DamarWulan

DamarWulan
Telat Datang


__ADS_3

"apa yang terjadi Va ? Katakan semuanya !"


Damar sudah tidak sabar mendengar cerita Wulan dari Eva. Rasa khawatirnya tidak bisa hilang dari dalam hatinya.


"katanya papa kakak kasih talak satu sama Wulan. ."


Penuturan Eva membuat geram Damar dia benar benar tidak percaya papanya akan melakukan hal beresiko.


Eva merasa kasihan pada Wulan, malam sekali dia datang mengetuk pintu.


Katanya dia akan menginap 1 malam, untuk mencari tempat tinggal baru.


"dan ini ?


Maksudnya apa . ."


Damar menyerahkan kresek berisi barang permintaan Wulan pada Eva.


"tadi pagi, dia sempat bangun. Minta aku beliin testpack, tapi katanya belum yakin."


"aku akan menunggu diluar, terima kasih kamu sudah memberitahu."


Damar pamit pada Eva, dia akan menunggu didalam mobil.


Eva merasa perlu, salah satu diantara mereka tahu keberadaan Wulan. Dia bahkan sembunyi sembunyi menelpon Damar. Memintanya datang ke rumah dengan membeli alat tes kehamilan terlebih dulu.


Dia masih belum bisa meninggalkan sahabatnya, suhu tubuh Wulan masih demam.


"Dek, kakak kerja dulu. Jangan lupa tuh temen kamu kasih makan.


Emang siapa sih dia ?"


Kencana naik keatas untuk pamit pada Eva, dia sedikit penasaran dengan Wulan.


"sahabat pertamaku kak, dia gak punya rumah sekarang."


Jawabnya berbohong, mana mungkin Eva menceritakan kehidupan Wulan pada kakaknya.


"makanya gaul kamu . ."


Ledek kencana lalu kembali turun, Eva kesal mendengar ejekan kakaknya yang sempurna itu.


"Wulan, bangun ! Makan bubur dulu, terus minum obat."


Eva berusaha membangunkan Wulan yang berbaring memunggunginya.


"Va . ."


Lirihnya memanggil sang sahabat, seperti ingin menceritakan sesuatu yang menghimpit dadanya.


"aku disini Lan, tidak akan ninggalin kamu sendirian."


Meski lemas, Wulan berusaha bangun dan duduk.


"thanks banget kamu sudah baik sama aku. Maaf dulu aku sempat meragukan kamu."


Eva memeluk Wulan, agar merasa diberi dukungan penuh. Bahwa ia tidak sendirian, masih ada dirinya.


"ini, yang kamu minta. Jangan lama lama, nanti dingin buburnya."


Eva turun kebawah, perutnya juga sudah mulai kerubukan. Sekalian memberi waktu untuk Wulan.


Wulan berjalan menuju kamar mandi, ia tidur bersama Eva di kamar pribadinya semalam.


"kemana sih pil itu, harusnya ada ditas."


Sambil pipis, Wulan menggerutu tidak bisa menemukan obatnya. Kesibukannya bahkan tidak memberi waktu untuk membelinya lagi di apotek.


Setelah selesai mandi, Wulan mengecek hasilnya.


Pluk. .


Benda itu ia buang kedalam tong sampah begitu saja.


Keraguan pada dirinya mendorong Wulan untuk tidak ingin mengetahui hasilnya.


Wulan turun sudah berpakaian rapi, ia meminjam salah satu baju Eva.


"Va, aku nyari kontrakan dulu. Mungkin aku akan absen kuliah, thanks ya buat semalam."


Melihat Wulan yang mau pergi, Eva berjalan kearahnya.


"Lan, kamu boleh tinggal disini kok,


Kak caca gak larang."


"enggak Va, aku kasih kabar kalau sudah nemu."


Wulan pamit meninggalkan rumah Eva, ia harus segera pergi mencari tempat tinggal.


Diluar pagar rumah, Wulan menunggu taxi yang sudah dipesannya. Damar yang melihatnya, keluar dari mobil untuk menghampiri.


"Wulan . ."


Sapa Damar pada Wulan yang sedang sibuk memainkan ponselnya.

__ADS_1


"E V A !"


Ia tahu, sahabatnya pasti yang memberi tahu Damar kalau Wulan ada dirumahnya. Wulan geram, memijat kepalanya yang sedikit pening.


