
Hai Reders, Author up lagi.
Nggak terasa seminggu sudah kita nggak ketemu, ada yang kangen sama cerita Langit sama Bintang? Kalau kangen ayo terus vote, like and coment aja.
Sesuai pengumuman Author bakalan ada yang mau minta maaf, menurut Reders apa sih arti maaf?.
Maaf juga typo typo masih bertebaran disana sini!
.
.
.
.
.
Bintang merasakan sakit di kakinya, tapi rasa sakit dihatinya masih lebih dan lebih sakit ketimbang rasa sakit sepihan kaca yang menancap seenaknya. Air mata mengalir dalam diam, suasana hatinya sungguh kacau. Dengan kasar dia mengusap air mata sialan itu.
Dalam hati dia mengerutuki dirinya sendiri kenapa bisa dia suka yang mulai masuk babak cinta. Wajah yang sembab berganti wajah yang garang ketika melihat orang orang yang menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.
"Apa apaan Langit, dia pikir karena gue suka sama dia, dia bisa seenaknya sama gue. Ayah aja yang sering gue jailin juga fine fine aja tapi dia seenaknya aja. Dia nggak tau gimana perkataan dia nusuk nusuk pikiran sama hati gue."
"Iya dia bisa ngomong ini ono karena dia nggak ngerasain. Dasar manusia bisanya percaya sama mata dan telinga tanpa otak dan hati. Buat apa dikasih otak sama hati mending jual aja biar kaya. Ohh lupa, dia kan horang kaya uangnya pada meledak juga santai." Bintang menepuk kepalanya sendiri. Sikap dirinya yang berbicara sendiri membuat orang lain merinding melihat Bintang.
"Apa liat liat mau gue colok tuh mata?"
Mood yang hancur membuat emosi Bintang sering berubah, kadang marah, nangis nangis, kada meledak. Berjalan tanpa alas kaki dalam keadaan kaki berdarah sungguh merepotkan. Lihat saja ada petugas kebersihan sekolah yang menghampiri Bintang. Darah yang masih terus mengalir mengotori lantai sekolah.
"Aduh neng, neng kalau kakinya sakit ke uks aja kalau nggak kakinya ditaruh diatas kepala. liat ini lantai baru aja mamang bersihin dah kotor lagi."
"Iya iya mang!" Bintang mencoba mengangkat kakinya lurus dengan paha.
"Neng mau ngapain?" Tanya mang Ujang yang melihat tingkah konyol Bintang.
Bintang berdecak. "Mang Ujang katanya 'kalau kakinya sakit ke uks aja kalau nggak kakinya ditaruh diatas kepala'. Kan uks jauh jadinya saya nurutin opsi kedua mang Ujang."
"Astaghfirullah neng, neng polos amat jadi orang mamang teh meuni lieur!"
"Yaudah bi pamit aja deh! Tenang bi nggak nyentuh lantai kok."
Bintang berjalan dengan mengangkat satu kakinya yang terluka. Berjalan dengan memegang dinding disampingnya membuat mang Ujang geleng geleng melihat Bintang yang seperti anak kecil yang baru belajar jalan. Rembetan kalau dibahasa jawa.
Haishh kenapa semua orang ngeliatin kaya gitu sih. Kenapa sama gue, perasaan baik baik aja. Ohh jangan jangan mereka liatin gue karena gue jalan rembetan. Mana sepatu gue lempar lagi. Aduh ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bintang berucap didalam hati.
__ADS_1
"Stop!"
Bintang mendongak dan menatap malas orang yang di depannya. "Ada apa lagi nenek gombreng!"
"Nenek nenek lo pikir gue istri sama kakek lo?"
"Hemm kalau nenek ya istri kakek kalau istri paman namanya bibi, lo nggak pernah lulus tk ya? Lagian kakek gue juga nggak mau tuh sama perempuan jahat kaya lo, baikan nenek gue udah cantik, pinter masak, nggak jahat lagi dan suka memberi cucunya uang itu yang paling utama."
"Stop it. Gue nggak bahas nenek lo sama kakek lo!"
"Gue juga nggak bahas cuma jelasin ke lo aja, Dila Tineke."
Dila melihat kaki Bintang. Sudut bibirnya terangkat dengan sempurna. Dia menyerigai, usaha tak mengkhianati hasil. pikirnya.
