DamarWulan

DamarWulan
stres


__ADS_3

Menjelang malam Eren diminta Adi menjemput Wulan untuk pulang ke rumahnya. Dirasa cukup mereka menghindar dari media massa atau teror rival bisnis Adi.


Ternyata dirumah juga sudah ada Damar yang memaksa keluar dari rumah sakit.


"non, saya harus kembali ke kantor untuk jemput pak Adi."


Eren berniat meninggalkan Wulan berdua saja dengan Damar.


"Eren aku ikut !"


Kakinya sudah ingin melangkah namun Eren berbalik menggelengkan kepalanya.


Bagaimana ini, tinggal Damar dan Wulan saja di rumah besar itu. Memang ada penjaga tapi itu diluar rumah.


Sementara bik Marni sudah pulang sejak tadi.


"aku lapar, bisa tolong siapkan makanan ?"


Wulan yang hendak naik ke kamar tidak jadi, Damar membutuhkan bantuannya.


"akan aku siapkan, kamu tunggu saja di kamar."


Damar mengangguk menuruti syarat dari Wulan. Dia tahu kalau Wulan tidak nyaman jika mereka berduaan.


Tapi laki laki itu tidak tega meninggalkan Wulan sendirian. Kini dia memilih duduk nonton TV di ruang tengah.


Persediaan bumbu habis, Wulan sibuk menggeser kursi untuk ia naiki. Bunyi yang bising itu berhasil menarik perhatian Damar.


Tangan Wulan mulai mencari stok bumbu baru di lemari atas.


Kakinya yang tidak seimbang hampir menjatuhkan tubuhnya kelantai. Beruntung Damar segera lari menghampiri dan menangkapnya.


"ceroboh, kalau tidak bisa minta tolong. Jangan anggap aku tidak ada."


Damar yang bertubuh tinggi bisa dengan mudah mengambil sebungkus garam.


"terima kasih."


Lirih Wulan mengambil garam dari tangan Damar. Namun dengan nakalnya dia menggenggam tangan perempuan itu.


"Damar lepas, jangan begini !"


"lalu aku harus bagaimana Wulan ? Ini sungguh tidak adil, aku mencintaimu lebih dari siapapun."


Tetes air mata mulai jatuh mengalir dengan wajah Damar yang masih lebam.


"Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas Damar, semuanya sudah lama berakhir. Jangan siksa aku diantara kalian berdua."


Wulan mengalihkan perhatiannya dengan mulai menyiapkan makan malam.


"Cerai sama papa Wulan, aku yakin papa akan melepaskanmu."


"tega kamu Damar bicara seperti itu, aku ini istri dari papamu. Tolong hargai keberadaanku juga."


Wulan menekankan setiap perkataannya.


"katakan kalau memang kamu sudah melupakanku ! Bilang kalau kamu mencintai papa Wulan !"


Tidak ada jawaban dari mulut Wulan, ia malah pergi ke kamarnya tanpa meneruskan kegiatannya didapur.


Wulan tak tahan dengan tekanan yang Damar berikan.


"hiks . . Hiks . .


Aku benci kamu Damar. Harusnya sejak dulu aku menolak papamu, tapi apa dayaku."

__ADS_1


Kadang penyesalan itu masih selalu menghantui Wulan, namun itu semua sudah tak ada gunanya lagi.


Sederhana sekali keinginan Wulan, yaitu melanjutkan sesuatu yang sudah dimulai.


Suara klakson mobil terdengar pertanda Adi sudah tiba di rumah. Wulan harus berbuat apa sekarang, masakannya belum siap ia malah sibuk menangis di kamar.


"lagi apa kamu Dam ?"


Adi berjalan ke ruang makan melihat Damar yang sibuk menata makanan.


"Makan malam buat kita semua, Damar sudah lapar sekali pah."


Selain tampan, pintar, jago bikin minuman Damar juga bisa memasak. Karena Ia sudah terbiasa hidup sendiri.


"biar saya panggilkan nyonya untuk makan bersama."


Eren membawa tas kerja Adi lalu naik ke lantai dua.


Tok tok tok . .


"Non ayo kita makan malam, semua sudah menunggu."


Pintu diketuk Eren mengajak Wulan turun, tak lama pintu dibuka.


"aku tidak lapar, kalian makan saja duluan."


Wulan kembali menutup pintu dengan cepat. Eren menghela nafas, bosnya pasti akan khawatir dengan sikap Wulan.


Eren kembali turun dan duduk di meja makan, perutnya juga sudah sangat lapar.


"maaf pak tapi nona sepertinya tidak berselera makan. Katanya kita bisa makan lebih dulu, mungkin nona akan turun jika sudah lapar."


Eren mulai menyiapkan piringnya, biarlah mereka mengurus urusan pribadinya.


