
Wulan berangkat ke kampus dengan memesan ojek online. Baginya tidak masalah, meski terkadang ia benci harus menghadapi polusi udara.
Sejak diantar oleh ayahnya ke rumah pak Adi, Wulan tidak bisa menemukan keberadaan kunci mobilnya.
Mungkin saja pak Adi sudah menyitanya.
"neng, cantik cantik naik ojek saya. Apa gak takut mukanya kotor ?"
Driver ojol itu terkesima melihat kecantikan Wulan setelah maskernya dibuka.
"bisa aja bang, ini uangnya. Thanks loh sudah bawa saya dengan aman."
Wulan memberikan uang 20 ribu sekaligus mengembalikan helm milik driver.
"haha . . Sudah miskin ya sekarang ? Mobil mewah kemana, pasti buat bayar utang."
Pagi yang cerah, mendadak berubah mendung ketika Wulan mendengar sebuah hinaan seseorang.
"apa sebegitu pentingnya kehidupan gue, sampai loe sangat peduli ?"
Tampang Wulan sangat malas sekali meladeni orang yang menghalangi jalannya.
"idih pede sekali loe, gue cuma puas aja lihat loe yang belagu menderita begini . ."
Tawa jahat Dini memekik ditelinga Wulan, apa salahnya sehingga Dini selalu mengganggunya.
"capek gue dengerin ocehan loe, gak berfaedah."
Wulan berjalan melewati Dini dengan menghantam bahunya sengaja. Dia sudah sebaik mungkin menahan emosinya.
"sialan loe !"
Umpat Dini berteriak, tidak terima mendapat perlakuan dari Wulan.
"hi Lan, kenapa tuh muka loe di tekuk ?"
Eva menghampiri Wulan yang sedang duduk dikantin. Sekedar duduk menunggu mata kuliah dimulai, tanpa memesan apapun.
"Va, loe kenapa mau berteman sama gue ? Saat semua orang membenci gue ?"
Kadang Wulan juga heran, Eva selalu menempel padanya. Apa dia tidak masalah, bergaul dengan Wulan yang banyak musuh ?
"haha jadi loe mikirin gue ?"
Gelak tawa Eva membuat Wulan merinding, kenapa temannya sepercaya diri itu.
"nih gue kasih tahu ya sama loe ! Mereka benci sama loe karena iri, gak bisa seperti loe. Terus gue mau ngiriin apa sama loe ? Yang jelas jelas gue gak bisa kayak loe."
Benar apa yang dikatakan Eva, mungkin Eva tulus ingin menjadi teman Wulan. Kenapa dirinya masih saja ragu menerima kehadiran Eva.
"benar juga, thanks ya loe sudah mau jadi teman gue. Gue kira loe juga minder deket sama gue. ."
Eva hanya mengangkat kedua bahunya, tidak terlalu mempermasalahkan siapa Wulan. Yang penting Eva punya teman untuk mengobrol, atau sekedar mendengar ocehannya.
"gue balik duluan ya Lan, udah selesai nih mata kuliah."
Tidak lama mereka menghadiri mata kuliah, kini Eva dan Wulan berpisah dihalaman kampus.
"iya, hati hati loe ! Gue masih males pulang nih"
"eh ngomong ngomonng, tar gue maen ya ke rumah loe, hehe . ."
Mendengar permintaan Eva, Wulan menunjukkan sikap acuh tak menanggapinya.
Mana bisa Wulan mengajak Eva main kerumahnya, itu kan rumah pak Adi.
"aduh ribet, sana gih pulang !"
__ADS_1
Wulan mengalihkan pembicaraan, dia mendorong tubuh Eva dari belakang supaya cepat pergi dari hadapannya.
"ikut aku !"
Seorang laki laki menarik tangan Wulan tiba tiba. Dia tidak bisa menolak, hanya mengikuti langkah laki laki yang kini membawanya masuk kedalam sebuah mobil jeep.
"kita mau kemana Damar ?"
Damar belum menjawab, dia sibuk mengenakan sabuk pengaman lalu membantu Wulan memasangkannya juga.
Mesin mobil menyala, mobil Damar bergerak meninggalkan kampus.
"Aku tidak bisa tidur Wulan, kamu harus bertanggung jawab."
Damar masih memasang matanya memperhatikan jalan tanpa menoleh kearah Wulan.
Gadis itu kini terheran heran, apa salahnya sehingga Wulan harus bertanggung jawab.
"kamu ini aneh. lagipula kenapa tidak bisa tidur, apa aku sudah menghantui pikiranmu ?"
"ya, tepat sekali. Aku melihatmu menengok ke belakang saat didalam taxi, tatapanmu seperti meminta sebuah pertolongan."
Wulan yang tadinya berniat menggoda Damar, kini tertegun mendengar hasil penelitian Damar yang mempeehatikannya.
"aku masih bisa makan, tidur dan kuliah. Aku baik baik saja Damar."
Damar hanya diam, masih fokus mencari jalan untuk menghindari kemacetan kota Jakarta.
Setelah lebih dari 1 jam, mobil membawa Damar dan Wulan sampai ke sebuah tempat wisata.
Pantai, Damar membawa Wulan kesana. Dia ingin menghabiskan waktu bersama gadis yang sudah mencuri perhatiannya.
