DamarWulan

DamarWulan
jadilah pacarku !


__ADS_3

Hari yang sangat melelahkan, Wulan membantingkan tubuhnya diatas kasur. Pikirannya selalu saja sibuk dengan urusan hidupnya.


Perusahaan ayah mendadak bangkrut, sebut saja perjodohan agar istilah dijual tidak terlalu kasar. Ya, Wulan dijodohkan dengan Adi yang jauh lebih tua. Gadis itu tersenyum miris, sekalipun ia tidak pernah membahas soal usia. Teman kampusnya selalu bahagia diatas penderitaannya, apa kabar kalau mereka tahu kisah hidupnya yang lebih tragis lagi.


Damar, laki laki yang saat ini Wulan sukai bahkan terkesan slow respon. Pikirnya, Wulan akan baik baik saja, meskipun hidup sederhana. Setidaknya dia harus mempersiapkan segala sesuatunya demi kebahagiaan Wulan. Mereka masih muda, perjalanan masih panjang. Tapi tidak Damar, segeralah sslamatkan Wulan. Sebelum semuanya terlambat. Tertutupnya Wulan, menjadikan orang orang tidak tahu kesedihannya.


"halo ?"


Wulan mengangkat telpon dari seseorang, ia langsung bangun dan duduk mengetahui siapa yang memanggilnya.


"bisa kita bertemu ? Aku akan jemput kamu, kirimkan alamatnya."


"tidak usah, kita ketemu saja di kedai kopi Levin."


Sambungan langsung Wulan tutup, supaya Damar tidak memaksa jemput.


Gadis itu buru buru mandi dengan cepat, ia perlu membersihkan badannya yang lengket. Setelah mengenakan celana jeans, kaos dalam dilengkapi cardigan Wulan keluar dari kamarnya.


"ada apa non ?"


Eren yang memang berniat mengetuk pintu, mendapati Wulan yang sudah bersiap pergi lagi.


"eu, itu . . Ada tugas dadakan, temanku meminta bertemu. Bisakah aku pergi, aku janji tidak akan pulang malam."


Nada bicara Wulan penuh memohon sambil menakupkan kedua tangannya.


"baik, saya akan sampaikan setelah pekerjaan tuan selesai. Hati hati non !"


Setidaknya Eren lega, akan ada bodyguard yang mengawasinya dari jauh.


"thanks Eren"


Wulan berlari kecil kegirangan, Eren melihatnya terkekeh. Baru kali ini Wulan seceria itu. Semoga gadis itu juga bisa bahagia bersama bosnya.


Karena hari hampir gelap, Wulan memilih taxi ketimbang ojek online. Andai saja dia menemukan kunci mobilnya, pasti tidak akan ribet soal kendaraan. Namun begini juga tidak apa, kalau menggunakan mobil pak Adi pasti akan curiga.


Pria itu dirumah saja masih sibuk, meski begitu masih mengawasi Wulan secara ketat.


Adi menyandarkan tubuhnya dikursi kerja, setelah melihat Wulan naik taxi melalui cctv. Jika Wulan pergi menemui pemilik hoodie, sebentar lagi dia akan tahu siapa orangnya.


"maaf saya lancang, kalau ternyata nona memiliki kekasih apa rencana bapak akan tetap sama ?"


Pertanyaan yang pernah dilontarkan Eren selalu mengiang ditelinganya. Haruskah Adi menggunakan kekuasaannya agar Wulan tunduk ? Jahat memang, mau bagaimana lagi Adi sudah terlanjur mencintainya.


"hi Levin, ."

__ADS_1


Sapa Wulan pada barista kebanggaan kedai kopi kesukaan Wulan. Racikan tangannya selalu membuatnya ketagihan.


"halo kak Wulan, bang Damar duduk diluar. Oh iya, ada loker buat barista tapi di pusat perbelanjaan yang sama dengan tempat bang Damar kerja. Kalau kakak siap, Levin akan beri kabar ke pihak sana. Mereka menerima pemula kok, tinggal di training saja."


Levin yang sudah mencium kedatangan Wulan, sudah menyiapkan kopi kesukaannya. Dia berbaik hati menawarkan pekerjaan pada Wulan.


"mau banget Vin, thanks ya. Nanti kasih kabar, aku kesana dulu."


Girang sekali Wulan mendapat setitik cercah untuk hidupnya. Dia tidak masalah jika Pak Adi sewaktu waktu mengambil investasinya.


"kamu sudah lama ?"


