
Hai maaf Author berubah haluan. Jadi maafin kalau nantinya bakalan ambruladul. Ya niatnya Author mau bikin sesuatu yang berbeda disetiap cerita yang Author akan buat. The is my dreams. Jangan lupa vote,like and coment.
Dukungan kalian adalah semangat Author.
.
.
.
.
.
Bintang berlari dengan kencang. Paginya sangat rusak, entah semalam dia mimpi apa. Hanya ketenangan yang bisa membuat Bintang lebih baik. Hatinya hancur ketika orang yang iri membawa orang tua yang dia cintai. Bintang hanya menangis dalam diam.
Bintang akan marah jika ada yang menyenggol ataupun menyinggung jika dia marah. Maka dari itu Mika sangat mewanti wanti agar Aran memberi waktu Bintang untuk sendiri. Baru jika dia agak tenang mereka bisa menghibur Bintang.
Rasanya Bintang butuh pelampiasan. Dia butuh menumpahkan rasa kesal, kecewa, sedih yang berkecamuk dalam hati kecilnya. Disepanjang jalan masih ada yang menggunjing dirinya tapi dia tidak peduli. Jika mereka lelah akan berhenti sendiri. Namun bukan dia tak memasukkan dalam hati. Jangan tanya mereka bisa berbicara dengan beberapa detik namun bisa mengingat beberapa menit, jam, hari, bulan ataupun tahunan.
Bintang berlari menuju rooftof tempat yang tidak terlarang bagi seluruh murid tapi Bintang tak perduli. Bintang berlari melewati demi satu per satu anak tangga.
Sampai di rooftof Bintang berteriak membuang segala kegundahan hatinya. Bintang mengira tak ada yang mendengar jadi baik baik saja jika dia berteriak sekencang mungkin.
"Tuhan jika bi bukan manusia yang baik. Hukum bi aja jangan bawa orang tua bi. Biar mereka bertanggung jawab atas yang mereka lalukan bukan apa yang bi lakukan. Bi mohon tuhan, bi hanya ingin mereka bahagia, jika bi menderita bi nggak perduli selagi mereka ada bi akan baik baik aja. Kasihan ayah udah tua!!!"
"Tuhan, mulut Dila kurang ajar kalau bisa bi minta mulut dia disumpel sama sendal swlao* aja bi ikhlas. Kalau nggak buat dia nangis kalau motong bawang dan bikin mulutnya jedor digigit semut."
"Tuhan bi bingung mau gimana lagi. Bi tahu semakin tinggi pohon akan semakin kecang angin menerpa. Tapi pohon bi tumbang. Kenapa mereka masih aja ganggu bi. Selama ini bi udah nyaman sama kehidupan bi,menganggumi semua ciptaanmu. Sekarang sudah cukup kapan kapan lagi bi curhat."
Bintang membalikan matanya. Nampak Langit, Gibran, Khatilulistiwa, Putra, Mika dan Aran menatap Bintang dengan serius. Bintang hanya tersenyum kikuk sedangkan sepasang kembar palsu hanya menyembunyikan senyum jahilnya.
"Udah teriak teriaknya?" Tanya Langit. Langit memberikan botol aqua yang di genggam kepada Bintang. Bintang hanya mengambil dengan canggung. Kok jadi canggung....
__ADS_1
Mika dan Aran langsung berhambur ke pelukan Bintang. Bintang yang belum selesai minum langsung tetsedak. Mika hanya menyengir kuda dan Aran hanya cengengesan.
"Maaf bi gue nggak bantuin lo, padahal gue mau jambak tu nenek gombreng. Gara gara Mika nih katanya lo nggak suka di kasihanin padahal gue mau nolong aja." Aran memandang Mika dengan sinis. Mika hanya memasang wajah tanpa dosa.
"Mana ada orang yang mau dikasihanin?" Timpal Bintang sembari meminun aqua hingga habis. Tenggorokan yang kering langsung hilang sudah. Legaa...
"Ada ini si Putra suka dikasihan." Khatulistiwa hanya bercanda tujuannya sih buat membuat Bintang tetsenyum. Bintang memang menaggapinya dengan wajah datar.
