Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Kecupan?


__ADS_3

Hai Reders, apa kabar? Tetap semangat jalani hari yang berat, Author akan siap jadi tempat curhat kalian. Jangan lupa vote, like, and coment.


.


.


.


.


.


"Aduh Mika gimana ini? Gue belum ada persiapan! Kok malah jadi captain!" Bintang nampak frustasi dengan keputusan ketua kelas mereka, mau menolak tapi tatapan anak anak seperti mau membunuh, dasar nasib.


"Bintang! dengerin gue yakin sama kemampuan lo dan yakin lo pasti bisa. Kalah atau menang itu urusan belakangan, yang penting kita udah berusaha." Mika membalikan tubuh sahabatnya yang tengah dirundung kegelisahan, diusaplah bahu Bintang.


"Iya mik.... gue tahu tapikan...."


"Sssttttt lo kalau masih ada tapi itu belum IYAAAA!"


"Iya iya!"


"Salah lagi, harusnya enggak!"


"Oke oke enggak!"


"Nggak ada oke oke."


"ENGGAK! Puas lo?"


"51% lah. "


Bintang menggandeng tangan Mika erat. Mereka berdua berjalan dengan santainya ke kantin sekolah. Bintang menoleh ke kanan, ke kiri, bola matanya terus memutar mutar. Setelah olahraga bola mata Bintang menemukan Aran yang sedang makan sendirian, mereka berdua memutuskan akan menghampiri Aran.


"Aran!" Seru Bintang.


"Ohhh kalian? Gue kira kalian nggak mau ke kantin." Mika masih dengan gaya santainya meminum es teh.


"Itu gara gara si Kasta nyebelin. Ngapain sih harus musyawarah tanpa musyawarah aja kita bisa mutusin. Lagian isi musyawarahnya juga sama aja nggak ada yang berbobot." Mika mengeluarkan unek uneknya sambil mencomot cireng milik Aran.


"Iya kan jadinya gue yang jadi captain cewek. Kan sebel jadinya." Bintang menangis bawang. Aran hanya mengelus punggung Bintang untuk menenangkannya.


"Yaelah bi tinggal pakai badan lo aja nggak usah di bawa pikiran takut otak lo kesleo." Ketus Mika. Gadis berkacamata bulat itu juga mengkucir kuda rambutnya.


"Mika kok lo jadi sewot gitu? Datang bulan?" bisik Aran. Mika hanya mengangguk setuju.


"Pantesan lo kaya harimau tua aja. Hehehe." Timpal Aran. Mika hanya membalas dengan mencubit keras perut Aran hingga sang empu meringis kesakitan.


"Kalian ngomong apa sih?" Bintang polos. Mereka berdua langsung menggelengkan kepalanya.


"Haishh kalian pesen makanan aja, gue kasihan liat si Mika kurus kering tak berisi." Aran tersenyum meledek kearah Mika. Mika langsung bedmood.


"Bener tuh si Mika kaya fosil hidup aja." Bintang menimpali perkataan Aran. Mika yang makin bedmood hanya mendekus kesal.

__ADS_1


"Enak aja tubuh gue itu ideal apa kaya kalian, gentong air."


"Aran si Mika katain kita gentong lah bu kokom apaan masa dia jadi manusia toren." Bu kokom adalah ibu kantin yang berbadan besar.


"Hus nggak boleh gitu bi, iri bilang bos!" Aran menatap Mika dengan tatapan menyepelekan.


Mika hanya mendekus kesal, lagi lagi masalah tubuh. Tinggi yang nggak seberapa ditambah badan yang kurus kering sering di jadikan bahan candaan.


❄❄❄


4 hour later.....


"Langit ayo ke mall, sepatu olah raga gue jebol. Ayo beli yang baru." Bintang merengek layaknya anak kecil yang meminta permen kepada sang ayah. Di tarik tariklah lengan kekar milik Langit. Langit hanya menghembuskan napasnya gusar.


"Emangnya kanapa sepatu lo jebol?"


"Ihhh Langit mana gue tau dicemilin kali sama mas mas tikus. Ayo Langit besok kan mau diadain ivent, lo nggak kasihan apa sama gue yang pahit ini?"


Langit melepaskan tarikan Bintang di lengan kekarnya. Bintang memasang pupil eyes, wajahnya di buat sesendu mungkin agar Langit menyetujuinya.


"Males!"


"Huhu ayah Langit nggak mau nepatin janji. Huhu." Bintang memasang wajah sendunya. Sesekali dia menoleh ke arah lain dia tersenyum jahat.


"Langit ayo ke mall."


"Hmmm."


Mall....


"Ayo Langit ayo, ke toko yang disana." Bintang menarik tarik tangan Langit dengan riang. Senyumnya terus mengembang. Langit hanya menatap tajam anak anak yang menandangnya dengan tatapan meledek. Anak anak yang meledek langsung diam mematung mendapatkan pelototan dari Langit. Dasar bocah...


