
Menjelang pagi, udara semakin terasa dingin dimusim penghujan. Bahkan gemericik gerimis terdengar berlomba jatuh keatas dedaunan. Dengan rasa kantuk, Wulan meraih remot ac diatas nakas untuk mematikan pendingin ruangan.
Ia melihat kesamping, ternyata Adi belum kembali ke kamar. Padahal dalam hati kecilnya Wulan berharap sang suami mau berusaha. Yaitu dengan memaksa tidur bersama, karena Wulanpun tidak mengunci pintu kamar.
Ketika matanya tak sannggup lagi terpejam, Wulan memilih bangun dan pergi keluar. Ia berjalan menuruti anak tangga. Betapa terkejutnya Wulan mendapati Adi tidur disofa ruang TV. Melihat sleimutnya jatuh kelantai, Wulan merasa kasihan lalu menutupi tubuh Adi menggunakan selimutnya.
Pelan pelan Wulan berjongkok memandangi wajah damai seorang Adi ketika tidur. Tangan Wulan mengelus pipinya hati hati.
"Kenapa kamu tega sekali ? Aku bahkan masih berusaha memberimu keturunan. Tiba tiba wanita asing datang membawa darah dagingmu."
Adi mencegat tangan Wulan yang hendak menjauh dari wajahnya. Ya, Adi sudah sadar ketika langkah Wulan terdengar menuruni tangga. Ia ingin tahu sejauh mana rasa sayang Wulan terhadapnya. Nyatanya Wulan sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Depika hadir dari hasil bayi tabung. Sharma melakukannya tanpa sepengetahuanku. Itu terjadi saat aku dirawat dirumah sakit dan harus melakukan operasi usus buntu."
Dan Adi juga baru mengetahui kebenarannya saat Sharma menjelaskan status Depika pada pertemuan pertama mereka.
"Kamu harus percaya padaku Wulan ! Aku tidak pernah melakukan hubungan terlarang tanpa ikatan pernikahan. Depika memang darah dagingku, tapi itu karena proses penanamn benih yang disuntikan kedalam sel telur Sharma. Imbasnya Depika mengalami kelainan pada sel darahnya. Dia mengidap penyakit kanker darah, Wulan nanti siang aku akan melakukan tes darah untuknya. Jika kamu mengizinkan aku akan mendonorkan sum sum tulang belakangku."
Setelah mengetahui Depika adalah puterinya, Adi memang dengan cepat memerintahkan informan memeriksa kebenarannya. Dan itu akan terjawab setelah hasil tes keluar, juga bukti dari kesaksian dokter pelaku.
Bisa saja Adi menuntut dokter maupun Sharma, namun kesehatan Depika jauh lebih penting baginya. Wulan gamang, antara ingin percaya namun tetap merasa tersakiti meski Adi tidaklah salah.
"Wulan kamu tetap segalanya bagiku apapun yang terjadi. Tolong jangan membenciku lagi, rasanya sesak melihat kamu mengabaikanku."
Adi menggenggam tangan Wulan dan membelai lembut pipinya.
"Lakukan yang seharusnya seorang papa perbuat untuk anaknya, jika semua yang kamu katakan benar dan terbukti maka aku akan membiarkan kalian membesarkannya bersama. Tolong lep . ."
Seakan tahu kelanjutan arah ucapan istrinya, Adi ******* bibir Wulan secara mendadak dan sedikit kasar.
Merasa terkejut Wulan sempat memukul dada Adi memberontak agar mau melepaskannya. Bukannya berhenti, Adi malah meraih tubuh Wulan lalu membopongnya menuju ruang kerja Adi. Hanya itu ruangan yang terdekat supaya mereka bisa segera melampiaskan kerinduan mendalam setelah lama terpisah.
__ADS_1
Adi menghempaskan tubuh Wulan hati hati diatas sofa, tangannya lincah membuka setiap kancing piyama tidur milik Wulan. Adi kembali menerobos pertahanan Wulan tanpa ampun. Rasa saling mendamba semakin kuat saat mendekati puncaknya. Wulan tak pernah berhenti menyebut nama Adi disetiap lenguhannya. Seolah Adi mampu memberinya kenikmatan tiada tara. Wulan selalu merasa hampir gila saat ingin merasakannya secara bersamaan.
"Aku mencintaimu Wulan, sangat amat. Jangan berpikir untuk meminta hal itu. Cukup aku yang melakukan kesalahan dulu."
