Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Kalah bukan berarti berhenti


__ADS_3

SEE YOU HAI REDERS, WELCOME BACK TO MY NOVEL.


HOW ARE YOU? I HOPE YOU FINE!


Kalau baca jangan lupa vote, like and coment😊


Dukungan kalian adalah semangat Author.


.


.


.


.


.


.


Bintang dan Syeril baru saja memasuki kamar Bintang. Rencananya Syeril akan tidur dengan Bintang. Lampu masih padam mereka akan gunakan untuk menonton film horor di leptop milik Syeril.


"Ayo cepet, ril. Kak bi udah penasaran tingkat setan."


"Iya kak mau yang mana?"


"Yang paling serem aja, tapi kalau cuma film aja nggak serem."


"Emang kenapa tadi nggak langsung aja tuh hantu muncu iya kan kak bi?"


"He'em, kok lampunya nyala sih, nggak asik tau."


Lampu yang menyala membuat nonton film hantu dipendink. Bintang taksengaja membuka horden kamarnya yang langsung memperlihatkan taman, ia langsung ngakak dengan kelakuan adik dari Syeril.


"Kenapa kak bi ketawa?"


"Sini liat kelakuan adik kamu." Bintang menarik tangan Syeril. Syeril yang melihat hanya mengelus dada. Adiknya memang perpaduan aliran negatif.


"Maaf kak dia memang otaknya hanya seujung kuku jadinya kayak gitu!!"


"Ya elah mending kamu dia adek kamu lah kakak malahan ayah kakak yang gesrek, udah pansos, jail, buncit lagi...."


"Wahhh berarti hidup kakak menegangkan nggak kayak aku ortu aku sibuk dengan usaha mereka jadinya aku sama adek dititipin sama pembantu."


"Hidup kakak harus waspada setiap waktu takut digangguin. Orang tua kamu pasti sayang sama kamu buktinya mereka rela kerja tiap saat buat kamu sama Nano, mereka tak peduli sebanyak apapun keringat yang menetes demi kalian berdua jadi kamu harus hargain mereka."


"Iya kak, kak bi bisa jadi Bintang teguh, wkwkwk."


Syeril memeluk erat Bintang. Rasa nyaman hadir di lubuk hati Syeril. Sudah lama ia menginginkan orang yang ceria dan peduli dengan dirinya bukan seperti Nano yang ceria tapi arogant.


"Kak bi mau nggak jadi kakak aku?"


"Hmmmm kak bi mau apalagi kamu cantik siapa tau ketularan juga cantiknya."


"Kak bi juga cantik!"


"Iya perempuan itu cantik bukan ganteng, Markonah."


"Hehehe."


"Sana tidur aja pasti cape kan seharian ngomong terus."


"Iya kak, good sleep."

__ADS_1


"Too."


Bintang membelai rambut panjang milik Syeril. Tangan lembut Bintang membuat Syeril nyaman dan akhirnya tertidur.


"Hihihi, jadi kakak, wah nggak nyangka gue. Ayah buncit terimakasih kamu udah pergi aku udah nggak butuh lagi disini udah ada yang baik tanpa jahil jadi mau pergi berapa lama juga It's okay, I'm fine."


❄❄❄


Dikamar Langit........


Tokkk tokkkk


"*Abang tolongin Nano!!!"


"ABANG ADA SETAN TUAAAAAAA*!!!!"


Langit mendengar teriakan sang adik sepupu ingin membukakan pintu. Langit yang berjalan merasa dirinya ditimpuk sesuatu.


"Apa?" Ujar Langit.


"Nggak usah di bukain aja biar ****** tuh raja jail dimakan setan tua." Khatulistiwa memang kesal karena Nano merusak muka sekaligus jambul keramatnya


"Dia adek gue."


"Biarin aja biar dia tau rasa, ngompol ngompol dah."


"Tetep aja dia adek gue."


"ABANG CEPETANNNN HUHUHU PAPI AKU NGOMPOL DI CELANA HUHUHU!!" Langit yang mendengar kata ngompol langsung berlari keluar dan melihat Nano yang celannya basah dan dia nangis.


"Kamu beneran ngompol, no?"


"Abang malu, huhuhu."


"Temenenin."


"oke."