"Langit ada ice cream, Langit mau!" Bintang mengedip kedipkan matanya. Langit hanya menatap Bintang dengan malas dan akhirnya dia mengangguk kepalanya.


"Yey Langit paling baik deh."


Bintang membeli ice cream rasa coklat, vanila, dan steawbery. Langit hanya menatap dengan jengah. Dasar cewek rakus...


"Bi lo nggak salah?"


"Lo mau Langit?" Bintang menyodorkan ice cream ke mulut Langit. Langit pasrah dan membuka mulutnya. Langit terpaksa menelan ice cream.


"Langit ayo ke toko sepatu!" Bintang menarik tangan Langit lagi. Langit hanya pasrah lagi. Bintang dengan semangat memasuki toko incarannya yang sedang mengadakan diskon sebesar - besaran.


"Langit ada promo, apa syaratnya harus manah sama pasangan? Mana bisa udah nggak bisa manah nggak punya pasangan lagi." Bintang memandang Langit dengan penuh harap. Langit yang merasa bahaya muncul, dia ingin kabur dari pandangan Bintang.


"Langit ayo ambil promonya, huhu ayolah kasihanilah anak perempuan yang pahit ini." Bintang menangis bawang.


Lagi laginya Langit hanya pasrah dengan semua kelakuan Bintang. Bukan hanya pasrah dia juga harus beli stok sabar menghadapi semua tingkah Bintang.


"Ayo Langit kita daftar dulu."


Langit hanya kembali menghembuskan napas dengan gusar. Dia mengacak acak rambutnya. Frustasi? Tentu saja, siapa yang akan sabar menghadapi kelakuan Bintang.

__ADS_1


"Ayo kita mulai manah kata om omnya kita di suruh duluan."


Bintang kembali menarik tangan Langit dengan paksa. Langit dengan malas mengikuti Bintang yang seperti anak kecil yang banyak maunya.


"Langit lo bisa manah nggak soalnya gue nggak bisa, hehe." Bintang memamerkan gigi putih dan rapinya. Langit hanya mengacak acak rambutnya lagi.


"Udah gue duga!"


"Hah Langit emang pengertian. Is the best pokoknya." Bintang mengarahkan kedua jempolnya.


"Gue bukan muji, gue lagi nyela lo!"


"Ya ya ya!"


Bintang mengambil panahan dengan bingung. Baru pertama kali dia memegang panahan. Ayolah dari kecil dia tak pernah diajari oleh siapapun tentang panahan.


"Ayo cepetan sini gue yang pegang!" Putus Langit.


Langit menuntun Bintang agar dia mengikuti gerakannya. Langit hanya menghadapi Bintang dengan sabar. Sang Mc memulai memimpin acaranya.


"Oke guys semua pasangan sudah bersiap siap untuk memulai merebutkan diskon secara besar besaran."


"Menurut kalian siapa pasangan yang akan menjadi pemenang dalam acara lomba kecil kecilan yang kita adakan. Semua pasangan yang kita jadikan perserta sidah dipastikan jujur dan amanah dan kami minta untuk para penonton tetap tenang."


"Dalam hitungan ketiga kita akan memulai memanah. Satu...dua...tiga..."


Langit mengarahkan agar Bintang tetap tenang dan santai. Tangan Bintang sudah nampak gemeteran. Dengan gerakan cepat Langit menuntuk Bintang agar menarik busur dengan bersamaan.


Bintang ingin menoleh ke arah Langit. Dan bertepatan dengan panah yang melesat bibir Langit menyentuh kening Bintang. Panah itu melesat pas di sasaran dengan tepat.


Suara riuh dari penonton dan jeritan para dari para penonton. Bintang terkejut dengan kecupan tak sengaja yang diberikan oleh Langit. Langit masih membulatkan matanya.


"Wah ternyata pacar anda sangat romantis, nona. Panah anda pas mengenai sasaran dan anda langsung dihadiahi kecupan." Puji sang Mc .


Bintang hanya tersenyum malu. Pipinya sudah berubah menjadi merah dan Langit hanya menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Tiba tiba suasana menjadi canggung antara kedua anak manusia.


"Oke gays kita bisa simpulkan siapa yang menjadi pemenang. Mereka adalah pasangan yang membuat kita jejeritan yaitu pasangan........Bintang dan Langit, selamat kalian mendapatkan diskon 100% alias gratis dari toko kami."


Bintang masih merasa canggung dengan situasi ini. Langit juga masih mengrutuki dirinya yang tak sengaja mengecup dahi Bintang.


.


.


.


.


.


Hallo Reders sampai segini dulu.


Bye bye salam Author 🤘

__ADS_1


__ADS_2