Tak pernah Wulan memerintah, air matanya menetes hingga Adi melihatnyapun sangat terpukul.
Lagi lagi Adi hanya menghadirkan luka untuk Wulan. Adi ingin sekali membahagiakan istri kecilnya tapi seakan ujian terus saja datang silih berganti.
"Boleh aku menginap dirumah ayah ? Aku sangat merindukan kebersamaan kami. Kamu boleh menjaga Depika sepuasnya jika aku tidur dirumah ayah."
"Apapun asal kamu bahagia Wulan." Terpaksa sekali Adi mengabulkan permohonan Wulan. Meski berat Adi tidak mungkin melarangnya pergi.
"Terima kasih, tidurlah lagi. Aku akan siapkan sarapan."
Wulan keluar dari kungkungan Adi, ia memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai kemudian langsung memakainya.
Sesuai janjinya, Adi melepas keberangkatan Wulan diteras rumah. Wulan akan diantar Jiro dan Eren ke apartemen Bagaskara. Letaknya cukup dekat dengan kantor milik Adi, sehingga ia akan leluasa mengunjungi Wulan saat rindu.
"Pah, Damar ke kampus sebentar baru ke kantor."
Suara Damar memecah lamunan Adi yang masih menatap mobil pengantar istrinya.
"Iya, hati hati Dam."
Ucap papa Adi dengan wajah sendu.
Wulan mengirim pesan pada Bagaskara supaya menunggu kedatangannya sebelum pergi bekerja. Dan untungnya Bagas masih berada dirumahnya, dia baru saja selesai sarapan. Setelah menitipkan Wulan pada Adi, Bagas memang hidup sendirian diapartemen milik menantu kayanya itu.
Eren menatap Wulan melalui kaca spion, ia menangkap masalah diantara Wulan dan Adi bosnya. Adi bahkan tidak melibatkan Eren didalamnya. Ini murni akan menjadi tanggung jawab Adi sebagai ayah biologis Depika.
"Non, soal dessert cafe saya sudah mengajukan proposal kerja sama. Bisakah lusa non Wulan bertemu dengan pemiliknya ?"
__ADS_1
"Kirim saja alamat dan contact personnya. Aku sungguh sungguh ingin memulainya. Jangan libatkan mas Adi dulu."
Rencana Wulan menanam modal pada perusahaan Cake and Bakery memang sudah berjalan cukup jauh. Tanpa pengawasan Adi, Eren diminta Wulan merahasiakannya terlebih dulu. Wulan mendapat modal dari mahar pernikahannya.
"Baik non."
Eren tersenyum melihat semangat Wulan terhadap calon bisnisnya.
Wulan juga sudah mempelajari profile perusahaan tersebut. Bergerak dibidang Produce and Distribute, Wulan ingin menambahkan cafe sebagai anak perusahaan. Jadi tidak hanya menjual pastry maupun dessert, nantinya Wulan ingin ada cafe juga didalamnya. Idenya sudah ia tuangkan dalam proposal pengajuan kerjasama.
Sementara Adi sendiri kini sudah berada diruang rawat inap Depika. Dia bahkan sengaja tidak pergi kenator demi menemui malaikat kecilnya.
"Hore baba datang, Depika seneng banget." Menyambut riang kedatangan Adi, Depika merentangkan tangannya minta dipeluk.
Sharma sudah menjelaskan kalau Adi adalah papa kandungnya. Dan Depika yang sejak dulu memang ingin bertemu, bahagia sekali mendengar kenyataan tersebut.
"Sayang, baba harus ketemu dokter dulu. Biar Depika bisa cepat sembuh."
"Gak mau moma, Depika mau baba tetap disini. Baba ayo kita jalan jalan ke mall, Depika sehat dan bosan di rumah sakit terus."
Depika terus saja merengek manja pada Adi, membuat Sharma tidak enak hati. Kalau bukan karena membuthkannya, Sharma enggan bertemu kembali dengan Adi. Adi kini sudah memiliki kehidupan baru bersama Wulan.
"Baba janji setelah selesai ketemu dokter, kita beli mainan di mall dekat sini oke ?" Dan bujuk rayu Adi menghadirkan anggukan antusias dari Depika.
"Dokter sudah menunggu, mari." Suster bahkan menjemput Adi diruangan VIP kelas 1.
"Di, , Terima kasih."
Sebelum Adi keluar, Sharma menyampaikan ucapan terima kasihnya karena Adi mau menerima Depika.
"Ini dempi Depika, darah dagingku."
__ADS_1