Pintu luar dibuka oleh Wulan yang langsung sampai dimeja Damar.


"belum. Aku minta maaf, selama ini aku jarang menghubungimu."


"jangan begitu Damar, kamu dan aku tidak ada ikatan apa apa. Kenapa kamu minta maaf ?"


Perkataan Wulan sudah benar menurutnya, serasa ia perlu menegaskan kembali sikap Damar yang selalu perhatian.


"jika memang itu pemikiranmu, ayo kita pacaran !"


Damar merogok saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu berdiri berjalan kearah belakang Wulan.


"sekarang kamu milikku Wulan, cukup kamu percaya padaku mmm ?"


Damar memastikan kembali jawaban Wulan yang sudah pasti akan menerimanya. Gadis itu hanya tersenyum mengangguk.


Kala cinta datang dan hati meyakininya, semua akan berjalan semestinya. Tidak usah ragu, asal kita tahu sedalam mana telah cinta memutik.


"terima kasih Damar . ."


Sejenak Wulan lupa tentang Adi, senja dihari itu ia berani melabuhkan hatinya untuk Damar. Biarkan sesaat seperti ini, jika sesuatu terjadi ia hanya akan pasrah menerima.


"kamu sudah makan ?"


Tanya Damar pada Wulan yang masih mengelus liontinnya sejak tadi.


"mmm . ." Wulan menggelengkan kepalanya.


"ikut aku, aku akan memasak untuk kamu."


Damar bangkit, menarik tangan Wulan untuk mengikutinya.


"memang kamu bisa masak ?"

__ADS_1


Obrolan keduanya terus berlanjut, hingga keluar dari pusat perbelanjaan itu. Mereka terus bergandengan, saling melempar tatap. Ini yang pertama bagi Wulan, begitupun Damar.


Mobil jeep Damar sampai disebuah bangunan, lebih tepatnya kontrakan. Disanalah dia tinggal selama 3 tahun terakhir. Properti itu masih milik papanya, rumah rumah yang sengaja disewakan.


"jadi kamu tinggal disini ?" Nafas Wulan terasa berat ketika harus menaiki anak tangga. Kamar Damar berada dilantai 3 paling atas, dan tidak ada lift.


"kamu capek ya ?" Damar berjongkok, menawarkan diri untuk menggendongnya.


"naiklah Wulan, masih ada 1 lantai lagi." kekasihnya hanya tersenyum, Wulan mengalungkan tangannya keleher Damar. Ia digendong hingga sampai didepan kamar laki laki manis itu.


"kamu nonton tv saja dulu, aku akan siapkan makan malam."


Sebelum mulai memasak, Damar memberi Wulan segelas air jeruk didalam kulkas.


"terima kasih."


Makan malam sudah siap, cekatan sekali Damar menata meja makan. Wulan menghampiri karena bau makanan sangat menggugah seleranya.


"wangi, pasti enak."


"makan yang banyak sayang . ."


Uhuk uhuk . .


Mendengar panggilan dari Damar, membuat Wulan tersedak oleh minumnya. Damar terkekeh melihat pipi gadisnya yang merah merona.


"aku pulang ya, terima kasih untuk semuanya."


Cup . .


Dengan malu malu Wulan mengecup pipi Damar, agar kekasihnya tidak marah karena Wulan menolak lagi untuk mengantarnya pulang.


"hati hati !" Damar mengelus ujung kepala Wulan yang lebih pendek darinya. dia mengantar Wulan sampai benar benar naik taxi. tidak ingin terjadi apa apa pdanya.


didalam taxi menuju rumah pak Adi, Wulan tak henti hentinya senyum. jadi begini, rasanya punya pacar.


Damar duduk dibalkon, pikirannya memandang jauh tentang hubungannya dengan Wulan. tidak ada yang tahu bagaimana Damar menjalani kesendiriannya. tertutup, tak banyak bicara pada siapapun. sekarang hanya pada Wulanlah Damar akan bersandar, berbagi suka dan siap jika Wulan ingin membagi dukanya.


"aku tahu Wulan, kamu menyembunyikan sesuatu dariku. aku harus tahu apa itu agar aku bisa membantumu."


gumam Ditya menahan tubuhnya dengan kedua tangan diatas pagar besi balkon.


"bersabarlah Damar, aku mohon. aku akan menyelesaikan semuanya, tunggu aku."


tekad Wulan sudah bulat, ia ingin segera keluar dari cengkraman Adi. demi bisa bersama kekasihnya, ia siap mendapat masalah.

__ADS_1


__ADS_2