Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Sisir?


__ADS_3

Hai Reders ketemu lagi sama Author


Jangan lupa like dan komen ceritanya Langit dan Bintang.


.


.


.


.


.


Dubrakk


Suara benda berjatuhan disana sini. Bintang sedang mencari sesuatu di pagi buta. Setelah sholat subuh, Bintang langsung siap siap sekolah, dia mencari-cari yang namanya sisir entah kemana. Rasanya ingin menangis perasaan tadi di atas meja tapi sekarang nggak ada.


Bintang menatap dirinya dicermin. Dia melihat rambutnya kayak tante kunti.


"Ihhh kemana tuh sisir sialan nggak liat apa ini udah jam 05.45 belum masak lagi."


"Awas kalau ketemu gue cabut tuh gigi giginya."


"Pagi pagi udah badmood aja, awas lo sisir tunggu pembalasan gue."


Bintang langsung memutar otak kecilnya. Dia mendapatkan ide cemerlang sekalian mau cuci mata. Langsung saja Bintang lari ke kamar Langit.


Tok tokk tokk


"Langit pinjem sisir bentar!"


Ceklek


Pintu langsung terbuka langsung saja Bintang cuci mata melihat Langit sudah tampan dan wangi. Bener kan sekalian cuci mata. Bintang langsung nyelonon masuk kamar Langit.


Warna Biru dan abu abu terasa megah dimata Bintang. Baru pertama kali masuk kamar Langit yang bersih dan rapi beda banget sama Kasta, kaus kaki dimeja, celana di kasur, buku digenteng sudah kayak kapal pecah bedanya mereka 180*.


"Waahh rapi banget. Fix idaman banget ehh tapi kok sisir di nakas warna pink. Hahaha Langit ternyata suka warna pink.Hihihi." Bintang cekikikan sendiri, tak sadar langit di sebelahnya.


Pletak


Langit menyentil kepala Bintang. Bintang langsung keringat dingin setelah menyadari Langit disampingnya. Huhuhu tangan Langit kuat banget nyetilnya.


"Itu mommy yang beli gue terpaksa pake." Jelas Langit.


"Kirain lo suka warna pink!"


"Emang lo kira gue banci?"


"Emmmm, 51% lah agak mirip."


Aduh ngomong apa sih bi nanti Langit tambah jauh jauh tinggi.


"Kalau gue banci kenapa lo suka gue?"


"Emmm iseng aja sih."

__ADS_1


Aduhh bi jauh jauh tinggi.


"Sana lo keluar!!!"


Langit mendorong Bintang cukup kencang. Bintang langsung terhuyung. Kesal? Banget kalau nggak ganteng dah dipeyek ini bocah. Sebelum Bintang jatuh, ia menarik tangan Langit, spontan Langit menahan berat badan Bintang.


Ceklek


Mommy masuk dengan riang. Melihat adegan yang uwuw, mommy langsung tersenyum jahil jari telunjuknya dia arahkan ke Langit dan Bintang.


"Sorry mommy ganggu kalian, lanjutkan sayang."


Mommy langsung menutup pintu kamar Langit. Selang beberapa detik keduanya berpandangan. Brakk. Langit melepaskan genggaman tangan milik Bintang. Bintang meringis kesakitan.


"Auh. Haishh pagi yang sial. Langit pokonya gue pinjem sisir lo kalau nggak gue bakalan nagis biar lo diamuk masa."


"Gue itung satu sampai tiga. Satu....dua....ti.."


Langit langsung meraih sisir dinakas yang tepat disamping ranjangnya. Dilemparlah sisir keramatnya yang berwarna pink itu.


"Gitu dong. Akhirnya rambutku akan kembali rapi. Tante kunti sekarang rambut Bintang mau rapi lagi kita nggak jadi kembaran. Yey!"


"Dasar gila." Umpat Langit.


Bintang langsung berlari kecil untuk merapihkan rambut miliknya. Sampai dikamar dia langsung update penampilan seperti semula sembari berbicara sendiri. Gila nih bocah..


