
1.
Tidak terima mendapat perlakuan orang orang itu, Damar keluar untuk menghajar mereka.
Satu lawan bisa dikalahkan dengan mudah, giliran yang satunya Damar butuh tenaga ekstra.
Namun Wulan sudah berhasil ditarik oleh bodyguard yang bertugas menjaga rumah Adi, selagi Damar sibuk melawan.
"Wulan ! !"
Teriakan Damar keras sekali, sayang langkahnya ditahan kembali oleh kedua bodyguard tadi. Yang satu memeganginya, sementara rekannya memukul perut Damar hingga dia jatuh tersungkur.
"Damar . . Jangan sakiti dia aku mohon !"
Tubuhnya memberontak, terus berusaha menolak untuk masuk ke dalam mobil. Wulan merasa sakit ketika Damar terluka.
Kalah tenaga, akhirnya Wulan masuk mobil yang kini meninggalkan Damar sendirian di pinggir jalan.
"nona sudah aman, kami akan pulang sekarang."
Supir yang mengemudi melakukan panggilan untuk melapor pada Adi. Sementara Wulan diapit oleh dua pria berbadan besar dibelakang.
Menyeramkan, Adi benar benar melukai laki laki yang dekat dengannya. Geram sekali Wulan pada Adi, rasanya ingin mengamuk pada pria itu.
"aku ingin kamu jera Wulan, jangan mempermainkanku !"
Ketiga pengawalnya sudah berhasil membawa Wulan pulang secara paksa. Ternyata mereka mengintai setiap pergerakan Wulan.
Kini Adi mengajak Wulan duduk dan bicara diruang kerjanya, Eren juga ada didalam untuk berjaga takut bosnya kalap lagi.
"kapan saya mempermainkan anda ? Anda yang sudah merusak semuanya, berhenti melibatkan dia saya mohon. Dia tidak salah."
"cukup ! Sampai kapan kamu akan membelanya ? Itu yang tidak aku sukai Wulan. Tanda tangani ini, maka akan aku lepaskan dia."
Adi menyodorkan surat perjanjian pra nikah, agar pernikahan mereka nantinya sah secara hukum.
Haruskah berakhir seperti ini jalan hidupnya ? Wulan terpaksa akan menikah muda dengan pria yang tidak ia cintai. Disaat hatinya mulai mencintai Damar, cobaan langsung datang menghampirinya.
Kasihan, apa reaksi laki laki itu kalau tahu ditinggal nikah oleh kekasihnya.
Tapi semua demi ayah, dan keselamatan Damar. Wulan akan mencobanya, jika memang tidak bisa bertahan ia akan kabur jauh jauh dari kehidupan Adi dan Damar.
Wulan menandatangani surat dalam keadaan mati rasa. Maaf Damar, ia tidak berkutik untuk melawan Adi yang perkasa.
"siapkan segala kebutuhannya Eren, waktunya sesuai rencana awal."
Adi memberikan surat itu pada sekretarisnya untuk didaftatkan di KUA.
Brug . .
Tubuh Wulan terjatuh kelantai saat hendak bangkit dari sofa.
"sial !"
Gerutu Adi meraih tubuh Wulan untuk menggendongnya. Ini salahnya, tidak memberi makan Wulan. Ia lupa untuk menyuruh Eren membatalkan hukumannya karena Wulan sudah menurut semalam.
__ADS_1
"asam lambung nona Wulan naik, saya akan beri obat. Sepertinya dia mengalami stres."
Karena khawatir, Adi memanggil dokter pribadinya kerumah untuk memeriksa keadaan Wulan.
"dia memang sedang dalam tekanan, aku akan menjaganya. Terima kasih dokter Fery."
Adi menerima secarik kertas resep obat dari dokter yang juga salah satu temannya.
"aku selalu membuatmu menderita Wulan, maaf."
Baru sadar, setelah semua yang dia lakukan Adi tak tega melihat Wulan jatuh sakit.
"bodoh !
Kenapa kalian memukul tuan Damar dihadapan non Wulan ? Saya bilang jangan sampai menimbulkan keributan, apalagi melukai seseorang."
Adi memerintahkan Eren untuk menanyai pengawalnya, apa alasan Wulan sampai tumbang.
"seumur hidupnya, nona tidak pernah mengalami hal mengerikan."
Tak kalah dari Adi, Eren bisa lebih galak mengurus anak buahnya yang melakukan kesalahan.
Mereka hanya tertunduk menyesali pekerjaannya.
- " tolong jaga baik baik Wulan, aku tidak ingin dia terluka lahir maupun batin"
Bagas sempat menitipkan Wulan pada Eren, mereka saling mengenal satu sama lain.
