DamarWulan

DamarWulan
Anak kalian ?


__ADS_3

Kedua laki laki tampan berjalan menuruni anak tangga secara bersamaan. Siapapun yang melihat mereka pasti sudah bisa menebak kalau keduanya papa dan anak. Dan tentunya akan dengan mudah terpesona bahkan mengagumi mereka.


Wulan tersenyum melihat Adi lebih segar setelah membersihkan diri. Apalagi suaminya mengenakan pakaian rumahan santai sekali, tak jemu Wulan memandangnya.


"Wah apa harus saya pidato dulu ? Ayo silakan menikmati makanannya." Adi tersenyum membuka acar makan malam spesial dikediamannya.


"Permisi sebentar. . ."


Baru beberapa suap Adi sudah disibukkan oleh panggilan telpon. Ia pamit ke ruang tengah mengangkatnya entah dari siapa.


Eren menangkap helaan nafas kasar dari Wulan. Kasihan dia, memiliki suami super sibuk seperti Adi bukanlah suatu kebanggan melainkan kesepian.


Adi kembali dengan cepat, namun wajahnya terlihat gusar menatap Wulan.


"Wulan aku minta maaf karena ada pekerjaan mendesak. Kalian lanjutkan saja tanpaku."


Adi mengecup ujung kepala Wulan tanpa rasa canggung.


"Saya akan menemani pak. . ."


Eren sudah berdiri dari duduknya.


"Tidak usah, saya pergi sendiri."


Sejurus kemudian Adi lenyap dari pandangan Wulan, jelas membuat nafsu makannya hilang begitu saja.


"Wulan, kamu lanjutkan makannya ya !"


Bagaskara mencoba membujuk Wulan.


Kali ini Wulan dituntut dewasa oleh sang ayah, iapun mengangguk dan tersenyum sedikit memaksakan.


"Sumpah, masakan kamu enak banget Wulan."


Eva memuji Wulan ditengah kecanggungan yang terjadi.


"Eva, itu masakan buatan bi Marni. . ."


Wulan memutat bola matanya pura pura jengah demi mencairkan suasana. Dan akhirnya kekehen bermunculan dari mereka yang menyaksikan keakraban Wulan dan Eva.


Jangan lupakan Jiro, bi Marni dan penjaga rumah lainnya. Mereka juga kebagian makan malam spesial buatan nyonya rumah. Bagi Wulan mereka bukanlah pesuruh melainkan anggota keluarga. Yang bahagia saat pemilik rumah merasakannya, terluka ketika tuannya juga mengalami hal itu.

__ADS_1


🌙️🌙️🌙️


Adi melangkahkan kakinya menyusuri koridor sebuah apartemen. Kini hidupnya terasa seperti sedang bermain hide and seek. Diam diam berbohong pada Wulan pergi dengan alasan pekerjaan. Nyatanya dirinya kini menekan bel rumah seorang wanita berpiyama.


"Terima kasih sudah datang, aku perlu membawanya sekarang juga."


Kata wanita berwajah polos tanpa make up, menunjukkan garis keturunan hindustan asli.


"Biar aku yang gendong Depika, kau persiapkan saja perlengkapannya."


Adi masuk ke kamar bernuansa pink, tatap matanya teriris melihat malaikat kecilnya terlelap.


Tunggu ! Adi tidak akan pergi bersama mereka meninggalkan Wulan sendirian bukan ? Andai Wulan tahu kelakuan Adi suaminya meninggalkan makan malam demi wanita lain.


Mobil dikendarai sendiri oleh Adi berhenti di parkiran rumah sakit terbaik di Ibu kota. Cekatan sekali Adi menggdendong Depika menuju bangsal IGD. Raut wajah Sharma seakan menunjukkan kecemasan mendalam. Padahal ia sering bolak balik mengantar puteri kecilnya selama di Mumbai.


"Kita akan melakulan observasi terlebih dahulu karena pasien selalu melakukan treatment di tempat kelahirannya. Kami juga harus mengetes golongan darah sang ayah. Jika cocok kita bisa langsung memulai transplantasi tulang sumsum untuk pasien."


Dokter ahli kanker menjelaskan keadaan Depika pada Adi dan Sharma. Sharma sebelumnya pernah datang untuk berkonsultasi.


"Buatkan jadwalnya besok dok. Sekarang saya harus pulang terlebig dulu." Adi melirik pada Sharma berharap mantan kekasihnya bisa mengerti posisi Adi sebagai seorang suami.


Sebelum pergi, Adi melakukan administrasi. Membayar seluruh biaya pengobatan Depika dengan jumlah deposito cukup besar.


