
Hai lagi Reders, Author gak bosen nyapa kalian.
Kalian apa kabar? Kalian banyak tugas nggak disekolah/dirumah?
Author cuma beri sedikit sifat Bintang, dia pengagum cogan tapi yang di suka cuma Langit.
Maaf lagi Reders Author ceritanya masih mengandung typo typo dan ambruadul😂🙏
.
.
.
.
.
"Bi!"
"Bintang!"
"Woi ada cogan tuh!"
Bintang langsung berdiri tegak. Rambut acak acakan, iler masih menempel di pipi.
"Mana cogan mana cogan."
"Ayah ngapain bangunin Bintang. Tadi Bintang lagi mimpi kalau Bintang tinggal sama Langit."
"Ah ayah mimpi Bintang jadi kacau. Ihhh ayah nyebelin dasar presiden buncit."
"Ck, ni anak nggak ada sopan sopannya sama orang tua!"
"Kan ayah yang nggak mau dibilang orang tua. Ayah ngomong sekitar 9 tahun,10 bulan, 3 minggu, 3 hari, 9 jam, 7 menit yang lalu."
"Nasib punya anak lebih pinter dari bapaknya. Salah mulu dah ayah."
"Ada apa yah? Bintang mau tidur lagi!"
"Ini bocah, KITA PINDAH!"
"Oh kita pindah!"
"Hah kita pindah yah!!!"
Bintang langsung lari menuju kamar mandi. Setelah 20 menit Bintang sudah siap dengan baju milik Elena, kak Kasta.
Setelah Bintang selesai mandi ayah langsung mengajak Bintang otw. Bintang masih fokus dengan handphone dan eraphone miliknya.
Tak terasa 1 jam berlalu dan mobil yang Bintang tumpaki sudah sampai di rumah berwarna putih.
Bintang yang terlalu asik dengan handphone malah tertidur pulas. Biasanya ayah sangat benci jika harus membangunkan Bintang karena dia sangat susah dibangunkan sebab jika dia tidur mirip dengan ora mati.
"Ck, anak siapa sih baru bangun langsung tidur lagi."
"Gue udah tua lagi, siapa yang mau ngangkat ini bocah."
Ayah memutar bola matanya. Dia melihat ada tukang kebun tapi dilihat lihat usianya lebih tua dia. Dia melihat sopir hah perutnya lebih buncit berarti susah jalan. Dan akhirnya dia melihat anak muda yang sedang olahraga.
"Hei anak muda!"
Pemuda yang merasa dipanggil pun langsung menghampiri ayah Bintang.
"Ada apa om?" Tanya pemuda itu.
"Anak om ketiduran di mobil tapi dia kalau udah tidur susah dibangunin. Kamu mau nggak angkatin dia ke kamar. Kamu tau kan dia anak om dan om sama dia akan tinggal bareng kamu. Mau ya kasihanilah om yang sangat tua dan lemah ini."
Ayah menjalankan aktingnya sebagai lansia dengan baik. Membuat pemuda itu kasihan dan terpaksa menyetujuinya.
"Oke om."
"Om Hans!"
"Iya om Hans!"
❄❄❄
__ADS_1
Bintang membuka matanya perlahan. Ia memejapkan matanya berulang kali. Bintang merasa asing dengan kamar ini.
"Apa gue di culik. Masa diculik tapi dapet kasur empuk. Kalau bener di culik gue mah mau mau aja."
Bintang mengusap kasur empuk yang ia tempati. Sudah lama dia tidak pernah merasakan kasur empuk.
Pandangan Bintang mengelilingi kamar. Ia jengah warna merah muda menyala dimana mana. Bintang memnang tidak terlalu menyukai warna merah muda apalagi yang menyala, ia malah suka warna yang dominan ke hitam, putih, atau abu abu.
"Bodo amat dah ini dimana tapi kasurnya empuk ada acnya juga. Betah gue disini."
Bintang masih dengan aktifitasnya yaitu menghentakan kaki dan tangannya ke kasur.
"Ekhem."
Bintang mendongak ketika suara daheman muncul. Bintang menyipitkan matanya, dia melihat patung cogan di pintu.
"Kok ada patung cogan disini." Gumam Bintang.
"Udah mengaguminya."
Bintang tersentak yang dia pikir patung ternyata bisa berbicara. Apa telinganya kehilangan fungsi.
Bintang memukul telinganya pelan. Masih berfungsi dengan baik tapi masa patung bisa ngomong.
"Gue manusia yang lo tembak!"
"Manusia yang ditembak?." Gumam Bintang.
Astaga Bintang baru ngeh kalau yang didepannya cogan yang dia suka. Apa jangan jangan ini rumah Langit jadi mimpi itu pertanda bukan bunga tidur.
"Emang lo siapa?"
pura pura lupa aja biar nggak ketahuan. hihihi
"Nggak usah pura pura lupa, inget orang **** kayak gue bisa bedain mana yang boong sama yang nggak."