"pasti mas, anakmu anakku juga. Kamu tahu, aku akan selalu menunggu kamu." -
Tidak bisa dipungkiri, Eren yang bercerai dengan suaminya karena tidak bisa hamil masih mengharapkan Bagas.
Apapun tentang kehidupan Bagas, Eren mengetahui segala informasinya.
Bahkan Eren yang menyarankannya untuk meminta bantuan pada bosnya. Malah begini buntutnya, ia sangat menyesali tindakannya.
Tengah malam Wulan terbangun karena lapar, kebanyakan tidur juga membuatnya terjaga.
Lampu menyala saat Wulan sibuk mencari sesuatu yang bisa dimakan dalam kulkas.
"kamu sedang apa ?"
Ternyata Adi juga merasakan hal yang sama, dia turun untuk mengisi perutnya. Dia ingin sekali tersenyum melihat Wulan seperti tikus kecil sedang mencari makanan.
"aku lapar, tidak ada yang bisa dimakan disini."
"kita cari makan diluar saja, ikut aku !"
Adi mengajak Wulan pergi keluar malam malam, tepatnya pukul 00.00 wib.
Tidak ada pilihan lain, Wulan menurut demi cacing diperutnya bisa diam.
Kali ini Adi menyetir mobil sedan mewahnya sendiri. Sengaja, ingin memiliki waktu berdua dengan Wulan.
Mobil Adi mulai keluar dari kompleks perumahan, menyusuri jalan untuk mencari tempat makan yang masih buka.
__ADS_1
"kamu mau makan apa ?" tanya Adi yang masih mencari menggunakan pandangannya.
"apa saja, terserah bapak."
Jawab Wulan singkat. Tidak jauh dari pintu masuk kompleks, Adi menemukan warung seafood. Dia memarkirkan mobilnya, mengajak Wulan turun.
"ikan bakar 1, cumi saos padang 1, kangkung cah 1, nasi 2 porsi minumnya teh. Ditunggu pesanannya pak,bu."
Pelayan laki laki itu mengulang kembali pesanan yang Adi pilih. Lalu pamit untuk menyiapkan pesanan.
"undang teman temanmu, aku ingin mereka tahu siapa suamimu."
Sambil menunggu, Adi memerintah Wulan untuk menuruti keinginannya.
"tidak perlu, mereka bukan temanku. Kecuali Eva dan laki laki yang bapak pukuli."
Apa, Damar dipukul ? Pantas saja Wulan sampai shock dan jatuh pingsan.
Kasihan Damar, dia pasti sakit. Jelas Adi akan mengundang dia, karena Damar anaknya.
Usai makan malam, mereka kembali kerumah. Wulan berjalan menaiki anak tangga, diikuti Adi dibelakang.
Diam diam Wulan melirik kearahnya. Wulan tahu Adi tulus padanya, tapi hati dan perasaannya sudah terlanjur untuk Damar. Ia juga tidak bisa menolak pernikahan ini, salahnya malah menerima Damar. Pada akhirnya Wulan akan menyakiti laki laki itu.
"ada apa ?"
"tidak ada. Jika nanti saya tidak bisa jadi istri yang baik buat bapak, bagaimana ?"
Wulan membalikan badannya, dia berdiri lebih tinggi satu anak tangga dari tempat Adi.
"bisa karena terbiasa Wulan, aku akan sabar membimbingmu."
Tanpa aba aba Adi memeluk perut Wulan, dia menenggelamkan kepalanya. Wangi sekali aroma tubuh calon istrinya, bagai candu baginya.
"aku sudah mengantuk."
Tidak nyaman, Wulan langsung melepaskan tangan Adi yang melingkar. Dia buru buru masuk kamar.
Dirumahnya, Damar sangat bingung tidak bisa menghubungi Wulan.
"kamu dimana, kenapa orang orang itu memaksa kamu ?"
Dia tengah meringis menahan perih pada bibirnya, mengoleskan obat merah untuk mengobati luka hasil berkelahi.
"halo, tolong carikan informasi seseorang. Detailnya akan saya kirim lewat email."
Damar menghubungi temannya yang berprofesi sebagai informan. Tekadnya sudah bulat untuk menyelidiki siapa investor yang membantu ayahnya Wulan.
-wah, ini butuh waktu lama Dam. Informasinya sangat rahasia, semua orang juga tahu itu. Tapi gue coba dulu ya ! Kasih gue waktu.-
"oke, secepatnya kasih saya kabar !"
Sial, kenapa sesulit ini.
Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku Wulan ? Kenapa kamu bisa setenang itu.
__ADS_1