Dengan cepat Adi melajukan mobilnya pulang ke rumah. Perasaan khawatir meliputinya sepanjang jalan, akankah Wulan marah atau bisa mengerti jika ia menjelaskan permasalahannya.


Adi masuk kamar yang sudah dimatikan lampunya oleh Wulan. Bagaimana tidak, sudah hampir pukul 12 malam. Wulan tengah berbaring memunggunginya, Adi duduk ditepi ranjang mengakibatkan Wulan terbangun.


"Maaf, , ," Lirih Adi seraya menggenggam tangan Wulan yang kini sudah duduk dihadapannya.


"Aku memiliki suami yang sibuk, aku bisa mengerti."


"Bukan itu, tapi atas semua kesalahanku dimasa lalu maupun nanti." Wulan menatap mata Adi penuh tanda tanya, mendadak suaminya menjadi sendu mengutarakan permintaan maaf.


"Kamu pasti lelah mas, sebaiknya segera tidur."


Kali ini saja Wulan membiarkan Adi. Ia tak ingin memaksanya bercerita mengenai masalah yang sepertinya sedang dialami Adi.


"Kamu tidur duluan saja, aku ingin ke kamar mandi."


Wulan mengangguk patuh lalu kembali kedalam selimut.

__ADS_1


Namun Wulan tidak langsung memejamkan matanya. Pikirannya jauh menerawang tentang dua hal. Yaitu bagaimana caranya bertanya pada Adi soal Sharma, disisi lain Wulan juga tidak ingin Adi mengetahui kondisi kesehatannya. Adi bukan orang sembarangan yang membiarkan istrinya luput dari pengawasan. Hal. Sekecil apapun Adi pasti akan dengan sangat mudah mendapatkan informasi.


Dret dret . . .


Ponsel milik Adi bergetar diatas nakas. Wulan bukannya tak sopan membacanya, ia berniat memberitahu Adi kalau dirinya mendapat pesan. Wulan terduduk tak jadi melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ia terperanga melihat sekilas isi pesan tersebut. Notifikasi dari bank tentang transaksi debit senilai 100 juta dilakukan satu jam yang lalu oleh sang suami.


Adi keluar sambil mengeringkan rambut basahnya. Ia mematung melihat Wulan memegangi ponsel miliknya. Terlihat kerutan dikening Wulan membuat Adi juga ikut heran. Tidak biasanya Wulan peduli urusan Adi yang lainnya.


"Kamu ngeluarin sebanyak ini buat siapa mas ?"


Belum ada jawaban dari Adi, Wulan beranjak dari atas tempat tidur menghampirinya.


"Siapa Sharma ? Kalian tadi ketemu kan, terus kasih uang kedia ?"


Tak terbendung lagi, kristal bening perlahan menetes melitasi pipi Wulan.


"Wulan aku bisa jelaskan semuanya, tenanglah."


Adi menggenggam bahu Wulan, dia mulai cemas karena nafasnya terdengar tidak teratur.


"Sharma memang mantan kekasihku, tapi kami tidak pernah melakukan hal apapun. Dia pergi begitu saja ke Mumbai bersama ibunya. Sharma belum siap menerima statusku sebagai seorang pengusaha."


"Lalu anak perempuan itu ? Jangan bilang dia , , ,"


"Wulan aku mohon kamu harus tarik nafas dalam dalam, kamu pucat sekarang."


Adi masih mencoba berusaha menenangkan Wulan.


"Keluar dari kamar ! Aku gak mau tidur sama kamu malam ini mas." Perintah Wulan mengalihkan pandangannya dari mata Adi. Adi masih mematung menunggu emosi istrinya mereda.


"Kalau begitu biar aku saja yang tidur diluar." Wulan melepaskan kungkungan Adi, ia meraih bantal juga selimut. Ketika ia hendak memutar handle pintu, Adi menahan lengannya.


"Oke, kita tidur terpisah hanya malam ini saja. Beri aku waktu buat pakai baju tidur."


Tidak ada bantahan dari Adi, artinya asumsi Wulan benar adanya kalau gadis kecil bersama Sharma memang darah daging Adi. Wulam menyeka air matanya kasar memunggungi kepergian Adi menuju kamar tamu. padahal baru saja Wulan berniat membina kembali rumah tangga mereka dengan kasih sayang yang tulus. Namun apadaya, lagi lagi hanya ujian datang silih berganti hadir dalam rumah tangganya.


"Jadi kalian punya anak ?"


Tanya Wulan sekali lagi pada Adi sebelum dia keluar.


"Kita bicara setelah kamu tenang Wulan."

__ADS_1


__ADS_2