
Susana kampus ramai seperti biasanya. Mahasiswa wara wiri keluar masuk kelas mengikuti mata kuliah. Beberapa dari mereka ada juga yang memilih berolah raga, contohnya basket, futsal atau bermain musik di studio kampus. Kebanyakan perempuan mengisi sudut kampus untuk bergosip atau bahas masalah style.
Sudah 3 hari ini juga Wulan tidak masuk kampus. Eva merasa kehilangan teman satu satunya, kenapa dia tidak kuliah ?
Hambar sekali Eva menjalani mata kukiahnya yang membosankan. Biasanya ia akan bertemu dan ngobrol sama Wulan sebelum dan sesudah mata kuliah.
Wulan dikurung di sangkar emas, dilarang kemana mana oleh Adi sebelum mereka sah.
"eh Din, gue ada info bagus buat loe."
Gilang menghampiri Dini yang tengah asik mengobrol dengan kedua temannya.
"kita kekantin duluan ya Din." mengerti ada urusan penting diantara Dini dan Gilang, kedua temannya pamit tidak ingin mengganggu.
"nanti gue nyusul."
"Wulan, dia gue gep lagi sama om om. Mukanya gak asing, tapi gue gak tahu namanya. Doi belanja brand G di mall P, gue yakin ada sesuatu yang luar biasa."
Antusias sekali Gilang bercerita, seakan mendapat partner in crime.
"loe kenapa gak panas panasin Damar ? Biar tuh cewek abis dijauhi sama cowok idaman gue."
"udah Din, Damar gak percaya. Kayaknya Wulan nutupin semuanya sendiri."
"halo mi, ada apa ?"
Obrolan Gilang terjeda karena Dini menerima panggilan dari ibunya.
"apa ? Adi Gunawan mau nikah, hari ini ?"
Dini mengulangi perkataan maminya, dia kaget karena maminya sampai merengek.
"ya udah mi, nanti kita bicarakan dirumah." sambungan langsung Dini tutup cepat, ribet juga harus mendengar ocehan ibunya lewat telpon.
"siapa sih Adi Gunawan ? Nyokap loe histeris sampe kedengeran sama telinga gue."
Sebelum menjelaskan pada Gilang, Dini tarik nafas.
"dia pemilik PT. Adiguna Perkasa, kontraktor nomer 1 di negara kita. Dia sering muncul di CNN dan majalah bisnis. Nih, gue kasih lihat fotonya. Nyokap gue tergila gila banget pengen jadi istrinya."
Mata Gilang terbelalak saat Dini menunjukkan foto orang yang sedang mereka bicarakan.
"gila, ini kan orang yang bersama Wulan kemarin."
"maksud loe Wulan nikah sama om Adi ? Wah bener bener dia, ayahnya bangkrut malah gebet duda tajir."
Gilang dan Dini sama sama tidak percaya dengan berita yang baru saja mereka ketahui. Tidak habis pikir, cewek secantik Wulan mau nikah sama pria yang jauh lebih tua darinya. Tapi mungkin saja, orang berpikir kalau Wulan tidak bisa hidup miskin jadi rela menikah dengan Adi. Terkadang picik sekali sudut pandang mereka yang tidak tahu kenyataannya.
__ADS_1
"saya terima nikah dan kawinnya Wulansari binti Bagaskara dengan mas kawin emas 100 gram dan uang senilai 100 juta rupiah dibayar tunai."
Satu helaan nafas Adi melakukan ijab qabul dihadapan penghulu, ayah Wulan, dan beberapa saksi dari kedua belah pihak.
" S A H !!! "
Pada hari itu, akhirnya Wulan menjadi seorang istri. Istri dari pria yang memaksanya untuk menikah. Sudah tak karuan perasaan Wulan pagi itu. Air matanya seperti sudah kering untuk menangis.
Setelah berdo'a, Wulan mencium tangan Adi yang diikuti oleh suaminya memegang ubun ubun Wulan.
Wulan mencium tangan ayahnya, tak kuasa ia memeluk Bagas dan menangis terisak dipelukannya.
"maafkan ayah Wulan, ini salah ayah."
Bagas berbisik ditelinga Wulan, hatinya hancur melihat anak perempuannya tidak bahagia dengan pernikahannya. Wulan hanya menggeleng, tidak pernah menyalahkan ayahnya.
"terima kasih, sudah mempertemukan saya dengan Wulan. Saya janji akan menjaganya, membahagiakannya."
Adi mengajak Bagas berjabat tangan, Bagas melepaskan pelukan Wulan.
"terima kasih, nak pakai cincin kawinnya !". Adi mengambil kotak berisi cincin couple dan memasangkannya dijari manis Wulan.
Tangan Wulan gemetar mencoba memasangkan cincin ditangan Adi.
Akad nikah diadakan dikediaman Adi, dia bahkan sudah memberi kabar pada Damar untuk ikut menyaksikan. Namun telponnya saja tidak pernah dia angkat.