Tidak mungkin Adi makan tanpa memikirkan kondisi istrinya. Tapi biarkan saja dulu Wulan sendiri, ia harus punya tenaga untuk menjaganya.


Di sela sela makan Damar melontarkan pertanyaan yang sudah menyinggung perasaan Adi.


"bisa lah Dam, Wulan itu sangat pengertian sama papa.


Meski usianya baru 20 Wulan sangat memahami papa yang sudah tida muda ini."


Adi tahu kalau Damar sengaja memancingnya, dengan tenang Adi melakukan pertahanan.


"biasanya yang masih muda egonya lebih gede pah, hati hati aja sih saran Damar."


Danar tersenyum sinis lalu menyudahi makannya, ia berjalan menuju kamarnya.


"anak itu sekarang mulai menunjukkan perasaannya."


Gumam Adi dalam hatinya melihat perubahan sikap Damar.


"Maafkan saya tuan, tadi nona saya tinggalkan berdua saja dengan tuan muda. Saya terkejut saat tuan muda sudah ada di rumah."


Eren buka suara, mungkin saja Damar seperti itu karena satu alasan. Apalagi Wulan tidak ingin turun sama sekali.


"aku sudah selesai, kamu lanjutkan saja makannya. Aku ke kamar duluan."


Tak lama setelah Damar, Adi juga ikut naik keatas melihat keadaan Wulan.


Adi membuka pintu kamar melihat Wulan yang sedang rebahan di tempat tidur.


Ia rindu sekali padanya, padahal mereka selalu bersama akhi akhir ini mamun Adi tak kuasa menahan gejolaknya.


"ada apa ?"

__ADS_1


Adi duduk ditepi ranjang menyentuh pundak Wulan yang memunggunginya.


"Mas, ,"


Wulan bangun dan duduk menatap suaminya.


"Aku sudah siapkan air hangat untuk kamu mandi."


Ia berusaha tersenyum dengan mata sedikit sembab. Habis menangis pastinya, tapi apa Damar penyebabnya.


Tidak ada lagi yang berbicara keduanya masih saling membisu, Adi menunggu Wulan jujur.


Yang ada Wulan malah memeluk Adi erat menenggelamkan kepalanya.


"apa ada yang mengganggu pikiranmu sayang ?"


Tangan Adi bergerak membelai rambut Wulan untuk menenangkannya.


"aku hanya merindukanmu mas, yang lainnya tidak penting bagiku."


Senyum Adi mengembang saat mendengar penuturan Wulan istrinya.


"aku mandi dulu, nanti kita lanjutkan mm ?"


Wulan mengangguk melepaskan pelukannya.


Adi berjalan ke kamar mandi dengan penuh semangat, akan ia balas kemanjaan Wulan setelah badannya bersih.


Tidak butuh waktu lama Adi kini sudah keluar dengan handuk yang melilitnya. Betapa terkejutnya Adi ketika melihat Wulan yang tergeletak dilantai.


"Wulan . ."


Adi bergegas mengangkat tubuh Wulan dan menidurkannya di atas ranjang.


Tangannya sibuk menelpon dokter pribadinya, setelah itu Adi memakai pakaian yang sudah di siapkan istrinya.


Damar dan Eren yang mengetahui keadaan Wulan juga ikut melihat ke kamar.


"ada apa pah ?"


Sebisa mungkin Damar menyembunyikan kecemasannya terhadap Wulan.


"Dr. Fery akan segera sampai, papa masih belum tahu dia kenapa."


"apa mungkin nona sedang . ."


Adi dan Damar kompak menatap Eren yang menggantungkan perkataannya.


"saya bilang kan mungkin saja, mending kita tunggu saja dokternya tiba."


Eren merasa salah bicara mengingat Wulan baru saja mengalami keguguran.


"Gimana Fer keadaan Wulan ?"


Dokter berwajah oriental itu mengajak Adi bicara diluar kamar.


"ini cukup serius Di, istri kamu kekurangan banyak cairan. Daya tahan tubuhnya menjadi lemah, aku akan mengirim suster untuk memberinya infusan. Tolong jangan sampai dia stress, istrimu kan masih muda jadi cepat merasa depresi."


Seserius itukah keadaan Wulan, Adi menghela nafas kasar mendengar kondisinya.


"thanks ya, aku tunggu kedatangan sustermu. Eren akan mengantar kamu sampai mobil."


Dr. Fery dan Adi berjabat tangan sebelum berpisah, setelah kepergiannya Adi berjalan mendekati Wulan.


-Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu bahagia Wulan ?

__ADS_1


Kamu selalu menderita saat bersamaku-


Batin Adi tersiksa menyaksikan istri kesayangannya terbaring lemah tak berdaya.


__ADS_2