"kita perlu bicara, kamu tidak bisa menghindar. Aku yang salah diantara kalian."


"taxi saya sudah sampai, permisi."


Wulan sudah tidak ingin berurusan dengan dua laki laki itu. Baginya sudah berakhir, tinggal menerima surat gugatan yang mungkin saja Adi sedang siapkan untuknya.


"bapak manggil saya ?"


Eren menemui Adi diruang kerja kantornya.


"tolong siapkan berkas pengajuan gugatan cerai . ."


Keputusannya sudah final, Adi akan merelakan istrinya. Meski jauh dilubuk hatinya, Adi masih mencintai Wulan.


"tapi pak, saya tidak setuju. Bagaimana kalau nona sudah mulai mencintai bapak ?


"mustahil Eren, hatinya mungkin sudah tertutup.


Saya harus ke lapangan, mengecek proses pembangunan."


Adi yang berdiri dari kursinya tiba tiba ambruk ke lantai. Eren yang terkejut langsung menghampiri Adi yang sudah tak sadarkan diri.


Di ruang IGD, Adi mendapatkan perawatan intensif. Dengan selang cairan infus ditangannya.


"Tuan Adi, hanya kelelahan. Asam lambungnya naik karena terlalu banyak mengkonsumsi cafein. Tolong sementara jangan minum kopi dulu."


Dokter jaga menjelaskan kondisi Adi pada Eren sekretarisnya.


"baik, terima kasih dok."


Eren mengekor dokter untuk menyelesaikan administrasi.


Tanpa ia sadari, Eren berpapasan dengan brankar yang membawa Wulan.


"apa anda keluarga pasien ?"


Suster bertanya pada supir taxi yang menolong Wulan.


"bukan, nona ini pingsan saat naik taxi saya. Coba cari kontak di ponselnya bu, saya masih harus bekerja. Permisi ya bu."


Supir itu merasa sudah melakukan sebisanya. Dia juga masih punya tanggung jawab lain.


Suster menggeleng, lalu memeriksa keadaan Wulan.


Sesuai prosedur, sang suster mengambil ponsel milik Wulan didalam tasnya. Mencari kontak yang bisa dihubungi.


Jari suster langsung menekan tombol memanggil pada kontak suami.


Krining . . Krining . .


Bunyi ponsel terdengar dari arah sebelah.


Adi membuka mata setelah mendengar ponselnya berbunyi.


"halo . . Ada apa Wulan ?"


Benar, yang mengangkat ada disebelah tirai sana. Suster berjalan mendekati sumber suara.


"maaf pak, istri bapak ada di sebelah. Pingsan didalam taxi karena demam."


Suster menaruh kembali ponsel Wulan diatas nakas lalu meninggalkan mereka.


Adi mengintai, membuka sedikit tirai yang membatasinya dengan Wulan. Terlihat istri kecilnya berbaring, keringat dingin berkumpul dikeningnya.


Batin mereka bahkan kompak, sama sama sakit fisik juga hati. Apa benar yang dikatakan Eren, kalau Wulan sudah bisa membuka hati untuknya.


"non Wulan . ."


Gumam Eren saat melewati bilik tirai Wulan. Ia duduk dikursi sebelah brankar Wulan.


"ya tuhan non, ada apa ?"


Suara Eren berhasil membangunkan Wulan yang sejak tadi pingsan. Air matanya tak bisa tertahan lagi saat melihat Eren, Wulan bangun dan langsung memeluknya.


"syukurlah, kamu yang datang Eren . . Jangan kasih tahu dia ! Aku mohon"


Sesak sekali Adi mendengar ucapan Wulan, dia pasti akan kabur kalau tahu Adi ada disana.


"non sakit ? Biar dirawat inap disini ya !"


Eren merasa panas di seluruh badan gadis kecil itu.


"tidak usah, jangan kasih tahu mereka ! Kamu sudah aku anggap seperti ibu sendiri. Hari ini aku mengajukan pembatalan masa kuliah."


Deg . .


Keputusan Wulan sudah sejauh itu, dia bahkan menyerah pada impiannya. Adi merasa sangat bersalah, semua ini karena dirinya. Tega teganya Adi memberinya talak, parahnya lagi dia ingin mengajukan gugatan cerai.


"saya akan batalkan, kamu tidak boleh melakukannya. Ayah kamu sudah menitipkan kamu sama saya. Kamu juga anak saya Wulan, saya tidak setuju."


