
Pada akhirnya, Bi Marnilah yang memasak makan siang untuk Adi dan Wulan. Selagi sibuk menata meja makan, bi Marni cengengesan mengingat kejadian yang dilihatnya tanpa sengaja tadi.
Sementara majikannya, sedang asik mengobrol di sofa ruang TV.
Adi menidurkan kepalanya diatas paha Wulan yang sesekali mengecup bibir suaminya gemas.
Tak sabar menunggu malam tiba, dua sejoli itu masih menahan hasratnya masing masing.
"Tuan, nyonya, makan siangnya sudah siap."
Bi Marni memanggil mereka tanpa melihat, takut memergoki adegan yang sama kedua kalinya.
"maaf ya bi, jadi repot."
Wulan yang tidak jadi memasak, tidak enak diambil alih oleh ARTnya.
"sudah tugas saya non, silakan. Bibi gosok dulu."
Pamit ke belakang, bi Marni kembali memberi peluang Adi dan Wulan untuk bermesraan.
"menurut kamu, apa Kencana menyukai Damar ?"
Disela sela makan, Adi melontarkan pertanyaan yang menohok bagi sang istri.
Wulan sampai tersedak dibuatnya, Adi memberikan gelas berisi air ketangan Wulan agar segera diminum.
"aku sudah kenyang mas, . Aku tunggu di kamar ya ?!"
Baru juga beberapa sendok, nafsu makan Wulan langsung hilang saat itu juga.
"apa kamu masih menyukainya ?"
Pertanyaan Adi berhasil menghentikan langkah Wulan. Ia berbalik menatap punggung Adi.
"aku hanya tidak nyaman membahasnya."
"sekarang dia juga anakmu Wulan !"
Adi menegaskan kalimatnya, berharap Wulan bisa terbuka dan menerima keadaan kalau mereka akan terus saling berhubungan.
"dia anak kamu mas, aku tidak akan pernah bisa jadi ibunya."
Nada bicara Wulan terkesan enggan menerima keberadaan Damar diantara Adi dan dirinya.
Suasana kembali runyam, belum lagi dia harus meghadapi persidangan pertama besok.
Sampai detik ini, Wulan bahkan belum tahu kalau kasusnya masuk ke meja hijau.
Tidak ada yang berani mengungkit kejadian itu secara langsung dihadapannya.
Sebisa mungkin, Adi tidak ingin persidangan menghadirkan istrinya. Biar dia yang akan pasang badan memperjuangkan dan membela haknya.
Terkadang, Adi kesusahan menghadapi sikap Wulan yang bisa dibilang belum matang. Ini karenanya, memaksa Wulan nikah di usia muda.
Di dalam kamar Wulan membuka laptop milik Adi, ia meminjam guna mengerjakan tugas kuliahnya.
Bukannya mulai mengetik, Wulan malah melamun menatap layar.
-aku tahu kalau aku belum bisa dewasa mas, maafkan aku. Kamu pasti kecewa sama aku-
Batin Wulan bisa merasakan apa yang mungkin saja sedang dialami oleh suaminya.
Diluar hal itu, dia bisa menyesuaikan diri. Sekeras apapun usahanya, Wulan masih tidak leluasa berada di tengah tengah keduanya.
"aku ke kantor lagi, masih ada hal yang harus aku kerjakan."
__ADS_1
Kehadiran Adi sampai tiddak ia sadari, sebelum berangkat Adi mengecup ujung kepala Wulan.
"bolehkah aku ikut ?"
Mendadak istrinya manja ingin mengekor kemanapun Adi pergi.
"jangan marah lagi, mm ?"
Wulan mengangguk dan tersenyum, lalu ia juga membawa laptopnya kedalam tas.
Memasuki kantor, Adi masih setia menggandeng tangan Wulan. Berbeda dari pertama kali, kini ia lebih percaya diri karena sudah berstatus istri Adi.
"kamu tunggu diruangan, aku akan ke tempat meeting. Tidak akan lama, ya ?"
Wulan masuk lift untuk naik ke lantai 5, sementara Adi masih dilantai 1 untuk bertemu seseorang.
"ini berkas yang harus bapak pelajari, pertanyaannya tidak akan jauh dari seputar kronologi kejadian. Termasuk alasan kenapa istri bapak tinggal disebuah kostan."
Pengacara muda yang bernama Johan itu, seorang sarjana hukum dengan lulusan kumlaut universitas nomer 1 di ibukota.
"jika kita menang, berapa lama hukuman yang mereka dapatkan ?"
"sesuai pasal yang berlaku, saudari Dini yang secara langsung melukai akan dijatuhi 1 tahun penjara. Dan bu Citra setengahnya."
Adi mengangguk sambil mengetuk meja dengan telunjuknya.
"terima kasih, pak Johan sudah datang ke kantor saya. Besok kita bertemu di lokasi."
Keduanya berjabat tangan, lalu Johan pamit undur diri.
