
Wulan masih terbaring hingga fajar meninggi. Selang infus masih menempel pada tangan kirinya. Tenggorokan yang kering membuatnya bangun, matanya melihat sekeliling mencari keberadaan Adi.
Ceklek . .
Pintu terbuka dan langkah kaki seseorang masuk ke kamarnya.
"kamu sudah bangun ?"
Pandangan Wulan masih buram namun perlahan bayangan laki laki itu menjadi jelas.
"kamu ngapain disini, mas Adi mana ?"
Suara Wulan serak khas orang bangun tidur.
"papa harus keluar kota sama Eren, aku akan menjaga kamu Wulan."
Laki laki itu duduk ditepi ranjang melihat keadaan Wulan.
"aku haus . ."
Ucap Wulan singkat,
Damar segera mengambil gelas di nakas, ia membantu Wulan bersandar untuk minum.
"bik Marni sudah menyiapkan bubur, mau dibawakan atau kamu ikut turun ?"
"turunlah, aku ingin mandi lebih dulu."
Wulan bangkit dari tempat tidur dan melepas selang infusnya. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan perasaan tak karuan.
Kenapa suaminya harus meninggalkan dia bersama Damar. Apa Adi tidak khawatir akan terjadi sesuatu padanya.
Mandi dengan air hangatpun tidak cukup, Wulan masih merasa kedinginan. Hanya dekapan Adi yang bisa menghangatkan tubuhnya.
Wulan turun menaiki anak tangga, tatapannya fokus pada sosok perempuan yang sedang asik mengobrol bersama Damar.
"Wulan . ."
Sapa seseorang membuyarkan lamunannya.
"Eva . . Aku senang kamu disini."
Wulan memeluk sahabatnya, ia sangat rindu Eva yang cerewet.
"jadi disini rumah kamu, akhirnya aku bisa berkunjung. Ya meskipun harus maksa sama kak Caca."
Eva polos atau bagaimana, kenapa dia seolah tak mengerti kalau Wulan tidak suka melihat Damar bersama kakaknya.
"Ayo sarapan . ."
Damar mendekati tangga memanggil Wulan dan Eva untuk segera ke meja makan.
Mereka berempat akhirnya sarapan bersama dengan menu yang sebenarnya Damar buatkan khusus. Bubur untuk Wulan juga buatannya, namun ia enggan berkata jujur.
"Dam, loe kan libur ngampus. Jadi kita bisa ke kantor bareng."
Kencana tersenyum lebar pada Damar yang masih menikmati makanannya.
"kak Caca, terus aku gimana ?
Anter dulu ke kampus pokoknya."
Eva protes Kencana melupakan keberadaannya.
"kita ke kampus bareng Va, ,"
Wulan buka suara.
"tidak, kamu harus dirumah Wulan. Biar aku antar Eva terlebih dulu."
Damar melarang, ia tidak ingin Wulan kuliah dengan kondisinya seperti ini.
"Wulan gimana, apa kamu sudah hamil lagi sekarang ?"
Kencana tiba tiba bertanya hal itu, membuat suasana jadi tidak nyaman.
Yang ditanya hanya menggeleng berusaha menyunggingkan senyum tipisnya.
"kalian sudah selesai kan ? Tunggu di mobil, aku akan ambil tas."
Kencana dan Eva menurut, mereka bangun dari kursi masing masing.
"Wulan kamu cepat sembuh ya, aku kuliah dulu. Lain kali kita harus jalan bareng."
Eva memeluk singkat Wulan yang tersenyum padanya.
"Dengarkan aku, kamu tidak boleh pergi kemana mana. Akan ada 2 penjaga didepan pintu masuk, dan 1 satpam penjaga gerbang. Aku tidak akan lama, hanya mengantar beberapa laporan."
Sebelum pergi Damar memperingati Wulan agar ia tetap aman di rumah. Perempuan itu hanya mengangguk patuh, lagian ia sedang malas keluar rumah.
