DamarWulan

DamarWulan
Spasi untuknya


__ADS_3

Damar terus saja menarik membawa Wulan menjauh dari keramaian.


"Damar, lepaskan tanganku !"


Cengkraman tangan laki laki itu sangat kuat, kulit yang bergesekan membuat Wulan mulai merasakan perih.


"kapan kamu melakukannya Wulan ? Kenapa kamu memberikannya pada pria itu hah ?"


Di parkiran dekat mobil jeep, Damar membentak Wulan untuk meluapkan kekesalannya.


"stop !


Kamu selalu saja menggangguku, aku sekarang ibu sambung kamu. Tolong hargai aku Damar !"


Beberapa kali sikap Damar sangat menakuti Wulan, kadang dia juga baik. Apa maunya anak ini.


"tidak bisa, kamu harus ikut aku !"


Lagi, Damar menarik paksa Wulan untuk masuk kemobilnya.


"duh, kak Damar ngajak Wulan kemana sih ? Ini kan sudah jam pulang."


Usai kelas dibubarkan, Eva berusaha mencari Wulan kemana mana. Ke klinik, kantin, perpus tidak nampak juga batang hidungnya.


Mau pulang, dia bingung dengan nasib tas Wulan.


"ah Wulan, pusing nih Eva."


Akhirnya Eva memutuskan untuk berdiri didepan parkiran, siapa tahu Wulan muncul disana.


"halo pak, saya sudah sampai dikampus. Nona belum ketemu . ."


Sengaja Adi menyuruh Eren menjemput langsung Wulan ke kampusnya.


"tante . .


Yang dulu lunch sama Wulan ?"


Merasa tidak asing dengan wajah Eren


Eva mencegat langkahnya.


"teman non Wulan ya , ,


Kemana dia sekarang ?"


"saya Eva, temannya. Saat kelas baru mulai, kak Damar mengajak dia. Tapi saya gak tahu mereka kemana, ini juga tasnya ditinggal."


Eva menyerahkan tas milik Wulan, ia tahu kalau wanita berpakaian rapi itu pasti sekretaris suami dari Wulan.


"terima kasih, saya permisi."


Eren segera pergi menuju mobil Wulan untuk dibawa pulang.


Hingga sampai didalam rumah Damar, Wulan masih setia digenggam olehnya. Pandangan Wulan tertuju pada keadaan rumah yang sudah seperti kapal pecah.


Pecahan foto berserakan, vas bunga, sepertinya sengaja dibanting oleh pemiliknya.


Sudah merasa tenang, Damar memeluk Wulan. Aroma tubuh yang selalu ia rindukan sejak lama.


"kamu membuatku berantakan Wulan, aku tidak berdaya kamu menolakku."


Mulai terdengar isak tangis Damar.


"aku minta maaf Damar, aku sudah sangat menyakitimu. Ini semua kesalahanku, kamu pantas membenciku."


Wulan menenggelamkan kepalanya didada bidang Damar. Sebentar saja, Wulan hanya ingin secara tulus mengutarakan perasaannya yang selama ini tertunda cukup lama.


"pergilah bersamaku, kita mulai semuanya dari awal."


Permintaan Damar tidak masuk akal baginya, Wulan melepaksan pelukan mereka.


"tidak bisa, semuanya sudah terlambat. Ini tidak semudah kita mengucapkan harapan Damar."


Damar melihat tangan tangan kanan Wulan yang memar karena ulahnya. Warnanya bahkan sudah sangat memerah.


"kamu boleh pulang, setelah aku obati ini."


Perempuan itu menurut lalu duduk disofa, menunggu Damar mencari kotak P3K.


Saat Damar mengolesi lengan Wulan yang memar dengan salep, pintu terbuka dengan kata sandi yang diketahui orang dibalik pintu.


Orang itu terperanga, menyaksikan adegan pegangan tangan mereka dari arahnya berdiri.


"DAMAR !!!"


Teriakannya memekik ditelinga keduanya. Wulan langsung menarik tangannya dan berdiri.

__ADS_1


"papa . ."


Gumam Damar tak percaya melihat kedatangan Adi.


Adi mengintai sekeliling yang berantakan, terlebih tangan Wulan yang memerah. Dia beranggapan kalau Damar menyakiti Wulan disini.


Brug . .