Meski terbilang baru, Adi tidak pernah meragukannya sedikitpun. Rekomendasi Bagas, yang mengenalkan Johan padanya. Johan adalah anak dari salah satu karyawan terbaiknya.
"Wulan . .
Damar pikir ruangan itu kosong, dia masuk tanpa mengetuk untuk menyimpan laporan dimeja papanya.
"kamu kerja ?"
Tanya Wulan yang sedang duduk manis dikursi kebesaran Adi.
"masa training, bagian perencanaan. Papa mana ?"
Tangan Damar sibuk merapikan beberapa berkas diatas meja. Sesekali dia melirik memperhatikan perempuan dihadapannya.
"papa disini, ada apa Dam ?"
Adi berjalan dari arah pintu yang sudah terbuka.
"enggak ada pa. Jadi sekarang kerjanya diawasi istri ?"
Damar terkekeh karena Adi mengajak Wulan ke kantor.
"daripada jones, jomblo ngenes."
Wulan bangkit dari duduknya, dia berjalan kearah Adi.
"mas, aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Sudah selesai kan kerjaannya ?"
Dengan manja, Wulan memeluk lengan Adi didepan Damar. Entah sengaja atau tidak yang pasti Damar sedikit menaikan salah satu alisnya.
"papa pulang duluan, kamu 8 jam kerja ya absennya !"
Adi meraih tangan Wulan untuk digandeng, menyisakan Damar yang masih mematung.
-aku tahu Wulan, kamu sedang berusaha menghapusku sebagai Damar. Memainkan peran ibu demi hubungan kalian. Ini yang terbaik, bukan ?-
__ADS_1
Mobil sudah sampai di pinggir jalan, sesuai petunjuk yang Wulan berikan. Terlihat kerutan bingung dikening Adi.
Mereka berjalan menuju halaman yang sangat luas. Sebelumnya Wulan membeli buket bunga sederhana di toko pinggiran.
"hai bund . .
Maaf Wulan baru datang, kenalin ini suami Wulan. Namanya mas Adi, dia baik sekali sama Wulan."
Setelah sampai ditengah tengah, Ia berbicara pada pusara Sari almarhumah ibundanya.
"harusnya ayah bakal nimang cucu bentar lagi, tapi Wulan akan terus berusaha melakukan yang terbaik untuk dia."
Dengan bangga Wulan memperkenalkan Adi pada bundanya. Suaminya sangat tersanjung, Wulan bahkan mengajaknya berkunjung.
"ayo Wulan, sudah hampir gelap."
Adi bukannya membatasi Wulan, dia tidak ingin kesehatannya terganggu jika lama lama dipemakaman. Wulan menurut, keduanya kini berjalan menuju mobil pajero sport milik Adi.
"ini map apa mas ?"
Tangan Wulan mulai bergerak mengambil map yang disimpan Adi didepan kursi Wulan.
"oh itu, bukan apa apa. Hanya laporan pekerjaan."
Dia sangat berharap Wulan tidak membukanya, gawat kalau ketahuan.
"ooh . ."
Singkat Wulan menarik kembali tangannya, Adi bisa bernafas lega.
Proses sidang pertama berjalan cukup alot. Citra dan Dini yang terus saja mengelak, namun tak bisa luput dari penilaian hakim dan jajarannya.
"sidang akan dilaksanakan dihari yang sama minggu depan. Kami meminta pihak penggugat menghadirkan korban. Terima kasih."
Hakim ketua menutup persidangan dengan ketukan palunya.
Adi mulai merasa khawatir, putusan sidang akan mempersulit usahanya. Bisakah Adi memenuhi syarat yang diajukan.
Mobil Adi bergerak meninggalkan kantor pengadilan.
Dia melihat sosok yang sangat dikenalnya tebgah berdiri didekat gerbang masuk.
"Wulan . .
Kamu disini ? Ayo masuk dulu !"
Pinta Adi yang sudah keluar untuk mengajak istrinya naik mobil.
Lalu pajero sport yang dikendarainya melaju pergi.
"kamu ngapain mas ? Kenapa melangkah sejauh itu, aku tidak membutuhkannya."
Wulan tahu setelah mengikuti suaminya pergi menggunakan taxi.
Pasti ini menyangkut kekerasan yang dialaminya.
"aku tidak mau mereka lolos begitu saja ! Mereka jahat Wulan, sudah menghilangkan calon anak kita yang tidak berdosa."
Adi meraih tangan Wulan, menggenggamnya memberi kekuatan.
"baiklah ma, kamu pasti butuh aku kan untuk bersaksi ? Aku siap, dan akan datang."
Tegas Wulan, ia juga merasakan sakit yang luar biasa. Orang orang seperti Dini harus diberi pelajaran supaya jera. Sudah kepalang, mereka perlu menyelesaikannya sampai akhir.
Adi mengangguk lalu mengecup punggung tangan Wulan.
__ADS_1