"Akhirnya rambut gue nggak mirip sama tante kunti. Bye rambut kusut. Bye juga tante kunti. Harusnya tante kunti itu kembaranya sama tante bolong sama ngesot kalau sama gue, gue masih terlalu muda. Terus kalau mereka encok gue juga yang repot."


Setelah rapi Bintang langsung menarik tasnya. Saat dibawah mereka semua sudah lengkap tinggal dirinya yang jomblo ralat single.


"Pagi semua!" Sapa Bintang riang.


"Maap tan aku nggak masak tadi pagi cari sisir. Awas aja kalau ketemu, bi cabut cabut tuh giginya."


"Iya nggak apa apa bi. Lagian ayah kamu udah nyiapin makanan buat kita sarapan." Jawab Rina.


Bintang langsung duduk disamping ayahnya yang sedang menyesap teh di cangkirnya. Ini ayah kalau nggak minum ya makan, pantesan perutnya buncit.


"Pagi ayah buncitku."


"Pagi Bintang."


Tumben ini ayah diem biasanya mulutnya nggak pernah berhenti jail. Harus waspada nih takut ada apa apanya.


Tunggu pembalasanku markonah. batin ayah.


Bintang meraih roti di piring yang sudah disiapkan. Bintang meraih pisau dan diintip isinya. Ayah kayaknya ayah harus les sama uprit deh...


"Ayah bi mau selai coklat jadi ayah makan roti Bintang ya..."


Bintang mengedip kedipkan matanya. Merayu halus sang presiden praperbuncitan itu.


"Makan yang ada aja bi."Jawab ayah cemas.


"Nggak apa apa bi ganti aja sama selai coklat nggak usah sungkan." Jawab Alex.


"Makasih om. Ini ayah makan aja, kan ayah lagi masa pertumbuhan."

__ADS_1


"Harusnya kamu makan yang banyak kan kamu yang masa pertumbuhan." Sewot sang presiden negara praperbuncitan.


"Ayah kan tau anak satu satunya ini susah buat gendut dari dulu Bintang makannya selalu banyak tapi nggak gendut gendut. Tubuh bi nggak mau melar."


"Makannya kamu yang makan biar melar tuh tubuhmu bi sekakian aja di goreng."


"Nggak usah yah, mending ayah liat aja perut ayah."


Ayah menurut melihat perutnya sendiri. Nampak buncit seperti biasa.


"Ayah liat kan perutnya ayah kan buncit jadi cacing cacing diperut ayah lebih banyak dari Bintang jadi ayah yang harus makan."


"Emang kamu pikir ayah cacingan apa?"


"Siapa tau kan ayah kalau makan suka nggak cuci tangan. Hihihi."


"Udah kamu aja Bi yang makan ayah udah kenyang."


kruyuk kruyuk


"Tuh kan ayah laper makan aja yah. Bi mau coklat bukan stroberi."


Enak aja bi disuruh makan roti sambel gitu, hi ogah bat.


"Udahlah Hans ngalah sama anak!" Timpal Alex.


"Iya yah ayah kan ayah yang baik."


Tapi aku nggak mau kena diare....


Bintang tersenyum sinis. Ayah hanya tersenyum canggung kedoknya terbuka sebelum berhasil, nasib nasib.


Hahaha makan roti cabai itu yah. Batin Bintang.


Benar saja setelah beberapa gigitan ayah langsung minum sebanyak banyaknya. Selang beberapa menit dia berlari menuju kamar mandi.


"Has kamua kenapa?"


"Ohhh om si ayah suka begitu kalau habis makan langsung ke toilet efek banyak cadangan makanan di perut buncitnya." Jawab Bintang lugas.


"Ada ada aja tuh si Hans!"


Bintang hanya menahan tawa melihat senjata makan tuan. Langit menebak ada sesuatu yang terjadi sama om Hans.


.


.


.


.


.


Segini dulu reders


Jangan lupa like and coment.

__ADS_1


Bye bye and see you next part 12


__ADS_2