
Hai Reders, Author kembali lagi.
Menurut kalian siapa yang ompong? Bintang? Langit? Bi Ijah? Atau siapa?
Ayo yang penasaran terus baca, vote, like and coment.
.
.
.
.
.
Bintang berasa menelan ludah sendiri bagaimana tidak dia harus memakan seblak yang super duper pedas. Siapa saja yang melihat seblak yang dia buat akan meneteskan air liur saking kepedasan dan membuat air liur menjadi kental.
"Sial banget sih hari ini. Ayo bi semangat makannya kalau masuk rumah sakit ayah yang bayar jadi nggak usah takut."
Bintang langsung memasukan satu sendok seblak yang akan menjadi tanda janji yang dia buat ditepati.
Benar saja seluruh badan Bintang langsung panas, keringat langsung membasahi badan. Untung rambut perempuan itu dicepol keatas kalau tidak bisa bisa seluruh rambut akan menempel basah karena keringat.
"Huha nebi mau juga?" Bintang menawari Bi ijah yang sedang menatap dirinya dengan ngeri. Bi ijah hanya menggelengkan kepalanya bisa kongslet lambungnya jika memakan makanan super duper pedas itu.
"Buat non bi aja bibi takut lambungnya kongslet."
"Kalau kongslet panggil aja petugas PLN."
"Nggak bisa non bi petugas PLN lagi pada di karangtina."
"Ya udah deh nebi terima nasib!"
Seblak yang dia makan baru habis seperempatnya tapi rasa pedas yang dia terima makin membakar lidah. Bintang mengambil air minum di depannya.
__ADS_1
Tok Tok Tok
"Bentar non bi, bibi mau bukain pintu kayaknya den Langit sudah pulang."
Bintang hanya menanggapinya dengan anggukan kecil rasa pedas makin menguasai dirinya seolah tak kuat untuk berbicara.
"Assalamu'alaikum." Seru Mereka semua.
"Wa'alaikum salam." Bintang hanya menjawab di dalam hati. Dia menganggukkan kepalanya.
"Hei, perempuan tua salam harus dijawab jika tidak dijawab maka akan berdosa." Nano mulai melakukan ceramah panjang lebar dan Bintang hanya diam. Rasa pedas yang semakin membuat tak kuat dan membuat Bintang menangis.
"Hei perempuan tua aku bicara apa adanya kenapa kamu menangis apakah ada yang salah dengan diriku? Ck, perempuan tua yang cengeng." Nano mengejek Bintang dengan gayanya yang arogan. Bintang masih konsisten dengan nangisnya yang kepedasan. Diraihlah teko yang berisi air minum lalu diteguklah tanpa menggunakan gelas.
"Perempuan tua kamu tidak punya sopan santun saat minum." Cibir Nano lagi.
Langit mengangkat alisnya seolah bertanya kepada Bi ijah apa yang terjadi.
"**Bi, Bintang kenapa?"
"Kepedesan den**."
Matanya terbinar ketika melihat seblak yang dimakan oleh Bintang tadi, rasa pengen tengah menyeliputi Nano. Nano langsung saja melahap seblak tersebut. Bi ijah yang ingin memberitahu Nano bahwa itu super duper pedas kalah cepat hanya merunduk seolah tidak siap melihat apa yang akan terjadi.
Langit yang membawa sepotong kue untuk meredakan rasa pedas Bintang langsung menghampiri Bintang. Ia terlejut melihat Nano yang berteriak kepedasan sama seperti Bintang.
Bintang yang melihat kue langsung saja merebut dari tangan Langit.
"Pelan pelan bi!" Perintah Langit tak didengarkan oleh Bintang. Ia hanya ingin terbebas dari rasa pedas.
"Uhuk uhuk." Bintang tersedak karena makan tergesa gesa. Langit sontak menepuk punggung Bintang dan memberikan Bintang air minum.
Nano yang masih kepedasan berlari kedapur untuk mencari gula. Selang beberapa detik Nano sudah kembali dengan rasa pedas yang mulai berangsur karena dia hanya makan satu suap.
Nano yang menyengir kuda memperlihatkan seluruh giginya yang putih. Bintang yang masih dengan air minumnya langsung menyemburkan air minum ke arah Langit yang didepannya. Bintang terbahak bahak melihat Nano yang ompong.
__ADS_1
"Haha kutu kupret ompong. Tante kunti lihat anaknya yang ompong haha."
Langit yang kena semprot hanya menggerutu mau bagaimana lagi dirinya juga masih mengejar maaf dari bibir Bintang.
"Perempuan tua aku ini mau ompong atau mau botak tetap ganteng karena aku lahir dari bibit premium."
"Heh kutu kupret mau dari bibit premium, pertamax, atau pertalit mana ada ganteng gantengnya kalau ompong."
"Kamu salah perempuan tua kata pacar aku, aku makit cute kalau ompong."
"Yang waras ngalah." Putus Bintang.
Bi ijah cekikikan melihat Bintang dan Nano yang berdebat karena masalah ompong.
"Syeril mana?" Bintang menanyakan Syeril yang dari tadi tidak nampak batang hidungnya.
"Tadi dia mau kelompok." Jawab Langit.
"Bi gue mau minta maaf soal yang tadi. Lo boleh minta apa saja asal lo mau maafin gue."
Nano dan Bi ijah yang merasa ini hal yang bersifat privasi langsung meninggalkan meja makan.
"Oke gue mau maafin lo tapi lo harus ngajakin gue jalan jalan malam ini kan malam minggu belum pernah gue pergi malam mingguan sama cogan. Lagi pula omongan lo nggak bisa kembali lagi ya sudahlah, lo juga udah baik sama gue bolehin gue sama ayah tinggal di rumah lo jadi anggap aja gue balas budi sama lo!"
"Oke."
Bintang berjalan melewati Langit dengan santai. Jangan ditanya bagaiman detak jantungnya, jantungnya seakan mau copot ketika Langit meng iyakan permintaanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Sekian dulu Reders. Bye bye.