Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Akhir untuk Awal


__ADS_3

Hai reders, maafkan Author yang amatir ini jangan dibuli ya....


Maaf typo typo masih bertebaran🙏


.


.


.


.


.


Orang bilang cinta pertama adalah kisah yang sulit dilupakan. Apalagi cinta yang selalu diuji karena semakin diuji cinta semakin kuat.


Kisah kita dimulai dari olimpiade olahraga provinsi. Kami bertemu disini. Masih ada 3 detik sebelum kami bertemu.


*Satu


Dua


Tiga*


 


"Aaauuuwww, kakiku."


Seorang gadis yang memegang pergelangan kakinya. Gadis itu mendongak melihat sesosok yang di hadapannya. Satu kata, Terkesima.


"Ck"


Sesosok itu mengulurkan tangannya kehadapan gadis itu, sontak ia meraih tangan sosok dihadapannya.


Tanpa mereka sadari pandangan mereka bertemu. Gadis itu menatap memuja sedangkan sosok dihadapnnya hanya menatap dengan tatapan meremehkan.


"Thanks."


"Hmmm"


Sosok itu menghilang dari hadapan gadis berkucir kuda. Gadis tersebut mengeluarkan handphone dari ranselnya. Gadis itu mencoba mempotret sosok yang menabraknya, walaupun hanya bagian belakang sosok tersebut.


"Bintang!"


Gadis itu menoleh sebab ada yang memanggil namnya. Sosok pria yang bisa dianggap lumayan tampan, dia patner gadis itu di olimpiade ini.


"Kasta, ada apa?"


"Lo dicari pak Rahmat."


"Oh ya udah, ayo."


Gadis itu mulai menghilang dari tempat bertemu sosok yang akan mengisi harinya di masa depan. Gadis itu menoleh kearah belakang mencari keberadaan sosok yang menjadi cinta pertamanya namun hasilnya nihil.


***


Disinilah Bintang berada. Diarea lari jarak pendek. Bintang sangat terkenal di arena ini karena dia belum pernah kalah di lomba ini. Mungkin sekarang dia tidak yakin dia akan menang.


Bintang memandang kakinya sejenak masih ada jahitan di betisnya. Bintang harus menelan pahit yang menyelimuti dirinya hanya demi menolong seseorang kakinya harus dijahit.


"Bi!"


"Hmm."


"Lo yakin sama keputusan lo?"


Bintang tangan Kasta dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Ini semua mimpi bintang dari lama, Bintang masih kuat dengan keadaan bintang yang sekarang jadi Kasta nggak usah khawatir."


"Gue percaya sama lo. Lo kan spesies langka harusnya lo ada di penangkaran bukan di arena lari. Hehehe." Balas Kasta.


Bintang memanyunkan bibirnya tanda dia marah.


"Jadi Kasta samain Bintang sama binatang."


Bintang pura pura merajuk, dia menghempaskan tangan Kasta dan membelakangi Kasta.


"Nona manis gue cuma bercanda masa lo marah." Bujuk Kasta. Kasta membalikan tubuh Bintang. Sudah diduga Bintang tengah tersenyum menahan tawa.


"Hahaha. Mana mungkin Bintang marah sama Kasta."


"Dasar."


"Dasar apa dasar undang undang?"


"Dasar bintang kw."


"Mana ada Bintang kw yang ini asli kok kalau nggak percaya liat aja di akta kelahiran aku."


"Iya iya gue percaya. Sana siap-siap dulu. Bye Bintang gue."


Kasta membelai rambut Bintang dengan lembut. Rasanya Bintang selalu nyaman jika bersama Kasta seperti ada kakak yang selalu menyayanginya


Setelah Kasta menghilang, Bintang pergi ketoilet. Dia mencuci muka untuk menghilangkan gugup yang melandanya. Bintang memandang pantulan wajahnya yang sangat mirip dengan ibunya.


"Bintang harus kuat demi ayah."


"Whit whit ada sang juara disini."


Bintang menyipitkan matanya. Dia mengenali orang yang dihadapannya, dia adalah orang yang selalu Bintang kalahkan di acara olimpiade. Sebenarnya dia juara 3 tapi dia selalu ingin jadi yang pertama menggunakan segala cara.


"Dila kamu ngapain?"


Dila tersenyum menyerigai. Dila bisa dibilang nekat dalam segala hal dia bahkan rela menyelakai seseorang menghalangi jalannya.


Brak


Dila mendorong Bintang dengan keras. Tanpa disadari betis Bintang mengenai paku mungkin akan terasa sakit nantinya.


"Dila kamu ngapain? Kamu mau nyelakain aku lagi."


Sebenarnya kejadian ini pernah terjadi 2 tahun lalu, Dila mendorong Bintang hingga Bintang jatuh dari tangga. Namun kejadian ini berbeda karena kali ini Bintang tengah terluka mungkin 2 tahun lalu tidak ada artinya namun kali ini berbeda.


"STOP!"


