
H**ai reders author kembali lagi
Jangan lupa vote, like and coment*.
.
.
.
.
.
Bintang merasa senang tahap pertama dari beberapa ivent tim mutiara tersembunyi bisa menang. Ada rasa bangga sendiri yang menggelitik perut, apalagi jika ada yang memujinya membuat dirinya seperti kembali ke masa lalu. Bukan hanya bangga karena hanya dia yang sebagai captain girls* tapi juga karena dia bisa menang dari raja olah raga SMA STAR.
Ivent yang di adakan kali ini hanya dua sebab ivent ini terbilang dadakan dan harus diringkas sebab ada masalah teknis yang mengabarkan hari ini akan turun hujan yang sangat lebat. Senyum Bintang seakan runtuh hari yang dia bayangkan akan sangat panjang dengan sorakan namanya yang menggema akan kandas. Jadi gagal mau pansos...
Ivent yang kedua atau yang terakhir adalah lari jarak pendek. Yang akan menjadi wakil putra adalah Kasta sedangkan perempuan adalah sang captain girls. Bintang mencoba menata hatinya agar dia bisa tetap tenang menghadapi perlombaan ini.
"Bi kali ini gue yakin lo akan menang!" Mika berseru dengan kencang. Aran merasa malu karena dia menjadi tontonan oleh siswa siswi lain.
"Jangan pernah ngeremehin lawan itu akan menjadi boomerang bagi dirimu sendiri!" Bintang membalas dengan santai. Ia kembali memfokuskan ke layar handphone ia sedang melaksanakan ritual menskroll akun para biasnya.
"Asikk." Aran membakasnya dengan cengiran kuda miliknya.
"Bisa juga lo dewasa!" Ketus Mika. Mika sangat paham dengan seluruh kebiasaan Bintang dari yang polos terus kesifat yang ngeselin abis ada juga jailnya ada juga yang labil sampai ke dewasa juga dia sudah tau.
"Iya dong, Bintang anak ayah presiden praperbuncitan."
"Iya in aja ran takut dianya nangis."
"Heh Mika anak bapak Mahmud apakah kamu tau saya ini sudah dewasa lihat badan anda udah kurus pendek. Banyakin makan 4 sehat 5 sempurna!" Ledek Bintang. Dalam hati dia bersorak tapi dia sedang memasang muka yang cool.
"*** lo bi!"
"Aran apakah ucapan saya salah?"
"Nggak sih bi..." Jawab Aran canggung. Dia seperti terjebak dengan kedua manusia yang aneh dan membingungkan. Dia yang agak pendiam hanya mengangguk pasrah.
"Udah udah sana pergi kelapangan lagi!" Usir Mika. Mika jengah dengan arah pembicaraan mereka yang menghina fisik imutnya itu.
❄❄❄
Bintang akan tanding sebentar lagi. Kasta yang sudah menerima kekalahannya dengan lapang dada karena di kalahkan oleh sang raja olahraga SMA STAR membuat rasa khawatir kembali menyeruak di dalam dada. Mungkin jika emosi dan ketakutan sedikit mereda dan ada tumpuan untuk dia melupakan rasa khawatir akan membuat dia tidak merasakan keringat dingin.
Bintang menghampiri seluruh anggotanya. Dia akan menguatkan timnya agar mereka lapang dada jika mendapatkan kemungkinan yang terburuk. Hembusan napas gusar sekan menari nari mengolok olok dirinya yang sangat pengecut.
__ADS_1
"Kali ini gue minta jika nanti gue kalah tolong jangan ganggu gue, gue butuh waktu buat ngehilangin rasa kecewa gue!" Bintang merasa pasrah ada hawa yang membuat dirinya akan merasa sesuatu buruk akan terjadi.
"Bi seharusnya lo yakin sama kemampuan lo. Lo pasti bisa!" Kasta seakan tidak setuju jika Bintang hanya pasrah dengan keadaan.
"Nggak semudah itu kas!" Bintang memandang lukanya yang masih membekas.
"Bi, lo jangan takut dengan 1 kekalahan, lo itu kuat. Lo yakin sama semua kenangan kemenangan lo!"
"Kas kalau gue bisa udah gue lakuin tapi gue nggak bisa!"
"Udahlah kas lo jangan nambahin apapun biar bi lakuin apapun yang dia anggap benar!" Mika menengahi semua argumen.
Bintang menutup matanya dengan gusar. Dia harus semangat.
Seseorang menarik sudut bibirnya rencana yang dia susun akan membuat tujuannya tercapai dengan mulus. Tak tik yang membuat seseorang akan mengalami titik terendah kembali.
Bintang kembali ke arena, dimana dia akan memperoleh kemenangan ataupun kekalahan. Suasana hatinya semakin galau.
Titik terendahnya adalah jika dirinya merasa tidak ada yang mendukungnya baik secara fisik maupun mentalnya yang saat ini sangat lemah.
Bintang memulai langkah dengan gontai. Dia bersiap untuk lari, Sarah melihat Bintang yang namapak pesimis hanya menarik napas berat.