"Enak rasanya kalah?"
"Menurut lo? Lo kan lebih sering kalah dari pada gue!"
Niatnya mau mengejek ini kok balik diejek. Bintang menyerigai ini yang dinamakan senjata makan tuan.
"Gimana kaki lo, sakit?"
Otak pintar Bintang langsung saja berputar. Seolah tau jawaban dia menyipitkan matanya, wajahnya langsung masam.
Wah, ini yang paling asik kalau ada yang berantem disekolah. Langsung aja live ig. Pikir mereka.
"Lo mau tau apa mau gue? ck, dasar manusia naif. Gue mau lo jauh jauh dari dunia olahraga dan dunia Langit!"
Bintang meraih kerah baju Dila. "Dila Dila lo nggak salah? Lo mau gue pergi dari dunia olahraga? LO SAKIT?" Ditepis kasarlah kerah yang semula di cengkram halus tadi.
***
Di sisi lain...
Langit yang tengah kebingungan mencari Bintang yang hilang entah kemana. Langkah kakinya mengarah ke kedua sahabat Bintang. Mereka juga tidak tahu dimana keberadaan Bintang.
Suasana hati Langit langsung saja tidak enak. Pikirannya kacau apa yang dia lakukan tadi? Dia gegabah dalam menangani masalah.
Bi lo dimana maafin gue, gue salah bi. Kenapa pikiran gue jadi kacau begini. Langit terus mengerutuki dirinya yang gegabah menuduh Bintang seenaknya.
"Hei lo bertiga liat bi nggak?"
Teman teman Langit hanya menunjukan hp mereka. Sontak saja Langit berlari menuju TKP. Sahabat Langit dan Bintang saling memandang mereka akhirnya memutuskan untuk mengikuti Langit yang tengah berlari.
***
__ADS_1
Di tempat kejadian perkara....
"Mana ada manusia yang nggak naif? Lo pikir pakai logika semua manusia itu naif kenapa? mereka itu hanya ngandelin mata dan telinga serta hati tanpa ngandelin otak."
"Lo terlalu naif Bintang buat dapetin Langit."
"Dila dan kalian semua dengerin gue! Gue nggak perduli mau lo semua bilang gue naif, murahan, cabe cabean taupun pecundang gue nggak perduli. Selama gue bener gue nggak takut."
"Lihat Bintang itu selalu naif. Wajah busuknya tertutup sama wajah polosnya."
"Dari pada lo Dila wajah busuk lo tertutup lebar sama make up yang tebal."
"Dila lo..."
Tangan Bintang tertarik dengan kencang. Badannya terhuyung hampir saja jatuh. Bintang mengomel setelah tau siapa yang menarik tangannya.
"Apa - apaan lo lepasin tangan gue!"
"Langit gue belum maafin lo tentang kejadian hari ini. Lepas atau gue gigit."
"Langit jangan mentang mentang gue suka sama lo dan lo seenaknya. Gue juga punya pikiran sekarang lepas. Langit lo tuli?"
Langit hanya diam dan Bintang masih mengomel. Setelah sampai di tempat yang sepi dia menghepas pelan tangan Bintang.
"Akhirnya lepas! sakit tau lo pikir gue kambing diseret seret!" Ucap Bintang, Bintang ingin pergi dari taman belakang sekolah namun tangan Langit menghentikan langkahnya.
"Gue minta maaf bi!"
Bintang menarik sudut bibirnya. Dia tau dia mulai mencintai Langit tapi harga dirinya tetap dia perjuangkan.
"Emang maaf lo itu cukup? Maaf hanya akan membuat diri yang minta maaf lega tapi apa yang di dapatkan orang yang memaafkan hanya rasa sakit yang dipendam. Memaafkan memang mudah tapi menerima itu sulit. Gue butuh waktu dan tenang aja gue masih suka sama lo dan gue mulai mencintai lo tapi gue nggak akan mudah ngelupain hari ini."
Bintang merjalan menjauh dari hadapan Langit. Langit hanya bisa memandang punggung Bintang yang makin menjauh.
.
.
.
.
.
Gimana ya Reders, niatnya sih Author mau bikin yang greget tapi otak Author masih ketinggalan setengah pasca PTS jadi kaya gini dulu. Bye bye.
__ADS_1