Tanpa peringatan, Adi menonjok wajah anaknya hingga tersungkur kelantai.


Wulan yang terkejut menutup mulutnya.


Diraihnya tubuh Damar oleh Adi, untuk sekali lagi dipukul dibagian perutnya. Damar merintih memeganginya, merasa mual dan sakit.


Wulan yang ketakutan berusaha melerai, pasang badan menghalangi keduanya.


"cukup !!


Aku tidak tahan melihat kalian berkelahi."


Andai Adi bukan papanya, mungkin sudah Damar balas pukulannya. Dia hanya bisa pasrah kalah didepan Wulan.


"ayo pulang Wulan ! Dan kamu Damar, jangan macem macem kalau masih mau datang ke rumah."


Adi merangkul pundak Wulan dan pergi dari rumah itu, meninggalkan kehancuran Damar.


Ini salahnya, yang tidak peka terhadap Wulan.


Apa benar semua ini sudah terlambat ? Kalau iya, Damar hanya bisa mengutuk dirinya sendiri.


🍀🍀🍀


Sejak kejadian itu, Damar tidak lagi pulang ke rumah Adi. Wulan kembali tidur dikamar tamu, ia juga sering pulang terlambat.


Adi sekarang tidak mengekang istrinya seperti dulu.


Di kampus Wulan jarang sekali bertemu muka dengan Damar. Jika berpapasan, mereka seperti orang yang tidak saling mengenal.


"Lan, kalian kenapa ? Aku lihat kak Damar menjauhi kamu."


Eva dan Wulan berjalan menuju parkiran mobil.


"memang seharusnya begini Va, demi kebaikan semua."


Wulan menyandarkan tubuhnya, merasakan lemas di sekujur badan.


"maksud kamu apa ? Kebaikan bagaimana, kamu mau pisah sama suami kamu ?"


Mendengar fakta mengejutkan tentang Wulan, Eva hanya bisa menganga segera menutup mulutnya.


"ya ampun, tragis banget hidup kalian. Pasti berat kan ?"


Eva memeluk Wulan untuk memberi dukungan.


"thanks ya Va, aku pergi dulu."


Tak bisa lama lama, Wulan segera keluar kampus dengan mobilnya.


Ia berencana untuk pergi ke tempat Levin.


Sudah hampir 5 minggu ini Wulan menjalani masa training. Ia harus mengatur jadwal kuliah, kerja, dan waktu mengurus suami.


Sangat menguras tenaganya akhir akhir ini.


Untung saja Adi tidak mempermasalahkan, meski Wulan tahu anak buahnya tetap memgawasi.


"hi kak Wulan, akhirnya masa training kakak berakhir. Ini gaji selama sebulan penuh kak."


Di loker, Levin memberikan amplop cokelat berisi uang tunai.


"iya, tapi aku harus kehilangan kamu. Aku jadi gak enak, menggantikan posisi kamu Vin."


Wulan yang tadinya akan ditempatkan di Mall P, malah akan bekerja di kedai Levin. Sementara Levin yang akan promosi di mall P.


"haha kan aku naik kasta kak, jadi gak masalah. Aku tinggal ya, semua sudah aku catat di logbook. Semangat kak."


Mereka bertukar shift, Wulan sudah mengganti pakaian seragamnya.


Di masa training, Wulan masih diawasi seniornya Levin. Mulai hari itu, semua pesanan akan dibuat oleh tangannya sendiri. Naluri pecinta kopinya menuntun tangan Wulan menakar racikan yang pas. Levin dan atasannya juga mengakui hasil kerja Wulan.


"selamat datang, mau pesan apa ?"


Suara pintu terbuka, Wulan menyapa tanpa melirik. Tangannya fokus menyiapkan komputer.


"hot americano 1."


Wulan mendongakkan kepala, melihat customer yang tidak asing baginya.

__ADS_1


"mas Adi ?"


Benar saja, Adi tahu keberadaan Wulan pasti dari anak buahnya.


"55 ribu rupiah, ditunggu pesanannya."


Adi memberi seratus ribu, dan Wulan mengembalikan sisanya. Kemudian suaminya duduk dimeja dekat kasir, agar bisa berhadapan dengan Wulan.


Satu cangkir sudah kosong, Wulan menggantinya dengan yang baru atas permintaan Adi. Sementara kedai sangat ramai pengunjung, tidak ada waktu bagi Wulan sekedar menyapa.


