DamarWulan

DamarWulan
Khawatir


__ADS_3

Damar masih terbaring di brankar ruang IGD.


Wajahnya penuh lebam, hampir saja Adi tidak mengenalinya.


Dia masih berdiri mengamati Damar yang belum sadarkan diri.


Belum jelas, apa masalahnya sehingga dia dipukuli seperti ini.


"permisi, bapak wali dari saudara Damar ?"


Petugas kepolisian mendatangi keberadaan Damar atas info dari suster jaga.


"betul."


Jawab Adi, pasti bakal dimintai keterangan.


"bisa kita bicara di luar ?"


Adi mengangguk mengikuti prosedur yang berlaku.


"anak bapak dipukuli saudara Gilang dan teman temannya, karena motif pribadi. Menurut saksi di klub, saudari Damar sedikit mabuk. Dia tidak terima kalau Gilang menghina perempuan yang entah siapa."


Adi tidak habis pikir, sedepresi itukah Damar hingga lari ke alkohol. Lagi, pasti perempuan yang dimaksud adalah istrinya.


"anak saya salah karena mabuk, tapi jangan lepaskan kalau Gilang memang bersalah."


Selalu sama, Adi ingin hukum berlaku adil pada mereka yang bersalah.


Dulu sekali, istrinya selalu diteror. Harusnya dia juga melakukan hal yang sama, mengumpulkan bukti untuk menjebloskan pelakunya.


"Apa bapak tahu, orang tua dari Gilang ?"


"siapa ?"


Adi tak akan gentar, siapapun kalau salah harus dihukum.


"Buditama, Gilang Buditama. Sepertinya ini akan berjalan sulit, beliau selalu bisa meloloskan diri selama ini."


Polisi berwibawa itu seolah tidak suka menceritakan pasal Budiman. Padahal ia sudah tahu banyak hal kotor yang dilakukan pria itu.


"saya bisa bantu bapak, ada pengacara hebat yang bisa mengumpulkan bukti kejahatan Budiman."


Tak pikir panjang, Polisi yang bernametag Fikri itu mengulurkan tangannya. Adi membalas, mereka berjabat tangan sepakat.


"terima kasih."


Ucap Fikri pada Adi, mereka tersenyum puas.


"maaf pak, bapak diminta isi administrasi. Agar pasien dipindah ke ruang inap biasa."


Suster datang meminta Adi melakukan pembayaran. Biasanya ada Eren yang mengurus, tapi dia harus menjaga Wulan.


Sekarang Wulan sedang apa ? Tiba tiba Adi rindu padanya.


"pah . ."


Lirih Damar membangunkan Adi yang tertidur dikursi. Kini dia sudah menempati ruang rawat. Hanya 4 jam waktu yang bisa dipakai Adi untuk tidur. Guratan lelah nampak jelas di wajahnya.


"kamu ini, kayak bocah SMA saja Dam. Berantem sama teman kuliah."


Adi menguap, rasanya masih kurang.


"maafkan Damar, papah pasti malu. Belum lagi dampak dari video yang mungkin saja tersebar."


Setengah mabuk, Damar masih sadar tadi malam saat Gilang menghina Wulan.


Dia yang tak terima memukul sekali wajah tampan Gilang. Namun dia dan teman temannya langsung mengeroyok Damar hingga babak belur. Kejadian itu bahkan direkam dan di upload di media sosial.


"jangan mikir hal gak penting, biar papa yang urus. Kamu istirahatlah, biar cepat masuk kerja lagi."


Canda Adi agar Damar merasa lebih baikan.

__ADS_1


"siap bos."


Gerak tangan Damar dengan lemas memberi hormat.


"papa pulang dulu, dia pasti khawatir. Biar Eren yang ganti jaga kamu."


Damar mengangguk, sebenarnya tidak masalah kalau dia sendirian.


🍀🍀🍀


Angin berhembus kencang menyelinap keseluruh kulit. Pertanda musim hujan akan tiba sebentar lagi.


Di teras rumah, Wulan mondar mandir sejak tadi. Ia bahkan tidak bisa tidur menunggu kepulangan Adi.


-siapa yang kamu khawatirkan Wulan, suamimu yang mengurus anaknya. Atau anaknya yang masuk rumah sakit ?-


Saat Adi baru saja keluar dari mobil, Wulan langsung berlari berhambur ke pelukannya. Adi yang terperanjat kagetpun membalasnya.


"aku takut, kenapa keluarga kita selalu dalam bahaya. Aku tidak mau kamu kenapa kenapa !"


Mulai terdengar isak tangis Wulan.


"tenanglah, dia hanya berkelahi. Kita akan selalu aman, aku akan melindungi kalian."


Adi mengelus kepala Wulan yang ketakutan. Sebelum pergi lagi, Adi akan memperketat kembali pengamanan rumah Eren.


"jangan kuliah dulu ! Aku akan mandi dan ke kantor."


Mereka berjalan masuk kedalam rumah.


"aku sudah siapkan sarapan."


Adi dibantu Wulan menyiapkan diri untuk pergi bekerja.


Eren berangkat ke rumah sakit menjaga Damar. Sedangkan suaminya baru saja pergi lagi, mengurus projeknya yang akan dikerjakan diluar kota.


