
Menjelang malam, Wulan asik menonton acara TV. Ia duduk disofa sambil ngemil kacang mete dan kurma muda. Adi sendiri masih bersandar di tepi ranjang memperhatikannya.
Semenjak kejadian itu, istrinya berubah lebih ceria dan tidak sependiam dulu. Hanya saja dia merasa khawatir, kalau Wulan sebenarnya menyimpan luka yang mendalam.
"Wulan . ."
Panggil Adi pelan namun masih bisa terdengar dari arahnya.
"iya ?"
Jawab Wulan dengan pandangan yang masih fokus ke layar TV.
"kamu masih marah ?"
Wulan menggeleng cepat, lalu menutup toples cemilannya. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk cuci tangan, tanpa menutup pintunya.
Adi menyusul langkah Wulan, dilihatnya sang istri baru selesai mengelap tangannya yang basah.
"aku bukan tidak ingin melakukannya, dokter bilang kita harus menunggu minimal 2 minggu."
Dia berbicara dengan memandang pantulan wajah Wulan dicermin.
"lupakan soal itu, tapi apa harus kamu mengabaikan aku ?
Kamu masih menyalahkan aku yang tidak bisa menjaganya ?"
Air mata Wulan mulai menetes, seakan tidak tahan dengan sikap suaminya.
"kamu selalu menderita karena aku, itu kesalahan terbesarku Wulan !"
"dan kamu masih tidak tahu mas, aku juga bahagia sama kamu."
Wulan berbalik menghadap Adi.
Ada jeda cukup lama diantara mereka, masing masing mencerna setiap apa yang dirasakannya.
Bahagia sekali Adi mendengar perkataan Wulan. Hasrat kepemilikan atas tubuh istrinya mulai menyeruak mengalir keseluruh darah ditubuhnya.
Gerakan tangan Adi menakup pipi Wulan dengan kedua tangannya.
Dilumat sudah bibir belahan jiwanya, mencari sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan.
Selama masa pernikahan, Adi hanya melakukannya sekali pada Wulan yaitu saat di Bali.
Dia sudah tidak peduli lagi tentang saran dokter.
"mm . ."
Lenguhan Wulan mulai terdengar setelah mereka beradu lidah. Membiarkan menari nari dengan sendirinya.
Tangan Adi mulai melucuti baju tidur Wulan, begitupun sebaliknya.
Posisi mereka masih berciuman, kini Adi mulai mere*as dua gundukan kenyal milik Wulan.
"aku rindu kamu sayang, aku sangat mencintaimu Wulan."
Bisik Adi ditelinga Wulan yang mulai merintih ketika tangan Adi mengelus miliknya.
Adi menggendong Wulan untuk berbaring di tempat tidur. Percintaanpun terjadi setelah lama sekali mereka berpuasa.
Milik keduanya saling beradu dengan irama cepat, sementara mulut Adi masih setia mengunci bibir sang kekasih hati.
"mmm, aah . ."
Mereka merasakan puncak kenikmatan secara bersamaan.
Tak terhitung, Adi dan Wulan melakukannya beberapa kali sampai mereka ketiduran karena merasa lelah.
Untung saja, dilantai 1 hanya ada kamar mereka. Jadi segala macam suara tidak akan ada yang bisa mendengarnya.
Saat pagi hampir subuh, Adi terbangun melihat Wulan yang tidak ada disampingnya. Ia melirik kearah pintu kamar mandi yang tertutup, mungkin dia didalam.
Adi berjalan mendekati pintu yang ternyata masih sedikit terbuka.
"hiks . . Hiks . ."
Adi mendengar suara isak tangis Wulan, ia mengintai memperhatikannya.
Wulan duduk ditoilet menutup mulutnya agar tidak bersuara.
"maafin mama sayang, ini salah mama yang gak bisa jaga kamu. Kalau saja mama menyadari kehadiran kamu lebih awal . ."
Ternyata benar dugaannya, Wulan masih memeluk lukanya sendirian.
__ADS_1
Adi bergerak membuka pintu, meraih tangan Wulan agar masuk kedalam dekapannya.
"aku disini Wulan, katakan sesuatu kalau kamu bersedih ! Jangan hanya diam. Aku suamimu, berbagilah denganku semua dukamu."
Wulan semakin mengeratkan pelukannya, merasakan kehangatan tubuh Adi untuk mendapatkan kekuatan.