"dari sini, aku akan mengajakmu berjalan jalan Wulan."
Setelah mobil Damar parkir, dia mengajak Wulan menelusuri dermaga dipantai itu.
Ini memang bukan musim liburan, jadi tidak terlalu ramai pengunjung. Cocok untuk menenangkan pikiran, menurut Damar.
"terima kasih Damar."
Dari tadi Wulan selalu memandang jauh kearah laut lepas. Angin kencang berkali kali meniup rambut hitamnya.
"sama sama Wulan, aku senang kamu menyukainya."
Langkah Wulan terhenti, ada sesuatu yang ingin ia lakukan.
Tangannya menarik Damar untuk mendekat ke pagar penghalang, lalu Wulan mengeluarkan ponselnya dari tas.
"aku akan mengambil foto, berposelah sebagus mungkin."
Wulan terkekeh memerintah hal yang menurutnya konyol. Damar tidak protes, dia malah naik keatas pagar itu. Dia tertawa ketika Wulan dengan malu malu mulai mengarahkan kamera ponselnya.
"aku akan menyimpan ini, bagus sekali."
Wulan sangat puas dengan hasil jepretannya. Entah karena pemandangannya yang bagus, atau orang yang ada di foto itu sendiri.
"ganti pakaianmu Wulan, kita akan bermain air."
Kini Damar dan Wulan berada di outlet penyewaan. Mereka menyewa sebuah motor jetski, Damar selalu ingin melakukannya bersama perempuan yang ia sukai.
"tapi aku takut air Damar, aku tidak bisa berenang."
Kaki Wulan lemas, melangkah mundur secara refleks.
"tenanglah, ada life jacket Wulan. Ini safety, aku tidak akan membiarkanmu jatuh."
__ADS_1
Damar dibantu coach, memberi pengarahan agar Wulan yakin.
Akhirnya Wulan mau melakukannya, dia juga ingin melawan phobia air.
Dengan gagahnya, Damar melakukan pemanasan. Wulan berdiri dengan wajah yang mulai tegang, tangannya meremas jaket bagian sakunya.
"naik Wulan, kamu aman bersamaku."
Damar meminggirkan motor airnya, agar mempermudah Wulan naik.
Tangan Wulan dipegang petugas, agar tidak terjatuh.
"jangan ngebut, atau aku bisa mabuk laut."
Wulan memejamkan matanya, Damar menarik kedua tangan Wulan untuk memeluk pinggangnya.
Mesin sudah menyala, Damar menjalankannya dengan kecepatan sedang. Maju kedepan, hingga akhirnya Damar membelokkan stir dengan sengaja, sehingga pelukan Wulan semakin kencang.
Bibirnya menahan rasa takut, wajahnya juga basah terkena cipratan air laut.
Damar hanya menikmati pelukan Wulan, sesekali melepaskan kemudi untuk menggenggamnya.
Hanya beberapa menit saja, Wulan meminta Damar berhenti. Sesampainya didarat, Wulan langsung muntah muntah karena mabuk.
Damar sangat merasa bersalah, menyaksikan Wulan yang wajahnya memucat.
"maafkan aku Wulan, ini salahku."
Tangan Damar memijat tengkuk leher Wulan, mengoleskan minyak angin yang diberikan petugas.
"mmm, perutku kosong Damar. Aku hanya masuk angin."
Pantas saja, ini sudah lewat jam makan siang, perut Wulan hanya diisi sarapan tadi pagi.
"cepat ganti baju, kita makan siang supaya perut kamu baikan."
Wulan mengangguk, dia kembali ke loker untuk berganti pakaian. Begitupun Damar, dia melakukan transaksi pembayaran sebelum membersihkan badannya.
"thanks ya Damar, kamu sudah mengajakku jalan jalan seharian. Aku akan pulang naik taxi online."
Setelah menghabiskan waktu berdua di kafe romantis, layaknya pasangan kekasih Wulan berniat untuk pulang sendiri.
"aku yang antar Wulan, aku harus tahu dimana sekarang tempat tinggalmu."
Nada bicara Damar penuh memohon, sudah berapa kali Wulan menolak diantar pulang olehnya.
"please . .?"
Lagi lagi Wulan enggan menerima ajakan Damar. Dia masih belum siap memberitahu Damar tentang apa yang terjadi pada hidupnya.
"aku akan pesankan taxi, kamu tunggu sebentar."
Bukan taxi online, Damar menyetop taxi yang kosong disekitar parkiran. Dia juga memberi beberapa uang untuk membayar kargonya.
"masuklah, kabari aku kalau sudah sampai."
Damar membukakan pintu untuk Wulan, gadis itu tersenyum sebelum masuk kemobil.
Senja menemani kepergian Wulan yang telah dibuat gembira oleh Damar. Walau ada adegan mabuk laut dan phobia air.
sesampainya Wulan didepan pintu masuk, Eren sudah berdiri menunggunya sejak tadi.
Wulan tahu, pak Adi pasti sudah marah, ia pulang terlambat.
Wulan menghela nafas menyiapkan mental. tatapan Eren seolah berkata, cepat masuk dan minta maaf, bosku sudah menunggu lama.
benar saja, Wulan sudah melihat Pak Adi melotot kearahnya.
__ADS_1