"bagus, hubungi aku jika ada apa apa !"
__ADS_1
Sekilas Damar ingin mengelus kepala Wulan, namun tangannya berat sekali. Ia pergi begitu saja, meninggalkan Wulan yang masih menatap punggungnya.
Damar ke kampus terlebih dulu mengantarkan Eva, mereka menggunakan mobil Kencana. Setelah itu Damar dan Kencana akan pergi ke PT. Adiguna Perkasa.
Dirumah, Wulan asik membaca buku milik Adi di sofa ruang TV. Ia mengambilnya di ruang kerja sang suami.
"teh melatinya non, ini bibi beli kripik singkong kesukaan non dipasar."
Bik Marni menyuguhkan sesajen untuk menemani Wulan membaca.
"makasih bik."
Wulan tersenyum, ia memang suka kripik singkong dan pisang.
"bibik ke belakang mau jemur pakaian ya non, kalau butuh apa apa panggil saja."
Perempuan itu tersenyum mengangguk.
Dari arah luar rumah terdengar suara ribut penjaga yang beradu mulut. Mendadak Wulan sangat takut, siapa yang datang hingga membuat keributan.
Ia meletakkan bukunya dan berlari ke belakang rumah menyusul bik Marni untuk sembunyi.
"anda tidak bisa masuk sembarangan, silakan pergi dari sini."
Jiro, nama samaran penjaga rumah yang selalu setia menjaga Wulan menahan 4 orang yang memaksa masuk.
"gua teman kampusnya Wulan, kami datang kesini untuk kerja kelompok."
Perangainya buruk dan Jiro bisa menebak itu.
"urus mereka !"
Pinta laki laki itu pada ketiga temannya agar menghajar Jiro dan rekannya.
Perkelahianpun tak bisa dihindari lagi, Jiro harus melumpuhkan 3 laki laki muda agar nonanya aman.
"Non, ada apa ?"
Bik Marni khawatir melihat Wulan yang lari ketakutan.
"gak tahu bik, diluar ada yang ribut ribut. Aku takut . ."
Pengalaman buruk yang beberapa kali Wulan alami sangat menakutkan baginya. Bisa dibilang itu trauma paling berat menimpanya.
"Bibik telpon tuan Damar ya non, supaya ada yang nolongin."
"jangan keluar bi, kita sembunyi disini saja. Bahaya kalau mereka tahu keberadaan kita."
"Wulan . . Keluarlah !
Ada tamu disini, sambutlah aku dengan baik."
Teriak tamu tak diundang itu menggema, ia berdiri di bawah tangga.
Suara itu,
Wulan mengenalnya.
Kenapa dia ada disini, apa maunya. Hati Wulan menjerit meminta pertolongan siapapun.
Laki laki itu sangat berbahaya, dia bahkan tahu alamat rumahnya.
Suasana semakin mencekam, saat Jiro dan rekan harus tumbang ditangan ketiga orang yang kini sudah masuk.
"Cari dia, dan jangan bermain kotor !"
Perintahnya lagi, diapun mulai memeriksa area bawah. Sementara ketiga temannya naik keatas.
Dia sangat menikmatinya seakan sudah lama menantikan hari ini. Informan mengatakan kalau tuan rumah sedang keluar kota, sementara anaknya sibuk ke kampus.
Perempuan incarannya pasti tak berdaya terkurung di sangkar emas milik Adi.
Dret dret . .
Bunyi getaran ponsel Wulan berhasil menarik perhatian laki laki jahat itu. Wulan yang gugup bahkan lupa kalau disakunya ada ponsel.
Langkah tamu tidak tahu tatakrama itu pelan menuju sumber suara.
"ha ha lo m mas . . Aku takut."
Wulan berbicara dengan nada pelan dan gemetar.
"Wulan ada apa ? Tolong tenang, bukankah Jiro ada diluar."
"mas, Gilang datang kerumah. . Jiro dia . ."
Ponsel yang Wulan pegang dengan tangan gemetar direbut oleh Gilang. Ia melemparnya kelantai.