Kok dia bisa tau isi pikiranku sih apa dia cenayang masa sih ada orang kayak gitu.
"Gue bukan cenayang. Isi pikiran lo kelihatan di jidat lo."
"Hah mana!"
Nggak ada kok apa gue dibodohin sama Langit?
"Nggak usah dipikirin, gue kesini cuma nyuruh lo turun makan malam."
"Iya iya dah."
❄❄❄
"Hai Bintang!" Seru seluruh orang yang ada di meja makan.
"Hai juga!"
"Wah anak mu cantik banget Hans, mirip banget sama Winda (Ibu Bintang)." Ucap Rina ibu Langit.
"Bisa aja kamu ri."
"Emang loh kamu nggak percaya tanya aja sama Langit." Ucap Alex ayah Langit.
Langit hanya mengangguk pasrah. Langit berjalan menuju meja makan sebab tadi mereka masih berdiri di tangga.
"Bintang kamu sekolah dimana?" Tanya Rina.
"Di SMA STAR tan."
"Wah kalian satu sekolah dong. Aduh kamu imut banget sih."
"Nggak ko tan Bintang pait itu kata ayah."
"Hans anak mu kok polos banget."
Hans hanya terkekeh geli. "Kamu baru tau kalau dia lagi mode polos kalau mode ngamuk habis dah rumah mu."
"Ayah!"
Bintang mencubit perut ayahnya pelan. Kemudian Bintang tersenyum canggung.
__ADS_1
"Nggak ko om Bintang cuma marah sama ayah kalau lagi ngeledek Bintang, jadi Bintang balas ayah. Apalagi kalau ayah ngehina suami suami Bintang."
"Suami?" Sela Alex.
"Alah itu oppa oppa korea."
"Ayah suka sirik sama mereka karena perut ayah buncit sedangkan mereka roti sobek. Jadi ayah nggak bisa bikin negara praperbuncitan."
Seluruh orang di meja tertawa geli kecuali Langit. Bintang menatap semua orang bingung, mereka hanya terkekeh melihat tingkat Bintang.
"Kamu bisa masak?" Tanya Rina.
"Masak? Bintang suka banget masak."
"Bintang kamu bisa olahraga?" Tanya Alex.
Bintang berhenti makan sejenak. Dia sedang berpikir sejenak.
"Bintang bisa tapi...."
"Maaf ya lex Bintang bisa olahraga dan prestasinya banyak kamu bisa liat dirumah kami yang lama tapi ada alasan yang membuat Bintang berhenti olahraga." Jelas Hans.
Langit memandang Bintang sejenak. Ada rasa penasaran pada dirinya. Melihat Bintang yang kadang galak dan polos.
"Maaf ya Bintang om nggak tau."
"Nggak apa apa om. Bintang bisa ngerti kok."
"Ayo lanjut makan lagi dong." Sela Rina.
❄❄❄
Bintang memandang meja belajar yang banyak sekali buku. Dia harus menulis ulang semua materi, karena buku yang lama sudah terbakar.
Jam menujukan pukul 12 malam. Bintang masih berkutat dengan bukunya. Rasa lelah menggerogoti tubuhnya. Hingga tanpa sadar dia tertidur biarlah badannya akan sakit jika dia terbangun.
Citt
Suara pintu terbuka. Rina masuk ke kamar Bintang dengan hati hati.
"Bintang tante yakin jika kamu hadir dengan alasan tertentu. Tante yakin jika kamu hadir membawa warna pada kehidupan kami sekeluarga semoga kamu selalu bahagia. Bintang."
Rina mengambil selimut milik Bintang dan menyelimutinya. Ia juga membelai rambut bintang lembut. Kemudian mengecup puncuk kepala Bintang dan akhirnya pergi.
Langit POV
Gue bangun tengah malam karena haus dan *gue lupa nggak ngisi air di botol jadi gue ke dapur untuk minum.
Saat gue kembali ke kamar gue liat mommy keluar dari kamar Bintang.
"Kamu ngapain sayang." Tanga mommy.
"Langit abis minum sekalian ngisi botol."
"Ya udah kamu tidur lagi udah malam."
"Hem"
Gue bingung karena tidak biasanya mommy mau keluar kamar jika tengah malam. Gue penasaran jadi gue langsung masuk ke kamar Bintang dengan hati hati.
Gue liat Bintang masih dengan rambut yang dikepang satu. Dia tertidur di meja belajar.
Tanpa gue sadar gue tersenyum tipis.
Gue kenapa sih, gue rasa gue tertarik sama dia tapi nggak mungkin gue suka sama cewek labil kayak dia kadang galak kadang polos.
Tapi kalau gue perhatiin dia tulus dan manis.
Hus Hus dah gue mikir apaaan sih*.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Segini dulu Reders, Author ternyata cape bye bye 😇