"Garing bro..." Timpal Gibran yang berada di sebelah kembaran manusia somplak.
"Bodo amat juna."
"Jangan bawa bokap gue!!!"
Gibran merusak jambul milik Khatulistiwa yang sangat dijasa sang empunya. Merasa benda keramatnya terusik Khatulistiwa membalasnya dengan menonyor kepala Gibran dengan keras yang membuat Gibran terhuyung kebelakang dan menipa Putra. Gibran menarik tangan Khatulistiwa jadilah kecelakaan beruntun.
"Woii bambang berat." Sewot Putra. Niatnya yang akan fakum berbicara satu hari gagal sudah.
"Ini si anak tua nimpa gue mana badan dia paling gede." Gerutu Gibran sembari mendorong Khatulistiwa agar tersingkir dari badannya.
Mika, Aran dan Bintang yang menyaksikan tingkah konyol Langit and the gengs hanya tertawa lepas. Emosi Bintang mulai membaik senyumnya kembali terpasang indah dibibirnya.
❄❄❄
Bintang yang tidak tahan ingin membuang hajat langsung saja Bintang berlari menuju ke toilet. Setelah menuntaskan hajat, Bintang langsung keluar. Wajahnya menyiratkan kalegaal yang maksimal.
Sebelum keluar Bintang mencuci tangan di westafel. Disebal Bintang ada Sarah yang sedang tersenyum dengan tulus.
"Bi gue denger lo berani ngelawan Dila?"
"Ohh Sarah gue nggak suka aja kalau ada yang ngehina ortu gue. Tanpa mereka kan gue nggak ada dan nggak bisa bernapas."
"Lo beruntung bi."
__ADS_1
Dahi Bintang mengkerut, dia tak mengerti apa yang diucapkan oleh Sarah. Menurut Bintang kehidupan Sarah tak pernah terdapat masalah.
"Maksudnya?"
"Gue nggak pernah merasakan apa yang namanya cinta. Hidup gue hanya bergantung oleh nenek sama kakek gue. Mereka mendidik gue dengan keras sebab gue lahir tanpa ada restu mereka untuk kedua orang tua gue. Mereka meninggal karena kecelakaan tragis dan penyebabnya keluarga Dila, mereka iri karena semua harta mereka di ahli wariskan ke ayah gue yang notabennya anak pertama. Terkadang gue bertanya apa sih cinta?"
Bintang terperangah tak tahu jika nasibnya semenyedihkan Sarah. Dia lebih dan lebih beruntung dari pada Sarah.
"Menurut gue cinta itu pengorbanan dimana kita akan merasa terikat tapi kalau kita berlebihan, bisa membunuh kita karena cinta itu virus. Semua ada batasannya selagi kita nyaman kita akan bahagia tapi jangan sampai terobsesi kalau kita terobsesi kita akan kehilangan tumpuan hidup kita. Itu sih menurut pandangan gue."
"Semua orang punya pandangan tentang apa itu cinta. Tapi menurut gue bi, cinta hanya membuat kita terikat. Rasa sakit akan terus bertambah diringi rasa cinta yang berkembang."
"Cinta emang tragis, sa. Nggak ada cinta yang sempurna semua akan mendapatkan cobaan masing masing."
"Jangan pernah membanding bandingkan hidup."
"Gue harap lo akan terus menjadi kakak gue, sa. Lo baik, bijak, dan dewasa. Nggak kayak gue ceroboh."
"Lo bisa aja bi."
Bintang memeluk Sarah. Tak menyangka jika semua yang dialami oleh Sarah sangatlah berat. Hidup Bintang masih jauh lebih baik dari pada hidup seorang Sarah sang juara olim tingkat SMA.
Bintang mengelus punggung Sarah. Bintang melihat sosok yang sangat tegar di hadapannya. Mungkin Sarah bisa menunjukan bahwa dia baik baik saja walaupun sebenarnya dia terluka sangat dalam.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Wahhh ternyata hidup Sarah miris ya reders😥
Kalau Author jadi Sarah udah kabur kabur dah dari pada nelen pil pahit kehidupan kayak gitu.😬