"apa kabar Wulan, kenapa kamu lama sekali menyambutku ?"
Sorot mata Gilang memancarkan kebencian dan hasrat terpendam menjadi satu.
__ADS_1
"Jangan ganggu non Wulan !"
Bik Marni menghadang berdiri ditengah tengah.
Namun naasnya kedua teman Gilang datang menyandera bik Marni. Tinggalah Wulan sendiri dengan segenap rasa takutnya.
"lepaskan aku Gilang, kamu sudah gila !"
Bentak Wulan yang terus saja ditarik hingga ke ruang tengah.
"ya, aku memang sudah gila karena kamu menolakku Wulan.
Berani beraninya kamu menghina seorang Gilang Buditama.
Kamu malah dekat dengan Damar, laki laki sok keren di kampus.
Tapi yang paling fatal, kamu menikah dengan pria tua rival papaku."
Gilang sudah memojokkan tubuh Wulan ke tembok. Tangannya juga mulai bergerak membelai rambut terurai Wulan.
"aku penasaran siapa yang pertama kali melakukannya. Suamimu, atau anak tirimu ?"
Kini dia bergerak mencengkram kasar dagu Wulan dengan satu tangan.
"aku juga ingin mencicipimu sayang, disini dirumah suamimu yang akan menjadi saksinya aaaargh . ."
Gilang meringis kesakitan saat kaki Wulan menendang perutnya.
"sial . ."
Umpat Gilang mengejar Wulan yang berlari kearah pintu.
Lagi lagi satu temannya sudah menghadang disana.
"kau memang arogan Wulan, membuatku semakin bergairah."
Gilang menarik rambut Wulan, membalikan tubuhnya. Kali ini tangannya benar benar menampar pipi Wulan.
Darah segar mengalir di bibirnya, tanda merah tangan Gilang membekas dipipi kanan Wulan.
"lepaskan tangan kotormu Gilang ! Lebih baik kamu bunuh aku, aku tidak sudi disentuh oleh laki laki sepertimu."
Ucapan menghina Wulan sangat amat memekik ditelinganya.
"Ookh . ."
Wulan mengerang, lehernya dicekik oleh Gilang.
Tangan Wulan berusaha melepaskan cekikan Gilang. Terus memberontak agar Gilang menghentikannya.
"Tuan jangan !
Dia bisa terbunuh."
Teriak salah satu ajudannya.
"dia sendiri yang meminta kematiannya, aku hanya mengabulkan."
Seperti kesetanan, itulah Gilang saat ini.
Air mata Wulan menetes, ia hampir kehabisan nafas. Bola matanya sudah hampir keatas semua, dan itu menyadarkan Gilang.
Dengan penuh penyesalan Gilang melepaskan tangannya.
Tubuh Wulan tergeletak dilantai tak sadarkan diri. Lehernya merah bekas cekikan Gilang.
Karena takut Wulan terbunuh, Gilang mengajak anak buahnya kabur.
Mobil mereka berpapasan dengan Damar yang baru saja tiba.
Sekilas ia melihat Gilang dibalik kemudi, pikirannya mulai kalut dan tak karuan.
"Wulan !"
Teriak Damar yang turun tergesa gesa, melihat Jiro dan temannya pingsan.
"non, bangun bibik mohon !"
Bik Marni mencoba menelpon ambulance secepat mungkin. Beliau takut melihat keadaan Wulan.
"Wulan, bangun sadarlah !"
Damar mengangkat tubuh Wulan dan membawanya kedalam mobil. Namun ambulance datang dengan cepat.
Syukurlah Wulan bisa mendapatkan pertolongan pertama menuju rumah sakit. Damar masih setia menggenggam tangan Wulan.
-Jangan pergi Wulan, bertahanlah aku mohon ?!
Masih banyak hal yang harus kamu penuhi untukku-
Gumam Ditya yang hatinya hancur melihat kondisi Wulan.
__ADS_1