Jadilah Langit bermalam di kamar milik Nano. Nano memeluk Langit dengan erat takut jika setan tua itu kembali lagi. Dasar omdo....


❄❄❄


Pagi hari....


"Wah udah pagi ini, mandi udah, sholat udah, belajar udah tinggal masak."


"Syeril bangun udah pagi."


"Emmm pagggiii kakkk bi."


"Pagi juga sayang sana mandi awas lo nanti kutu dirambut pada diskoan."


Bintang terkekeh melihat Syeril yang langsung lari menuju kamar mandi. Bintang berjalan santai menuju dapur.


Dia merasa aneh rumah sebesar ini tidak terdapat satu pun pembantu hanya ada mang Diman securiti depan. Horang kaya mah bebas...


Bintang langsung membuat masak nasi goreng dan telur ceplok. Ia menambah porsi makanan karena orang kelaparan bertambah.


"Kalau nanti suatu saat gue bisa ikut olim lagi apa aku bisa menang? Kalau gue kalah gimana yaa?" Bintang menanyakan sesuatu yang selalu orang orang pertanyakan. Mungkin jika ada orang yang mau menopang dan membantu dia bangkit bisa saja dia kembali ke olim.


"Kalau ikut lomba itu bukan hanya ingin menang aja tapi persiapin diri lo buat mendapatkan konsekuensi terberat yaitu kalah." Ujar seseorang. Bintang yang sedang memotong bawang merah tak sengaja mengiris jarinya sendiri.


"Auwwww." Darah mengucur deras. Orang yang dibelakang Bintang hanya berdecak kesal. Sikap ceroboh Bintang hanya akan melukai dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jadi orang itu harus konsen, banyakin minum aqua."


"Udah Langit kamu ganti baju aja."


Yaps, orang yang berbicara dengan Bintang tadi itu Langit. Langit menggapai tangan Bintang dan menyesap darah yang mengalir di jari Bintang.


Ini beneran Langit apa drakula? batin Bintang.


"Gue bukan drakula."


Kok dia tau sih... batin Bintang lagi.


"Makanya jangan ceroboh jadi orang!!"


"Iya iya gue tau."


"Kalau tau nggak bakal ngulangin lagi."


Sebelum Langit beranjak dia sempat sempatnya menyentil kepala Bintang. Sang empu hanya meringis.


"Apa bener yang dikatakan sama Langit, kalah bukan berarti berhenti."


Bintang masih dengan lamunannya. Dia tak sadar jika yang lain sedang menunggu nasi goreng untuk sarapan.


Tibalah Nano menghampiri Bintang yang tengah melamun sendirian sembari duduk disamping westafel. Nano berdecak sebal, pantas saja nasi gorengnya belum selesai selesai orang yang masak masih asik melamun.


"Heiii, perempuan tua mana nasi gorengnya?" Ketus Nano. Ucapan Nano masih belum terdengar ditelinga Bintang.


"HEII PEREMPUAN TUA!!!"


Nano yang geram akan tingkah tuli Bintang lansung mengambil panci dan solder. Nano memukul panci dengan solder dengan dekar disamping Bintang.


"EH KAGET KAGET KAGWT." Bintang mengelus dadanya. Untung masih muda kalau sudah berumur pasti auto tinggal nama.


"Apasih? Dasar anak tante kunti."


"Hei perempuan tua mana sarapannya, woiiii!!!"


"Tinggal masak aja, susah susah amat." Sinis Bintang.


"Kalau aku bisa udah dari satu abad yang lalu, dasar perempuan tua."


"Kalau aku tua emangnya kenapa, hah? suka suka akulah. Kamu yang terlalu kecil untuk dibilang pria dan untung kamu masih bau bedak bayi makannya nggak aku pites pites kamu kayak kutu."


"Bla bla bla dasar omong doang, perbanyak istighfar wahai perempuan tua."


"Kebalik dasar, bambank."


"Minggir minggir aku mau masak kamu masih dibawah umur buat masak sendiri."


Bintang mengejek Nano yang tingginya hanya sebatas dada Bintang. Nano hanya melipat tangannya diatas dada.


.


.


.


.


Segini dulu Reders, tunggu terus kelanjutan cerita Langit dan Bintang.


Jangan lupa vote, like and coment.

__ADS_1


Bye and see you next part 18


__ADS_2