"jangan acuhkan aku lagi mas, rasanya sakit bertubi tubi."
"tidak, aku tidak akan melakukannya lagi. Kita hadapi semuanya sama sama mm ?!"
Wulan mengangguk sehingga terjadi gesekan antara kepalanya dan dada bidang Adi.
🍀🍀🍀
Pagi yang cerah ditambah suasana hati yang indah. Dua insan yang dimabuk asmara, masih saling bergandengan tangan. Mendengar alunan musik bernada cinta, hanya mereka berdua didalam mobil yang masih melaju itu.
Lupakan hari kemarin, kita akan melangkah bersama hari ini, esok dan seterusnya.
"mas, aku mau kamu jemput aku sendirian. Kita makan siang di kafe dekat kampus."
Sebelum turun dari mobil, Wulan mengutarakan keinginannya.
"siap nyonya Adi, jaga diri baik baik !"
Adi mengulurkan tangannya untuk dicium Wulan.
Setelah berjalan menuju gerbang, Wulan tersenyum melambaikan tangannya pada Adi.
Begitupun pria itu, membalasnya dengan hal yang sama.
Hidup benar benar tidak ada yang tahu. Detik ini, kita merencanakan dan melakukan sesuatu. Namun semenit kemudian bisa saja berubah, tidak ada yang bisa menebak masa depan. Kita manusia hanya bisa berencana. Begitu juga dengan Wulan, banyak sekali yang terjadi pada hidupnya tanpa memberi peringatan.
Niat awalnya yang ingin pisah, malah menumbuhkan benih cinta pada sang suami.
Wulan juga hampir minum pil penunda kehamilan, namun akhirnya hamil dengan waktu yang singkat setelah mengalami keguguran.
Dengan alasan kesehatan, Adi mengajukan pengunduran diri atas nama Wulan ditempat kerjanya. Wulan yang menjunjung tinggi statusnya sebagai istri, hanya bisa menurut patuh. Adi ingin Wulan hanya fokus pada pendidikannya saja, minimal lulus S1. Untungnya dekan juga belum sempat memproses pengajuan masa cuti yang Wulan ajukan melalui email.
"Wulan !"
Teriak seorang perempuan, memaksa yang dipanggil menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Eva . ."
Keduanya girang bisa bertemu kembali dikampus. Melepas rindu karena tidak kunjung bertemu.
Wulan dan Eva berjalan menuju tempat favorit mereka untuk mengobrol, yaitu kantin.
"kamu tahu kan, kak Damar ngumpet dirumahku. Ampun deh, kak Caca sama dia itu kalo udah debat nyambung sekali."
Dalam hati Wulan terkekeh, sebelas dua belas sama yang ngomong. ngomong ngomong soal Kencana, Wulan bisa menangkap keduanya mulai dekat. Apalagi kemarin mereka datang bersama.
"eh dah, malah bengong. Buruan mau pesan apa ?"
Eva menyadarkan Wulan dari pikirannya yang masih tertuju pada Damar.
"itu loh, anu . . Mm minum mineral botol sama roti."
Gagap Wulan memilih menu, moodnya mulai tidak bisa ia kontrol.
Kenapa malah cemas saat tahu Damar sudah mulai melupakannya ? Bukankah itu sudah menjadi harapannya sejak lama, agar Damar tidak lagi mengganggu hubungannya.
"hei . ."
Seseorang menyapa lalu duduk dihadapan Wulan dengan santainya.
Tenanglah Wulan, tidak akan terjadi apa apa lagi diantara kalian.
"ngapain kamu disini ?"
Ketus Wulan berusaha menyembunyikan perasaannya, yang sangat penasaran dengan kedekatan laki laki itu dengan kakaknya Eva.
"aku minta maaf soal semalam. Berhentilah membuatku khawatir Wulan, apalagi papa. Kamu tidak tahu rasa bersalahnya setiap kamu terkena masalah."
Wulan memalingkan wajahnya, mencari pandangan lain agar tidak fokus pada wajah Damar.
"terima kasih sudah mengingatkan, tapi lebih baik kamu urus saja urusanmu. Kak Caca perempuan yang jauh lebih baik dariku, aku rasa kalian cocok."
Damar malah tertawa mendengar ucapan Wulan. Apa yang sebenarnya perempuan ini pikirkan.
"kamu . . Cemburu ?"
