Dauble Atlet School

Dauble Atlet School
Histori hari pertama


__ADS_3

"Huaaaa!!"


Bintang bangun dari tidurnya yang setengah pulas. Dia meregangkan otot yang kaku.


Bintang melirik keseluruh ruangan yang menjadi kamar miliknya. Bintang mencari keberadaan jam dinding.


"Ck, rumah gede masa nggak ada jam dindingnya sih."


"Tebak aja pasti masih jam setengah lima. Hehehe"


Bintang tersenyum girang sendiri. Bintang memang mempunyai hobi menebak tapi 90% tebakannya salah.


Bintang memutari kamarnya yang jauh lebih luas dari rumah yang terbakar. Bintang menemukan jam dinding dimeja rias.


"Siapa yang naroh disini jam dinding kan di dinding nggak sekalian aja taruh di genteng biar ada syukuran ganti nama jadi jam genteng."


"Hehehe. Salah lagi ini mah sudah jam 04.45. Mandi aja deh biar wangi."


20 menit Bintang akhirnya siap dengan baju milik Mika. Dia hendak keluar kamar namun dia kelupaan sesuatu. Akhirnya Bintang bercermin.


"Ohhh iya lupa kan belum disisir rambutnya."


"Aduh ini rambut kaya mie aja. Berundet sana berundet sini, sebel dah gue."


Setelah siap dengan rambut kelabangannya, Bintang keluar dengan riangnya. Dia menuruni tangga dengan bersenandung kecil, padahal ini masih pagi.


Pagi cerahku, matahari bersinar


Kugendong tas merahku dipundak


"Iiiih masa jadi kayak anak TK kan gue udah SMA."


"Oke cek cek cek ganti."


Tak ada lagi yang bisa 'ku


Lakukan tanpamu


'Ku hanya bisa mengatakan


Apa yang kurasa


'Ku menangis membayangkan


Betapa kejamnya dirimu atas diriku


Kau duakan cinta ini


Kau pergi bersamanya


'Ku menangis melepaskan


Kepergian dirimu dari sisi hidupku


Harus selalu kau tahu


Akulah hati yang telah kau sakiti


"Huaaa ini lagu orang selingkuh." Bintang menangis bawang.


"Kok jadi kumat sih." Bintang berdecak kesal pada dirinya sendiri.


"Masak aja biar disayang sama suami."


"Oh iya kan belum punya suami. Bodo amat, yang penting masak aja."


Bintang berlari kecil menuju dapur milik keluarga Langit. Matanya terbinar melihat peralatan memasak yang lengkap.


Bintang memulai masak dengan riang kadang dia bersenandung riang. Bintang memasak nasi goreng dan telur ceplok dengan lihai dan cepat, selamg beberapa menit masakannya selesai.


Dorr


"Eh, dor dor."


Bintang mengusap dada sejenak. Bintang melihat ayahnya sedang terkekeh geli dengan sikap anaknya yang selalu kaget.

__ADS_1


"Dasar ayah buncit."


Bintang membalik badannya dengan kesal. Ayahnya selalu jahil dengan dirinya, uadah tua tapi kelakuannya kaya balita. Saat membalik rambut panjang yang dikelabang oleh Bintang terkena muka ayah, sontak ayah langsung menarik rambut panjang putrinya.


"Aduh, sakit ayah sakit."


Ayah melepaskan rambut putrinya dengan terkekeh. Ayah langsung tertawa keras ketika melihat raut muka milik anaknya.


Setelah puas mengganggu ayah pergi meninggalkan anak semata wayangnya. Bibir mayun, tangan dilipat didada dan rambut acak acakan membuat sungut Bintang muncul.


Ayah tunggu pembalasanku. Hahaha


❄❄❄*


"Hai hai tante, om."


"Hai juga Bintang."


"Ekhem"


Ayah berdehem keras. Bintang tau ini kode untuk menyapa ayahnya. Dia melebarkan senyum manis kepada ayah.


"Pagi presiden praperbuncitan."


"Pagi juga anakku yang cantik."


prettt palingan ayah lagi pansos.


"Bintang kamu mau bantu tante. Kasihanilah tante yang sudah kadaluarsa ini."


"Kalau kadaluarsa dibuang aja tan." Jawab Bintang polos.


"Kamu bisa aja bi." Sahut Alex.


"Bantu apa tan?"


"Bantu panggilin Langit ya Bintang sayang." Jawab ayah sembari menyeruput kopi.


Ayah menaik turunkan alisnya. Bintang jengah dengan kelakuan ayahnya yang sangat jahil.


