya Wulan sedikit ragu, ia takut kalau suaminya akan melarang.
"boleh, aku akan antar, nanti supir yang jemput."
Eren tersenyum, setidaknya suasana seperti ini lebih baik daripada ketegangan yang pernah terjadi sebelumnya.
Terlihat kebahagiaan hadir diwajah bosnya, setelah sekian lama dia menunggu pendamping.
💔💔💔
"kenapa kamu tidak mengatakan semuanya Wulan, agar aku bisa membantumu. Kasihku bahkan tidak sampai kepadamu, sekarang aku bisa apa ? Kamu sudah menjadi istri laki laki lain, dan itu papaku."
Mobil Damar terparkir di pantai yang pernah ia kunjungi bersama Wulan.
Munafik kalau Damar tidak cemburu dan sakit hati. Tapi dia tidak bisa menyalahkan Wulan, gadis itu pasti berat menjalani hidupnya. Keegoisan papanya juga beralasan, dia sudah lama hidup menyendiri. Terlebih Wulan memang berbeda dari perempuan manapun.
Ah, Damar sangat merindukan kehadirannya. Selama ini dia terlalu sibuk, mengejar impian untuk memulai hidupnya bersama Wulan.
Siapa yang lengah, dia yang akan menyesal kemudian.
Wulan menyalakan kran air dikamar mandi pribadi Adi. Membasahi seluruh tubuhnya yang masih tertutup pakaian.
"maaf, maafkan aku. Aku tahu kamu kecewa Damar, kamu berhak membenciku. Aku sudah tidak berhak lagi atas kamu sekarang."
Sore itu, Wulan menangis Sesenggukkan didalam kamar mandi. Menangisi nasib hidupnya, berpisah dengan sang kekasih.
Didepan pintu Adi yang berdiri menunggu istrinya mandi, mendengar tangisan Wulan. Dia tidak mau Wulan terus terusan bersedih menangisi Damar anaknya.
"jangan begini terus Wulan, kamu menguji kesabaranku."
Kran air berhenti, Adi memposisikan dirinya duduk disofa depan TV.
"mas, aku mau pakai baju. . ."
"iya, aku akan mengecek laporan dibawah."
Mengerti keinginan Wulan yang masih canggung, Adi memilih menyibukkan diri diruang kerjanya.
__ADS_1
"terima kasih."
Sebelum menutup pintu Adi sempat tersenyum pada Wulan.
"jangan begitu, aku takut perasaanku goyah."
Dalam hati Wulan berharap Adi tidak bersikap baik padanya. Ia ingin pernikahan ini tidak berjalan lama.
Bukan maksud ingin menyakiti hatinya dan kembali ke Damar. Wulan hanya ingin lari dari kehidupan papa dan anak itu. Lagipula, mana mungkin Damar menerimanya kembali setelah semua ini terjadi.
Setelah rapi, Wulan turun kedapur untuk membuatkan suaminya kopi. Dia merebus air terlebih dahulu, Wulan ingat kalau Adi hanya menyukai kopi hitam.
"nyonnya lagi apa ? Kalau butuh sesuatu panggil bibik, hari ini bibik jaga sampai malam."
Bi Marni, memang tidak setiap hari full bekerja dirumah Adi. Akhir pekan baru dia akan bekerja 24 jam.
"tidak apa apa bik, kalau sekedar kopi buat tuan saya masih bisa."
Kopi sudah siap, Wulan berjalan menuju ruang kerja pria yang kini sudah menjadi suaminya.
"masuk !"
Adi menyuruh seseorang yang mengetuk pintu, dilihat sekilas sosok Wulan yang berjalan membawa nampan berisi secangkir kopi.
Wanginya menyeruak mengisi ruangan itu.
"terima kasih Wulan."
Adi meraih cangkir yang diletakkan Wulan diatas meja.
"sama sama mas, aku permisi ya."
"tunggu, temani aku sebentar saja. Laporanku sedikit lagi selesai."
Adi menahan Wulan yang hendak keluar ruangan. Perempuan itu menurut dan duduk dikursi, berhadapan dengan Adi.
"aku tidak akan memaksa kamu untuk segera hamil. Teruskan kuliahmu, namun tetap urus aku seperti ini."
Uhuk uhuk . .
Mendengar kata hamil membuat Wulan tersedak dengan ludahnya sendiri. Kata itu bahkan tak pernah terlintas dibenaknya.
"terserah mas, aku ikut aja."
Jawabnya berusaha tersenyum, meski sebenarnya hatinya menjerit merongrong.
"malam ini kamu boleh tidur dikamar sebelumnya. Kita akan tidur bersama saat kamu sudah siap."
Adi sangat berbaik hati mengertikan perasaan istrinya. Tidak mengekang dan memaksa, semoga suatu hari Wulan akan membuka hatinya.
"terima kasih."
__ADS_1
Ia tahu, suaminya sedang berusaha memenangkan perasaan Wulan. bisakah Wulan membalas semua kebaikan Adi ? entahlah, ini semua masih diluar batas kemampuannya. hanya Allah yang maha mengetahui segala isi hati hambanya.