Informan Damar baru saja memberi kabar untuknya, matanya terasa perih membaca email itu berkali kali. Pikirannya kacau saat itu, Damar membanting barang barang yang ada dikamarnya. Vas bunga, bingkai foto bersama papanya, apapun ia pecahkan kelantai.
"Argh . ."
Damar menjambak rambutnya berkali kali, mengusap wajahnya yang gusar. Kalau saja dia bisa lebih cepat, Wulan tidak akan terjebak oleh keadaan. Laki laki itu bangkit dan meraih kunci mobilnya dinakas. Mobilnya melaju dengan kecepatan sangat tinggi, pandangannya tajam menatap jalan.
Acara bubar tepat di jam makan siang, Adi mengajak Wulan istirahat di kamarnya. Dia ingin istrinya tidur bersama didalam satu kamar.
"aku mandi duluan."
Wulan membiarkan suaminya lebih dulu memakai kamar mandi, karena pria biasanya lebih cepat.
Setelah Adi masuk, Wulan baru berani mengganti pakaiannya. Meski dia suaminya sekarang, Wulan masih belum bisa ikhlas mempertontonkan tubuhnya.
Ia juga tidak lupa menjalankan tugasnya, menyiapkan pakaian untuk Adi.
Karena makeupnya yang sederhana dan mudah dihapus dengan cepat, Wulan kini sudah turun untuk menyiapkan makan siang. Pegawai Adi masih sibuk merapikan beberapa bagian rumah yang berantakan. Tadinya Wulan mau minta tolong dimasakin ART, tapi tidak tega karena mereka sibuk sekali. Alhasil Wulan inisiatif masak sendiri dengan bahan seadanya dikulkas.
"pa . . Papa !!!"
Seseorang berteriak dari arah luar, suaranya keras sampai terdengar oleh Wulan yang berada didapur.
__ADS_1
"tuan muda, jangan berteriak. Biar saya panggilkan tuan diatas."
Eren tidak mau kedatangan Damar berakhir dengan keributan. Ia tahu kalau tuan muda dan nyonya memiliki hubungan spesial.
"tidak usah. Ada apa Damar ?"
Papanya datang menuruni anak tangga dengan pakaian santai.
"kenapa papa jahat sama dia ? Apa papa harus memaksanya untuk menikah, Kasihan dia pa."
"kamu tidak tahu apa apa Damar. Kenapa kamu tidak pulang lebih awal, supaya kamu bisa menolongnya. Papa tulus, kamu harus tahu itu."
Prang . . .
Pecahan piring yang terjatuh terdengar sangat keras, memekik ditelinga mereka.
Adi, Damar dan Eren menengok kearah sumber suara.
Wulan terlihat menutup kedua telinganya, tidak ingin percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
"Wulan . ."
Gumam Damar dan Adi bersamaan.
"nyonya . ."
Eren segera menghampiri Wulan yang masih mematung. Dia berjongkok mengusap luka gores pecahan piring dikaki Wulan menggunakan sapu tangannya.
Tidak tahu lagi Wulan harus bersikap bagaimana, bingung sekali dia menerima semua kenyataan yang baru saja diketahuinya. Ternyata Damar adalah anak kandung Adi, yang artinya Wulan sekarang menjadi ibu tirinya.
"Eren, bawa dia kekamar !"
Adi tahu kalau Wulan pasti sangat terkejut, dia memerintah Eren untuk membawanya naik keatas.
"papa harusnya sadar, menjadikan Wulan istri artinya dia tidak akan aman. Jangan sampai kejadian yang menimpa mama, terulang kembali. Aku tidak akan tinggal diam, kalau sampai terjadi apa apa sama dia."
Mendengar ancaman Damar, Adi terasa diingatkan oleh luka masa lalu.
Pesaing bisnisnya selalu meneror rumah tangga dirinya dan sang istri. Mulai dari mengirim foto Adi bersama client wanita, agar Maria istrinya mengira dia selingkuh. Yang paling parah sampai membuntuti kemanapun Maria pergi, mengancam Adi agar menyerah pada tendernya.
Hal itu juga yang menyebabkan Damar kabur dari rumah. Ia bertahan selama 6 tahun sejak kepergian ibunya demi masa sekolah juga pendidikannya.
Setelah lulus SMA, Damar memutuskan untuk tinggal sendiri. Dia tidak ingin identitasnya diketahui sebagai putra mahkota perusahaan besar itu. Damar juga enggan meneruskan usaha papanya, dia ingin melakukan hal yang disukainya.
"itu tidak akan terjadi, papa akan melindunginya. Papa harap kamu bisa menghargainya sebagai ibu baru untuk kamu."
"istri baru papa, dia bukan ibu Damar. Ibuku hanya mama Maria, selamat atas pernikahan papa."
__ADS_1
Damar kembali meninggalkan rumahnya, dia tidak pernah bisa lama lama disana. Adi menghembuskan nafas kasarnya, memijat kening mencoba menetralkan perasaan yang semrawut.