*Bersedia
Siap
Suara tembakan menggema di seluruh penjuru lapanga. Bintang memuali lari dengan cepat. Sesekali dia melihat lawannya masih tertinggal jauh. Kepercayaan diri menghilang entah kenapa dirinya merasa jika ada sesuatu yang nenancap di sepatunya. Kakinya terasa sakit jika dia berpijak. Langkah kakinya yang semula cepat kian melambat. Hatinya menjerit sakit. Dia tidak mau kalah lagi, dia harus menjaga apa yang orang lain harapkan.
Semakin dia berpijak semakin tertusuk kedalam, entah dirinya tidak tahu benda apa itu tapi yang dia tahu ini adalah benda tajam yang bisa menggores kulit. Raut wajah Bintang semakin terlihat kesakitan semua orang masih tidak memperhatikannya mereka masih asik memperhatikan pertandingan.
Garis finish didepan mata tapi mengapa seakan jarak membentang jauh. Rasa sakit terus menusuk kaki sebelah kanannya. Sarah yang makin dekat membuat Bintang semakin khawatir. Seakan kakinya tak mau mengikuti arahannya, dia menseret kakinya. Barukah semua orang tau jika ada yang salah dengan kaki Bintang.
Bintang terus menyeret kakinya, finish akan dilewati dia menutup matanya. Cairan bening terus mengakir dipelupuk matanya, apakah dia akan mengalami de javu?. Suasana lapangan seketika hening, Bintang mencoba membuka matanya. Seakan semua usahanya sia sia.
"Pemenangnya adalah Sarah!"
Hati Bintang sakit apalagi kekalahan kedua tengah dialaminya. Hal yang paling dia benci menangis dan kalah. Bintang berlari menuju rooftof, semua anggota ingin menghampiri captain girls namun Mika mencegah mereka.
Bintang terus berjalan dengan tertatih. Rasa perih yang menghantam seakan menjadi iringan sakit yang dia rasakan.
"Tuhan kenapa kamu jahat sama bi? Bi benci nangis dan kalah tapi apa ini? Apakah bi nggak pantes untuk itu semua?"
"Hiks Bunda maafin bi lagi lagi nggak bisa jadi bintang buat bunda. Bi lemah ayah, apakah bi sekarang harus lompat dari sini?"
Bintang melepas kedua sepatunya. Senyum hambar terpasang diwajah polosnya. Darah yang begitu banyak di dalam sepatu hanya sekian dari bukti rasa sakitnya. Air mata yang sangat dia benci keluar tanpa izin dengan begitu deras.
"Bi..."
__ADS_1
Sosok Sarah muncul dari pintu rooftof. Dengan cepat Bintang menghapus kasar air matanya. Tapi Sarah masih bisa menyimpulkan jika Bintang habis menangis, matanya sembab, hidungnya merah.
"Bi gue tahu perasaan lo!"
"Bi lo boleh mengekspresikan kesedihan lo jangan pernah simpan air mata. Lebih baik kita mengeluarkan air mata sebelum semuanya hanya menjadi penyesalan."
"Sarah gue mohon lo jangan disini!" Ucap Bintang dingin.
"Bi gue disini..."
"Maaf Sarah gue butuh waktu."
"Bi!.."
Sarah hendak memegang bahu Bintang tapi Bintang menepis dengan keras. Ini salah satu alasan jika dia sedang marah atau sedih dia akan menyakiti orang lain. Sarah terhuyung hingga jatuh. Bintang hendak menolong Sarah namun tangannya ditepis seseorang.
"Jika lo nggak terima kalah, jangan pernah ikut lomba. Jangan jadi pengecut yang menyakiti lawan lo. Dan jangan mengatasnamakan metal lo ataupun apalah kalau lo kalah, kalah aja!"
"Tapi Langit..." Sosok dihadapan Bintang adalah laki laki yang dia sukai dan akan dia cintai.
"Dan lo jangan berharap jika gue akan suka sama lo karena selain lo murahan lo juga perempuan licik."
Seakan ribuan jarum menusuk hati Bintang. Jika orang lain yang mengatakan itu tidaklah masalah namun jika orang yang dia cintai terasa sakit. Sarah mencoba untuk menjelaskan tapi pandangan Bintang seakan menegasakan jika itu tidaklah berguna.
"Haha. Lo bener Langit apasih definisi suka? Hanya rasa penyesalan yang menyeruak dengan kedok rasa nyaman dan aman, hanya omong kosong dan sampah. Itu kan yang lo maksud. Jika gue jelasin lo akan percaya mata dari pada otak. Percuma Langit, penyesalan gue adalah kenapa gue bisa suka sama manusia kayak lo."
"Li bener gue licik, gue selalu beralasan mental. Apa lo tau bagaimana rasanya? Lo beruntung lo nggak kaya gue. Gue kehilangan semua mulai dari bunda, harta, dan gue kehilangan bakat gue apa gue salah kalau gue punya keterbelakangan mental?"
Senyum yang tak pernah luntur hanya menyisakan senyuman rasa sakit. Bintang pergi daripada rasa sakit itu bertambah sakit.
"Langit lo apain bi? Lo nggak tau apapun!" Sarah memukul dada Langit dengan kencang.
Langit masih terpaku apa yang dia lihat tadi. Darah. Begitu banyak darah yang dia lihat setelah Bintang pergi dari tempat dia berdiri.
Apa yang gue lakukan?
.
.
.
.
.
Author nggak tau Langit. Jangan kaya gitu dong nanti bi nggak suka lagi.Wkwk
__ADS_1