Eren bangkit dari duduknya, dia mulai menelpon seseorang.

__ADS_1


"Eren, hentikan ! Kamu tidak berhak ikut campur."


Wulan melepaskan selang infusan ditangannya, mengambil tas yang ada di nakas samping.


Sementara Eren sibuk menelpon, Wulan diam diam keluar dari IGD.


Ia berjalan menyusuri trotoar setelah keluar dari rumah sakit.


Harus darimana Wulan memulainya lagi dari awal. Ingin sekali ia menjerit, protes pada nasib hidupnya.


Mungkin ini yang namanya cinta datang terlambat.


Kenapa ia tidak bisa menyadarinya lebih cepat.


"ini uangnya pak, saya bayar 1 bulan kedepan."


Setelah beberapa kali melihat kontrakan, akhirnya Wulan merasa cocok dengan yang terakhir.


Kamar yang nyaman, menghadap mall tempatnya bekerja.


"maaf non, single atau bersuami ?"


Tanya pemilik kontrakan hati hati, hanya untuk memastikan.


"Saya sudah bersuami, tapi kami sedang pisah ranjang."


Jawab Wulan berkata jujur, pemilik hanya manggut mengerti.


Setelah pemilik keluar, Wulan mengunci pintu. Sebelum bekerja, Wulan sempat belanja beberapa kebutuhan. Baju, sprei, makanan, apapun yang ia butuhkan untuk tinggal dikontrakan baru.


"nyaman sekali . ."


Ia berguling guling diatas kasur yang spreinya sudah diganti.


Kamar Wulan dilengkapi fasilitas mini kitchen dan kamar mandi didalam. Tidak selebar rumah Damar, tapi lebih dari cukup.


"pah . ."


Damar sengaja menjemput papanya setelah menghabiskan 2 botol infus. Mereka berdua satu mobil, dengan Damar yang menyetir.


"ada apa ?"


Adi menyandarkan tubuhnya dikursi sebelah kemudi.


"Wulan minta dibeliin testpack sama Eva temannya. Apa papa tidak penasaran sama hasilnya ?"


Demi papanya, Damar akan menyatukan kembali hubungan mereka. Ini juga salahnya, Adi sampai melakukan hal itu pada Wulan.


"dia minum pil KB Dam, Eren mengambilnya dari tas. Mungkin saja dia beli lagi di apotek."


Tatapan Adi memandang kearah samping, mengawasi setiap sudut jalanan.


"Damar cuma mau ingetin papa, jangan sampai menyesal dikemudian hari."


Untuk pertama kalinya, setelah sekian purnama anak dan papa itu bicara dari hati kehati. Tidak ada adu mulut atau adu jotos.


"kamu ini tahu apa, ngejar cewek aja gak dapat."


Ledek Adi pada Damar, ia puas sekali bisa menggodanya.


"pa, makan siang bareng ditempat Damar. Aku yang traktir."


Mobil Damar memasuki parkiran mall tempatnya bekerja.


"terserah kamu saja Dam."


Adi hanya menurut, kapan lagi mendapat kesempatan langka bisa makan bersama anaknya.


"bang Damar . ."


Levin berpapasan dengan Damar dan Adi, anak itu kebetulan baru saja keluar dari tempat kerjanya.


"eh Vin, kok kamu disini."


"iya, kan kak Wulan yang menggantikan posisiku. Sekarang dia sudah jadi karyawan. Aku pergi dulu ya kak, see you."


Damar baru saja mendengar kabar tentang Wulan dari mulut Levin.


Dia berbalik menatap Adi papanya.


"papa tahu, dan membiarkannya ? Sebenarnya apa yang sedang papa rencanakan ?"


"melepasnya, untukmu Dam."


Jawaban Adi sungguh tidak masuk akal baginya, Damar mengusap wajahnya kasar.


"pa, jauh sekali Wulan sudah menghapus perasaannya pada Damar. Bahkan saat di Bali, dia sudah bukan Wulan yang dulu menyukaiku."


Penuturan Damar membawa Adi kembali kemasa masa bulan madunya.


Harusnya Adi sadar, sejak saat Wulan menyerahkan hidupnya.


"kamu makan siang sendiri, papa ada urusan penting."


Adi pergi meninggalkan Damar sendirian, langkahnya terlihat buru buru.

__ADS_1


"urusan mengejar cinta."


__ADS_2