Bintang melangkahkan kakinya menuju kamar Langit. Namun baru 5 langkah dia kembali lagi ke ruang makan.


"Tan kamar Langit dimana?"


"Kamar langit di langit."


"Mana pesawatnya tan?"


"Pesawat buat apa?"


"Kan kata tante tadi kamar Langit di langit."


Semua orang tergelak. Bintang hanya bingung dengan semua orang yang masih tergelak. Dia merasa benar karena katanya kamar Langit di langit ya kan bener harus pakai pesawat.


"Maksud tante itu kamar Langit yang warnanya biru bi. Yang ada didepan kamar kamu."


"Oooh bilang dari tadi biar Bintang nggak bingung."


"Yaudah deh Bintang mau keatas dulu."


Bintang melompat lompat di tangga. Dengan riang dia melangkahkan kakinya menuju kamar milik Langit


Cogan sana cogan sini


semua cogan Bintang suka


"Wah kamar pangeran nih."


"Aduh jantung gue kok geter geter gini apa jantung gue lagi dugeman."


Bintang yang merasa deg degan memegang dadanya sebentar. Tangan Bintang terangkat untung membuka handle pintu.


"Aduh ini tangan juga ikut ikutan gemeteran."


Bintang masih kesal dengan tangan miliknya yang masih gemeteran. Dia melototkan matanya kepada tangannya.

__ADS_1


"Ternyata asik juga punya mata yang bisa melotot. Tangan gemeteran dipelototin juga langsung diem. Hihihi."


Bintang ingin membuka pintu namun jantungnya masih berdegub kencang.


"Aduh jantung gue masih dugem pulang woi, nanti dicariin sama mak lo."


"Aduh bisa gila gue ngomong sendiri mulu."


Bintang menarik napas panjang panjang dan buang napas perlahan. Jantung Bintang masih berdegub kencang. Bintang hendak membuka pintu tapi sial pintunya terbuka lebar lebar.


Brrrakkkk


"Huuuaaaa badan gue yang malang." Bintang menangis bawang.


"Ngapain lo dikamar gue??"


Langit menarik kerah baju milik Bintang dan menghempaskan dengan kencang. Bintang yang jatuh kedua kalinya menangis kencang.


Semua orang yang dimeja makan mendengar Bintang yang menangis hanya menganggap orang yang menangis tetangga sebalah. Namun suara Bintang makin keras hingga mereka terganggu.


"Pagi pagi udah nangis, menurutmu siapa Hans?" Ujar Alex kepada sahabat sekaligus mantan rekan bisnisnya.


"Suaranya sih mirip Bintang kalau lagi nangis." Jawab Hans santai.


"Apa BINTANG!!!" Teriak Rina.


"Iya Bintang." Jawab Hans santai dan masih fokus dengan kopi yang sedang dinikmati dan sejenak dia masih belum ngeh jika yang nangis itu anaknya.


"Sebentar yang nangis itu Bintang."


"Apa Bintang anakku nangis?"


Ketiga paru baya itu berlari menuju lantai atas. Mereka melihat Bintang yang menangis dan Langit yang sedang frustasi dengan suara milik Bintang.


Rina yang melihat Bintang yang jatuh terduduk langsung menghampiri anaknya. Langit yang melihat mommynya yang bertunduk langsung menciut. Rina menarik telinga anaknya dengan sangat keras.


"Mommy ampun, ampun mommy."


"Kamu apain Bintang?"


"Aku nggak ngapa ngapin cuma dia jatoh sendiri."


"Huuu iya tan tadi Bi jatoh sendiri huhuhu."


"Anak ayah yang cantik kamu nggak apa apa?"


Ayah mengangkat tubuh Bintang dengan diiringi tawa mengejek. Bintang tau kalau ayahnya sedang mengejek dirinya, dia menginjak kaki ayahnya dengan sengaja.


Rasain jadi ayah kok pansos mulu.


"Aduh sakit bi."


"Maaf ayahku presiden negara praperbuncitan anakmu ini tidak sengaja."


"Nggak apa apa nak ayahmu ini kuat dan gagah."


Kuat dan gagah apanya disuruh ngangkat barbel juga langsung sakit.


"Sudah sudah ayo kita makan saja." Putus Alex.


Semua orang langsung menuju meja makan untuk sarapan pagi.


.


.


.


.


.


Gimana Reders part ini?


Maaf typo typo masih bertebaran

__ADS_1


Bye bye and next part 7 ya Reders


__ADS_2