Tinggalah Wulan sendiri, meski ada bi Marni dan pengawal yang menjaga rumah tetap saja dia merasa kesepian.


Bunyi pesan masuk, Wulan segera membuka.


Chat dari grup jurusannya, memberi pengumuman kalau ada kuis mendadak satu jam dari sekarang.


Terpaksa Wulan harus ke kampus, padahal Adi sudah melarang.


Buru buru, Wulan langsung mengambil tas dan kunci mobilnya.


Syukurlah, Wulan bisa ikut kuis mata kuliahnya. Tidak ada kendala berarti baginya, hanya saja Wulan lupa memberitahu Adi.


"wah wah wah . . Gue semakin penasaran, jadi ini perempuan yang sudah terjebak diantara anak dan ayah."


Wulan terperanga mendengar suara dari arah belakang. Pasalnya tidak ada yang tahu kalau Damar adalah anak Adi. Terlebih orang itu.


"jadi kamu belum tahu ? kalau Damar babak belur demi membelamu."


Kini dia berada dihadapan Wulan dengan tatapan sinisnya.


"ayolah Wulan, gue tahu kalian masih saling suka. Bagaimana kalau suami, maksudku ayahnya Damar tahu kalau istrinya masih belum bisa menyukainya."


Plak . .


Tamparan mendarat dipipi laki laki itu.


"tutup mulutmu Gilang ! Siapa kamu, berani berbicara seperti itu."


Wulan tidak terima dengan hinaan Gilang, apalagi dia bukan siapa siapa.


"Aku Gilang Buditama ! Papa Orang yang selalu saja kalah dari Adi Gunawan. Rival dari suamimu, kamu pikir kita tidak saling terkait ?"


Apakah Buditama yang meneror dan menculiknya, benarkah Gilang anak dari pria kejam itu.


"terserah kamu, aku sudah muak dengan kalian."

__ADS_1


Wulan berniat meninggalkan Gilang, namun dengan cepat dia menarik paksa tangan Wulan.


"lepas Gilang !"


Gilang tak menghiraukan pandangan orang orang, dia masih saja menarik perempuan itu menuju mobilnya.


"Argh. . ."


Terpaksa Wulan menggigit lengannya supaya bisa lepas.


Dengan kasarnya, tangan Gilang sudah melayang di udara ingin menampar Wulan.


Sebuah tangan menahan lalu menjatuhkan Gilang hingga tersungkur.


Pria itu memukulinya berkali kali dihadapan Wulan.


"mas, hentikan ! Kamu hampir membunuhnya."


Sekuat tenaga Wulan menarik tubuh Adi untuk berhenti. Ia memeluk suaminya, berharap bisa lebih tenang.


"ba*ingan !


Beraninya kamu menyentuh istriku, cuih."


seperti katanya, Adi akan melindungi keluarga kecilnya. Siapapun, dia tidak takut dan akan terus melawan.


"kita pulang sekarang mas !"


Pinta Wulan langsung menarik Adi masuk ke mobil miliknya.


Wulan masih fokus menyetir, ia tidak membiarkan suaminya yang melakukan dalam keadaan emosi.


Ia tahu, kalau Adi pasti sedang memarahi dirinya dengan kebisuan yang terjadi selama perjalanan pulang.


"kenapa kamu tidak menurut ? Sudah aku bilang jangan ke kampus."


Adi menghela nafas, ia berusaha untuk tidak terpancing oleh amarahnya.


"aku minta maaf, aku salah. Tadi ada kuis mendadak."


Wulan menunduk, merasa sudah melakukan hal yang buruk sebagai seorang istri.


"kemarilah !"


Adi meraih dan memeluk Wulan dihalaman rumah.


"jangan diulang, lain kali kasih aku kabar !"


Adi yang lelah langsung beristirahat di kamar, sementara Zara menyiapkan makan siang untuknya.


"Ca, pulang deh ! Gue baik baik aja, gak usah kamu temani juga."


Damar meminta Kencana yang menjenguknya untuk segera pergi. Dia tak biasa berduaan dengan perempuan yang bukan siapa siapanya.


"Dam, gue tahu loe masih menyukai Wulan. Tapi please, biarkan gue jadi sahabat atau sekedar teman bagi loe."


Ya Kencana memang sudah jatuh cinta pada Damar. Ia tak peduli kalau Damar menolaknya.


"Terserah kamu aja Ca, gue ngantuk mau tidur."


Damar merebahkan tubuhnya mengacuhkan keberadaan Kencana. Dia tidak ingin memberi harapan kosong untuk kakaknya Eva.


-kemana kamu Wulan, kenapa tidak melihat anak tirimu yang sedang sakit ini?-


Jauh didasar hatinya, Damar masih memikirkan Wulan mantan kekasihnya. Rindu sekali dia tidak melihat wajah putih pucat pasinya. Senyumnya ketika bahagia masih tergambar jelas diingatan.


Perempuan yanh bahkan sudaj jauh meninggalkannya. Ia menikah dengan papanya, diperawani olehnya bahkan hamil adiknya. Sayangnya calon bayi itu tak sempat lahir kedunia.


Kalau boleh Damar beharap, andai saja Wulan tidak memiliki ikatan lama bersama papanya dia mungkin akan tetap menerima Wulan.


Egois bukan, tapi begitulah perasaannya sekarang. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Wulan di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2