Hingga sampai dicangkir ke 4, akhirnya ia bisa santai sambil membersihkan barnya.


Meski lelah, Wulan terlihat senang melakukannya.


Haluan hidup Wulan benar benar berubah karena keadaan. Sewaktu waktu ia bisa menyerah akan mimpinya. Gairah Wulan untuk kuliah juga sudah hilang, mungkin saja ia akan memutuskan untuk berhenti. Hanya hatinya dan Tuhan yang tahu.


Sedetikpun Adi tidak berpaling dari Wulan, tatapnya masih sama. Kenapa dia bisa setegar itu, mengalami kesedihan sendirian.


Dia benar benar menunggu Wulan sampai closing shift, menghabiskan waktunya dengan hanya duduk.


"ayo, kita pulang."


Ajak Wulan pada Adi setelah selesai berganti pakaian.


Mereka berjalan saat keadaan sudah sangat sepi, mall sudah tutup setengah jam yang lalu.


"tadinya aku mau traktir, tapi disini tidak ada yang buka. Hari ini aku gajian."


Ternyata tidak nyaman kalau saling diam, Wulan baru menyadarinya malam itu.


Selama ini mereka hanya sibuk dengan urusan masing masing. Tanpa tahu ada rindu yang teramat dalam disimpan.


Di perjalanan pulang, Adi masih belum berbicara. Apa yang sedang dipikirkan olehnya, Wulan tidak bisa menebak sama sekali.


"aku minta maaf, memutuskan bekerja tanpa meminta izin. Aku tahu aku salah . ."


Mendadak Adi meminggirkan mobilnya, dia melepaskan sabuk pengaman.


Diraihnya kepala Wulan agar menghadap kearahnya, Adi mencium bibir perempuan yang masih jadi istrinya.


Sudah cukup lama, mereka beradu mulut. Lidah yang saling menari, mengelilingi rongga untuk mencari kepuasan.


"mmm . ."


Lenguh Wulan meremas pundak Adi, entah kenapa ciuman suaminya bagai obat penghilang rasa letihnya.


Tak terasa air mata Wulan menetes. Dan terlihat oleh Adi, hingga dia melepaskannya.


"apa aku menyakitimu ?"


Tanya Adi menghapus jejak kristal bening dipipinya.


Wulan hanya menggeleng, dia berhambur kedalam pelukan Adi.


"hiks . . Hiks . .


Aku sangat lelah mas."


Maksud dari perkataannya, tubuh Wulan sangat amat kelelahan karena bekerja. Mungkin Adi mengartikannya lain, dia melepaskan pelukan Wulan.


"dengar, aku talak kamu Wulan. Kita akan pisah rumah, aku memberimu kesempatan untuk memilih."


Bagai disambar petir, Wulan mencerna apa yang didengarnya dari mulut Adi.


Ia melepaskan sabuk pengaman, lalu keluar dari mobil Adi. Wulan berlari untuk menyetop taxi. Secepat itu istrinya pergi meninggalkan Adi, sesingkat itu juga hubungan mereka terjalin.


Adi memukuli stirnya berkali kali, hingga klaksonnya berbunyi. Sekian lama dia memikirkan hal ini, semua demi kebahagiaan Wulan.


Didalam taxi, Wulan menangis sesenggukan. Ia tak menyangka kalau Adi akan melakukan hal itu. Dulu sekali, ia memang pernah mengharapkannya. Tapi kenapa rasanya begitu sakit, hingga ia ingin mati saja.


"jahat kamu mas, jahat."


Mungkin Wulan sudah mulai menaruh perasaannya untuk Adi. Sehingga ia menyesal telah mengabaikan suaminya selama sebulan ini.


Ting nong . .


Pagi harinya, bel berbunyi disalah satu rumah mewah.


Perempuan yang asik menyantap sarapannya, terpaksa berjalan membukakan pintu.


"siapa ?"


Tanyanya pada laki laki yang berdiri di hadapannya.


"Damar, Eva ada ? Tadi suruh saya datang."


Kencana mempersilakan masuk, dan menyuruh Damar langsung naik kekamar Eva.

__ADS_1


"dia didalam, badannya demam. Semalam katanya . ."


Eva sudah menunggu Damar didepan kamarnya, menjelaskan kronologi yang terjadi.


__ADS_2