Bintang mendongak melihat siapa yang datang. Bintang sangat mengenal dia siapa. Dia adalah peserta lomba yang pernah menolong Bintang 2 tahun lalu, Sarah.


"Dila lo nggak ada kapok kapoknya lo udah di diskualifikasi 2 tahun lalu, tapi lo masih aja berbuat curang. Mungkin lo sepupu gue tapi kalau lo masih aja nyelakain dia lo akan tau apa akibatnya."


Sarah mencoba meraih Bintang dan membantu Bintang berdiri. Dara pergi dengan menghentak hentakan kakinya. Bintang tersenyum menyerigai senang rasanya dia kembali ditolong oleh Sarah gadis cantik dan baik hati yang menolongnya 2 tahun lalu.


"Makasih, lagi lagi kamu mau nolong aku."


"Harusnya gue minta maaf karena kelakuan sepupu gue."


"Kan yang salah sepupu kamu bukan kamu. It's oke."


"Kalau begitu gue pamit."


Sarah pergi meninggalkan Bintang sendirian. Rasanya Bintang akan selalu ingat apa yang dilakukan oleh Sarah.


Bintang mencoba untuk berlari kecil sebab nomer pesertanya sudah dipanggil. Bintang merasakan perih dibetisnya namun dia tidak melihat ada darah yang menetes begitu deras dibalik celana traning panjangnya.


Bintang berada diarena lari. Bintang tidak sadar jika sepanjang jalan betisnya terus mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Kalian sudah siap." Seru wasit dihadapan peserta lari jarak pendek.


Semua peserta mengangguki perkataan wasit. Ini adalah salah satu dimana Bintang selalu menang namun mungkin itu sekedar masa lalu untunya sekarang.


"Bersedia, siap, ya..."


Suara tembakan terdengar nyaring oleh seluruh orang yang berada di stadion yang menjadi tempat olimpiade. Bintang lari dengan sekuat tenaga, ia mengeluarkan seluruh kemampuannya. Hingga saat titik terakhir kepalanya kunang kunang, badan Bintang lemas dan napasnya tidak teratur.


Bruk


Bintang jatuh pingsan di detik detik terakhir. Semua orang masih belum menyudahi perlombaan ini. Bintang masih terkapar di arena sampai pemenang melewati garis finish baru saja ada yang menangkat tubuh Bintang.


***


Bintang kembali sadar setelah 2 jam pingsan. Ia menatap sekelilingnya, Bintang mencoba mengingat kejadian sebelum ia pingsan.


Bintang menangis ketika mengingat bahwa dirinya kalah di detik detik terakhir. Bintang menyibak kakinya nampak jahitan di kakinya bertambah. Bintang memukul mukul kakinya.


"Hiks hiks bunda liat sekarang Bintang kalah. Bintang nggak bisa jadi Bintang buat bunda hiks hiks."


Bintang masih menangisi keadaan dia benci ketika dia menangis karena ketika menangis dia akan menjadi lemah. Bukan hanya itu Bintang benci karena dia kalah untuk pertama kali.


"Ekhemm."


Bintang mendongak, selang beberapa detik ia kembali memukul betisnya kasar. Tangisnya makin brutal, Bintang menyibak selang infus dengan kasar.


"Lo gila." Seru sosok dihadapan Bintang.


Darah kembali menetes seakan wajah milik Bintang yang pucat pasi belum cukup untuk Bintang. Bintang semakin histeris, Bintang mencoba untuk berdiri tapi hasilnya nihil dia malah jatuh tersungkur.


Sosok dihadapan Bintang mencoba meraih Bintang yang masih histeris. Dia menangkup wajah Bintang yang masih menangis. Ia menghapus air mata milik Bintang, dia memeluk Bintang.


"Hiks kamu siapa? Kamu pergi dari sini aku benci sama diri aku!"


Bintang memukul dada sosok dihadapannya. Bintang jatuh pingsan kembali.


❄❄❄


1 hari kemudian......


Bintang memejapkan matanya perlahan. Bintang memandang sekelilingnya secara perlahan. Bintang mengenali siapa yang dihadapannya.


"Ayah hiks Bintang kalah. Bintang nggak bisa menjadi Bintang buat ayah sama bunda hiks hiks."


Bintang menangis kembali seakan air matanya tak akan habis dimakan waktu. Ayah hanya memeluk Bintang dan membelai rambut Bintang lembut.


"Bintang tetep jadi bintang yang bersinar buat ayah dan bunda."


"Tapi Ayah..." Bintang melepaskan pelukkannya dia mengusap air mata Ayah.


"Bintang mau berhenti olahraga, Bintang nggak mau ayah kecewa."


"Ayah terserah kamu aja, sayang."


Ayah berharap ini sementara sayang.


.


.


.


.


.


Manusia tempat salah dan lupa...

__ADS_1


Reders yang baik jadi kita kerjasama kalian boleh kok beri Author kritik dan saran tapi jangan dengan bahasa yang kasar ya...


Bye bye Reders❤


__ADS_2