Tanya Damar hati hati takut menyinggung perasaannya.
__ADS_1
"haha . . Kamu ini aneh, aku hanya senang kamu sudah menemukan seseorang."
"kamu selalu begitu Wulan, mengatakan hal yang sebaliknya."
Tidak ingin terus mengganggu Wulan, Damar bangkit dari kursinya. Dia mengelus ujung kepala Wulan, lalu berjalan meninggalkannya.
-aku tahu Damar, lama sekali kamu sudah bukan milikku. Semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu yang baru-
Mata kuliah yang seabreg, akhirnya bisa selesai tepat sebelum jam makan siang. Wulan berjalan keluar gerbang kampus, disana ramai sekali orang orang berkumpul.
Mereka membawa kamera, recorder audio, sibuk memainkan ponsel masing masing.
Kaki Wulan refleks berusaha mundur beberapa langkah.
"eh itu bukannya istri pak Adi !"
Seseorang yang menyadari keberadaan sosok Wulan, mengajak yang lainnya mendekat kearah Wulan berdiri.
"anda Wulansari kan, istrinya Adi Gunawan ?"
"benar, anda nikah muda diusia 19 ?"
"menurut info, ayah anda berhutang besar pada suami anda ?"
"jadi benar kalau anda mengalami keguguran karena tindak kekerasan dari rival anda ?"
Bagaimana ini, Wulan tidak siap jika ditodong begini. Apalagi tidak ada Adi disampingnya. Jepretan kamera mendadak membuat kepalanya pusing.
Tubuhnya yang terhuyung segera ditahan oleh dekapan tangan seseorang dari arah samping.
"No comment !"
Tegasnya lalu mengajak Wulan berjalan membelah kerumunan wartawan. Mereka yang tidak puas terus mengejar keduanya hingga sampai didekat mobil.
Pria itu membukakan pintu untuk Wulan, lalu berjalan kearah kemudi.
"jadi benar pak, dia adalah istri anda ?"
Sebelum kaca mobil tertutup mereka masih saja melemparkan pertanyaan.
"ya benar, dia istri saya. Saya menikahinya karena sudah jatuh cinta padanya. Untuk kasus penyerangan, tolong jangan libatkan dia untuk mendapatkan informasi."
Setelah cukup memberi keterangan, Adi menancap gas mobilnya meninggalkan para wartawan.
"aku mau pulang mas, ke rumah Eren."
Adi mengangguk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Coba saja kalau dia tidak segera datang, mungkin Wulan akan mengalami kesulitan. Hal terburuknya, ia akan kembali histeris mendengar kata keguguran.
Setelah sampai dirumah, Wulan langsung berjalan ke dapur. Tangannya sibuk mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas.
Ia mulai mencuci sayuran, memotong dan hal lainnya.
Adi hanya berdiri memperhatikannya, dia tahu kalau Wulan sedang mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi.
"Wulan, hentikan ! Atau jari kamu akan terluka."
"aku lapar mas, bisakah kamu membantuku ?!"
Adi berjalan menghampiri istrinya, melepaskan pisau dan wortel dari kedua tangan Wulan. Secara brutal Adi mencium bibirnya, Wulan yang tidak bisa mengimbanginya sampai harus mencari pegangan.
Barang barang yang ada dimeja dapur jatuh berserakan karena ulah aktifitas mereka.
"hmmm . ."
Lenguh Adi yang sangat menikmatinya, menuntut Wulan untuk terus melakukan perlawanan.
Tangan Adi mulai nakal, dia meremas payu*ara istrinya lewat kemeja.
"aah . . Mas"
Desahan Wulan kini terdengar mengisi ruangan dapur, setelah Adi menyedot lehernya hingga meninggalkan jejak kepemilikan.
"astaga tuan, nyonya . . . !"
bik Marni yang baru sampai, terkejut berteriak melihat adegan suami istri yang tidak tahu tempat itu.
"aduh, belanjaan ketinggalan diluar."
bohong bik Marni yang merasa canggung, beliau balik lagi keluar. padahal kedua tangannya menggenggam kantung kresek penuh.
Adi dan Wulan hanya tertawa geli sekaligus malu, mereka bertatap wajah penuh gairah dengan kening yang beradu.
cup . .
__ADS_1
Wulan mengecup bibir Adi dan menariknya nakal.
sesaat saja, biarkan mereka merasa kebahagiaan seperti ini.